Aku nggak pernah membayangkan kalau gaun putih ini bakal terasa seberat rantai besi. Menikah dengan Bara Adiwangsa bukan mimpi indah yang jadi nyata, tapi awal dari sandiwara panjang yang nggak tahu kapan selesainya.
Bara itu suamiku, tapi dia yang paling sering bikin aku merasa nggak berharga. Dia bisa bersikap manis di depan orang tuanya, lalu berubah jadi orang lain yang kasar saat dia bersamaku.
Capek? Banget. Karena suamiku mungkin berpikir dia bisa menginjak-injak harga diriku hanya karena dia merasa telah "membeliku". Dia bisa saja menatapku dengan jijik, mengacuhkanku seolah aku hanyalah pajangan mati di pojok ruangan. Dia bisa memuja masa lalunya atau mencari pelarian pada orang lain, tapi ada satu kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa dia hapus, sekeras apa pun dia mencoba.
"Tatap aku, Bara. Hina aku sesukamu, tapi jangan pernah lupa satu hal... Aku Ini Istrimu."
Bab 16 Ujung-ujungnya Keluar Duit
Pintu ruangan tertutup rapat, menyisakan kesunyian yang berat namun penuh rasa kagum. Reno menyandarkan punggungnya ke meja rapat, melipat tangan di dada sambil memandang Bara dan Renata bergantian.
"Gila, ya... Gue bener-bener nggak nyangka kalian berdua kalau digabungin bisa bikin orang satu ruangan kagum," puji Reno dengan tawa kecil. "Lo berdua bener-bener power couple Adiwangsa, sumpah!"
Renata tersenyum bangga, jemarinya masih memutar pulpen di atas meja. Namun, senyum itu perlahan memudar saat sebuah ingatan lama mendadak melintas di kepalanya, sebuah pertanyaan yang selama ini belum benar-benar terjawab dengan tuntas.
"Ngomong-ngomong mumpung aku disini," celetuk Renata, suaranya tenang namun matanya menatap Reno dengan tajam. "Waktu itu, pas Bara ninggalin aku sendirian di mall gara-gara katanya urusan kantor yang 'mendadak' banget... emangnya dia beneran ke sini ya, Ren? Ketemu kamu?"
Suasana ruangan mendadak dingin. Bara yang tadinya sedang merapikan dokumen, gerakannya terhenti sejenak. Jantungnya berdegup kencang, ia melirik Reno dengan tatapan yang seolah berkata, 'Jangan sampai salah jawab, atau kita berdua mati.'
Reno yang tertangkap basah, sempat tertegun sejenak. Ia melirik Bara, lalu kembali ke Renata dengan seringai jahil andalannya. "Waduh... Kalau soal itu, mending tanya aja sama orangnya langsung. Gue udah ngejelasin semuanya jadi kalau gue yang ngejelasin lagi nanti yang ada malah nggak percaya," jawab Reno, mencoba mencari aman dengan nada bercanda.
Bara segera mengambil alih pembicaraan sebelum kecurigaan Renata melebar. "Iya, Sayang... Aku bener kok pas ninggalin kamu di mall itu, kan aku udah bilang aku ke sini disuruh dia," sahut Bara cepat sambil menunjuk ke arah Reno dengan telunjuknya. "Terus kamu nggak percaya gitu sama suamimu sendiri?"
Renata menatap suaminya dalam-diam, mencoba mencari celah kebohongan di mata Bara. "Aku percaya, Mas," jawab Renata perlahan. "Aku cuma mastiin aja bener apa nggak. Soalnya kan aneh aja gitu, ish..."
Reno yang merasa situasi mulai memanas dan tidak ingin rahasia terbongkar di ruang rapat, segera memotong pembicaraan. Ia tahu jika dibiarkan, Renata akan terus menginterogasi sampai ke akar-akarnya.
"Udah-udah! Jangan ribut di sini, urusan kalian berdua selesaikan di rumah saja," potong Reno sambil berdiri tegak. "Mending sekarang kita makan siang aja, udah jam dua belas juga."
