Dimas dan Sarah kini dikenal sebagai pasangan akademisi selebriti. Sarah dengan buku best seller-nya, dan Dimas sebagai profesor muda yang brilian. Namun, itu hanya kedok. Di balik layar, mereka bekerja sebagai Konsultan Khusus untuk Badan Perlindungan Cagar Budaya & Aset Negara (BPCBAN). Tugas mereka: Melacak, mengamankan, dan menyegel artefak-artefak supranatural berbahaya yang diperjualbelikan di pasar gelap Internasional (Black Market). Musuh mereka bukan lagi dukun santet, melainkan Sindikat Kolektor Internasional yang didanai oleh miliarder asing yang ingin menguasai kekuatan mistis Nusantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Neraka Hidrotermal & Penjaga Api Hitam
Lokasi: Dasar Samudra Atlantik, Punggung Bukit Tengah Atlantik (Zona Fraktur Azores).
Kedalaman: 3.200 Meter.
Waktu: 14.00 Waktu Setempat.
Kegelapan abisal Samudra Atlantik terbelah oleh cahaya merah jingga yang menyala dari dasar retakan tektonik. Di sini, kerak bumi terbelah, membiarkan magma dari perut planet bersentuhan langsung dengan air laut bersuhu beku. Pertemuan ekstrem itu menciptakan “Black Smokers”—cerobong-cerobong batu alami setinggi puluhan meter yang memuntahkan air beracun berwarna hitam pekat, sarat akan mineral sulfida, dengan suhu mencapai 400 derajat Celcius.
Di kedalaman dan suhu neraka ini, air tidak mendidih menjadi uap karena tekanan hidrostatik yang meremukkan. Air itu tetap berwujud cair, super-kritis, dan mematikan.
Di atas hamparan batu vulkanik yang membara, sebuah wahana pendarat titanium milik BPCBAN menjatuhkan dua sosok berukuran besar.
Dimas dan Sarah melangkah keluar, mengenakan Magma-Class Hephaestus Suit. Baju selam ini jauh lebih masif daripada yang mereka gunakan di Palung Weber. Lapisannya terbuat dari paduan keramik-tungsten yang mampu menahan panas leleh, dengan sistem pendingin nitrogen cair aktif yang terus berdengung keras di bagian punggung mereka.
“Sistem pendingin internal di angka stabil 22 derajat celcius,” suara Sarah terdengar melalui interkom radio jarak dekat. Kaca helmnya yang berlapis emas khusus untuk menolak radiasi panas memantulkan cahaya magma di sekitarnya. “Suhu air laut di luar baju kita saat ini 385 derajat Celcius. Dim, kalau setelan keramik ini retak, kita nggak akan tenggelam. Kita bakal direbus hidup-hidup dalam hitungan detik.”
Dimas melangkah maju dengan berat. Sol sepatu tungstennya mendesis setiap kali menginjak batu basal yang membara. Tangan kanannya kembali dibalut Pressure-Resistant Gauntlet berinti Giok, yang kini telah dilapisi insulasi termal tambahan.
“Makasih buat pengingatnya, Sar,” balas Dimas, berusaha mengatur napasnya agar tetap tenang. “Aku janji nggak akan main-main sama batu tajam di bawah sini. Di mana titik koordinat kuncinya?”
Sarah memproyeksikan data dari tablet lengannya ke Heads-Up Display (HUD) di kaca helm Dimas. Sebuah penanda digital berwarna biru muncul di layar mereka, menunjuk tepat ke jantung cerobong hidrotermal terbesar di area tersebut. Cerobong itu memuntahkan asap hitam bergulung-gulung yang membutakan sonar.
“Di dalam cerobong utama itu. Tepat di pusat aliran air super-panas,” lapor Sarah.
Mereka berdua berjalan perlahan, saling melindungi satu sama lain dari semburan air panas yang sesekali meletup dari retakan tanah. Flora dan Fauna di sini hanyalah cacing tabung raksasa dan udang buta ekstremorfil yang hidup dari bakteri beracun.
Saat mereka tiba di dasar cerobong raksasa tersebut, Dimas menyipitkan matanya. Di tengah muntahan asap hitam pekat itu, pendaran cahaya biru langit yang sangat familier berkedip-kedip menantang maut.
