NovelToon NovelToon
DUKA BARU LUKA LAMA

DUKA BARU LUKA LAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Konflik etika / Tamat
Popularitas:822
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

mengisahkan
Arsya Wiraguna,seorang arsitek sukses dengan masa lalu kelam ,
dan Klara asmara dengan seorang desainer periang yang membawa luka masa kecil

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Menyulam Mimpi di Rumah Kita

Oktober tiba dengan semilir angin yang lebih sejuk. Jakarta mulai memasuki masa peralihan menuju musim hujan, tapi matahari masih bersinar cukup terik di siang hari. Di rumah Menteng, hiruk-pikuk persiapan pernikahan mulai terasa.

Pagi itu, Kalara duduk di ruang keluarga dengan tumpukan katalog pernikahan di sekelilingnya. Wajahnya pusing setengah mati. Raka di sampingnya dengan sabar menemani, sesekali memberikan komentar.

"Gue pusing, Ra," keluh Kalara. "Ini ribet banget."

"Makanya jangan ambil semua. Kita pilih yang penting-penting aja."

"Tapi kan pengin perfect."

"Perfect itu nggak ada, Sayang. Yang ada adalah indah sesuai kemampuan dan keinginan kita."

Kalara menatap Raka. "Lo bijak banget sih."

"Emang. Lo baru tahu?"

"Ciyus, deh. Gue bersyukur punya lo."

Raka tersenyum, mencium keningnya. "Gue juga bersyukur punya lo."

Arsya turun dari lantai atas, melihat pemandangan itu. "Waduh, pagi-pagi udah mesra."

"Kak, bantuin gue milih," pinta Kalara.

"Milih apa?"

"Ini semua." Kalara menunjukkan tumpukan katalog. "Undangan, dekorasi, katering, souvenir, seragam, cincin, bulan madu—semuanya!"

Arsya menghela napas. "Kara, nikahannya masih enam bulan lagi. Santai."

"Enam bulan cepet, Kak! Gue harus siap!"

Nadia muncul dari dapur, membawa nampan berisi teh hangat dan kue. "Sarapan dulu. Otak perlu energi buat mikir."

Mereka berkumpul di meja makan. Suasana hangat seperti biasa.

"Omong-omong, gimana dengan konsep pernikahannya?" tanya Nadia. "Udah punya gambaran?"

Kalara mengangguk semangat. "Gue pengin yang simple tapi bermakna. Di halaman belakang aja, dengan tenda putih dan lampu-lampu hias. Terus makanannya prasmanan ala rumahan. Musiknya akustik. Tamunya nggak banyak, cuma keluarga dan teman dekat."

"Kedengarannya indah," puji Nadia.

"Iya. Dan yang paling penting, gue pengin ada sesi khusus buat mengenang orang tua kita."

Suasana berubah hening. Arsya menatap Kalara.

"Maksud kamu?"

"Gue pengin ada foto Ibu dan Ayah di pelaminan. Biar mereka hadir secara spiritual. Mereka nggak bisa lihat kita nikah secara fisik, tapi setidaknya kita undang dalam bentuk foto."

Arsya tersentuh. "Kamu serius?"

"Serius, Kak. Mereka orang tua kita. Walaupun hubungan mereka... bermasalah, mereka tetap orang tua kita. Dan gue yakin mereka ingin melihat kita bahagia."

Nadia meraih tangan Arsya. "Ide yang bagus."

Arsya mengangguk. "Setuju. Aku bantu siapin fotonya."

"Makasih, Kak."

Raka memeluk Kalara. "Aku bangga sama kamu."

"Untuk apa?"

"Untuk keberanianmu menghadapi masa lalu. Untuk cintamu pada orang tua yang bahkan nggak sempat kamu kenal."

Kalara tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Mereka tetap orang tuaku. Apa pun yang terjadi."

Dua minggu kemudian, Kalara dan Raka pergi ke Solo.

Mereka ingin meminta restu secara langsung ke Nenek Siti. Wanita tua itu sudah sangat renta, usianya menginjak 85 tahun. Kesehatan naik turun. Kalara ingin memastikan neneknya tahu bahwa ia akan menikah.

Rumah joglo di Laweyan masih sama. Halamannya rindang, udaranya sejuk. Nenek Siti duduk di kursi goyang di teras, ditemani seorang perawat.

"Nek!" sapa Kalara riang.

Nenek Siti menoleh. Matanya yang mulai kabur berusaha fokus. "Kara? Cucuku Kara?"

"Iya, Nek. Ini aku."

Nenek Siti merentangkan tangan. Kalara berlutut di depannya, memeluk neneknya.

"Sudah lama tidak datang," bisik Nenek Siti.

"Maaf, Nek. Saya sibuk. Tapi saya bawakan kabar gembira."

Kalara menarik Raka maju. "Nek, ini Raka. Tunangan saya. Kami akan menikah."

