NovelToon NovelToon
Kkn Desa Larangan: Kami Pulang Tinggal Nama

Kkn Desa Larangan: Kami Pulang Tinggal Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Mahrani

Lima mahasiswa KKN terjebak di Desa Larangan, desa gaib yang tidak ada di Google Maps.

Hari ketiga, Rani hilang dari kamar terkunci. Di kasurnya hanya ada selendang merah dan tanah kuburan. Kepala desa cuma bilang: "Tumbal pertama sudah diambil."

Setiap jam 01.00, gamelan dari hutan memanggil nama mereka. Sosok wanita berkebaya merah menatap dari sumur tua belakang balai desa.

Ternyata 7 tahun lalu ada mahasiswi KKN dibunuh dan dibuang ke sumur itu. Arwahnya menuntut 5 nyawa.

Mereka harus temukan tulang mahasiswi itu sebelum purnama, atau jadi penghuni tetap desa. Masalahnya, satu orang harus jadi tumbal sukarela untuk turun ke sumur.

Akankah mereka pulang selamat? Atau pulang tinggal nama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 - Teror Purnama Pertama

Purnama tinggal 3 hari lagi. Tapi teror di Desa Larangan sudah tidak mau menunggu tanggal.

Jam 02.14 dini hari, kami berlima terbangun serentak karena suara gamelan. Bukan dari arah balai desa seperti biasa, tapi dari dalam posko. Tepatnya, dari kamar Rani di lantai dua.

Aku yang tidur paling dekat tangga langsung melompat. Disa, Andre, dan Siska juga sudah bangun dengan wajah pucat. Tanpa komando, kami berempat lari menaiki tangga kayu. Suara gamelan itu makin jelas, cepat dan sumbang, seperti dimainkan oleh orang yang kesurupan.

Kami mendobrak pintu kamar Rani.

Pemandangan di dalam membuat napasku berhenti.

Rani duduk bersila di tengah kamar, membelakangi kami. Rambutnya terurai menutupi punggung. Di depannya, selendang merah itu melayang sendiri di udara. Benar-benar melayang, tidak jatuh, menari-nari mengikuti irama gamelan yang tidak ada sumbernya. Ujung selendang itu bergerak seperti ular, membentuk pola-pola aneh di udara.

"Rani..." panggil Siska dengan suara bergetar.

Pelan-pelan, Rani menoleh. Gerakannya patah-patah seperti robot. Saat wajahnya terlihat, kami mundur selangkah. Matanya hitam seluruhnya. Tidak ada putih, tidak ada bola mata. Hanya lubang hitam pekat seperti dasar sumur.

Dengan suara yang bukan suaranya, suara Laras yang berat dan menggema, Rani berbisik, "Dia lapar. Tujuh tahun tidak makan. Malam ini... dia minta camilan dulu. Sebelum hidangan utamanya datang pas purnama."

"Camilan apa?!" bentak Andre, meski lututnya gemetar.

Rani mengangkat tangannya yang pucat, menunjuk ke luar jendela. Jemarinya mengarah tepat ke satu rumah di ujung desa. Rumah Pak Sarmo.

"BRAK! BRAK! BRAK!"

Detik itu juga, dari arah rumah Pak Sarmo, terdengar suara pintu digedor kencang sekali. Diikuti suara barang jatuh, kaca pecah, dan teriakan. Teriakan laki-laki tua. Teriakan Pak Sarmo.

Tanpa pikir panjang, kami berlima lari keluar posko. Rani kami tinggalkan di kamar, pintunya kami kunci dari luar. Kami menerobos kabut malam yang tiba-tiba turun sangat tebal, berlari menuju rumah Pak Sarmo. Jarak 200 meter terasa seperti 2 kilometer.

Pintu rumah Pak Sarmo sudah terbuka. Dari dalam, bau kemenyan dan bau anyir darah tercium menyengat. Di ruang tamu, kondisinya berantakan. Kursi kayu patah jadi dua, lemari ukir terbuka dengan semua isinya berhamburan, foto-foto di dinding pecah.

Dan di tengah ruangan, Pak Sarmo tergeletak. Di lehernya, melilit erat selendang merah yang sama persis dengan milik Rani. Wajah Pak Sarmo sudah membiru, matanya melot, lidahnya terjulur. Tapi dadanya masih naik turun, megap-megap mencari udara.