Bara dan Renata menoleh ke arah Reno secara bersamaan, memberikan tatapan menyelidik yang sama persis.
"Tenang... gue yang traktir!" jawab Reno mantap sambil mengangkat kedua tangannya. "Anggap aja kebaikan gue demi keluarga."
Mendengar kata 'traktir', ketegangan di wajah Bara langsung mencair. "Yess! Gitu dong, jarang-jarang sepupu pelit kayak lo mau keluar duit," sahut Bara riang, mencoba mengalihkan suasana agar Renata tidak lagi membahas soal kejadian di mall.
Renata hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah dua laki-laki di depannya, meski dalam hati, ganjalan soal kejadian mall itu perlahan hilang dari pikirannya.
Reno yang udah pegang kunci mobil di depan pintu mendadak ngerem langkahnya. Dia balik badan sambil masukin tangan ke saku celana. "Bentar, sebelum kita cabut, mending fix-in dulu mau makan apaan. Gue nggak mau ya kita macet-macetan di jalan cuma buat debat 'terserah' atau 'bebas' ujung-ujungnya nggak jadi makan."
Bara langsung nyamber paling kenceng. "Daging! Steak yang di tempat biasa itu lho. Gue butuh asupan protein tinggi nih, otak gue baru aja diperes abis-abisan di rapat tadi."
Renata langsung pasang muka nggak setuju. Dia geleng-geleng kepala sambil ngelipat tangan di dada. "Aduh, Mas... siang-siang bolong begini kok makannya yang berat banget sih? Panas begini mah enaknya yang seger-seger. Makan Sunda aja yuk, yang ada karedoknya, sambel goreng, terus minumnya es kelapa muda. Beuh, mantap itu buat nurunin tensi rapat tadi."
Bara nggak mau kalah. "Yah, Sayang... kalau masakan Sunda mah di rumah juga sering masak kan? Ini mumpung Reno lagi 'kesambet' mau nraktir, kita cari yang fancy dikit lah. Jarang-jarang lho sepupu aku ini."
"Bukannya soal fancy atau enggaknya, Mas. Tapi kalau makan steak jam segini, nanti pas balik ke kantor malah ngantuk berat. Aku lagi pengen yang ringan tapi nendang," bales Renata dengan nada yang mulai naik satu oktav, bibirnya udah mulai cemberut lucu.
Bara nengok ke Reno, minta pembelaan. "Ren, lo yang bayar, lo yang nentuin. Steak, kan? Cowok mah makannya daging!"
Reno yang sedari tadi cuma jadi penonton budiman di pojokan pintu cuma bisa melongo. Dia ngeliatin Bara yang kekeh sama dagingnya, terus ngeliat Renata yang udah pasang muka 'pokoknya harus Sunda'. Padahal tadi di dalem ruang rapat mereka berdua kayak singa yang mau nerjang musuh, eh sekarang malah kayak Tom and Jerry rebutan jatah makan.
Reno narik napas panjang terus ngusap-ngusap kepalanya, bener-bener kayak orang frustasi. "Ampun deh... gue kira kalian kalau udah kompak kaya tadi pas rapat, bakal kompak juga seterusnya. Ternyata sama aja!"
Reno geleng-geleng kepala sambil masang muka pasrah. "Udah-udah! Daripada kita kelamaan debat ujung-ujungnya bakala nggak beres, biar gue yang nentuin! Kita ke resto fusion yang ada di deket sini aja. Di sana ada menu internasional, ada menu nusantaranya juga. Gue nggak mau denger kalian ribut lagi, titik! Atau gue batalin nih traktirannya?"
Bara sama Renata diem sejenak, terus mereka berdua saling lirik-lirikan. Akhirnya Bara ngangkat bahu tanda nyerah, sementara Renata ngangguk pelan—itung-itung demi perdamaian dunia (dan perut kenyang gratisan).
"Yaudah deh, asal ada es kelapa mudanya ya," gumam Renata pelan.
"Dan steak gue harus yang medium rare!" tambah Bara nggak mau rugi.
