"Di ruang sidang aku memenangkan keadilan, tapi di stasiun kereta, aku nyaris kalah oleh rindu."
Afisa Anjani bukanlah lagi gadis rapuh yang menangis karena diabaikan. Tahun 2021 menjadi saksi transformasinya menjadi associate hukum tangguh di Jakarta. Di sisinya, ada Bintang—dokter muda yang kehangatannya perlahan menyembuhkan trauma masa lalu Afisa.
Namun, saat janji suci diucapkan di tahun 2022, semesta justru memberi ujian baru. Afisa dipindahtugaskan ke Semarang untuk menangani kasus-kasus besar yang menguji integritasnya. Jakarta dan Semarang kini bukan sekadar nama kota, melainkan jarak yang menguji Ekuilibrium (keseimbangan) antara karier dan hati.
Di Semarang, Afisa berhadapan dengan dinginnya ruang sidang dan gedung Lawang Sewu, sementara di Jakarta, Bintang bergelut dengan detak jantung pasien di rumah sakit. Keraguan lama Afisa kembali muncul: Apakah Bintang akan bosan? Apakah cinta sanggup bertahan saat komunikasi hanya lewat layar ponsel ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Setelah doa restu yang begitu emosional, suasana yang tadinya hening berganti menjadi riuh rendah yang hangat. Sesi foto pun dimulai—sebuah tradisi untuk membekukan momen sebelum waktu benar-benar menyeret mereka ke dua kota yang berbeda.
Arkan, yang sedari tadi menjadi seksi sibuk, kini mengambil alih peran sebagai pengatur gaya. "Ayo semuanya, merapat! Jangan jauh-jauh, nanti kangennya makin susah kalau di foto aja sudah berjarak!" celetuknya yang langsung disambut tawa oleh kedua keluarga.
Sesi pertama diawali dengan formasi inti. Afisa berdiri di tengah, diapit oleh Ayah dan Bundanya, sementara Bintang berdiri gagah di sisi kanan Afisa. Cahaya matahari pagi yang menembus sela-sela pohon di halaman rumah Jakarta Selatan itu seolah menjadi lampu sorot alami. Bunda Afisa tak henti-hentinya mengusap sudut matanya, menatap putri tunggalnya yang kini sudah resmi memegang janji seorang pria hebat.
"Sekarang, calon pengantin saja! Formasi Ekuilibrium!" seru Arkan lagi sambil membidikkan kamera DSLR-nya.
Bintang melangkah mendekat, ragu-ragu ia melingkarkan lengannya di pinggang Afisa. Afisa sedikit tersentak, namun kemudian ia menyandarkan kepalanya dengan nyaman di bahu Bintang. Di jari manis mereka, cincin yang identik berkilau serasi.
"Satu... dua... tahan! Senyum yang tulus, Fis! Jangan bayangkan draf gugatan dulu!" goda Arkan.
Cekrek!
Foto itu menangkap segalanya: binar lega di mata Bintang dan senyum penuh kepercayaan di wajah Afisa. Tidak ada lagi gurat lelah IGD, tidak ada lagi ketakutan akan mutasi. Untuk sesaat, Semarang terasa begitu jauh, dan Jakarta adalah satu-satunya dunia yang mereka punya.
Setelah keluarga besar, giliran para sahabat yang maju. Arkan menyerahkan kamera pada salah satu asisten, lalu ia melompat masuk ke dalam frame bersama Afisa dan Bintang.
"Foto ini harus dicetak besar, taruh di meja kerja lo di Semarang nanti, Fis," bisik Arkan saat mereka berpose. "Biar kalau lo lagi pening sama kasus, lo ingat kalau ada dokter residen yang lagi nungguin lo di Jakarta sambil ngitungin hari Jumat."
Afisa terkekeh, merangkul bahu Arkan dan Bintang sekaligus. "Terima kasih, Kan. Tanpa lo, acara di rumah ini nggak akan sehangat ini."
Sesi foto berakhir dengan penuh canda tawa, namun di balik itu, Afisa merasakan debaran yang berbeda. Ia menatap ke sekeliling rumah masa kecilnya. Setiap sudut rumah ini kini menyimpan memori tentang janji Bintang.
Saat tamu-tamu mulai menikmati hidangan opor dan jajanan pasar, Bintang menarik Afisa sedikit menjauh menuju taman belakang yang dihiasi bunga matahari.
"sayang ," panggil Bintang lembut.
"Ya, Bin?"
