NovelToon NovelToon
Jatuh Cintanya Seorang Pendosa

Jatuh Cintanya Seorang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta Terlarang
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Di balik dinding suci sebuah pondok pesantren, tersembunyi seorang buronan. Reyshaka El Zhafran atau Shaka—tak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir di tempat yang paling ia hindari. Demi lolos dari kejaran polisi, pengedar narkoba itu nekat bersembunyi di pesantren milik Ustadz Haidar, seorang ulama yang dikenal bijak dan disegani.

Awalnya, Shaka hanya ingin selamat. Namun hari demi hari, ketenangan, nasihat, dan ketulusan Ustadz Haidar perlahan meruntuhkan tembok keras di hatinya. Untuk pertama kalinya, Shaka mulai mengenal arti penyesalan dan harapan untuk berubah. Semua menjadi semakin rumit saat ia bertemu Hanindya Daisha Ayu—putri sang ustadz yang berhati lembut dan shalihah. Tanpa disadari, perasaan itu tumbuh diam-diam, menyiksa shaka dalam keheningan.

Tapi bagaimana mungkin seorang mantan pengedar narkoba seperti dirinya pantas mencintai perempuan sebersih Hanindya?
Terlebih, Hanindya telah dijodohkan dengan Ustadz Ilyas—lelaki yang jauh lebih layak dibanding dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Untuk beberapa saat, Ustadz Haidar tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap pemuda di hadapannya dengan sorot matanya yang begitu dalam. Tatapan yang penuh iba namun juga penuh harapan. Seolah beliau tahu bahwa yang sedang diserahkan Shaka malam ini bukan sekadar tas berisi obat-obatan terlarang, melainkan seluruh kehidupan lamanya, seluruh dosanya, luka dan seluruh jalan gelap yang selama ini menyeretnya semakin jauh.

Perlahan, Ustadz Haidar mengulurkan tangannya untuk menerima tas hitam itu dari tangan Shaka. Begitu tas itu berpindah tangan, entah kenapa dada Shaka langsung terasa kosong. Aneh. Selama bertahun-tahun benda itu seperti nyawanya sendiri. Ia menjaganya mati-matian. Bahkan tadi ia rela mengancam seseorang dengan pisau demi melindunginya. Namun sekarang saat tas itu benar-benar lepas dari tangannya, ada rasa takut yang bercampur dengan lega di dalam dadanya.

Ustadz Haidar menatap tas itu sejenak sebelum akhirnya menutup resletingnya perlahan.

“Aku akan memusnahkan semuanya,” ucap ustadz Haidar pelan. Kalimat itu membuat mata Shaka kembali memanas. Ustadz Haidar lalu mengangkat pandangannya untuk menatap pemuda itu lagi. “Dan mulai malam ini…” suaranya tenang namun terdengar begitu tegas, “kamu harus mulai hidupmu dari awal, nak.”

Shaka terdiam.

Mulai hidup dari awal? Apa itu mungkin setelah semua yang sudah ia lakukan? Setelah semua dosa yang sudah menempel di hidupnya? Shaka menundukkan wajahnya perlahan. Napasnya bergetar.

“Memangnya orang kayak saya masih bisa mulai dari awal ya, Pak…?” tanya Shaka dengan lirih. Suaranya terdengar begitu rapuh.

Ustadz Haidar tersenyum kecil.

“Selama manusia masih hidup,” jawab ustadz Haidar pelan, “selama itu juga Allah masih memberi kesempatan.”

Shaka menatap lantai dalam diam. Entah kenapa setiap ucapan yang diucapkan oleh lelaki itu selalu terasa aneh di hatinya. Hangat dan menyakitkan sekaligus. Karena ucapan-ucapan itu seperti membuka sesuatu yang selama ini ia kubur rapat-rapat. Ustadz Haidar lalu berdiri perlahan sambil membawa tas hitam itu.

“Sekarang…” ujar ustadz Haidar dengan lembut. “Sebelum kita bicara lebih jauh soal perubahan hidupmu…” ia menatap Shaka dengan tenang. “Bersihkan dirimu dulu.”

Shaka mengangkat wajahnya sedikit sementara ustadz Haidar menunjuk ke arah samping mushola.

“Di samping mushola ada tempat wudhu.”

Shaka tampak diam dan mendengarkan. “Ambillah air wudhu,” lanjut Ustadz Haidar. “Aku akan membimbingmu melakukan sholat taubat.”

