Yudi seorang pria dari dunia modern terlempar ke Tahun 700 masehi di pulau Buton, saat ayahnya meninggal Ayahnya mengatakan Bahwa ibunya ada di Bumi bagian utara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RRS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Reuni di Singgasana Salju
27 September 700 Masehi — Istana Potala, Lhasa
Aula utama istana yang dulunya merupakan simbol keagungan para raja Tibet kini telah berubah fungsi. Lampu-lampu LED bertenaga surya yang dipasang oleh pasukan Yudi menerangi pilar-pilar batu kuno, menciptakan kontras yang tajam antara peradaban purba dan teknologi masa depan. Yudi duduk di singgasana yang kini telah dimodifikasi dengan bantalan kulit yang nyaman, menatap pintu besar aula yang terbuka lebar.
Langkah kaki terdengar menggema. Bukan langkah kaki prajurit yang hendak menyerang, melainkan langkah kaki yang penuh keragu-raguan dan emosi yang meluap. Di ambang pintu, berdirilah Maharani Wu Lin. Di belakangnya, Yue Qing dan keempat adik laki-laki Yudi mengikuti dengan napas yang tertahan.
Para pengawal Suku Rahmad yang memegang senapan serbu otomatis sempat mengangkat senjata mereka, namun Yudi mengangkat tangan kanannya dengan tenang. "Biarkan mereka masuk. Bagaimanapun juga, darah yang mengalir di nadiku berasal dari wanita itu."
Mendengar ucapan itu, Wu Lin hampir jatuh tersungkur. Air mata yang sudah ia tahan sejak dari daratan Tiongkok akhirnya tumpah. Ia berjalan perlahan, menatap wajah putranya yang kini begitu dewasa, begitu dingin, namun memancarkan aura otoritas yang melampaui dirinya sendiri.
Yudi menatap ibunya, lalu ia bergumam lirih, sebuah puisi yang muncul dari lubuk hatinya yang paling dalam:
Sembilan bulan raga dalam dekapan sepi,
Napasmu adalah nyawa yang kupinjam saat dini.
Meski takhta memisahkan kita dalam jurang sunyi,
Dan sejarah mencatat luka yang tak henti,
Darahmu adalah tinta, dan nadiku adalah kertasnya,
Satu sujudku untukmu, meski dunia ini aku penguasanya.
Wu Lin menangis tersedu-sedu mendengar bait-bait itu. Ia menyadari bahwa meski Yudi telah menjadi "monster" yang ditakuti dunia, di dalam hatinya masih ada ruang kecil untuk ibu kandungnya.
"Yudi... putraku..." bisik Wu Lin.
Namun, perhatian Yudi teralih. Di samping ibunya, berdiri seorang gadis yang membuatnya tertegun sejenak. Yue Qing. Di dunia yang penuh dengan debu dan perang ini, Yue Qing tampak seperti lukisan dewi yang turun dari langit. Rambut hitamnya yang panjang terurai indah, namun yang paling mencolok adalah matanya yang berwarna merah delima—warna yang tajam, eksotis, sekaligus menggoda.
Yudi, yang biasanya tidak tergoyahkan oleh apa pun, merasa jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Ia memperhatikan sosok Yue Qing; tubuhnya memiliki lekukan yang sempurna, sangat proporsional. Terlebih lagi, ukuran dadanya yang G-cup terlihat sangat menonjol di balik zirah ringan sutranya, memberikan kesan feminin yang sangat kuat di tengah suasana militer yang kaku. Yudi terpesona bukan hanya karena kecantikannya, tapi karena aura kekuatan dan obsesi yang terpancar dari mata merah delima itu.
"Siapa gadis ini?" tanya Yudi, suaranya sedikit lebih berat dari biasanya.
Yue Qing melangkah maju, membungkuk dengan sangat anggun, namun matanya tetap menatap Yudi dengan tatapan yang seolah ingin menelan pria itu hidup-hidup. "Hamba Yue Qing, tunanganmu yang setia, Yang Mulia Kaisar Rahmad."
Yudi hanya bisa tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan kekagumannya.
Setelah suasana sedikit mencair, Wu Lin melangkah maju ke depan singgasana. "Yudi, aku datang bukan hanya untuk melepas rindu. Kekaisaran Zhou membutuhkanmu. Aku ingin kau ikut bersamaku pulang ke Luoyang. Aku akan menobatmu secara resmi sebagai Putra Mahkota. Seluruh Tiongkok akan berada di bawah kakimu."
