Saking kayanya, keluarga Suhartanto merasa jenuh dengan kehidupan mereka yang bergelimpangan harta. Akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke desa, mencari suasana baru tanpa fasilitas mewah apa pun.
Akankah mereka mampu bertahan hidup di desa yang semuanya serba terbatas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27 PGS
Sherina menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan kasar. "Orang-orang di sini memang stres semua," geram Sherina.
Di perkebunan, Syarif dan Wita sedang bekerja. Tama sangat bahagia melihat Wita ada di kebunnya, ia memperhatikan Wita dengan senyum-senyum. Rossa mengerutkan keningnya, dia sudah mulai merasa curiga dengan tingkah laku Papanya.
"Papa ngapain senyum-senyum sendiri? dari tadi Rossa perhatikan Papa melihat terus ke arah Mamanya si Syarif," seru Rossa penuh selidik.
"Kata siapa? Papa sedang memperhatikan semua karyawan di sini kok," dusta Juragan Tama.
Rossa mendelikan matanya, dia curiga dan dia harus menyelidikinya. Rossa kembali memantau semua pekerja, pada saat Rossa menjauh Tama langsung menghampiri Wita. "Kamu jaga di sini, jika ada Rossa kamu langsung siul saja sebagai tanda," titah Juragan Tama.
"Baik, Juragan," sahut Yosep.
Perlahan Tama menghampiri Wita. "Jeng Wita ngapain bekerja di sini?" seru Juragan Tama.
Wita tersentak kaget, dia lebih kaget lagi karena Tama sudah berada di belakang tubuhnya. "Maaf Juragan, saya sedang menggantikan suami saya," sahut Mommy Wita ketus.
Wita kembali bekerja. "Bukan begitu caranya Jeng Wita, tapi begini." Tama memegang tangan Wita dan mengajari untuk bekerja di perkebunan.
Wita kesal dan langsung menghempaskan tangan Tama. "Juragan jangan lancang, saya bisa teriak dan Juragan akan dilaporkan atas dasar pelecehan," geram Mommy Wita.
Tama tertawa mengejek. "Kamu mau lapor pakai bukti apa? tidak ada bukti sama sekali, justru kalau Jeng Wita lapor nanti bakalan Jeng Wita sendiri yang rugi," sahut Juragan Tama meremehkan.
"Mau Juragan apa sebenarnya? kenapa Juragan selalu mengganggu saya? apa Juragan tidak tahu jika di kampung ini saya sudah di cap sebagai wanita gatal yang menggoda Juragan!" geram Mommy Wita.
"Mau saya cuma satu, menikahi kamu dan menjadikan kamu sebagai istri keduaku," sahut Juragan Tama dengan senyumannya.
"Saya sudah bilang, jika saya tidak akan pernah mau menikah dengan Juragan. Tolong stop gangguin saya karena saya ingin hidup tenang tanpa ada masalah sedikit pun," tegas Mommy Wita.
"Jeng Wita jangan jual mahal, saya tahu Jeng Wita itu sangat menderita hidup dengan Pak Tri yang miskin itu. Kalau Jeng Wita bersedia menikah dengan saya, maka saya akan menceraikan istri saya dan menjadikan kamu sebagai Ratu saya. Apa pun yang Jeng Wita mau, akan saya kabulkan," seru Juragan Tama.
"Stop, saya tidak akan pernah berpisah dengan suami saya, camkan itu!" bentak Mommy Wita.
Suara bentakan Wita terdengar oleh Rossa, dia pun segera mencari sumber suara. Melihat Rossa mendekat, Yosep pun bersiul dan Tama panik lalu pergi dengan wajah yang kesal. Rossa melihat Papanya berjalan dari bawah dan di bawah ada Wita.
"Kurang ajar, apa yang sudah wanita itu lakukan dengan Papa aku? aku harus menyelidikinya, aku gak rela Papa aku digoda oleh wanita murahan seperti dia," batin Rossa sembari mengepalkan tangannya.
"Rossa, ada apa?" tanya Juragan Tama pura-pura tidak terjadi apa-apa.
"Tadi Rossa seperti mendengar suara teriakan dan sekarang Rossa sedang mencarinya," sahut Rossa.
"Teriakan apa? kok Papa gak dengar? sudah, sekarang kita pulang, sebentar lagi jam makan siang sepertinya Mama sudah masak untuk kita," seru Juragan Tama sembari mendorong tubuh Rossa untuk pergi.
***
Malam pun tiba....
"Syarif, panggilkan tukang pijat badan Mommy sakit semua," keluh Mommy Wita.
"Kata Syarif juga apa, Mommy itu tidak pernah kerja berat nanti kalau Daddy sampai tahu maka Syarif yang akan kena amuk," sahut Syarif.
