NovelToon NovelToon
Suamiku Dokter Dewa

Suamiku Dokter Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Penyelamat / Epik Petualangan
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Sayap perak

Alvian Wira. Di panggung internasional, dunia mengenalnya sebagai Hades, Dokter Dewa, karena kemampuan medisnya luar biasa. Tapi setelah kembali ke Indonesia, dia hanya seorang dokter umum biasa yang mendirikan sebuah klinik kecil di pinggir kota.

Konflik kepemilikan tanah membawanya ke sebuah pernikahan dengan anak direktur rumah sakit terkenal, Clarissa Amartya. Dokter SpJP yang hanya ingin fokus dengan karirnya, tapi dipaksa menikah dengan ancaman mencabut izin prakteknya.

Clarissa yang dingin seperti kulkas, Alvian yang pecicilan dan suka menggoda. Dua kepribadian tinggal bersama, perlahan menumbuhkan perasaan.

Namun, ketika perasaan itu mulai tumbuh, masalah datang silih berganti, hingga mengungkap kebenaran tentang masa lalu Alvian. Tentang siapa dia sebenarnya, dan alasan kenapa dia menyembunyikan semuanya.

Apakah Clarissa bersedia menerima Alvian? Terlebih setelah mengetahui jika Alvian yang ia kenal selama ini, hanyalah topeng untuk menutupi identitas dan masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayap perak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Suami di KTP, Musuh di IGD

Sudah dua bulan dr. Clarissa Amartya, punya nama baru di KTP-nya. Clarissa Amartya Wira. Nama yang dia benci setiap tanda tangan dokumen rumah sakit. Nama yang membuatnya harus pulang ke rumah yang isinya laki-laki asing yang kini statusnya adalah suami.

Rumah Amartya di Pondok Indah. Besar, tiga lantai, kolam renang. Tapi sejak akad nikah kilat di KUA, rumah itu terasa sempit. Alasannya satu, Alvian Wira tidur di kamar tamu lantai satu, tapi kelakuannya seperti pemilik rumah.

Jam 05.30, Alvian sudah bangun. Masak nasi goreng dua porsi. Satu untuk dirinya, satu ditaruh di meja makan dengan sticky note, "Sarapan buat Istri. Jangan lupa makan, nanti mag. TTD Suami."

Clarissa tidak pernah menyentuh. Selalu dibuang sebelum berangkat dinas.

Jam 21.00, Alvian pulang dari klinik gratisnya di Tebet, sambil membawa risol, menaruhnya di kulkas dengan tulisan, "Cemilan Istri kalau lapar jaga malam." Tapi Clarissa tidak pernah buka kulkas bagian bawah. Hanya ambil air mineral.

Mereka bertemu di rumah maksimal 10 menit sehari. Sapaannya cuma tiga versi dari Alvian, "Pagi, Istri.", "Malam, Cla.", "Kamu cantik kalau jutek, Sayang." Balasan Clarissa cuma satu, "Berisik."

Hari ini, 17 September 2026, Jam 19.30. IGD RS Sentral Nusantara.

Clarissa jaga malam. Shift dari jam 19.00 sampai 07.00. Pasien membludak. Karena kebetulan lagi musim hujan, kasus DBD naik, kecelakaan naik. Dia sudah 30 menit tidak duduk, jas putihnya sudah ada bercak darah dari pasien kecelakaan lalu-lintas sebelumnya.

"Sus! Pasien baru! Trauma tumpul abdomen!" teriak dr. Maya, koas.

Brankar didorong masuk. Laki-laki 40 tahun, pucat, keringat dingin, merintih pelan. Keluarga di belakang nangis. "Dok, tolong suami saya! Ketabrak motor pas pulang kerja!"

Clarissa langsung ke bed. "GCS?"

"E3V4M5, Dok!" sahut perawat.

Tensi 78/50. Nadi 138. Saturasi 92% dengan NRM 10 liter. Perut tegang, datar, nyeri tekan seluruh lapang. Defence muscular positif.

"Syok hemoragik grade IIl, kemungkinan ruptur lien," gumam Clarissa. "Pasang infus 2 jalur! RL guyur! Cek lab darah lengkap, crossmatch 4 PRC! Siapin fast scan! Hubungi dr. Budi, bedah digestif on-call!"

"Siap, Dok!" ruangan bergerak cepat.

"CT scan antre berapa?" tanya Clarissa ke admin.

"Satu jam, Dok. IGD penuh."

"Bank darah gol O?"

"Tinggal 2 kantong, Dok."

Clarissa menggigit bibir bawah. Dokter Budi terjebak banjir di Kanal Banjir Timur. Kurang lebih butuh waktu 90 menit untuk sampai, tapi pasien ini tidak akan bertahan sampai waktu itu.

Di tengah chaos, pintu IGD terbuka. Bukan ambulans, tapi dr. Alvian Wira masuk. Kaos oblong, celana jeans, sandal jepit. Bau risol dan bensin motor. Di tangan ada kantong plastik isinya kotak bekal.

Clarissa melihatnya, seketika suhu IGD turun 5 derajat.

"Kamu ngapain ke sini?" suara Clarissa dingin, tapi cukup keras untuk didengar se-IGD.

Alvian angkat kotak bekal. Tersenyum. "Anterin makan malam Istri. Katanya jaga 24 jam. Takut mag." Dia melirik pasien di bed. Senyumnya hilang. Matanya menyipit 0,5 detik sambil menganalisis.

"Keluar. Ini IGD. Steril," kata Clarissa. "Satpam!"