Reno hanya bisa membatin dalam hati, Ternyata ngadepin pasangan jenius ini jauh lebih pusing daripada ngurusin kerjaan kantor yang harus di selesaikan sekarang juga.
Di meja makan di restoran fusion itu bener-bener penuh sesak, sampai-sampai pelayannya harus pinter-pinter cari celah buat naruh piring terakhir. Di depan Bara, udah antre sepotong steak besar yang masih berasap dengan aroma butter yang menggoda.
Tapi di tengah meja, menu pilihan Renata juga nggak kalah heboh, ada ikan bakar kecap yang bumbunya medok, nasi putih sebakul yang masih ngebul, lengkap sama bermacam-macam sambal dari sambal korek sampai sambal dadak yang merah merona. Jangan lupa, es kelapa muda pesanan Renata juga udah nangkring cantik di situ.
Reno yang duduk di depan mereka cuma bisa bengong ngeliatin pemandangan itu. Dia geleng-geleng kepala sambil ngebatin, Gila ya, ini mah bukan makan siang lagi namanya... Bener-bener salah gue deh traktir mereka.
"Wah, mantap! Selamat makan semuanya!" seru Bara dengan wajah sumringah. Dia langsung motong daging steak-nya, tapi tangan kirinya malah colongan ngambil sepotong kecil ikan bakar dari piring tengah.
Sambil ngunyah, Bara nggak berhenti muji-muji sepupunya itu. "Emang sepupu gue yang satu ini paling juara lah! Tau aja dia kalau soal selera begini. Lo emang pengertian banget, Ren. Tahu aja perut gue lagi demo butuh yang premium."
Renata yang udah dapet es kelapanya langsung nyeruput lewat sedotan dengan ekspresi puas banget. "Seger banget... Makasih ya, Ren. Ternyata pilihan tempat kamu oke juga, bisa dapet dua-duanya gini," ucap Renata sambil senyum manis, rasa kesalnya pas di kantor tadi kayaknya udah menguap kena air kelapa dingin.
Reno cuma bisa senyum kecut sambil menyuap makanannya sendiri. "Iya, iya... Makan yang banyak gih. Biar otak kalian nggak panas lagi gara-gara urusan kantor. Gue cuma berharap tagihannya nanti nggak bikin dompet gue nangis darah aja."
Suasana di meja makan itu mendadak jadi cair banget. Nggak ada lagi aura CEO yang dingin atau asisten pribadi yang curigaan. Yang ada cuma tiga orang saudara yang lagi asyik nikmatin traktiran.
Tapi, pas Bara lagi asyik-asyiknya nyocol daging ke sambal korek punya Renata, tiba-tiba ponsel yang dia taruh di samping piring bergetar pelan. Layarnya menyala, nampilin notifikasi pesan dari Nyonya Sarah, mamanya sendiri. Bara refleks melirik, dan seketika kunyahannya melambat. Mukanya yang tadi ceria langsung berubah agak tegang pas baca isinya.
"Kamu di mana, Bar? Di rumah ada Maya nih, lagi mampir.”
Bara langsung narik napas panjang. "Aduh," gumamnya pelan banget sampai hampir nggak kedengeran. Dia buru-buru nyambar HP-nya, berusaha tenang biar Renata nggak curiga. Jemarinya lincah ngetik balasan buat sang mama.
“Iya, Mah. Aku nanti pulang kok. Ini lagi makan siang dulu bareng Reno sama Renata.”
Nggak nunggu lama, HP-nya getar lagi.
“Oh, yaudah kalau kamu lagi makan. Tapi kalau udah beres langsung pulang dulu ya, nggak enak ini Maya nungguin.”
Bara cuma bisa naruh ponsel-nya balik ke meja dengan posisi layar menghadap ke bawah. Nafsu makannya yang tadi rakus mendadak pelan. Dia tahu, kalau Maya udah sampai berani main lagi ke rumah dan otomatis ada papanya, berarti urusannya nggak bakal beres.
