Bagi Alma, Nova adalah segalanya. Pria romantis yang menjadi pusat dunianya, sehingga dirinya mencintai pria itu dengan ugal-ugalan.
Namun, semuanya tak lagi sama, ketika tak sengaja ia mendengar dan melihat sendiri sang suami menyebut istri pada wanita lain. Dan lebih mirisnya lagi dirinya bukan yang pertama.
Danish, sosok pemuda yang hangat pada keluarga, tetapi sangat dingin dan cuek pada wanita setelah cintanya kandas. Akan tetapi, sejak pertemuannya kembali dengan Alma, perlahan sikapnya mulai berubah.
Bagaimana kisah selanjutnya? Mengalami pengalaman pahit yang hampir sama, akankah mereka bersatu?
Yuk, ikuti perjalanan mereka, hanya di sini; "Bukan Yang Pertama" karya Moms TZ. Bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Iri hati
"Hahahaha...!" Kedua insan itu tertawa bersama setelah Alma menceritakan bagaimana ia mengerjai Nova tadi.
Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang menuju apartemen yang ditempati Alma.
"Pasti sangat seru melihat wajahnya memerah ingin marah, tapi nggak bisa berkutik," ujar Danish di sela-sela tawanya.
"Haaahh... Rasanya puas banget, melihat nyalinya ciut!" kata Alma dengan pandangan menerawang. "Tapi itu belum seberapa, karena tak sebanding dengan pengorbananku selama ini bahkan sebelum aku menjadi istrinya."
"Trus apa lagi yang akan kamu lakukan padanya?" tanya Danish penasaran.
"Aku akan membuat hari-harinya sibuk dan tak ada waktu untuk santai sedikitpun. Biar dia paham bagaimana dunia kerja yang sesungguhnya. Karena aku banyak menerima laporan, jika selama ini kerjanya hanya memerintah, sedangkan dia tak ada kontribusi sedikitpun, hanya makan gaji buta."
"Mending kalau aku ikut merasakan jerih payahku." Wajah Alma tiba-tiba berubah sendu. "Hampir setahun ini dia nggak menafkahiku dengan berbagai alasan yang dia buat. Tapi... karena pada saat itu mata dan hatiku terlalu buta oleh perasaanku padanya, jadi aku tak mempermasalahkan hal itu."
Alma menghela napas dengan tersengal. Hatinya mendadak melankolis. "Dan setelah mengetahui kebenarannya, baru lah aku sadar sepenuhnya. Betapa bodohnya aku, yang rela berkorban demi lelaki mokondo seperti dia."
Danish menghela napas pelan, lalu menepuk pelan bahu sahabatnya itu.
"Kamu nggak bodoh, Al. Kamu itu hanya terlalu baik dan tulus, sehingga dengan mudah percaya sama omongan manis mereka yang nggak punya hati. Yang salah itu mereka, tega banget mempermainkan dan memanfaatkan kebaikan serta ketulusan hatimu."
Alma mengangguk, sorot matanya tajam penuh tekad. "Tapi sekarang nggak akan lagi, Nish. Aku yang akan membalikkan keadaan, biar mereka sadar bahwa aku nggak sebodoh dulu lagi."
Danish tersenyum, lalu menghentikan mobilnya di depan lobi apartemen Alma.
"Sudah sampai. Kamu istirahat yang cukup ya, jangan pikirkan apapun," pesannya pada Alma.
"Makasih, ya, Nish. Aku selalu merepotkanmu," ucap Alma lembut.
"Nggak masalah, kok. Aku hanya membantumu semampuku," jawabnya santai sambil menggeleng. "Kalau begitu aku balik, ya. sampai jumpa besok."
...
Nova tiba di rumah dalam keadaan sangat kacau. Pria itu menyampirkan jasnya sembarangan di pundaknya. Belum sempat dia melangkah masuk ke dalam rumah, putri sulungnya, Chika langsung berlari menyambutnya dengan wajah kecewa.
"Papa... kok, pulangnya malam banget, sih? Katanya kita mau ke playground? Berarti nggak jadi, dong?" protesnya sambil mengerucutkan bibirnya.
Nova menghela napas panjang, lalu mengusap wajahnya yang terlihat lelah sekali. Setelahnya di berjongkok menyamakan tingginya dengan sang anak.
"Maafkan papa ya, Sayang. Hari ini papa harus lembur. Banyak banget kerjaan di kantor dan nggak bisa ditinggal," jawabnya pelan, berusaha tersenyum meski dipaksakan.