Berdiri di atas tubuh Pak Sarmo, melayang sekitar 30 cm dari lantai, adalah sosok perempuan. Kebaya putihnya bersih tanpa noda, rambutnya panjang sepinggang, wajahnya cantik tapi pucat seperti mayat. Laras. Wujudnya utuh, tidak transparan, terlihat sangat nyata.

Tangan Laras mencengkeram ujung selendang yang melilit leher Pak Sarmo. Dia menariknya pelan-pelan, senikmat orang menarik layangan. Setiap tarikan membuat tubuh Pak Sarmo mengejang.

"Pak Sarmo yang ngubur aku," desis Laras. Suaranya memenuhi seluruh ruangan, terpantul di dinding. Suaranya mengandung duka, tapi lebih banyak dendam. "Dia yang lihat Pak Broto bekap mulutku pakai selendang ini. Dia yang lihat aku dibuang ke sumur hidup-hidup. Tapi dia diem. Karena dia dibayar tanah seratus hektar. Sekarang... giliran dia yang bayar utang nyawa."

"LEPASIN DIA, SETAN!" Disa yang emosinya paling meledak maju selangkah. Dia mengacungkan keris kecil seukuran telunjuk yang dikasih Pak Sarmo kemarin. Tangannya gemetar, tapi matanya nyala.

Laras menoleh pelan ke arah Disa. Dia menatap keris itu, lalu tertawa. Tawa melengking yang frekuensinya tinggi, membuat kaca jendela rumah Pak Sarmo bergetar sampai retak.

"Keris dapur mau ngelawan dendam 7 tahun?" Laras mencibir. "Lucu sekali kalian, anak kota. Kalian pikir kalian pahlawan?"

Dengan sekali jentikan jari yang lentik, keris di tangan Disa terlempar. Keris itu melesat kencang dan menancap di dinding kayu sampai gagangnya saja yang terlihat.

Disa terduduk lemas. Aku panik. Otakku muter cepat. Apa yang Pak Sarmo bilang? Api? Api bisa ngusir. Tapi tidak ada api di sini. Mantra? Kertas mantra!

Aku merogoh saku celanaku dengan tangan gemetar. Kertas lusuh berisi tulisan Jawa kuno itu masih ada. Kertas itu sekarang jadi satu-satunya senjata kami.

"SANGHYANG TUNGGAL..." Aku mulai membaca kalimat pertama dengan suara lantang. Lidahku kelu karena takut, jadi blepotan. "...HONG WILAHENG... SEGA ALAMING..."

Efeknya instan. Begitu kalimat pertama kubaca, Laras menjerit. Jeritannya bukan jeritan marah, tapi jeritan kesakitan. Selendang merah yang melilit leher Pak Sarmo langsung mengendur. Tubuh Laras yang tadinya solid bergetar hebat seperti sinyal TV rusak.

"DIAM! JANGAN BACA ITU! KUBURANMU!" teriak Laras, menutup kedua telinganya dengan tangan. Wajah cantiknya menyeringai menahan sakit.

Melihat itu berhasil, nyaliku naik. "BACA, SEMUA! BACA BARENG-BARENG!" teriakku ke yang lain.

Siska, Disa, dan Andre langsung merapat. Kami berempat membaca rame-rame dari kertas yang kupegang. Bacaannya blepotan, nadanya lari-lari, tapi kami terus membaca sekencang-kencangnya.

"SANGHYANG TUNGGAL... HONG WILAHENG... SEGALANG ALAMING..."

Laras menjerit makin kencang, melengking sampai kami harus menutup satu telinga. Wujudnya berkedip-kedip, kadang nyata, kadang transparan. Dengan teriakan terakhir yang memekakkan telinga, tubuhnya hancur menjadi asap hitam pekat. Asap itu berputar-putar di udara lalu tersedot masuk ke dalam selendang merah di leher Pak Sarmo.

"SRAT!" Selendang itu terlepas sendiri dari leher Pak Sarmo dan jatuh ke lantai seperti kain mati.

Pak Sarmo terbatuk-batuk hebat, "UHUK! UHUK! HAAK!" Dia megap-megap mengambil napas, menghirup udara sebanyak-banyaknya. Wajahnya yang tadi biru pelan-pelan kembali ke warna normal, meski masih sangat pucat.

Kami berlima langsung menolong Pak Sarmo duduk, menyandarkan punggungnya ke dinding. Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi keningnya.