Yudi terdiam sejenak, lalu ia tertawa kecil—suara tawa yang terdengar sangat mandiri.
"Ibu," ucap Yudi sambil bangkit dari singgasananya. "Dunia ini terlalu kecil jika aku hanya menjadi bayang-bayangmu. Kau menawarkan sebuah takhta di Luoyang, sementara aku sudah membangun sebuah Dinasti di atas atap dunia. Aku memiliki senjata yang bisa meruntuhkan tembok kota dari jarak ribuan mil. Aku memiliki api yang tak kunjung padam. Mengapa aku harus menjadi Putra Mahkota, jika di sini, aku adalah Kaisar?"
Wu Lin terdiam, menyadari bahwa tawarannya tidak ada harganya di depan kekuasaan absolut Dinasti Rahmad.
Di sudut lain, Zhou Long, adik laki-laki Yudi yang berusia 15 tahun, terus menatap Yudi dengan pandangan yang sulit diartikan—antara iri, takut, dan tidak percaya. Ia memperhatikan setiap gerakan Yudi dengan mata yang tidak berkedip.
Yudi yang menyadari tatapan itu, menoleh dengan cepat ke arah Zhou Long. Alisnya terangkat sebelah.
"Apa pandang-pandang? Ada utang ke?" cetus Yudi dengan gaya bicara yang santai namun menusuk.
Zhou Long langsung menundukkan kepalanya, wajahnya memerah karena malu dan takut. Adik-adiknya yang lain, Zhou Hu, Zhou Cheng, dan Zhou Jian, hanya bisa terdiam melihat interaksi tersebut. Mereka sadar bahwa kakak sulung mereka bukan hanya lebih kuat, tapi juga memiliki mentalitas yang jauh di atas mereka.
Hubungan Karakter dengan Yudi
Maharani Wu Lin (36 Tahun): Merasa gagal sebagai ibu tetapi bangga luar biasa. Ia kini memposisikan dirinya bukan sebagai atasan, melainkan sebagai orang tua yang memohon pengakuan dari anaknya.
Yue Qing (16 Tahun): Sangat terobsesi. Setelah melihat Yudi terpesona oleh kecantikannya, ia merasa posisinya sebagai calon permaisuri sudah tak tergoyahkan. Ia siap melakukan apa saja agar tetap di sisi Yudi.
Zhou Long & Zhou Hu (15 Tahun): Merasa sangat minder. Mereka memandang Yudi sebagai raksasa yang tak mungkin dilampaui. Tatapan "Ada utang ke?" dari Yudi akan menjadi trauma sekaligus motivasi bagi mereka.
Zhou Cheng (13 Tahun) & Zhou Jian (12 Tahun): Menganggap Yudi sebagai sosok legendaris. Mereka hanya ingin berada di dekat Yudi agar merasa aman.
Statistik Dinasti Rahmad
Nama Kekaisaran: Dinasti Rahmad
Kaisar: Yudi Rahmad (17 Tahun)
Ibu Kota: Lhasa (Tibet)
Luas Wilayah: 1,2 Juta Kilometer Persegi (Seluruh Dataran Tinggi Tibet)
Jumlah Penduduk: 2.500.102 Jiwa (Gabungan Suku Rahmad dan Rakyat Tibet)
Kekuatan Militer: 100 Pengawal Elit (Senjata Modern), 2 Unit Tank MBT, 1 Unit MLRS, 5 Armored Car, Silo Rudal Strategis.
Status Hubungan Luar Negeri: Mendominasi total wilayah Barat, bersitegang dengan loyalis Dinasti Tang, dan menjadi mitra dominan bagi Dinasti Zhou (karena hubungan darah).
Kekayaan: Tanpa Batas (Didukung oleh Sistem Konsumsi dan Logistik Infinity).
Yudi kembali duduk di singgasananya, sementara Yue Qing terus menatapnya dengan mata merah delimanya yang berkilat. Reuni itu telah berakhir, namun sebuah era baru di mana Dinasti Rahmad dan Dinasti Zhou berdiri sejajar—atau mungkin tidak sejajar—baru saja dimulai.
"Malam ini, kita berpesta," perintah Yudi. "Galuh, keluarkan stok makanan terbaik dari penyimpanan. Biarkan ibu dan adik-adikku merasakan apa itu kemewahan masa depan."