Kalimat itu membuat Shaka membeku untuk sesaat. Sholat taubat. Sudah berapa lama ia bahkan tidak sholat? Ia sendiri hampir lupa semua bacaannya. Mungkin bertahun-tahun.

Mungkin sejak hidupnya mulai berantakan atau mungkin sejak ia mulai merasa Tuhan sudah meninggalkannya. Tenggorokan Shaka terasa tercekat. Ia menunduk perlahan. Entah kenapa ada rasa malu yang tiba-tiba muncul di dadanya. Malu karena dirinya begitu kotor dan sekarang lelaki ini malah ingin mengajaknya berdiri menghadap Tuhan.

Shaka mengusap wajahnya pelan lalu perlahan ia bangkit berdiri. Kakinya terasa sedikit lemas. Mungkin karena malam yang panjang. Mungkin juga karena emosinya sudah terlalu terkuras. Saat ia hendak melangkah menuju tempat wudhu, langkahnya tiba-tiba berhenti. Ia menoleh kembali ke arah lelaki paruh baya itu. Ustadz Haidar masih berdiri di dekat tiang mushola sambil memegang tas hitam tadi, membuat Shaka menatapnya selama beberapa detik lalu dengan suara pelan ia berkata,

“Pak…”

“Ya?”

Shaka terlihat sedikit ragu.

“Saya…” Ia menggaruk tengkuknya pelan. “Saya bahkan belum tahu nama bapak.”

Untuk pertama kalinya malam itu, senyum Ustadz Haidar terlihat sedikit lebih jelas. Senyum hangat yang sederhana.

“Aku Haidar,” jawabnya lembut dan tenang. “Orang-orang di sini biasa memanggilku Ustadz Haidar.”

Shaka mengangguk pelan.

“Ustadz Haidar…” ulang Shaka lirih seolah mencoba mengingat nama itu baik-baik. Lalu setelah beberapa detik terdiam, Shaka berkata lagi dengan suara yang lebih pelan. “Terima kasih sudah menolong saya, ustadz.” ucap Shaka yang terdengar canggung.

Mungkin karena Shaka sudah terlalu lama hidup dengan kemarahan dan kekerasan sampai kata terima kasih terasa asing di lidahnya sendiri. Namun Ustadz Haidar hanya tersenyum dan mengangguk kecil.

"Dan kau, aku masih belum mengetahui siapa namamu nak."

"Nama saya Shaka, ustadz."

"Shaka, pergilah mengambil air wudhu, aku akan menunggumu disini."

Shaka menelan ludah lalu mengangguk pelan.

Ia akhirnya melangkah keluar dari area utama mushola menuju tempat wudhu di samping bangunan. Udara malam terasa dingin. Langit gelap membentang luas di atas pondok pesantren yang kini sudah jauh lebih sunyi dibanding tadi saat polisi datang. Langkah kaki Shaka terdengar pelan saat melewati lorong kecil samping mushola. Lampu redup menggantung di dekat tempat wudhu.

Air keran menetes pelan. Shaka berdiri diam beberapa saat di depan tempat wudhu itu.

Menatap pantulan dirinya sendiri di genangan air kecil di lantai. Wajahnya kusut, matanya merah, rambutnya berantakan, dan tubuhnya masih dipenuhi debu dan sisa kehidupan jalanan yang melekat padanya. Shaka memejamkan matanya sebentar lalu perlahan membuka keran air dan membuat air dingin langsung mengalir mengenai tangannya. Ia sedikit tersentak. Sudah lama sekali ia tidak berwudhu. Tangannya bergerak dengan kaku bahkan ia hampir lupa urutannya. Namun samar-samar ingatan masa kecil muncul di kepalanya.

Tentang ibunya. Tentang suara lembut wanita itu yang dulu pernah mengajarinya wudhu saat ia masih kecil. Dadanya langsung terasa sesak. Shaka menggigit bibirnya pelan lalu mulai membasuh tangannya perlahan.

Sementara itu di dalam mushola, Ustadz Haidar berdiri sendiri sambil memegang tas hitam tadi. Ia menatap tas itu cukup lama.

Sorot matanya terlihat berat. Ia tahu isi tas itu bisa menghancurkan banyak kehidupan namun malam ini tas itu juga menjadi simbol satu hal lain. Permulaan dan perubahan. Ustadz Haidar lalu berjalan menuju lemari kayu kecil di sudut mushola. Ia membuka lemari itu perlahan. Di dalamnya tersimpan beberapa sarung dan baju koko putih milik santri-santri yang biasa digunakan sebagai cadangan.