"Besok lagi ya, papa janji akan berusaha pulang lebih cepat dan kita bisa main bersama," tambahnya agar si anak tidak merasa kecewa.
"Tapi Papa beneran janji, ya!" Chika mengulurkan jari kelingkingnya.
Nova tersenyum kecil sambil mengangguk pelan lalu menautkan jari kelingkingnya dengan jari mungil anaknya. "Iya... papa janji."
Gadis kecil itu berlari kecil masuk ke dalam rumah, sedangkan Nova lantas bangkit dari berjongkoknya. Baru saja dirinya hendak melangkah, Marsha menyambutnya dengan pandangan penuh tanya.
"Hari ini pulang malam lagi, Mas. Memangnya ada proyek baru, ya?" tanyanya seraya meraih jas yang tersampir di pundak suaminya.
Nova sama sekali tidak menjawab, dia justru bergegas masuk kamar dengan langkah cepat seolah menghindari sesuatu, lalu duduk di sofa kamarnya. Marsha membuntutinya di belakang dan menutup pintu rapat-rapat.
"Kenapa sih, Mas? Ada apa sebenarnya? Apa Alma membuat masalah denganmu? Atau dia berusaha mendekatimu lagi?" tanya Marsha bertubi-tubi dengan curiga.
Namun, kemudian ia tersenyum miring. "Kalau dia ingin kembali pada Mas, itu malah bagus dong, Mas. Berarti kesempatan Mas terbuka lebar untuk mengantikan posisi itu. Kan, lumayan, Mas," ucapnya enteng seakan tak ada beban.
Nova menatap Marsha dengan pandangan yang sulit diartikan. Antara kesal dan lelah. Lalu menarik napas berat. "Apa kamu pikir Alma masih seperti yang dulu? Polos, lugu, dan gampang diatur?"
Dia terkekeh sinis. "Kamu tahu, siapa yang sekarang berdiri di belakang Alma dan mendukungnya sepenuhnya?"
Marsha menggeleng cepat. "Teman yang aku suruh untuk mengecek dan meretas data pribadinya pun selalu gagal dan menyerah. Seperti ada tembok tebal yang melindunginya, tak ada celah sedikitpun."
"Tentu saja gagal. Karena Alma sekarang punya backingan kuat, yaitu salah satu putra dari pemilik Al Gha Corp," ujar Nova pelan tetapi penuh tekanan.
"Apa...!" Netra Marsha membelalak lebar, terkejut bukan main mendengarnya.
"Sialan...! Kenapa wanita itu selalu saja beruntung, sih?" geramnya dalam hati, dadanya bergemuruh menahan iri hati.
"Dan kamu tahu? Baru di hari pertama menjabat sebagai Direktur Operasional, tapi dia sudah menunjukkan taringnya. Dia menghukumku habis-habisan hanya karena aku datang terlambat dan mengerjakan laporan kerja harian asal-asalan. Dia memaksaku mengerjakan ulang sampai benar-benar sempurna dan sesuai standar. Nggak ada toleransi sedikitpun," ujarnya dengan nada putus asa.
"Tapi... Mas bisa menyelesaikannya, kan? Bukankah Mas sudah terbiasa mengerjakan hal seperti itu? tanya Marsha berusaha mencari celah.
Nova menggeleng lemah, wajahnya tampak semakin kusut. "Otakku rasanya macet, Marsha. Aku sudah nggak sanggup lagi mikir. Beruntung banget saat itu ada teman Alma datang menjemputnya, jadi akhirnya aku diizinkan pulang. Tapi itu belum selesai. Alma tetap menyuruhku membawa pekerjaan itu ke rumah, katanya ini tugas tambahan dan harus selesai sebelum masuk kerja besok pagi."
"Apa...! Dasar wanita kejam!" seru Marsha, suaranya meninggi karena marah yang meledak.
"Dia benar-benar nggak punya hati. Memang dia sudah nggak lagi punya perasaan apa-apa sama Mas? Padahal dulu kan, Mas itu lelaki yang dia cintai mati-matian. Dulu dia bahkan rela melakukan apa saja demi Mas," makinya seolah tak terima.
"Tapi kenapa sekarang, setelah dia sudah punya kuasa, seenaknya saja menyakiti orang yang pernah berarti buat dia!"
Marsha berjalan mondar-mandir seraya mengepalkan tangannya kuat-kuat. Rasa benci dan iri hatinya pada Alma makin memuncak, terasa membakar dada.