"Satu kesempatan lagi... dan kali ini, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh apa yang menjadi milikku."
Yuuichi Shiro tahu persis bagaimana bau kematian. Sebagai korban eksperimen ilegal yang selamat hanya untuk melihat dunia hancur oleh virus Chimera, ia mati dengan penyesalan di ujung pedangnya. Namun, takdir berkata lain. Yuuichi terbangun enam hari sebelum hari kiamat dimulai—di ruang kelas yang tenang, dengan guru kesehatan yang cantik dan teman-teman yang seharusnya sudah mati di depan matanya.
Dengan bantuan Apocalypse Ascension System dan kesadaran Miu yang sarkastik, Yuuichi memulai langkahnya. Bukan untuk menjadi pahlawan bagi dunia yang sudah busuk, melainkan untuk membangun singgasananya sendiri di atas puing-puing peradaban.
Di tengah erangan mayat hidup dan pengkhianatan manusia, Yuuichi berdiri dengan elemen es di tangan dan barisan wanita luar biasa di belakangnya. Kiamat bukan lagi sebuah akhir, melainkan taman bermain bagi sang Regressor untuk membalas dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian Dibawakan Rembulan {1}
Cahaya putih dari lampu LED di langit-langit kamar pribadi Yuuichi meredup secara otomatis, menyesuaikan dengan ritme pemulihan tubuh sang penghuni. Keheningan di ruangan itu hanya dipecah oleh dengung halus mesin filtrasi udara yang terus bekerja membuang sisa-sisa neurotoksin dari serangan semalam. Yuuichi terbaring di atas tempat tidur medis, tubuhnya dibalut perban bersih di bagian dada kiri tempat Chika melakukan pembedahan darurat.
Perlahan, kelopak mata Yuuichi bergetar. Saat ia membuka mata, warna merah di irisnya tampak lebih tenang, namun memiliki kedalaman yang lebih pekat, seperti kristal delima yang dipoles. Ia mencoba menggerakkan jari tangan kirinya. Rasa panas membara yang kemarin menyiksa pembuluh darahnya telah hilang, digantikan oleh sensasi dingin yang segar dan mengalir dengan lancar.
"Siklus Pemulihan Selesai. Integrasi Energi Es Hitam mencapai 85%. Mikro-pelacak biologis telah sepenuhnya dikeluarkan dari sistem peredaran darah. Atribut REC (Penyembuhan) meningkat 2 poin secara permanen karena adaptasi seluler terhadap trauma ekstrem."
Yuuichi mendudukkan dirinya dengan perlahan. Meskipun tubuhnya masih terasa sedikit kaku, ia tidak lagi merasakan kelemahan yang melumpuhkan. Ia menoleh ke samping dan mendapati Sakura tertidur di kursi samping tempat tidurnya, kepalanya bersandar pada pinggiran kasur sambil tetap menggenggam tangan kanan Yuuichi. Rambut hitamnya sedikit berantakan, dan ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya—tanda bahwa ia tidak beranjak satu inci pun sejak operasi berakhir.
Yuuichi mengelus rambut Sakura dengan lembut, sebuah gerakan yang sangat jarang ia lakukan secara sadar. Sentuhan itu membuat Sakura tersentak bangun.
"Yuuichi-kun?!" Sakura langsung tegak, matanya yang sembab melebar melihat Yuuichi sudah bangun. "Jangan bergerak dulu! Chika-sensei bilang kau butuh istirahat total setidaknya dua hari!"
"Dua hari adalah kemewahan yang tidak kita miliki, Sakura," jawab Yuuichi, suaranya parau namun penuh kekuatan. "Bagaimana kondisi di luar? Apakah Takeshi dan yang lainnya sudah tenang?"
Sakura menghela napas, tampak lega sekaligus sedikit kesal karena Yuuichi langsung memikirkan pekerjaan. "Mereka... mereka berbeda sekarang. Takeshi memimpin para siswa memperbaiki Sektor B sepanjang malam. Tidak ada lagi keluhan. Sepertinya melihatmu bertarung melawan monster itu mengubah perspektif mereka tentang siapa yang sebenarnya melindungi mereka."
Yuuichi mengangguk pelan. Ia bangkit dari tempat tidur, mengabaikan protes kecil dari Sakura, dan mengenakan kemeja hitam bersih. Saat ia melangkah keluar dari kamarnya menuju ruang kendali utama, ia disambut oleh pemandangan yang cukup mengejutkan.
Di ruang tengah bunker, Takeshi sedang berdiri di depan peta denah Sektor B yang sudah diperbaiki sebagian. Ia tampak sedang memberikan instruksi kepada lima siswa lainnya tentang pembagian jadwal jaga malam. Begitu Takeshi melihat Yuuichi muncul di koridor, ia segera berdiri tegak dan membungkuk dalam—sebuah gestur hormat yang sangat formal di Jepang.
