Mereka pikir semuanya telah berakhir sejak kematian Leonardo Valerio. Namun dunia gelap tidak pernah benar-benar melupakan darah yang pernah berkuasa.
Leonardo Valerio memang telah mati, tapi warisan darahnya belum berakhir. Saat ancaman mulai mengincar Alessandro, Nadira dipaksa kembali ke dunia gelap yang pernah menghancurkan hidupnya.
Di balik bayangan, musuh lama bangkit, rahasia lama terbuka, dan sifat dingin Leonardo perlahan muncul dalam diri putranya.
Karena darah mafia tidak pernah benar-benar hilang, dan sang pewaris akhirnya mulai bangkit.
**RED ASHES SEASON II**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Strategi atau Belas Kasihan?
Alessandro menatap pantulan dirinya di mata penuh air mata dan ketakutan pemuda itu. Di sana, di pantulan bola mata yang kecil itu, ia tidak melihat Alessandro anak yang baik, anak kesayangan mama, pengusaha muda yang sukses dan dermawan. Tapi ia melihat Leonardo Valerio.
Alessandro melihat monster yang sama, wajah yang sama, tatapan yang sama, kebengisan yang sama. Bahkan Ivan, orang yang paling setia pada ayahnya, baru saja bilang kemarin: "Kamu lebih kejam dari dia, Tuan Muda. Leonardo masih punya hati, tapi kamu? Kamu sudah mati rasa."
Alessandro mundur terhuyung satu langkah, tangannya gemetar hebat. Ia melepaskan cengkramannya pada pisau itu seolah benda itu panas membara. Pisau itu masih tertancap di sana, bergetar mengikuti guncangan tubuh pemuda itu.
"A-aku..." suara Alessandro serak, pecah, hampir tidak terdengar. Ia menatap tangannya yang merah, lengket, dan bau amis. Ia ingin mencucinya, ingin menguliti kulit tangannya sendiri agar darah itu hilang.
Ivan Rostov melangkah maju perlahan, tongkat kayunya mengetuk lantai. Pria tua itu menatap Alessandro dengan tatapan rumit, bercampur dengan kekaguman, hormat, dan kesedihan yang dalam.
"Tuan Muda?" panggil Irvan rendah.
Alessandro tidak menjawab, ia memutar badan cepat, lalu berjalan terhuyung menjauh dari kursi siksaan itu. Menjauh dari bau darah, menjauh dari jeritan yang kini berubah menjadi isakan panjang. Ia berjalan cepat menuju wastafel di sudut ruangan, membuka keran air dingin sekuat tenaga.
BYURRR!!
Alessandro mencuci tangannya, menggosoknya dengan keras. Tapi bau itu tidak hilang, rasa lengketnya masih ada. Rasanya seolah darah itu sudah meresap masuk.
"Darah ayahmu mengalir di tubuhmu, Alessandro. Kamu bisa saja lari sejauh apa pun, kamu bisa saja jadi orang baik selama dua puluh tujuh tahun. Tapi saat kamu marah, saat kamu terancam, saat kamu merasa berkuasa, makan monster itu akan keluar. Karena dia adalah kamu, dan kamu adalah dia." suara Viktor bergema du kepalanya, suara itu seperti kutukan.
Alessandro menunduk di atas wastafel, napasnya berat dan tersengal. Air mata yang ia tahan akhirnya jatuh bercampur dengan air keran. Ia menggenggam pinggiran keramik wastafel begitu kuat, hingga urat-urat di tangannya menonjol.
Alessandro melihat bayangan dirinya di cermin, rambut hitamnya berantakan, wajahnya pucat pasi. Matanya merah dan bengkak, tapi kedalaman tatapan itu masih ada kilatan dingin yang mengerikan. Kilatan yang mengatakan dia menyukai ini, dia menikmati ini, dan dia ingin melakukannya lagi.
"Mama," bisiknya lirih, suaranya bergetar dan hancur. "Maafkan aku, Ma. Maafkan aku."
Ia ingat wajah ibunya, wajah yang selalu penuh harapan, yang percaya bahwa anaknya berbeda. Bahwa ia akan selamat dari kutukan Valerio.
Nadira akan mati kalau melihatnya barusan, Nadira akan membencinya, Nadira akan lari sama seperti dia dulu lari dari Leonardo.