Kunci Konstelasi Kedua. Relik itu melayang tepat di tengah aliran magma bawah air, sama sekali tidak meleleh meski di hantam suhu ratusan derajat.
“Kuncinya melayang bebas,” gumam Dimas. “Tumben nggak ada penjaga yang disembunyiin.”
“Jangan takabur, Profesor. Arsitek Langit nggak pernah ninggalin barangnya tanpa pengamanan,” Sarah segera mengangkat senapan Cryo-Launcher (pelontar nitrogen cair termampatkan) miliknya. Matanya memindai layar termal. “Ada anomali fluktuasi suhu di dinding cerobong.”
Benar saja. Begitu Dimas melangkah mendekati bibir kawah hidrotermal untuk menjangkau kunci tersebut, dinding batu di sekitar cerobong itu bergemuruh.
Batu-batu vulkanik yang membara itu tiba-tiba meronta dan menyatu. Sesuatu yang tercipta dari magma murni dan logam perak-emas alien bangkit dari dasar kawah.
Ini bukan golem batu. Ini adalah Hydra Obisidan—ular naga berkepala tiga yang tubuhnya terbentuk dari aliran lava cair dan tulang rusuk logam kosmik. Air laut di sekitarnya mendesis liar, memicu badai gelembung yang mengaburkan pandangan. Tiga pasang mata tanpa pupil yang memancarkan cahaya perak menatap Dimas dengan kebencian nyata.
“Pewaris yang lemah…” suara telepati berfrekuensi tinggi itu menembus helm mereka, membawa rasa sakit yang membakar. “Kalian membawa hawa tanah dan debu. Di sini, hanya ada api penyucian.”
Kepala tengah Hydra itu maju, rahang magmanya terbuka lebar, memuntahkan semburan air super-kritis (plasma cair) langsung ke arah Dimas.
“Awas!” Jerit Sarah.
Sarah menarik pelatuk Cryo-Launcher-nya. Sebuah tabung proyektil melesat dan meledak di tengah jalur semburan plasma tersebut. Ledakan nitrogen cair bersuhu -196 derajat Celcius bertabrakan dengan plasma 400 derajat celcius, menciptakan ledakan termodinamika instan.
DUAAARRR!!
Gelombang kejut putih membutakan seluruh area. Dorongan hidroliknya mementalkan Dimas dan Sarah beberapa meter ke belakang. Alarm Hephaestus Suit menjerit keras saat sensor mendeteksi lonjakan suhu gila-gilaan pada zirah luar mereka.
“Sistem pendingin bajumu bekerja ekstra, Dim! Jangan biarkan cairan magmanya menyentuh keramikmu secara langsung!” Lapor Sarah, bangkit kembali sambil memasukkan proyektil nitrogen baru ke senapannya.
Kepala kiri Hydra mengayun membelah air, menghantam sisi tubuh Dimas. Berat dan panas monster itu meremukkan sebagian zirah bahu Dimas.
“Ugh!” Dimas mengerang keras. Panas yang menyengat mulai merembes masuk ke dalam bajunya. Ia mengunci kakinya ke dasar laut.
“Kamu suka yang panas-panas, hah?!” Raung Dimas. Ia tidak menggunakan tenaga dalamnya untuk memukul balik, karena itu akan menguras oksigennya. Ia memanggil memori spiritual dari lontar-lontar kuno Mataram Islam. Aji Segoro Geni (Mantra Lautan Api).
Dimas menempelkan Gauntlet berinti Giok-nya tepat ke rahang magma Hydra yang sedang menyerangnya. Bukannya meledakkan Chi, Dimas membalik arah alirannya. Ia menyerap energi panas dari sang monster, menyalurkannya melalui sirkuit tembaga sarung tangannya, dan membuangnya ke lumpur di bawah kakinya.
Lumpur di bawah Dimas langsung mendidih dan meledak, namun rahang kiri Hydra itu mendadak mengeras menjadi batu obsidian beku karena kehilangan energi panas utamanya. Makhluk itu melolong tanpa suara saat satu kepalanya lumpuh sementara.
“Sar! Bekukan kepala yang kanan! Aku bakal loncat ke tengah buat ngambil kuncinya!” Dimas memberi komando, mengabaikan peringatan suhu di dalam helmnya yang sudah mencapai ambang batas 40 derajat Celcius. Keringat membasahi seluruh tubuhnya.