"Dia... dia udah kuat banget," kata Pak Sarmo terbata, suaranya serak. Dia menatap selendang merah di lantai dengan tatapan trauma. "Tujuh tahun... dia nyerap energi dari tumbal-tumbal lain di sumur. Dari anak-anak KKN sebelum kalian. Mantra itu cuma ngusir sebentar. Paling lama sejam dia balik lagi. Pas purnama nanti... dia keluar semua. Dengan kekuatan penuh."

"Lalu gimana, Pak?" tanya Siska, air matanya sudah mengalir lagi. "Kita harus apa?"

Pak Sarmo menunjuk selendang merah yang tergeletak lemas di lantai. "Bakar selendang itu gak cukup. Itu cuma wadahnya. Bakar jasadnya di sumur juga gak cukup. Itu cuma rumahnya. Kalian harus... balikin ibu jarinya. Potongan ibu jari Laras yang diambil Pak Broto."

"Ibu jari?" Andre mengulang. "Buat apa, Pak?"

"Ibu jari itu dijadiin jimat pesugihan sama Pak Broto. Dikubur di bawah pohon beringin kembar, di tempat kalian ketemu Mbah Tirah. Jasadnya di sumur, tapi sukma-nya ketahan di dunia ini karena badannya gak lengkap. Kalian harus nyatuin lagi. Kubur ibu jarinya jadi satu sama jasadnya di dasar sumur. Cuma itu yang bisa nenangin dia. Bikin dia bisa jalan ke alam sana dengan tenang. Tapi..." Pak Sarmo berhenti, menatap kami satu-satu dengan tatapan sedih.

"Tapi apa, Pak?" desakku.

"Tapi yang ngubur ibu jarinya harus sukarela. Harus ikhlas nyerahin nyawanya. Nyawa bayar nyawa. Itu hukumnya. Kalau nggak... kalau yang ngubur setengah-setengah atau disuruh... yang ngubur bakal ikut ketarik ke sumur. Dia yang gantiin Laras. Dia yang bakal jagain tumbal berikutnya selama tujuh tahun."

Sunyi. Hanya suara napas kami yang tersengal dan suara detak jam dinding yang masih selamat.

Artinya, untuk nyelamatin Rani dan nyelamatin desa ini, salah satu dari kami berlima harus mati. Harus turun ke sumur, ngubur ibu jari itu, dan ikhlas ditelan kegelapan buat selamanya.

Dari luar, terdengar suara ayam jantan berkokok. KOK! KOKOKOK! Fajar sudah mau naik. Kabut mulai menipis.

Kami memapah Pak Sarmo kembali ke posko. Langkahnya gontai. Saat sampai di posko, kami menemukan pintu kamar Rani sudah terbuka. Kunci yang kami pasang rusak.

Rani duduk di ruang tengah, manis. Selendang merah sudah melingkar lagi di lehernya. Dia tersenyum ke kami sambil menyisir rambutnya pakai jari.

"Kalian dari mana? Kok kotor gitu," tanyanya polos. "Aku baru mimpi indah. Mimpi diajak main sama kakak cantik di bawah pohon."

Dia tidak ingat apa-apa lagi. Ingatannya hilang.

Tapi dari mulutnya, dia bersenandung kecil. Nyanyian Jawa, liriknya bikin bulu kuduk kami berdiri:

"Lelo ledung... anakku turu... sesuk gedhe... dadi tumbal lelakon... turu nyenyak... sesuk purnama... ibumu jemput... neng jero sumur..."

Nina bobo versi tumbal. Purnama tinggal 3 hari lagi. Dan kami harus memilih. Siapa yang akan jadi tumbal selanjutnya.

1
Devilgirl
asli bulu kudukku berdiri merinding😭😭😭kak tanggungjawab lho aku ketakutan😭😭
Devilgirl: Tenang,tenang...karya banyak tapi kejar target kak...ini aja Masih dua novel belum update 😂 kalau kakak butuh saran atau stuck alurnya bisa Tanya ke aku...aku juga suka genre horor tapi jiwaku malah lari ke kultivasi ceritanya🤣🤣
total 6 replies
Devilgirl
Thor,ini kenapa ucapannya diulangi lagi ya...tadi diatas sudah kan seharusnya lanjutannya kamar Rani yang terkunci Dari dalam
Devilgirl: 🤣🤣gak kemana mana kok tenang saja tetep stay disini
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!