"Shiro-san!" seru Takeshi. Penggunaan kata "-san" menggantikan sapaan akrab atau sekadar nama belakang menunjukkan perubahan status yang drastis. "Maafkan atas ketidaksopanan kami kemarin. Kami... kami tidak tahu beban yang kau pikul sendirian."
Siswa-siswa lain di belakang Takeshi juga ikut membungkuk. Mereka tidak lagi menatap Yuuichi dengan rasa takut yang benci, melainkan dengan rasa hormat yang muncul dari pengakuan akan kekuatan.
Yuuichi berhenti di depan Takeshi. Ia menatap kapten sepak bola itu dengan tajam, seolah sedang membaca setiap inci kejujurannya. "Aku tidak butuh permintaan maaf, Takeshi. Aku butuh orang yang bisa memegang senjata dan menjaga pintu saat aku tidak ada. Apakah kau siap untuk itu?"
Takeshi mengangkat kepalanya, matanya berkilat penuh tekad. "Berikan kami latihan. Berikan kami perintah. Kami tidak ingin menjadi beban lagi. Jika dunia ini sudah hancur, maka biarkan kami menjadi taringmu di dunia baru ini."
"Pemberitahuan: Kesetiaan Kelompok Siswa SMA Kita meningkat drastis. Fitur 'Garda Pertahanan Base' terbuka. Takeshi telah dikukuhkan sebagai Komandan Unit Penjaga. Efektivitas pertahanan Base meningkat 15%."
Miu memberikan laporannya dalam benak Yuuichi, namun Yuuichi tetap mempertahankan wajah datarnya. "Bagus. Sakura akan melatih kalian teknik dasar pedang dan disiplin tempur mulai sore ini. Jangan harap dia akan bersikap lembut padamu."
"Kami siap, Shiro-san!" jawab mereka serempak.
Yuuichi kemudian berjalan menuju ruang analisis data, di mana Miho Nishimura sudah menunggunya dengan tumpukan tablet digital dan layar yang penuh dengan grafik frekuensi. Elisa Amagi juga ada di sana, sedang meneliti tabung berisi lintah mekanis yang sudah mati melalui mikroskop digital.
"Kau bangun lebih cepat dari kalkulasiku, Yuuichi-san," ucap Miho tanpa menoleh dari layarnya. "Tapi itu bagus, karena data yang baru saja aku curi dari jaringan satelit cadangan Chimera menunjukkan sesuatu yang sangat mendesak."
Miho menekan sebuah tombol, menampilkan sebuah peta satelit dari Distrik 2 yang bertetangga dengan wilayah mereka. Di sana, terdapat sebuah titik panas energi yang sangat besar.
"Ini adalah Stasiun Pemancar Radio-Satelit 'Vanguard'. Chimera menggunakannya untuk mengoordinasikan unit Black Ops dan lintah pelacak seperti yang ada di tubuhmu kemarin," Miho menjelaskan dengan nada analitis yang cepat. "Selama stasiun ini aktif, posisi kita akan selalu terancam terdeteksi oleh algoritma pencarian mereka. Tapi, ada satu celah."
"Celah apa?" tanya Yuuichi.
"Besok malam, stasiun itu akan melakukan pembersihan data sistem secara berkala selama enam puluh detik. Dalam waktu itu, semua sensor keamanan eksternal mereka akan mati. Itu adalah satu-satunya kesempatan kita untuk menyusup dan memasukkan virus enkripsi yang dibuat Elisa untuk memutuskan kendali Kagawa atas wilayah ini."
Yuuichi menatap peta itu. Distrik 2 dikenal sebagai wilayah yang sangat padat dengan zombie varian tinggi karena banyaknya laboratorium kecil di sana. Ini bukan sekadar misi infiltrasi, ini adalah serangan balik pertama mereka.
"Jadi kau mengusulkan agar kita menyerang markas mereka?" tanya Yuuichi sambil menyilangkan lengan.
"Bukan kita," Miho membetulkan letak kacamatanya, menatap Yuuichi dengan pandangan tajam di balik lensa. "Hanya kau dan Sakura. Kehadiran lebih banyak orang hanya akan meningkatkan probabilitas kegagalan hingga 74%. Namun, dengan kemampuan mobilitas esmu, kalian bisa masuk dan keluar sebelum sistem mereka kembali daring."
Yuuichi terdiam sejenak. Ia merasakan detak jantungnya yang kini lebih kuat dan stabil. Strategi Miho masuk akal. Menunggu di bunker hanya akan membuat mereka menjadi sasaran empuk rudal jika Chimera memutuskan untuk bertindak lebih jauh.
"Siapkan virusnya, Elisa. Miho, berikan aku rute infiltrasi yang paling tidak terdeteksi," perintah Yuuichi. "Kita akan membutakan mata Kagawa sebelum dia bisa mengirimkan unit elit berikutnya."