Rania adalah seorang janda muda dengan satu anak. Meski hidupnya tidak mudah, kecantikannya yang mempesona dan sifatnya yang lembut membuat banyak pria terpikat padanya.
Di tengah usahanya membesarkan anaknya sendirian, dua pria muda tiba-tiba masuk ke dalam hidupnya. Arga, pria brondong yang ceria dan berani, selalu terang-terangan menggoda dan mendekati Rania. Sementara itu ada Damar, pria muda yang dingin, tampan, dan diam-diam selalu memperhatikan Rania dari jauh.
Dua pria.
Satu wanita.
Siapa yang akhirnya akan memenangkan hati janda cantik itu?
Di antara masa lalu yang belum sepenuhnya hilang, tanggung jawab sebagai seorang ibu, dan godaan cinta dari dua pria yang lebih muda…
Akankah Rania membuka kembali pintu hatinya?
Atau justru cinta baru itu akan mengubah hidupnya selamanya? ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan yang Mengguncang Hati
Pagi hari di Gang Mawar terasa tenang seperti biasanya.
Sinar matahari masuk melalui jendela rumah kecil Rania, menerangi ruang tamu sederhana yang sudah lama menjadi tempat ia dan Rafa menghabiskan waktu bersama.
Namun pagi itu, hati Rania tidak setenang biasanya.
Semalaman ia hampir tidak bisa tidur.
Kata-kata Arga dan Damar terus terngiang di kepalanya.
"Aku tidak bercanda dengan perasaanku."
"Aku juga."
Rania menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Apa yang sebenarnya mereka pikirkan…” gumamnya pelan.
Ia hanyalah seorang janda dengan satu anak.
Sedangkan mereka… masih muda, tampan, dan punya masa depan yang cerah.
Kenapa mereka justru memilih menyukai dirinya?
“Bunda!”
Suara Rafa memanggil dari kamar.
“Iya, Nak!”
Rania segera masuk ke kamar dan membantu Rafa bersiap untuk sekolah.
Anak kecil itu terlihat ceria seperti biasa.
“Bunda, panda dari Om Damar lucu sekali.”
Rafa memeluk boneka panda besar yang dimenangkannya semalam.
Rania tersenyum kecil.
“Iya, lucu.”
“Arga juga baik.”
Rafa menambahkan dengan polos.
Rania hanya bisa menghela napas pelan.
Anaknya bahkan tidak sadar betapa rumit situasi yang sedang terjadi.
Setelah Rafa berangkat sekolah, Rania kembali ke rumah.
Ia berniat mencuci pakaian dan mencoba melupakan semua yang ada di kepalanya.
Namun baru saja ia menggantung pakaian di halaman, suara motor berhenti di depan rumah.
Rania bahkan tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu.
“Selamat pagi!”
Arga muncul dengan senyum lebarnya.
Seolah-olah tidak ada kejadian besar semalam.
Rania menatapnya dengan ekspresi campur aduk.
“Kamu… pagi-pagi sudah datang.”
Arga mengangkat bahu santai.
“Aku lewat sini.”
Rania melipat tangan.
“Kamu selalu lewat sini.”
Arga tertawa kecil.
“Baiklah, aku memang sengaja datang.”
Ia berjalan mendekat.
Namun kali ini, ekspresi wajahnya tidak seceria biasanya.
Lebih serius.
“Mbak Rania.”
“Iya?”
Arga menghela napas pelan.
“Semalam… aku tidak bercanda.”
Rania langsung menatapnya.
Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
Arga melanjutkan.
“Aku tahu kamu mungkin menganggap aku hanya anak muda yang main-main.”
“Tapi tidak.”
Tatapan Arga sangat serius sekarang.
“Aku benar-benar menyukaimu.”
Rania terdiam.
Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Arga tersenyum kecil melihat reaksinya.
“Aku tahu kamu butuh waktu.”
Ia menggaruk belakang kepalanya.
“Tapi aku hanya ingin kamu tahu.”
Rania menunduk sedikit.
“Arga…”
Namun sebelum ia sempat melanjutkan, suara mobil berhenti di depan rumah.
