Briella hanyalah "sampah" di kediaman megah keluarganya—anak haram yang lahir dari perselingkuhan ibunya. Saat ia nyaris tewas disiksa oleh saudari tirinya, Prilly, sebuah pelarian berdarah membawanya ke pelukan pria asing di sebuah hotel remang-remang. Satu malam panas mengubah segalanya. Pria itu adalah Geovani, dokter bedah jenius berdarah dingin yang ternyata merupakan tunangan Prilly. Kini, Briella kembali bukan sebagai korban, melainkan sebagai wanita yang membawa benih sang dokter. Di bawah bayang-bayang balas dendam, Briella memulai permainan berbahaya: Merebut pria milik musuhnya, meski ia harus mempertaruhkan nyawa di atas meja operasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siksa di Ambang Kematian
Udara di bawah tanah kediaman keluarga Adijaya berbau besi berkarat dan jamur yang membusuk. Etheria-Metropolis baru saja menyentuh pukul dua dini hari, saat suhu merosot tajam hingga ke titik beku, namun di dalam gudang pengap ini, atmosfer terasa membara oleh kebencian. Briella tergeletak di lantai beton yang kasar, pipinya menempel pada permukaan dingin yang kini mulai tergenang oleh cairan hangat berwarna merah pekat.
"Tolong... Prilly... berhenti..." rintih Briella dengan suara yang pecah.
Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti belati yang menyayat tenggorokan. Tulang rusuknya di bagian kiri baru saja dihantam linggis baja dengan kekuatan penuh, menciptakan bunyi retakan yang mengerikan—seperti dahan pohon kering yang patah di tengah badai. Darah segar merembes cepat, menembus kain gaun tipis putihnya yang kini compang-camping, mengubah penampilan Briella menjadi pemandangan yang mengerikan.
Prilly berdiri di atasnya, kedua tangannya mencengkeram erat linggis yang ujungnya masih meneteskan darah Briella. Wajah cantik yang biasanya dipoles dengan kosmetik kelas atas dari Upper-Chrome itu kini terdistorsi oleh seringai gila. Matanya berkilat-kilat di bawah cahaya lampu neon yang berkedip-kedip di langit-langit gudang.
"Kau memohon padaku? Setelah semua noda yang kau bawa ke dalam keluarga ini?" suara Prilly melengking, memantul di dinding-dinding beton yang lembap. "Ibumu adalah pelacur yang merayu ayahku, dan kau hanyalah sampah darah kotor yang tidak seharusnya lahir ke dunia ini, Briella!"
Prilly kembali mengayunkan linggis itu. Kali ini sasarannya adalah bahu kanan Briella.
Braakk!
"Aaakhhh!"
Jeritan Briella tertahan di pangkal kerongkongan saat rasa sakit yang luar biasa melumpuhkan sistem sarafnya. Ia bisa merasakan tulang bahunya bergeser, memberikan sensasi terbakar yang menjalar hingga ke ujung jari-jarinya. Tubuhnya yang mungil tersentak di atas lantai, berkedut secara naluriah akibat trauma fisik yang teramat berat.
"Besok adalah hari pertunanganku dengan Geovani. Kau tahu siapa dia, bukan? Dia adalah dokter bedah terbaik di Etheria, pria dengan kasta tertinggi yang bisa didapatkan oleh wanita mana pun," Prilly berlutut, menjambak rambut hitam panjang Briella hingga kepala gadis itu terdongak paksa. "Aku tidak akan membiarkan sampah sepertimu muncul di depan kamera media atau merusak reputasiku sebagai mempelai sempurna. Kau harus hilang. Kau harus lenyap dari peta dunia ini selamanya."
Briella menatap mata saudarinya dengan pandangan yang mulai kabur. Cairan merah kental mulai menutupi kornea matanya, membuat segalanya tampak seperti bayangan merah yang menakutkan. Ia mencoba meraih kaki Prilly, namun jari-jarinya hanya mampu menggaruk lantai beton hingga kuku-kukunya pecah dan mengeluarkan darah baru.
"Kenapa... aku tidak pernah... mengganggumu..." bisik Briella dengan sisa tenaga yang nyaris habis.
"Keberadaanmu saja sudah merupakan gangguan bagiku!" pekik Prilly seraya menghempaskan kepala Briella kembali ke lantai dengan suara benturan yang keras.
Prilly berdiri, merapikan gaun sutranya yang sedikit terkena percikan darah. Ia menoleh ke arah dua pria berbadan tegap yang berdiri di kegelapan pintu masuk gudang. Mereka adalah algojo bayaran yang biasa membersihkan kotoran di distrik bawah.
"Seret dia keluar dari sini," perintah Prilly dingin. "Bawa dia ke perbatasan The Gutter. Pastikan dia mati di sana. Aku tidak mau melihat wajahnya lagi, atau kalian yang akan aku jadikan donor organ di laboratorium esok hari."
"Baik, Nona Prilly," jawab salah satu pria itu dengan suara berat yang tak berperasaan.
Lengan Briella yang lebam dicengkeram dengan kasar. Ia diseret di atas lantai beton seperti sekarung sampah. Briella tidak lagi memiliki kekuatan untuk meronta. Kesadarannya timbul tenggelam di antara rasa sakit yang membutakan. Ia merasakan tubuhnya dilempar ke dalam bagasi mobil yang sempit dan berbau bensin. Pintu bagasi tertutup dengan dentuman keras, menguburnya dalam kegelapan total.
