AUDREY DIRA ADIWANGSA, terlahir dari keluarga cemara yang memiliki sifat berani dan spontan.
Gadis itu dijodohkan oleh Papanya, Adiwangsa, dengan putra dari seorang Konglomerat yang bernama Wira Aldrian Bimasena. Namun ternyata keluarga calon suami nya itu Toxic, jauh berbeda sekali dengan kehidupan yang dijalani Audrey bersama keluarganya.
Akankah Audrey mampu menghadapi mereka ataukah Audrey akan kalah dan menyerah lalu kembali pada kehidupan nyamannya bersama keluarga besar Adiwangsa ??
Happy Reading...
Enjoy guys 💜
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 16
Wira melihat jama di pergelangan tangannya, "Sudah malam. Ayo pulang." Ajak Wira, Audrey mengangguk dan mereka pun kembali kerumah itu.
"Tidurlah. Aku masih ada pekerjaan." Wira duduk di ruang tamu dengan laptopnya yang dia letakkan di atas meja.
Audrey tidak menjawab, dia masuk ke kamar tapi beberapa saat kembali lagi ke ruang tamu.
"Ini.." Audrey menyerahkan bantal serta selimut pribadi nya untuk Wira. Beruntung Audrey sudah memprediksi keperluannya hingga bantal, guling serta dua selimut pribadi nya dia bawa.
"Terimakasih." Ucap Wira tulus
"Hem." Audrey menjawab singkat sambil mengangguk kecil.
Setelah itu Audrey masuk ke kamar untuk tidur.
Hari berikutnya...
Audrey baru bangun pukul delapan. Itu pun karena terganggu dengan cahaya silau yang masuk dari sela-sela gorden kamar nya
Eughh...
Audrey melenguh panjang sambil merentangkan kedua tangannya.
"Jam berapa ini ?" Gumam Audrey dengan tangan yang terulur ke sisi kasur untuk mengambil ponsel.
"Oh, baru jam delapan." Ucap Audrey santai. Dia pun turun dari tempat tidur sambil menguncir kuda rambut panjang nya.
Audrey keluar kamar, berjalan ke arah kamar mandi untuk membasuh wajah dan buang air kecil.
Setelah merasa segar, Audrey ke luar untuk mencari Wira.
"Kok kosong ?" Audrey melihat selimut nya sudah terlipat rapi di atas bantal. Laptop Wira masih disana tapi orang nya tidak ada.
Audrey membuka pintu rumah, hangat nya sinar matahari pagi seketika meningkatkan suasana hati gadis itu. Mood nya menjadi sangat bagus.
"Awas saja jika si kanebo kering itu merusak moodku!" Batin Audrey
"Neng, baru bangun ?" Tanya wanita paruh baya ketika melihat Audrey berdiri di teras. Usia wanita itu mungkin sekitar 48 tahunan.
"Iya, Bu. Ibu tau suami saya dimana ?" Jawab Audrey sopan sambil tersenyum ke arah wanita itu.
Si Ibu itu pun balas tersenyum lalu bicara lagi,
"Suami Neng Audrey teh lagi ngobrol sama Pak RT, tuh disana." Si Ibu menunjuk ke arah jalan utama dengan ibu jari nya.
"Makasih ya, Bu." Kata Audrey kemudian dia memakai sandal nya untuk segera mencari Wira. Audrey takut Wira akan membuat masalah pada warga desa.
"Loh...kok rame banget..Ada apa ini ?" Gumam gadis itu ketika melihat di jalan utama desa banyak sekali warga yang berkerumun serta terdengar suara berisik seperti suara mesin.
"Jangan-jangan....." Audrey menerobos ke kerumunan saking paniknya takut terjadi sesuatu pada Wira sebab suami nya itu kan orang baru disini, pasti dia belum mengenal seluk beluk desa.
"Permisi...permisi..." Kata Audrey membuat beberapa orang membuka jalan untuk nya.
"Eh, Neng Audrey...Selamat pagi, Neng." Pak RT yang berpakaian safari hitam yang pertama kali menyadari kehadiran Audrey.
"I-ini....A-ada apa ya, Pak?" Tanya Audrey sambil menatap satu persatu orang yang tengah sibuk entah sedang mengerjakan apa.
"Oh..Ini Neng. Den Wira, suami nya neng Audrey tadi pagi datang kerumah saya, minta Izin untuk memperbaiki jalan utama desa. Katanya biar akses warga keluar masuk desa jadi lebih mudah."
Audrey tersentak, wajahnya menunjukkan keterkejutan yang luar biasa. Pasti dia tidak menyangka kalau Wira bisa melakukan hal itu.