Renata yang lagi asyik nyeruput es kelapa langsung nyadar ada yang beda sama suaminya. Dia nurunin sedotannya, terus natap Bara lurus-lurus.
"Siapa, Mas? Kok kamu langsung ngelamun?" tanya Renata, suaranya kedengeran tenang tapi menyelidik.
Reno yang dari tadi asyik sama ikan bakarnya juga ikut nengok. Dia udah nangkep gelagat nggak beres dari muka sepupunya itu. "Kenapa, Bar? Ada yang lo pikirin?" tanya Reno, mencoba "nge-cover" Bara biar suasana nggak makin panas.
Bara berdehem, berusaha masang muka sesantai mungkin. "Bukan, ini... Mama. Katanya di rumah ada tamu, disuruh mampir sebentar kalau urusan aku udah kelar."
"Tamu siapa?" kejar Renata. Perasaannya mulai nggak enak. Di jam begini, tamu macam apa yang bikin Mama Sarah sampai harus nge-Chat Bara berkali-kali?
Bara menarik napas panjang, mencoba membuang kegelisahan yang mendadak nongkrong di dadanya. "Yah, nanti kamu lihat sendiri saja di rumah siapa tamunya," jawab Bara singkat sambil mencoba kembali fokus ke steak-nya, meski rasanya sudah tidak segurih tadi.
Renata hanya mengangguk pelan. Dia tidak mau merusak suasana makan siang yang langka ini dengan interogasi lebih lanjut, meski insting wanitanya mulai membisikkan sesuatu yang tidak beres. "Yaudah, llanjut makan, Mas. Nanti malah dingin dagingnya," sahut Renata sambil menyendok sambal dadak ke piringnya.
Sementara di rumah Bara, tepatnya di ruang tamu. Maya duduk dengan posisi tegak, bersama orang tuanya bara. Tante Sarah dan di sampingnya Om Baskoro yang sedang menyesap kopinya.
"Oh ya, kamu gimana kabarnya... siapa ya? Eh..." Om Baskoro mengernyitkan dahi, memijat pangkal hidungnya pelan karena mendadak lupa nama wanita di depannya.
Maya tersenyum tipis, meski ada sedikit rasa jengkel di hatinya karena merasa tidak dianggap penting. "Maya, Om... Kabar saya baik-baik saja, Om," jawab Maya dengan nada yang sangat sopan.
"Nah, itu! Maya! Bagus dong kalau kabar kamu baik," sahut Om Baskoro, mencoba menutupi rasa canggungnya. Beliau kembali bertanya untuk mencairkan suasana. "Gimana keluarga? Sehat semua?"
"Sehat, Om. Kebetulan baru kemarin Ayah sama Mama berangkat ke Australia," jawab Maya ramah.
"Wih, keren! Lagi liburan dong," timpal Om Baskoro sambil mengangguk-angguk. Beliau mencondongkan badannya sedikit, menatap Maya dengan rasa ingin tahu. "Kamu baru pertama kali main ke sini ya?"
Pertanyaan itu sukses bikin Maya melongo. Dia bingung mau jawab apa, karena rasanya dia sudah sering bolak-balik ke rumah ini dulu. "Nggak kok, Om... malah saya sering main ke sini," jawab Maya canggung.
Nyonya Sarah yang duduk di samping suaminya langsung menyenggol lengan Papa Baskoro. "Sering lho, Mas! Kan Maya ini yang dulu anakmu mau kenalin ke kamu. Tapi kamunya kan waktu itu nggak lagi di rumah, Masih di Amerika, inget nggak?"
Papa Baskoro langsung tertawa renyah sambil menepuk jidatnya sendiri. "Oh, ini orangnya? Maaf ya, Maya... maaf banget Om sampai lupa. Maklumin aja, faktor usia, udah tua jadi memorinya agak pendek," ucap Papa Baskoro santai.
Maya hanya bisa tersenyum simpul, meski dalam hatinya ia mengumpal kesal. 'Dasar amnesia! Masa calon menantu idaman—eh, mantan maksudnya—bisa dilupain gitu aja?' batin Maya sambil terus berusaha menjaga raut wajahnya tetap manis.