"Bunuh dia, Tuan Muda," suara Ivan terdengar tenang di belakangnya. "Anjing yang sudah menggigit sekali, pasti akan menggigit lagi. Biarkan dia hidup, dan dia akan membawa orang lain datang untuk membunuh kita. Ini dunia kita, dunia di mana kamu membunuh atau kamu dibunuh. Tidak ada kata maaf, atau belas kasihan."
Alessandro mengangkat kepalanya perlahan, ia melihat pantulan Ivan di cermin. Pria tua itu menatapnya dengan tatapan yang begitu yakin.
Alessandro berbalik, air mata di ujung rambutnya menetes ke lantai. Ia menatap pemuda yang terikat itu. Pria itu sudah pucat, hampir pingsan karena syok dan kehilangan darah. Isakannya melemah menjadi rintihan pelan.
Di satu sisi, hatinya yang diajarkan Nadira berteriak agar berhenti dan melepaskan pria itu, mengobatinya, membiarkannya pergi, dan mencari cara agar damai. Jadilah pelindung, Alessandro. Lindungi orang dan jangan sakiti mereka.
Tapi di sisi lain, naluri, darah, dan Leonardo di dalam dirinya berbisik dingin: Dia musuh, dia ancaman, di akan membunuh kamu, membunuh ibumu, dan membunuh wanita yang kamu sayang. Bunuh diri sekarang, hapus ancaman, tunjukkan kekuasaanmu dan nikmati rasanya.
Alessandro berjalan kembali.ke meja tengah, ia mengambil pistol yang tergeletak di sana. Senjata favorit ayahnya. Dingin, berat, dan mematikan.
Ia berjalan mendekati pemuda itu lagi, tatapannya perlahan kosong. Mata manusia di matanya perlahan tertutup, digantikan oleh mata predator.
Ia mengangkat pistol itu, lalu.menempelkan moncongnya tepat di kening basah dan berdarah pemuda itu.
"Tolong... Tuan. Saya punya anak..." gumam pemudah itu lemah, nyaris tidak bersuara. Matanya sudah terbalik separuh.
Saat akan hendak menembak, bayangan wajah ibunya melintas lagi. Wajah Nadira yang menangis, wajah kecewa, wajah Nadira yang berkata: Alessandro, kamu satu-satunya alasan mama tetap hidup. Jangan menjadi seperti dia, tolong. Mama mohon.
Darah di tubuhnya mendidih, ia meraung dalam hati. Kenapa?! Kenapa mama harus begitu lembut? Kenapa mama harus begitu baik? Kenapa aku nggak bisa cuma jadi monster murni seperti ayah? Kenapa aku harus punya hati?
Dengan satu gerakan kasar, Alessandro mengayunkan gagang pistol itu ke samping, bukan ke kepala pemuda itu. Tubuh pemuda itu terkulai lemas, kepalanya jatuh ke dada, napasnya masih ada tapi lemah.
"Bawa dia ke ruang bawah tanah," perintah Alessandro dingin, suaranya serak dan kasar. Ia melempar pistol itu ke meja. "Jangan bunuh dia dulu, aku masih butuh informasi lebih banyak."
Ivan mengangkat alisnya sedikit, ia merasa terkejut tapi wajahnya tetap tenang. "Baik, Tuan Muda. Tapi ingat, belas kasihan adalah sebuah kelemahan."
"Itu bukan belas kasihan," potong Alessandro tajam, matanya menatap lurus ke depan, berusaha menyembunyikan badai di matanya. "Itu strategi, dan aku butuh informasi lebih banyak darinya."
Ia berjalan cepat keluar dari ruangan itu, meninggalkan bau darah, kengerian, dan keraguannya sendiri.
Saat pintu berat tertutup rapat di belakangnya, Alessandro bersandar lemas di dinding koridor yang dingin dan kosong. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar.
Di dalam sana, tepatnya di ruangan bedarah itu, ia baru saja membuat keputusan. Bukan keputusan untuk membunuh, bukan keputusan untuk menyelamatkan. Tapi ia baru sadar satu hal, bahwa yang paling menyiksa adalah ia bukan pelindung murni seperti yang ibunya harapkan.
Dan ia juga belum menjadi monster murni seperti Leonardo, Alessandro terjebak di tengah-tengah. Setengah manusia dan setengah iblis.
Dan posisi itu adalah tempat yang paling menyakitkan di dunia.