"Sumpah badan Mommy sakit semua," keluh Mommy Wita.
"Sudah, besok jangan ikut lagi Mommy diam saja di rumah," sahut Syarif.
Sherina tertawa kecil. "Bagaimana keadaan Lu, Kak? sudah mendingan?" tanya Syarif.
"Sudah sehat, oh iya mulai besok aku gak mengajar lagi di sekolah," ucap Sherina.
"Loh, kenapa?" tanya Mommy Wita.
"Orang-orangnya toxic Mom, Sherina pikir di kota orang-orangnya gak asyik tapi ternyata orang-orang di kampung jauh lebih gak asyik," sahut Sherina.
"Benar banget, lebih mending di kota sesama tetangga tidak saling kenal dan tidak mengurusi hidup orang lain, coba di sini apa pun yang kita lakukan jadi perhatian banyak orang dan akhirnya jadi bahan gosip," sambung Syarif.
"Ternyata jadi orang susah itu lebih sulit dan banyak sekali tantangannya," keluh Sherina.
"Sabar, kita baru beberapa bulan di sini minimal setengah tahun lah, kalau setengah tahun gak sanggup, ya sudah kita pulang lagi ke Jakarta," sahut Mommy Wita.
Di lain tempat, Fuja dan Rossa saat ini sedang mengobrol di kamar Rossa. Ningsih memang mengundang Fuja untuk makan malam bersama, dan setelah makan malam bersama Rossa mengajak Fuja ke kamarnya. "Rossa, apa kamu dengar gosip-gosip yang saat ini sedang hangat diperbincangkan Ibu-ibu di sini?" tanya Fuja.
"Gosip apa, Kak?"
"Itu loh, Mamanya Sherina menggoda Papamu," sahut Fuja.
"Iya, aku dengar. Memang kelakuan Papa pun akhir-akhir ini berbeda, dia jadi sering ke perkebunan terus dia selalu melihat wanita itu dengan senyuman. Aku belum punya bukti Kak, kalau sudah punya bukti bakalan aku labrak keluarga itu," kesal Rossa.
"Mereka memang keluarga yang menyebalkan, Ariel saja sekarang sedikit berubah lebih perhatian kepada si Sherina. Anak sama Ibu sama-sama penggoda, kita harus hati-hati," sahut Fuja.
***
Keesokan harinya....
Wita saat ini sedang membersihkan halaman rumahnya, dia menyapu dan menyiram bunga kesayangannya. "Bu Wita sudah gak pernah ke warung lagi, apa sekarang bahan makanan Bu Wita sudah penuh dikasih oleh Juragan Tama?" sindir Bu Ida.
Wita hanya menghela napas, dia berusaha bersabar dan tidak mau terpancing emosi. "Hebat ya, warga baru tapi sudah berani menggoda Juragan Tama, kasihan Pak Tri memiliki istri penggoda." Ida kembali memancing emosi Wita dan kali ini Wita memang kepancing.
Wita mengambil alat untuk menyiram tanaman, lalu menyiramnya ke arah Ida membuat Ida seketika memundurkan langkahnya. "Gila, kamu menyiram saya!" bentak Bu Ida emosi.
"Pagi-pagi sudah menggosip, jangan sibuk ngurusin kehidupan orang lain Bu lebih baik urus saja keluarga Ibu sendiri," sahut Mommy Wita.
"Semenjak keluarga kalian pindah ke sini, kehidupan di kampung ini yang awalnya tentram jadi rusuh. Semua suami melihat ke arah Ibu dan memperhatikan Ibu," geram Bu Ida.
"Lah, terus kenapa Ibu nyalahin saya? salahin dong suami kalian yang matanya jelalatan," sahut Mommy Wita.
"Suami kami tidak jelalatan, tapi Ibu yang kegatelan suka tebar pesona kepada suami kami."
"Idih, memangnya suami kalian spek Tom Cruise sampai-sampai saya harus tebar pesona? jangan ngada-ngada Bu, suami saya jauh lebih segala-galanya ngapain saya tebar pesona kepada suami kalian," kesal Mommy Wita.
Ida semakin kesal. "Awas ya, Bu. Nyonya Ningsih pasti bakalan tahu kalau Ibu kegatelan sama Juragan Tama dan tidak lama kemudian kalian akan diusir dari kampung ini," geram Ibu Ida.
"Diusir? apa hak dia mengusir keluarga saya?"
"Pokoknya lihat saja nanti." Ida pun memilih pergi dari sana dengan raut wajah yang kesal.
"Kurang kerjaan banget tuh mulut, pagi-pagi sudah julid aja," gerutu Mommy Wita.