Nenek Siti menatap Raka lama. Matanya yang tua tampak mencari-cari sesuatu.

"Raka," ulangnya. "Tampan. Baik hati?"

"Insya Allah, Nek," jawab Raka sopan. "Saya akan jaga Kara baik-baik."

Nenek Siti mengangguk. Lalu tiba-tiba, matanya berkaca-kaca.

"Maafkan Nenek," bisiknya. "Maafkan keluarga kita."

Kalara memegang tangan Nenek Siti. "Nek, sudah. Semua sudah berlalu. Kami ikhlas."

"Tapi Nenek tidak ikhlas. Nenek masih menyesal."

"Nek, lihat kami. Lihat saya dan Kak Arsya. Kami baik-baik saja. Kami bahagia. Itu yang terpenting."

Nenek Siti menangis. Raka mengusap punggung Kalara, memberi dukungan.

"Doakan kami, Nek," pinta Kalara. "Doakan pernikahan kami lancar."

Nenek Siti mengangguk. Lalu dengan susah payah, ia berdiri dan masuk ke dalam rumah. Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan sebuah kotak kecil.

"Ini," katanya. "Untuk kamu."

Kalara membuka kotak itu. Di dalamnya, sebuah gelang emas tua dengan ukiran bunga melati.

"Ini milik Rarasati, ibumu. Dulu waktu ia masih kecil, ia selalu pakai gelang ini. Aku simpan, berharap suatu hari bisa memberikannya pada anaknya."

Kalara menangis. Gelang itu masih indah, meskipun sudah puluhan tahun. Ia memakainya di pergelangan tangan, tepat di sebelah jam tangan.

"Cocok," bisiknya.

"Kamu mirip ibumu," kata Nenek Siti. "Senyummu sama. Matamu juga."

"Doakan aku, Nek."

"Tentu. Setiap hari."

Mereka menghabiskan sore itu di teras rumah joglo, ditemani teh hangat dan angin sore. Nenek Siti bercerita tentang masa kecil Rarasati dan Asmara—tentang kenangan-kenangan indah sebelum semuanya hancur.

Kalara mendengarkan dengan seksama, merekam setiap kata dalam ingatannya. Ini adalah bagian dari dirinya yang selama ini hilang. Kini ia menemukannya.

Kembali di Jakarta, Arsya dan Nadia juga sibuk.

Bukan persiapan pernikahan, tapi persiapan hidup bersama. Nadia mulai membuka praktik arsitektur sendiri, dengan kantor kecil di lantai bawah rumah Menteng—kamar yang dulu kosong, kini disulap jadi studio desain.

"Jadi, lo bakal kerja dari rumah?" tanya Arsya.

"Iya. Sementara ini dulu. Nanti kalau sudah besar, mungkin cari tempat sendiri."

"Atau kita renovasi lantai bawah lebih luas."

Nadia tersenyum. "Lo udah mikir jangka panjang."

"Iya. Dengan lo, aku mikir jangka panjang."

Mereka tersenyum. Di meja gambar, sketsa-sketsa desain berserakan. Arsya membantu Nadia menata ulang ruangan itu.

"Ini seru," kata Nadia. "Kerja bareng."

"Iya. Tapi jangan ganggu aku, ya."

"Lo yang ganggu aku."

"Kita saling ganggu."

Mereka tertawa. Pagi itu diisi dengan kerja, canda, dan sesekali ciuman di sela-sela menggambar.

Sore harinya, Raka dan Kalara tiba dari Solo.

Kalara langsung menunjukkan gelang di tangannya pada Arsya.

"Kak, lihat! Ini punya Ibu!"

Arsya mengambil tangan Kalara, meneliti gelang itu. Ukiran melati yang halus, emas yang mulai kusam karena usia.

"Cantik," pujinya.

"Iya. Nenek Siti yang kasih. Katanya, ini milik Ibu waktu kecil."

Arsya tersentuh. "Dia baik."

"Kak, lo nggak mau ke Solo? Ketemu Nenek?"

Arsya berpikir. "Mungkin nanti. Sekarang lagi sibuk."

"Sibuk pacaran?"

"Itu juga sibuk."

Kalara tertawa. "Ya udah, nanti aja. Tapi jangan lama-lama, Nenek udah tua."

"Iya, aku tahu."

Malam harinya, mereka makan malam bersama. Raka bawa masakan Padang kesukaan Kalara. Nadia bikin es buah segar. Meja makan penuh dengan makanan dan tawa.

"Kak," kata Kalara di tengah makan, "lo harus jadi saksi nikah gue."

Arsya mengangkat alis. "Saksi? Bukan pendamping?"

"Saksi itu pendamping. Pokoknya lo harus tanda tangan di kertas nikah gue."

"Tentu. Dengan senang hati."