"Sebentar," Alvian melangkah ke bed, mengabaikan satpam yang mau datang. "Boleh liat pasiennya? 5 detik aja. Janji nggak pegang-pegang."

"Tidak. Kamu bukan pegawai sini." Clarissa menghadang.

Namun Alvian tidak mendengarnya. Dia bahkan sudah di sisi bed, melakukan inspeksi 1 detik, palpasi 2 detik di perut kiri atas dan kanan bawah, kemudian perkusi 2 detik. Total 5 detik. Lalu mundur satu langkah.

"Bukan limpa, Istri," katanya pelan. Hanya Clarissa yang dengar. "Arteri mesenterika superior. Ruptur. Darah retroperitoneal. Kalau buka limpa, pasien bisa mati di meja. Laparotomi sekarang atau lewat."

Clarissa menatap Alvian, kepalanya berkecamuk. Di satu sisi suami sampah, dokter klinik gratis, tidak jelas kompetensinya. Namun, di sisi lain ada data. Defence muscular pasien ini memang minimal untuk ukuran ruptur limpa. Seharusnya kaku seperti papan. Pasien tidak responsif. Tanda perdarahan arterial, bukan vena yang lebih lambat.

"Kamu waras?" bisik Clarissa, marah. "Ini bukan main tebak-tebakan. STR kamu bisa kucabut."

"Aku tahu," jawab Alvian, masih tenang. "Tapi pasien ini bisa saja mati jika harus menunggu protap."

Keluarga pasien mendengar potongan kata "mati". Langsung histeris. "Dok, suami saya gimana Dok? Jangan mati Dok!"

Clarissa menoleh ke monitor. Tensi 70/40. Nadi 145. Dia tidak punya waktu debat. Dia DPJP (Dokter Penanggung Jawab Pelayanan). Keputusan ada di tangannya.

"Siapkan OK cito!" teriak Clarissa ke perawat. "Hubungi anestesi! Keluarga, tanda tangan informed consent risiko tinggi!"

"Dok Clara—" dr. Maya mau protes.

"Jalankan!" Tapi Clarissa langsung memotong. Tatapannya tertuju pada Alvian, berdecak pelan. "Kamu ikut naik. Tapi kalau diagnosis kamu salah, aku yang pertama laporin kamu ke polisi."

"Siap, Istri," Alvian mengangguk.

Di OK, 2 jam 14 menit kemudian.

"Retraktor!" pinta Clarissa. Keringatnya sudah membasahi setengah wajah.

Ditemukan hematoma retroperitoneal masif. Limpa intak. Liver intak. Clarissa melebarkan sayatan, dan di sana, di belakang pankreas, arteri mesenterika superior robek 1,2 cm. Darah mengalir deras.

Alvian, yang dari tadi diam di posisi asisten 2, berbisik, "Klem Bulldog, di segmen 2. Pelan."

Clarissa tidak menjawab, tapi tangannya bergerak mengambil klem Bulldog. Menjepitnya, perdarahan pun berhenti.

Operasi selesai. Pasien pun stabil dan segera dipindahkan ke ICU.

Di ruang bilas, Clarissa melepas masker, sarung tangan, dan gaun. Badannya gemetar, bukan karena takut, tapi karena adrenalin, dan satu fakta jika suaminya benar.

Dokter klinik gratis yang dia hina 2 bulan itu baru saja menyelamatkan reputasi dan STR-nya.

"..."

Alvian keluar dari ruang bilas terlebih dulu. Dia sudah mengganti kaos, menghampiri Clarissa sambil membawa kotak bekal yang tadi. "Istri belum makan dari siang. Nih, nasi goreng. Masih hangat. Aku panaskan di microwave ruang operasi."

Clarissa merebut kotak bekal, membuangnya ke tempat sampah. "Aku bilang jangan panggil Istri di rumah sakit. Dan jangan datang ke IGD lagi. Kejadian ini tidak mengubah apa-apa, kita tetap pisah kamar."

Dia berbalik, pergi ke ICU. Tidak bilang terima kasih.

Alvian melihat punggung Clarissa, mengambil kotak bekal dari tempat sampah dan memakannya. "Sayang banget dibuang. Padahal pakai telur dua." Dia makan sendiri di pojok ruang operasi, sambil tersenyum.

Malam itu, Clarissa visite ke ICU. Melihat pasien sadar, tanda vitalnya stabil, keluarga pasien langsung sujud-sujud terima kasih.

"Dokter Clarissa hebat. Dokter telah menyelamatkan suami saya."

Clarissa diam. Di otaknya terngiang, "Bukan limpa, Istri."

Dia masih sulit menerima jika semua yang dikatakan Alvian itu benar.

___

Jam 23.00, Alvian pulang ke rumah Pondok Indah. Kamar tamu dikunci dari luar. Ada sticky note di pintu: "Tidur di sofa. Kunci saya bawa. -C"

Alvian tertawa kecil, menggelar selimut di sofa. Sebelum tidur, kirim pesan, "Selamat malam, Istri. Jangan lupa minum susu biar tidak osteoporosis. TTD Suami Sah."

Clarissa membaca pesan itu tetapi tidak membalasnya. Blokir notifikasi, tapi tidak hapus kontaknya.

"Benar-benar mengganggu."

1
Agos Widodo
mulai dapat musuh ini🤣🤣🤣🤣
Joni Walinton Butarbutar
mantap
Joni Walinton Butarbutar
keren
irawan muhdi
lanjut 🙏
Aang Reza
leng shui kapan di novelkan tor?
Teh Gelas: Dre*ame.. tanpa bintang. Judulnya "Kembalinya Sang Legenda" - Berbayar, sudah tamat.
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!