"Foto tadi... aku mau taruh di wallpaper ponselku. Supaya setiap kali aku merasa lelah di IGD, aku tahu untuk siapa aku sedang berjuang membangun rumah," Bintang menggenggam tangan Afisa, ibu jarinya mengusap cincin di sana. "Semarang cuma tempat tugas, Fis. Tapi di sini, di setiap jengkal doa orang tuamu, adalah tempat kita pulang."
Afisa mengangguk, ia merasa ekuilibriumnya telah sempurna. Jarak mungkin akan datang sebentar lagi, tapi fondasi mereka sudah terlalu kuat untuk sekadar diguncang oleh kilometer.
Ayah Afisa yang sejak tadi mengamati dari teras belakang, melangkah mendekat. Di tangannya ada segelas teh hangat, namun sorot matanya menunjukkan ada sesuatu yang jauh lebih berat dari sekadar ramah tamah yang ingin ia sampaikan.
"Bin, Fis," panggil Ayah dengan nada rendah yang berwibawa.
Bintang dan Afisa menoleh, melepaskan tautan tangan mereka dengan sopan. "Iya, Yah?"
Ayah berdehem, menatap bunga matahari yang bergoyang pelan ditiup angin sore. "Ayah sudah bicara dengan Bunda semalam. Juga sudah sempat menyinggung sedikit ke Papa kamu, Bin. Melihat kondisi kalian sekarang—Afisa yang minggu depan harus ke Semarang untuk waktu yang lama, dan kamu yang jadwal IGD-nya tidak menentu..."
Ayah menjeda kalimatnya, menatap Bintang lurus ke mata. "Bagaimana kalau sebelum Afisa berangkat, kalian menikah secara agama terlebih dahulu? Nikah siri yang sah di mata Tuhan dan keluarga inti saja."
Afisa tersentak. Ia melirik Bintang yang juga tampak terkejut. "Maksud Ayah... dipercepat?"
"Bukan resepsinya, Fis. Resepsi tetap di bulan yang sudah kita rencanakan nanti setelah kamu stabil di Semarang," Ayah menjelaskan dengan bijak. "Tapi dengan menikah secara agama sekarang, kalian punya 'benteng' yang lebih kuat. Jarak lima ratus kilometer itu berat. Ayah ingin, saat Bintang menyusul kamu ke Semarang di akhir pekan nanti, dia datang sebagai suamimu yang sah. Dia bisa menjaga kamu, menginap di tempatmu tanpa ada beban moral atau fitnah dari orang lain."
Bintang terdiam, otaknya yang biasa bekerja cepat di ruang operasi kini seolah sedang memproses sebuah klausul takdir yang paling membahagiakan. Ia menatap Afisa, mencari jawaban di mata wanita itu.
"Ayah hanya ingin kalian tenang," tambah Ayah lagi. "Supaya ekuilibrium yang kalian bangun tidak goyah hanya karena masalah teknis jarak dan aturan tinggal. Bagaimana, Bin? Sebagai laki-laki, kamu siap menjaga anak Ayah lebih awal?"
Bintang menarik napas panjang, lalu tersenyum mantap. "Kalau Afisa bersedia, Yah... saya tidak punya alasan untuk menolak. Justru ini adalah doa yang saya tidak berani ucapkan karena takut terlalu egois."
Afisa merasakan matanya memanas. Di satu sisi ia merasa lega, di sisi lain ia terharu melihat betapa ayahnya begitu memikirkan martabat dan kenyamanannya di kota orang nanti.
"Fis?" Bintang beralih menatapnya, menggenggam tangannya erat. "Kita ikat janji di depan Tuhan dulu, sebelum kamu ikat janji dengan kasus-kasus di Semarang?"
Afisa mengangguk pelan, air mata haru akhirnya jatuh juga. "Iya, Bin. Aku mau. Biar Semarang nggak terasa terlalu dingin karena aku tahu aku sudah punya tempat pulang yang sah."
Ayah tersenyum puas, menepuk bahu Bintang. "Bagus. Kalau begitu, lusa kita panggil penghulu. Sederhana saja di ruang tamu tadi. Yang penting, janji kalian sudah tercatat di langit sebelum raga kalian dipisah oleh rel kereta api."
Malam itu, di bawah langit Jakarta Selatan, rencana besar mereka mendadak berubah arah. Bukan lagi tentang pertunangan yang panjang, tapi tentang pernikahan kilat yang akan menjadi pondasi terkuat bagi Ekuilibrium mereka di masa depan.