Cerita ini mengisahkan tentang Kaelen, Raja Es Kerajaan Celestial yang hidup terisolasi selama seratus tahun dalam kesendirian dan dingin yang abadi. Hidupnya berubah drastis saat kedatangan Lira, seorang wanita dari dunia luar yang datang meminta bantuannya untuk melawan kekuatan gelap yang mengancam nyawa banyak orang. Seiring berjalannya waktu, terungkap bahwa Lira memiliki kekuatan es yang sama dengan Kaelen, yang mengindikasikan adanya hubungan rahasia antara dirinya dan Kerajaan Celestial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raja Ilusi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10:Penginapan Di Pingir Hutan Dan Rahasia Yang Semakin Terungkap
Matahari mulai terbenam di ufuk barat, menyebarkan cahaya kemerahan yang memantul di puncak-puncak pohon, menandakan bahwa hari sudah hampir berakhir. Setelah melewati Lembah Tengkorak yang mengerikan, Kaelen dan Lira terus berjalan menuju arah Gunung Hitam. Namun, tubuh mereka yang lelah setelah pertarungan yang panjang dan melelahkan akhirnya meminta istirahat.
"Kita harus berhenti sebentar, Lira," kata Kaelen, berhenti di sebuah tempat yang agak terbuka di pinggir hutan. "Kita sudah berjalan seharian, dan kita butuh istirahat untuk memulihkan tenaga kita sebelum melanjutkan perjalanan besok."
Lira mengangguk dengan napas yang terengah-engah. "Ya, Yang Mulia. Saya juga merasa sangat lelah. Mari kita berhenti di sini."
Mereka mulai mencari tempat yang aman untuk beristirahat. Di dekat situ, mereka menemukan sebuah gubuk kayu tua yang tampaknya sudah lama tidak dihuni. Gubuk itu kecil, dengan atap yang sedikit rusak dan dinding yang sudah mulai lapuk, tapi tampaknya cukup aman untuk melindungi mereka dari angin dan hujan di malam hari.
"Ini tempat yang cukup baik," kata Kaelen, memeriksa sekitar gubuk itu dengan waspada. "Tidak ada tanda-tanda makhluk berbahaya di sekitar sini. Kita bisa beristirahat di sini malam ini."
Mereka masuk ke dalam gubuk itu. Di dalamnya, ada sebuah tempat tidur kayu yang sederhana, sebuah meja kecil, dan dua kursi kayu yang sudah goyang. Lantai gubuk itu terbuat dari tanah yang dipadatkan, dan di sudut ruangan, ada sebuah perapian tua yang sudah berkarat.
Lira duduk di tempat tidur kayu itu, menghela napas panjang. "Ah, rasanya enak bisa duduk dan beristirahat sebentar."
Kaelen tersenyum, lalu dia berjalan ke perapian itu. "Saya akan membuat api agar kita bisa hangat dan bisa memasak sesuatu untuk makan malam."
Kaelen mengumpulkan beberapa ranting kering yang ada di sekitar gubuk, lalu dia menggunakan kekuatan esnya—tapi kali ini, dia mengendalikannya dengan cara yang berbeda. Dengan fokus yang kuat, dia menciptakan gesekan antara dua potong es yang kecil, hingga akhirnya muncul api yang kecil dan kemudian membesar.
Lira menatapnya dengan kagum. "Anda bisa membuat api dengan kekuatan es, Yang Mulia? Saya tidak pernah tahu itu mungkin."
Kaelen tertawa kecil. "Kekuatan es bukan hanya tentang membekukan, Lira. Ini juga tentang mengendalikan suhu dan energi. Dengan fokus yang cukup, kita bisa menciptakan gesekan yang cukup untuk menghasilkan api. Itu adalah trik yang berguna, terutama saat kita tidak memiliki alat untuk menyalakan api."
Setelah api menyala di perapian, suasana di dalam gubuk itu menjadi lebih hangat dan nyaman. Mereka mengeluarkan makanan yang mereka bawa dari Kerajaan Celestial—roti, keju, dan beberapa buah kering. Mereka juga memiliki sedikit daging kering yang mereka dapatkan dari persediaan perjalanan mereka. Mereka memanggang daging itu di atas api, dan segera aroma yang lezat menyebar ke seluruh gubuk.