Sarah tidak membuang waktu. Ia berlari memutar, mengambil sudut tembak terbuka. Tepat saat kepala kanan Hydra bersiap memuntahkan plasma, Sarah menembakkan tiga peluru Cryo beruntun langsung ke dalam mulut monster itu.
CRACK! CRACK! Nitrogen cair membekukan rongga mulut logam dan magma sang monster, menyebabkannya retak dan hancur berantakan akibat kejutan suhu ekstrem (Thermal Shock).
Melihat dua kepalanya lumpuh, kepala tengah yang tersisa meraung marah. Ia mengarahkan seluruh tubuh magmanya untuk membelit Dimas seperti ular piton.
Namun Dimas sudah bergerak. Ia memicu pendorong hidrolik di sepatunya, melompat tinggi membelah air mendidih. Ia melewati sabetan kepala tengah Hydra tersebut. Tangannya yang bebas menjangkau ke tengah aliran asap hitam, meraih Kunci Konstelasi Kedua.
BZZZZT!
Begitu jarinya bersentuhan dengan relik tersebut, visi kosmik kembali menghantam otaknya. Pemandangan galaksi yang berputar, bintang-bintang yang dilahirkan dari nebula, dan rasa ekstasi yang ingin menarik jiwanya keluar dari tubuh.
Namun kali ini, Dimas sudah siap. Ia tidak butuh waktu lama untuk memikirkan jangkarnya. Pandangannya yang buram di dalam helm langsung mencari sosok Sarah yang sedang menembak dari bawah sana, berdiri teguh di antara lava dan air beracun demi dirinya.
Dimas mengunci niatnya, menolak panggilan “surga” dari relik tersebut, dan menggenggam kunci itu dengan kemauan keras seorang manusia seutuhnya.
Kunci itu berpendar biru stabil. Ujian telah terlewati.
Kehilangan sumber energinya, Hydra Obsidian itu akhirnya mendadak runtuh. Lava yang membentuk tubuhnya padam, menyisakan kerangka logam perak-emas yang kemudian luruh menjadi debu dan hanyut terbawa arus dasar laut.
Dimas mendarat dengan berat di samping Sarah. Napasnya terengah-engah, tubuhnya terasa seperti baru saja di panggang di dalam oven tertutup. Peringatan suhu di helmya berkedip merah terang.
“Dimas! Detak jantungmu di atas 180!” Sarah langsung meraih lengan suaminya, memeriksa layar diagnostik di bahu Dimas. “Pendingin di bajumu rusak akibat benturan tadi. Kamu kepanasan.”
“Kuncinya… aman,” Dimas menyerahkan relik itu ke tangan Sarah, suaranya parau. Ia terhuyung pelan. “Ayo panggil kapsul penariknya. Aku butuh es teh manis.”
Sarah menekan tombol darurat di pergelangan tangannya. Kapsul pendarat titanium yang berada di dekat mereka menembakkan kabel penarik otomatis.
“Bertahanlah,” Sarah memapah tubuh suaminya yang berat menuju kapsul penarik. “Aku nggak akan biarkan kamu meleleh di sini.”
Tepat saat mereka mengunci diri di dalam kapsul pendarat dan mulai pendakian darurat kembali ke kapal utama, dasar kawah hidrotermal di bawah mereka meletus hebat. Bebatuan terbelah, melepaskan lebih banya lava ke lautan. Tanpa penjaga dan tanpa kunci penyeimbang, lingkungan itu kembali menjadi liar dan buas.
Di dalam kapsul yang melesat naik menembus air dingin Atlantik, Sarah membuka pelat dada Hephaestus Suit Dimas, membiarkan udara sejuk dari AC kapsul langsung menerpa tubuh suaminya. Ia mengusap keringat di dahi Dimas, mencium bibir pria itu sekilas namun penuh gairah yang didorong oleh adrenalin keselamatan.
Dimas tersenyum lelah, menggenggam tangan Sarah dengan erat. Di tengah kegelapan Atlantik, Kunci Kedua berdenyut dalam ritme yang sama dengan jantung mereka, membawa mereka satu langkah lebih dekat untuk membuka rahasia para Arsitek Langit.