Di dalam sana, Briella meringkuk. Setiap guncangan mobil membuat tulang-tulangnya yang patah saling bergesekan, mengirimkan gelombang kejutan listrik yang menyiksa ke seluruh tubuhnya. Ia bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang semakin melambat, seolah-olah mesin kehidupan di dalam dadanya mulai kehabisan bahan bakar.
"Ibu... apakah aku akan menyusulmu?" batin Briella di tengah kegelapan.
Mobil itu akhirnya berhenti setelah perjalanan yang terasa seperti selamanya. Pintu bagasi terbuka, dan udara dingin yang ekstrem segera menusuk luka-lukanya yang terbuka. Briella ditarik keluar dan dilempar begitu saja ke atas tumpukan salju yang bercampur dengan lumpur hitam di pinggiran The Gutter.
"Habisi saja sekarang?" tanya salah satu algojo sambil mengeluarkan pisau lipat.
"Jangan buang waktu. Dengan luka seperti itu dan suhu di bawah nol ini, dia tidak akan bertahan lebih dari sepuluh menit. Biarkan dia mati membeku dalam penderitaan. Itu jauh lebih menyakitkan daripada tusukan pisau," jawab rekannya.
Mereka pun masuk kembali ke dalam mobil dan memacu kendaraan itu pergi, meninggalkan Briella sendirian di tengah kesunyian malam yang mematikan.
Briella terkapar, wajahnya terbenam sebagian di dalam salju yang dingin. Putihnya salju di sekelilingnya perlahan berubah menjadi merah terang, menyerap darah yang terus mengalir dari luka-lukanya. Ia mencoba menggerakkan satu tangannya, berusaha untuk merangkak, namun tubuhnya sudah mencapai batas akhir. Paru-parunya terasa penuh dengan cairan, dan setiap napas yang ia ambil terasa sangat dangkal.
Di kejauhan, lampu-lampu neon dari pusat kota Etheria-Metropolis bersinar angkuh, seolah menertawakan nasibnya yang malang. Di kota ini, mereka yang lemah hanya akan menjadi pijakan bagi mereka yang kuat.
Saat matanya mulai tertutup sepenuhnya, sebuah cahaya terang tiba-tiba menyapu kegelapan jalanan yang sepi. Suara mesin mobil yang halus namun bertenaga mendekat dengan kecepatan tinggi. Decitan ban yang mengerem secara mendadak memecah kesunyian malam, menciptakan gema di antara gedung-gedung tua yang terbengkalai.
Sesosok pria keluar dari mobil mewah berwarna hitam legam itu. Ia mengenakan mantel panjang yang menyapu jalanan bersalju. Langkah kakinya sangat teratur, mantap, dan penuh wibawa. Pria itu berhenti tepat di depan tubuh Briella yang nyaris tak bernyawa.
"Seorang gadis?" suara itu terdengar rendah, jernih, namun sedingin es yang mengelilingi mereka.
Briella membuka matanya sedikit, melihat bayangan tinggi pria itu yang menutupi cahaya lampu mobil. Aroma antiseptik yang tajam bercampur dengan wangi maskulin yang mahal merasuki indra penciumannya yang mulai tumpul. Itu adalah aroma yang hanya dimiliki oleh orang-orang dari kasta tertinggi di Upper-Chrome.
Pria itu berlutut di sampingnya. Ia tidak menunjukkan ekspresi jijik saat melihat kondisi Briella yang hancur dan berlumuran darah. Sebaliknya, matanya yang tajam di balik kacamata frameless menatap Briella dengan intensitas seorang predator yang menemukan mangsa yang menarik.
"Tolong..." bisik Briella, tangannya yang gemetar berusaha meraih ujung mantel pria itu.
Ujung jari Briella meninggalkan noda darah merah pekat pada kain mantel mahal tersebut. Pria itu tidak menjauh. Ia justru memegang pergelangan tangan Briella, memeriksa denyut nadinya dengan ketenangan yang menakutkan.
"Pendarahan internal yang parah, patah tulang rusuk di beberapa titik, dan hipotermia tingkat lanjut," gumam pria itu seolah sedang membacakan laporan medis di ruang operasi. "Kau seharusnya sudah mati dua menit yang lalu."
Pria itu adalah Geovani. Ia menatap wajah Briella yang pucat pasi namun tetap memperlihatkan fitur kecantikan yang luar biasa meski di tengah penderitaan. Sebuah kilatan ketertarikan yang gelap muncul di matanya.
"Kau memiliki keinginan untuk hidup yang sangat kuat, Little One," kata Geovani sambil menyelipkan tangannya di bawah tubuh Briella yang rapuh. "Mari kita lihat, apakah kau bisa bertahan saat aku membedah semua rahasia yang kau sembunyikan di balik luka-luka ini."
Geovani mengangkat Briella dengan gerakan yang sangat protektif namun dominan. Ia membawa tubuh yang nyaris tak bernyawa itu ke dalam mobilnya, membiarkan darah merah kotor Briella mengotori jok kulit mahalnya. Baginya, ini bukan sekadar penyelamatan; ini adalah awal dari sebuah eksperimen gila yang melibatkan nyawa dan obsesi.
Di dalam kehangatan mobil yang mulai melaju, Briella merasakan sebuah tangan besar yang hangat menggenggam tangannya yang beku. Ia tidak tahu bahwa pria yang baru saja menyelamatkannya dari maut adalah tunangan dari wanita yang baru saja mencoba menghancurkannya. Di tengah kegelapan yang mulai merenggut kesadarannya, Briella hanya tahu satu hal: ia masih bernapas, dan malam ini, takdir baru saja memberinya senjata paling mematikan untuk membalas dendam.