Mereka duduk di dekat perapian, menikmati makan malam mereka dengan lahap. Setelah seharian berjalan dan bertarung, makanan itu terasa sangat lezat dan memuaskan.
Saat mereka sedang makan, Lira tiba-tiba teringat tentang sesuatu yang dia pikirkan sejak lama. "Yang Mulia," katanya, memecah keheningan. "Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan kepada Anda."
Kaelen menoleh, menatapnya dengan senyum. "Apa itu, Lira? Tanyakan saja."
"Selama ini, kita berbicara tentang kekuatan gelap dan tentang Malakar," kata Lira. "Tapi saya belum pernah mendengar cerita tentang bagaimana kekuatan gelap itu muncul di dunia ini. Apakah Anda tahu sejarahnya? Apakah Anda tahu dari mana Malakar berasal dan mengapa dia menjadi begitu jahat?"
Kaelen terdiam sejenak, menatap api yang menyala di perapian dengan pandangan yang jauh. "Itu adalah cerita yang panjang dan menyedihkan, Lira. Dan itu adalah cerita yang tidak banyak orang tahu. Tapi saya rasa kamu berhak mengetahuinya, terutama karena kita akan segera menghadapi dia."
Kaelen mulai bercerita. "Ratusan tahun yang lalu, sebelum saya lahir, dunia ini adalah tempat yang damai dan indah. Orang-orang hidup dengan bahagia, dan kekuatan sihir digunakan untuk kebaikan. Malakar dulunya adalah seorang penyihir yang sangat berbakat dan kuat. Dia adalah teman baik dari kakek saya, Raja Arion—kakek buyutmu, Lira. Mereka berdua belajar sihir bersama, dan mereka berdua memiliki impian yang sama: untuk membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik."
"Tapi," lanjut Kaelen, suaranya menjadi lebih serius, "seiring berjalannya waktu, Malakar mulai merasa tidak puas. Dia ingin memiliki kekuatan yang lebih besar, kekuatan yang bisa membuatnya menjadi penguasa mutlak di dunia ini. Dia mulai mempelajari sihir gelap—sihir yang dilarang karena berbahaya dan bisa merusak jiwa orang yang menggunakannya. Kakek saya mencoba untuk menghentikannya, mencoba untuk memberitahunya bahwa sihir gelap itu akan menghancurkannya, tapi Malakar tidak mau mendengar. Dia terlalu tergoda oleh kekuatan yang ditawarkan oleh sihir gelap itu."
"Akhirnya, terjadi pertarungan besar antara kakek saya dan Malakar," kata Kaelen. "Pertarungan itu sangat dahsyat, dan itu merusak banyak tempat di dunia ini. Akhirnya, kakek saya berhasil mengalahkan Malakar, tapi dia tidak bisa membunuhnya. Karena mereka dulunya adalah teman baik, kakek saya hanya mengusir Malakar ke sebuah tempat yang terpencil dan jauh, berharap bahwa suatu hari nanti Malakar akan sadar dan berubah menjadi baik lagi."
"Tapi itu tidak terjadi," kata Lira pelan.
"Ya, itu tidak terjadi," jawab Kaelen. "Malakar semakin marah dan semakin jahat. Dia menghabiskan bertahun-tahun di pengasingan, mempelajari sihir gelap lebih dalam dan mengumpulkan pasukan monster dan penyihir jahat di sisinya. Dan sekarang, setelah ratusan tahun, dia kembali. Dia ingin membalas dendam, dan dia ingin menguasai seluruh dunia. Dia ingin menghancurkan semua yang baik dan indah, dan menggantinya dengan kegelapan yang abadi."
Lira terdiam, merenungkan cerita yang baru saja dia dengar. Dia merasa sedih mendengar tentang masa lalu Malakar, tentang bagaimana dia dulunya adalah orang yang baik tapi kemudian tergelincir ke dalam kegelapan. Tapi dia juga tahu bahwa Malakar sekarang adalah musuh yang berbahaya, dan dia harus dihentikan.
"Jadi, Malakar dan kakek buyut saya dulunya adalah teman baik," kata Lira pelan. "Itu sangat mengejutkan."
