Karena tak kunjung hamil, Sekar Arunika- wanita muda berusia 25 tahun, harus mendapati kenyataan pahit suaminya menikah lagi. karena tidak ingin di madu, Sekar memilih mundur dan merantau.
namun sepertinya Tuhan masih belum ingin membuatnya tenang. karena saat sudah bahagia, Sekar justru di pertemukan kembali dengan orang-orang yang menyakitinya.
bagaimana langkah selanjutnya yang akan di ambil Sekar? memaafkan atau memilih menyimpan dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhevy Yuliana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
a-apa maksud ibu? " nada suara Sekar sudah berubah menjadi terbata. Jujur saja perempuan itu merasakan takut yang luar biasa.
Siapa yang tidak takut tiba-tiba dilabrak oleh seseorang yang sudah menjadi masa lalu dalam kehidupannya.
perpaduan antara rasa cemas bingung dan juga takut tentu saja sudah menggerogoti isi kepalanya.
apalagi di sekitaran mulai banyak orang yang bermunculan karena merasakan penasaran dengan suara ribut di depan halaman rumah milik Sekar.
" jangan pura-pura nggak tahu ya, kamu kembali menggoda adikku kan? " Ayu tiba-tiba saja menyeru membuat Sekar kembali tersentak kaget.
Entah mendapat keberanian dari mana, Sekar yang awalnya menundukkan kepala seketika menegak.
" Mbak Ayu Ngomong apa sih? aku sama sekali nggak tahu di mana keberadaan Rangga! " serunya tanpa sadar dengan suara yang perlahan mulai meninggi.
Namun bukannya percaya Gendis dan juga Ayu Justru malah berdecih.
" ternyata selama ini kamu pakai topeng ya, " tuduh Gendis dengan tatapan meremehkan.
" dulu aja kamu bersikap lemah lembut dan penakut, tapi sekarang kamu malah bersikap kurang ajar sama orang yang lebih tua. dasar munafik! " hardik Ayu ikut menimpali.
Sekar yang sudah mulai geram kembali melayangkan tatapan tajam. " sebaiknya Kalian pergi dari rumah ini karena aku sama sekali nggak tahu di mana keberadaan laki-laki itu. lagi pula itu bukan urusanku lagi! "
Ayu dan dua lainnya kembali melotot, " berani Kamu mengusir kami? Kamu pikir kamu siapa berani-beraninya ngusir kami kayak gitu?! " geram Ayu dengan tangan menunjuk ke arah Sekar.
" sepertinya memang harus dikasih pelajaran supaya dia nggak songong lagi mbak, " Ayu menoleh pada Gendis yang tampak geram.
tiba-tiba di tengah kekacauan seperti itu, Rinjani berlutut dengan air mata bercucuran.
tentu saja hal itu membuat semua orang yang ada di sana termasuk para Tetangga di sekitaran rumah Sekar tampak terkejut luar biasa.
Bisikan aneh dengan nada suara tidak menyenangkan kembali terdengar dari mulut ke mulut.
" aku mohon kembalikan suamiku, " lirik Rinjani dengan air mata bercucuran.
Sekar yang melihat akting istri dari mantan suaminya tentu saja terbelalak kaget.
" Ada apa ini? "
****
" apa ada lagi yang perlu dibeli? " tanya seseorang di balik etalase kue yang dia jual.
Rangga tampak diam sesaat, kemudian menatap ke arah penjaga toko itu dengan tatapan meminta bantuan.
" apa yang biasanya dikasih sama orang yang sedang Kasmaran untuk orang yang dia cintai? " tanya Rangga dengan hati-hati.
Sebenarnya Rangga sangat malu menanyakan hal seperti itu kepada orang lain. tapi apa boleh buat, daripada dirinya salah membeli sesuatu yang berakhir salah paham, lebih baik dia meminta saran saja.
" apa ini untuk kekasih Anda tuan? "
****
Tin! tin!
berulang kali Eksa selalu membunyikan klakson. Entah kenapa hari ini Jalan Raya begitu macet tidak seperti biasanya, ditambah lagi dia sangat gelisah. seperti ada sesuatu yang akan terjadi sebentar lagi.
" Kenapa macet pak? di depan ada apa? " Eksa bertanya dengan nada suara yang dipaksakan menjadi ramah.
Karena sebenarnya laki-laki itu benar-benar panik saat merasakan situasi genting yang sedang terjadi.
" Oh di depan ada Pohon tumbang Mas, " orang itu Seraya menunjukkan ke arah depan.
Eksa tampak terdiam untuk beberapa saat, " Apa masih lama? " tanya laki-laki itu dengan ada suara pelan.