Keduanya langsung menoleh.
Damar.
Pria itu turun dari mobilnya dengan langkah tenang seperti biasa.
Namun ketika ia melihat Arga berdiri dekat Rania, matanya sedikit menyipit.
Arga tersenyum tipis.
“Pagi.”
Damar mengangguk kecil.
“Pagi.”
Rania merasa situasi ini semakin sulit.
Damar berjalan mendekat.
“Mbak Rania.”
“Iya?”
“Aku ingin berbicara sebentar.”
Arga langsung mengangkat alis.
“Wah, sepertinya aku harus pergi.”
Namun sebelum ia benar-benar pergi, ia menoleh pada Rania.
“Jangan terlalu keras pada hatimu sendiri.”
Setelah mengatakan itu, Arga akhirnya berjalan keluar halaman.
Sekarang hanya tinggal Rania dan Damar.
Suasana tiba-tiba terasa sangat sunyi.
Damar berdiri di depan Rania.
Tatapannya tenang seperti biasanya.
Namun ada sesuatu yang berbeda hari ini.
Lebih serius.
“Mbak Rania.”
“Iya…”
“Semalam aku juga tidak bercanda.”
Jantung Rania terasa seperti berhenti sejenak.
Damar melanjutkan dengan suara rendah.
“Aku tahu situasimu.”
“Aku tahu kamu punya Rafa.”
“Dan aku juga tahu kamu mungkin berpikir aku terlalu muda untukmu.”
Rania menatapnya.
Damar menambahkan dengan pelan.
“Tapi semua itu tidak mengubah perasaanku.”
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Damar benar-benar terlihat membuka dirinya.
“Aku tidak ingin kamu merasa sendirian lagi.”
Kalimat itu membuat hati Rania bergetar.
Sudah lama sekali tidak ada seseorang yang mengatakan hal seperti itu padanya.
Namun justru karena itu…
Ia semakin takut.
“Damar…”
“Aku…”
Rania menunduk.
“Aku tidak bisa memikirkan hal seperti itu sekarang.”
Damar tidak terlihat kecewa.
Ia hanya mengangguk pelan.
“Aku tahu.”
Ia melanjutkan dengan tenang.
“Aku tidak akan memaksamu.”
“Tapi aku juga tidak akan menyerah.”
Rania menatapnya dengan mata sedikit membesar.
Damar memberikan senyum kecil yang jarang sekali ia tunjukkan.
“Karena aku serius.”
Sore harinya, Rania menjemput Rafa dari sekolah.
Anak kecil itu langsung bercerita banyak hal tentang teman-temannya.
Namun pikiran Rania masih penuh dengan kejadian pagi tadi.
Dua pria.
Dua pengakuan.
Dan ia berada tepat di tengah mereka.
Saat mereka berjalan pulang, Rafa tiba-tiba berkata.
“Bunda.”
“Iya?”
“Kalau Bunda punya suami lagi… Rafa tidak marah.”
Langkah Rania langsung berhenti.
“Kamu bilang apa?”
Rafa menatapnya polos.
“Rafa hanya ingin Bunda bahagia.”
Mata Rania langsung terasa panas.
Ia berlutut dan memeluk anaknya erat.
“Kamu ini…”
Anak kecil itu benar-benar tidak tahu betapa besar kata-katanya bagi Rania.
Namun malam itu, setelah Rafa tertidur, Rania duduk sendirian di teras rumah.
Angin malam berhembus pelan.
Ia menatap langit gelap yang dipenuhi bintang.
Hatinya terasa penuh dengan perasaan yang tidak bisa ia jelaskan.
Arga dengan senyumnya yang hangat.
Damar dengan ketenangannya yang menenangkan.
Keduanya tulus.
Keduanya serius.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama…
Hati Rania mulai bertanya sesuatu.
Apakah ia berani membuka pintu hatinya lagi?
Atau justru perasaan ini akan membawa lebih banyak luka?
Satu hal yang pasti…
Pertarungan cinta di antara mereka baru saja dimulai.