"Ya," kata Kaelen. "Itu adalah bukti bahwa siapa pun bisa tergelincir ke dalam kegelapan jika mereka tidak berhati-hati, jika mereka membiarkan keserakahan dan kebencian menguasai hati mereka. Tapi itu juga bukti bahwa kekuatan yang besar tidak selalu berarti kebaikan. Kekuatan itu bisa digunakan untuk kebaikan atau untuk kejahatan, tergantung pada hati orang yang menggunakannya."
Mereka terdiam lagi, menatap api yang menyala di perapian. Di dalam hati Lira, dia merasa lebih mengerti tentang apa yang sedang mereka hadapi. Dia merasa lebih siap, baik secara fisik maupun mental, untuk menghadapi Malakar dan kekuatan gelapnya.
"Yang Mulia," kata Lira lagi, "ada sesuatu yang lain yang ingin saya tanyakan. Tentang kekuatan saya. Tentang cahaya emas yang muncul saat saya bertarung di Sungai Kegelapan dan di Lembah Tengkorak. Apakah Anda tahu apa itu sebenarnya? Apakah itu ada hubungannya dengan kakek buyut saya, Raja Arion?"
Kaelen menatapnya dengan senyum yang lembut. "Ya, Lira. Saya sudah memikirkan tentang hal itu. Dan saya yakin bahwa cahaya emas itu adalah tanda dari kekuatan suci yang ada di dalam darah Kerajaan Celestial—kekuatan yang diturunkan dari Raja Arion. Raja Arion dikenal bukan hanya karena kekuatan esnya yang kuat, tapi juga karena dia memiliki hati yang sangat murni dan penuh dengan cinta. Kekuatan suci itu adalah manifestasi dari hati yang murni itu. Dan karena kamu adalah keturunannya, kamu juga memiliki kekuatan itu di dalam dirimu."
"Cahaya emas itu muncul saat kamu dalam bahaya, saat kamu berjuang untuk melindungi diri sendiri dan orang lain," lanjut Kaelen. "Itu adalah kekuatan yang sangat kuat, dan itu adalah kekuatan yang bisa melawan kegelapan dengan sangat efektif. Malakar dan kekuatan gelapnya tidak akan bisa menahan cahaya itu. Itu adalah senjata terbesar kita dalam melawan dia."
Lira merasa bangga mendengar kata-kata Kaelen. Dia merasa bersyukur karena memiliki kekuatan itu, dan dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan menggunakan kekuatan itu dengan bijak, untuk kebaikan dan untuk melindungi orang-orang yang dia cintai.
Malam semakin larut, dan rasa kantuk mulai menyerang mereka. Mereka memadamkan api di perapian—tapi tidak sepenuhnya, hanya menyisakan sedikit bara api untuk memberikan kehangatan—lalu mereka berbaring di tempat tidur kayu itu. Karena tempat tidur itu kecil, mereka harus berbaring berdekatan satu sama lain. Tapi itu tidak membuat mereka merasa tidak nyaman. Justru, kehadiran satu sama lain membuat mereka merasa aman dan tenang.
Lira memejamkan matanya, merasakan detak jantung Kaelen yang teratur dan hangat tubuhnya di sampingnya. Dia merasa bahagia, meskipun dia tahu bahwa bahaya masih menanti mereka di depan. Dia memiliki Kaelen di sisinya, dia memiliki kekuatan yang besar, dan dia memiliki harapan yang besar di dalam hatinya.
"Selamat malam, Yang Mulia," bisik Lira pelan.
Kaelen memeluknya dengan lembut, mencium keningnya. "Selamat malam, Lira. Tidurlah yang nyenyak. Besok, kita akan melanjutkan perjalanan kita menuju Gunung Hitam, dan kita akan mengakhiri semua ini. Aku berjanji."
Malam itu, mereka tidur dengan nyenyak di dalam gubuk tua itu, di pinggir hutan yang gelap dan sunyi. Di luar, angin berhembus lembut, dan bintang-bintang bersinar terang di langit malam. Dan di dalam gubuk itu, dua jiwa yang saling mencintai tidur dengan tenang, siap untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi besok. Mereka tahu bahwa perjalanan mereka menuju Gunung Hitam akan menjadi perjalanan yang paling berbahaya dan paling menentukan dalam hidup mereka, tapi mereka juga tahu bahwa selama mereka bersama, mereka bisa mengatasi apa pun.