Nyonya Sarah melirik jam dinding. "Bara sebentar lagi sampai kok, Maya. Dia tadi lagi makan siang sama Reno dan... istrinya."
Mendengar kata "istri", senyum Maya sedikit goyah. Ia datang ke sini memang sengaja untuk mencari perhatian orang tua Bara, tapi ia tidak menyangka kalau rivalnya itu bakal ikut pulang bersama Bara.
Kembali ke meja makan, piring-piring sudah bersih melompong, menyisakan tulang ikan dan sisa saus steak yang menandakan perang perut tadi dimenangkan dengan telak. Reno menyandarkan punggungnya, lalu mengangkat tangan memanggil pelayan untuk meminta bil tagihan.
Tapi bukannya langsung menyodorkan kartu, Reno malah memasang tampang jahil yang sudah sangat dihafal Bara. Dia menatap pelayan perempuan yang datang menghampiri mereka dengan tatapan menyelidik.
"Sori, Mbak. Saya mau tanya sesuatu," ujar Reno dengan nada serius yang dibuat-buat. "Mbaknya tahu tidak, kira-kira siapa di antara kita bertiga ini Bos."
Bara yang lagi asyik menyeruput sisa minumannya langsung tersedak kecil. Renata pun ikut mengerutkan kening, bingung melihat tingkah sepupu suaminya yang satu ini. "Apalagi sih, Reno?" gumam Renata heran.
Si pelayan tampak gelagapan, wajahnya bingung bukan main. "Maksudnya bagaimana ya, Pak? Ada yang bisa saya bantu?"
Reno tertawa kecil, lalu menunjuk ke arah dirinya dan Bara. "Gini lho, Mbak. Kita kan mau bayar nih, nah menurut insting Mbaknya, pilih siapa di antara kami yang kelihatannya paling cocok jadi Bos? Siapa yang kelihatannya orang berduit."
Pelayan itu terdiam sejenak, matanya beralih dari Reno yang gayanya santai, lalu ke Bara yang duduk tegak dengan wibawa CEO yang meski sedang santai pun tetap terpancar. Setelah berpikir beberapa detik, si pelayan menunjuk pelan.
"Sepertinya... Mas yang duduk di samping Mbaknya ini yang Bos-nya," jawab pelayan itu sambil melirik ke arah Bara.
Uhuk!
Bara benar-benar tersentak sampai air di mulutnya hampir muncrat. Dia menaruh gelasnya dengan kasar ke meja, lalu menatap Reno dengan mata melotot.
"Ren! Lo bener-bener ya!" seru Bara, suaranya naik satu oktav. "Tadi bilangnya mau nraktir gue, gue pikir lo lagi baik, eh... sekarang ujung-ujungnya gue yang bayar!"
Si pelayan yang melihat reaksi Bara langsung merasa tidak enak. "Aduh, maaf ya Pak... saya nggak tahu kalau..."
Bara langsung mengangkat tangannya, mencoba meredam suasana sambil nyengir kecut. "Eh... nggak apa-apa, Mbak. Mbaknya nggak salah kok, emang bawahan saya ini otaknya agak geser," ucap Bara sambil merogoh saku jasnya dan mengeluarkan kartu ATM hitamnya dari dompet.
Renata cuma bisa geleng-geleng kepala sambil tertawa kecil melihat suaminya yang kena "jebakan betmen" sepupunya sendiri. "Udah, Mas, bayar aja. Itung-itung sedekah buat buat sepupu kamu."
Reno sendiri sudah tertawa puas banget sampai bahunya naik turun. "Nah, gitu dong! Masa Bos Adiwangsa Group mau dibayarin sama bawahannya. Nggak level lah!"
Bara hanya bisa mendengus pasrah sambil menyerahkan kartunya ke pelayan. "Yaudah, Mbak. Ini kartunya, gesek aja semuanya. Habis ini kita langsung cabut sebelum Reno minta dibungkusin makanan lagi."