Beberapa detik Audrey menatap sekeliling, benar di ujung jalan yang dekat rumah Pak RT ada beberapa alat berat yang mulai beroperasi. Pantas saja suaranya menimbulkan kebisingan di tengah-tengah suasana desa yang tenang.
"Terus suami saya dimana, Pak ?" Tanya Audrey sambil celingak-celinguk mencari keberadaan si Kanebo kering itu.
"Oh. Den Wira ada di rumah saya, sedang menerima tamu nya yang dari kota, Neng." Jawab Pak RT.
"Tamu ? Dari kota ?" Gumam Audrey dengan suara kecil.
"Yaudah Pak, Saya susulin suami saya dulu. Terimakasih infonya."
Setelah pamit pada Pak RT, Audrey pun menyusuri jalanan desa menuju rumah Pak RT yang memang tidak terlalu jauh dari tempat kerumunan warga tadi.
Langkah Audrey terhenti tepat pinggir di halaman rumah Pak RT.
Tiba-tiba jantungnya seperti kehilangan dekat ketika melihat Wira yang berdiri menghadap depan dengan mengenakan kemeja hitam pekat yang lengan baju nya di gulung hingga siku. Rahangnya mengeras sedemikian rupa hingga otot-otot dipelipisnya menonjol. Mata elang pria itu berkilat-kilat marah, menatap tajam ke arah lawan bicaranya.
"KURANG AJAR!" Geram Wira. Ada sebuah insting teritorial yang meledak brutal di dalam dada Wira.
"Pastikan kau awasi mereka terus!!"
🏵️Flashback On..
Wira bangun pagi sekali, sekitar pukul 6 pagi saat suara deru mesin mobil berhenti di depan 'posko KKN'. Wira membuka pintu lalu mempersilahkan orang itu masuk.
"Apa kau sudah melaksanakan tugas yang aku berikan semalam ?" tanya Wira
"Sudah, Bos. Saya sudah kordinasi dengan bagian pekerjaan umum untuk pengaspalan jalan hari ini. Mereka akan sampai sebentar lagi."
Wira mengangguk, puas.
"Kalau begitu aku mandi dulu, nanti kita sama-sama ke rumah Pak RT."
Asisten Wira mengangguk, "Baik, Bos."
Beberapa menit kemudian, Wira dan Hendra berjalan santai menuju rumah Pak RT. Wira yang tak suka berbasa basi langsung meminta izin untuk memperbaiki jalan desa.
Bagai mendapat durian runtuh, tentu saja Pak RT langsung setuju dengan rencana Wira. Terlebih tidak ada secuilpun dana yang diminta Wira untuk pembangunan jalan yang sudah bertahun-tahun rusak tersebut.
Saat para pekerja umum datang, Pak RT mewakili Wira untuk menemui mereka dan menjelaskan dimana mereka harus memulai pengerjaan pengaspalan jalan desa.
Sementara itu Wira dan Hendra justru menunggu di teras rumah Pak RT yang begitu asri karena dikelilingi beberapa pohon besar.
"Bos, soal permintaan Bos waktu itu, saya sudah memata-matai Ibu Santi dan Nona Shena."
Wira menatap Hendra dengan serius.
"Ternyata benar firasat anda Bos, Ibu anda dan adik perempuan anda tidak pernah setuju dengan pernikahan anda dan Nona Audrey. Tolong dengarkan ini, Bos. Saya bekerjasama dengan salah satu pelayan di mansion dan dia berhasil merekam percakapan Ibu dan adik anda."
Hendra memberikan earphone ke Wira lalu...
Klik!
Hendra menekan tombol play di layar ponselnya karena rekaman tersebut sudah dia pindahkan ke benda pipih dengan tiga boba di belakangnya. Sementara Wira sendiri langsung memasang earphone di telinga nya.
'Bun... Pokoknya kalau si Audrey itu macem-macem kita kasih pelajaran aja! Aku nggak mau ya sampai Kak Wira di cuci otaknya sama perempuan itu!!'
Itu suara Shena. Adiknya.
'Betul! Bunda juga nggak rela kalau Wira jatuh ke tangan Wanita itu. Kita harus cari cara agar mereka bisa cerai secepatnya!'
Sahut Bunda Santi membuat wajah Wira merah padam.
"KURANG AJAR!" Geram Wira. Ada sebuah insting teritorial yang meledak brutal di dalam dada Wira.
"Pastikan kau awasi mereka terus! Laporkan padaku setiap tindakan yang mereka rencanakan!"
Tidak ada yang boleh menyakiti wanita yang sudah dia ikat dalam ikatan sebuah pernikahan. Jika menyakiti saja tidak boleh, apalagi merendahkan nya, begitu pikir Wira.
🏵️ Flashback Off.