Ia mengeluarkan satu baju koko putih polos dan sebuah sarung berwarna gelap. Tangannya merapikan pakaian itu pelan sementara tatapan matanya terlihat lembut. Entah kenapa membayangkan Shaka memakai pakaian santri membuat hati ustadz Haidar dipenuhi harapan kecil. Mungkin jalan pemuda itu memang belum selesai. Mungkin Allah memang sengaja mempertemukan mereka malam ini. Di luar, suara air masih terdengar mengalir. Shaka sedang berusaha membersihkan dirinya. Bukan hanya tubuhnya tapi mungkin juga hatinya. Beberapa menit berlalu, Shaka akhirnya selesai berwudhu. Air wudhu nya masih menetes dari wajah dan tangannya. Napasnya terasa sedikit lebih tenang meski dadanya masih dipenuhi banyak hal yang sulit dijelaskan. Ia berjalan kembali menuju mushola dengan langkah pelan.

Begitu masuk ke dalam, ia melihat Ustadz Haidar sudah berdiri menunggunya. Di tangannya ada setumpuk pakaian. Shaka berhenti beberapa langkah darinya dan membuat Ustadz Haidar menatapnya lalu tersenyum kecil.

1
Putri_a_s
pake acara sumpah sumpahan lagi/Drowsy/
Yuni Avita
ozy ibarat musuh dalam selimut.
Yuni Avita
moga aja kamu cepat sadar dengan apa yang kamu lakukan, Ozy.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Biar ganteng Shaka 😁
Suhadi Mulyo
jangan bawa nama tuhan dengan mulut kotormu itu Ozy, nggak usah sok suci lho/Panic/
Suhadi Mulyo
tega banget kamu ozy/Smug/
Suhadi Mulyo
punya salah apa Shaka sama kamu Ozy? sampai kamu tega banget fitnah dia /Scowl/
Khumaira Nur Rahma
jahat banget kamu ozy, udah lempar batu sembunyi tangan, sekarang malah fitnah Shaka /Panic/
Suhadi Mulyo
bagus banget, ada cuplikan ayat Al-Qur'an nya juga, jadi tambah ilmu.
Suhadi Mulyo
ustadz Ilyas beruntung bisa dicintai oleh perempuan seperti Hanin😍
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
bagus Shaka harus move on dong.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Selagi mau berubah, Allah selalu dekatkan dgn org yg baik bukan. Good morning aku sempetin baca sebelum kerja💙
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Jodoh adalah bagian dari takdir Allah, namun ikhtiar menjemputnya tetap menjadi bentuk ketaatan.
Dengan ikhtiar, tawakal dan kesabaran, setiap langkah menuju jodoh bisa menjadi jalan ibadah yang diridhai Allah.
Kondisi dalam hubungan percintaan barangkali tidak akan semulus kelihatannya.
Tentu saja setiap orang akan selalu berharap mendapatkan pasangan yang ia cintai dan mencintai dirinya. Akan tetapi, dalam hidup tentu harus realistis.
Tidak semua yang kita inginkan itu bisa terwujud.
Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui".
Percayakan kepada Allah yang Maha Mengetahui, Allah Sang Pemilik Hati Manusia. Jodohmu sudah diatur oleh-Nya...🤭
sakura
..
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
oh apakah Hanindiya itu anak ustadz Haidar.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Thor harusnya di tulis jga bawahnya surah mana atau hadis doa mana biar tahu para pembaca gitu.
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: bukan doa kak, tapi sholawat.
total 1 replies
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
tanda hati Shaka mulai terenyuh.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
lagi dakwah kaya gini terus di bawahnya ada iklas dramashot mana tokohnya Hb lagi nggak etis banget ih 🤦
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
apakah ustadz Ilyas tau soal ini🤭
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
"Maula ya sholli wasallim daiman abada" adalah adalah sholawat yang termasuk bagian dari Qasidah Burdah.
Sholawat ini diciptakan oleh Imam Bushiri, penyair sekaligus ulama yang tersohor di kalangan umat Muslim.
Kata burdah secara bahasa diartikan sebagai mantel.
Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa burdah berasal dari kata bur’ah yang berarti shifa (kesembuhan).
Sholawat Burdah sendiri merupakan sajak-sajak pujian kepada nabi Muhammad SAW, pesan moral, nilai-nilai spiritual, semangat perjuangan, dan sebagainya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!