"Dan lo juga, Nad. Lo jadi saksi dari pihak Raka."

Nadia terkejut. "Aku?"

"Iya. Lo kan nanti jadi kakak ipar gue. Wajar."

Nadia menatap Raka. Raka mengangguk, tersenyum.

"Aku terima," kata Nadia. "Dengan senang hati."

"Yess! Semua setuju!" Kalara berjingkrak di kursinya.

Arsya tertawa. "Santai, Dik. Jangan kegirangan."

"Ini hari bahagia, Kak! Semua orang yang gue sayang ada di sini!"

Kalara merangkul Raka, Arsya, dan Nadia sekaligus. Mereka berempat berpelukan di tengah ruang makan, dengan latar belakang rumah tua yang penuh sejarah.

November tiba.

Bulan yang selalu istimewa bagi mereka. Bulan di mana Rarasati dan Asmara pergi. Bulan di mana Kalara lahir. Bulan di mana Arsya kehilangan ibunya di stasiun.

Tapi November tahun ini berbeda.

Tanggal 15 November, mereka mengadakan ziarah ke makam Rarasati dan Asmara. Bukan hanya Arsya dan Kalara, tapi juga Mama Kalara, Ayah Arsya, Nadia, dan Raka.

TPU itu sejuk di pagi hari. Nisan marmer hitam terlihat bersih, baru saja dibersihkan kemarin. Bunga-bunga segar diletakkan di atas pusara.

Mereka berdoa bersama. Lantunan doa mengalun pelan, bercampur dengan kicau burung dan desiran angin.

Setelah doa, Mama Kalara duduk di samping makam Asmara.

"Asmara," bisiknya. "Aku maafkan kamu. Aku ikhlas. Dan aku berterima kasih karena kamu sudah memberi aku Kara. Dia anak yang baik. Aku akan jaga dia."

Ayah Arsya juga berbicara di depan makam Rarasati.

"Rarasati, aku juga maafkan. Dan aku berterima kasih karena kamu sudah memberi aku Arsya. Dia anak yang luar biasa. Aku bangga padanya."

Kalara dan Arsya berdiri di belakang mereka, terharu.

Kemudian Kalara maju. Ia berlutut di antara dua makam itu.

"Ibu, Ayah," suaranya bergetar. "Aku akan menikah. Namanya Raka. Dia baik, dia sayang aku. Doain aku, ya."

Arsya menyusul. "Ibu, Ayah. Aku juga sudah menemukan pendamping. Namanya Nadia. Kami akan jalani hidup bersama. Doakan kami."

Mereka berpelukan. Semua menangis. Tapi ini tangis yang berbeda. Bukan tangis kehilangan, tapi tangis kelegaan. Tangis syukur.

Di langit, awan-awan bergerak pelan. Seolah merestui.

Dua minggu setelah ziarah, Kalara dan Raka memutuskan tanggal pernikahan: 14 Februari.

Hari kasih sayang. Simbolis.

"Lo milih tanggal itu karena romantis?" tanya Nadia.

"Iya. Dan juga biar gampang ingat. Ulang tahun pernikahan sama dengan Valentine."

"Praktis."

"He-eh."

Persiapan makin intensif. Undangan sudah dicetak. Katering sudah dipesan. Dekorasi sudah didesain. Tinggal eksekusi.

Rumah Menteng mulai berubah. Halaman belakang dibersihkan, rumput dipotong rapi, tanaman ditata. Tenda putih mulai dipasang beberapa hari sebelum hari H.

Arsya sibuk mengawasi. Sebagai arsitek, ia ingin semuanya sempurna.

"Kak, santai aja," kata Kalara. "Ini bukan proyek lo."

"Ini proyek adikku. Harus sempurna."

Kalara tersenyum. "Makasih, Kak."

Malam sebelum pernikahan, Kalara tidak bisa tidur.

Ia duduk di kamarnya—kamar Rarasati—dengan gelang ibunya melingkar di tangan. Buku harian ibunya terbuka di pangkuan. Ia membaca halaman-halaman terakhir, di mana Rarasati menulis tentang harapannya untuk anak-anaknya.

"Semoga Kara dan Arsya tumbuh bahagia. Semoga mereka tidak menanggung dosa kami. Semoga mereka menemukan cinta yang tulus, yang tidak menyakiti."

Air mata Kalara jatuh.

"Ibu," bisiknya. "Aku baik-baik saja. Kak Arsya baik-baik saja. Kami bahagia."

Pintu kamar diketuk pelan.

"Kara?" suara Arsya.

"Masuk, Kak."

Arsya masuk, duduk di sampingnya. Ia melihat buku harian itu.

"Masih baca?"

"Iya. Tiap mau tidur."

"Apa katanya?"

Kalara membacakan kalimat itu. Arsya diam, matanya berkaca-kaca.

"Doa Ibu terkabul," bisiknya. "Kita bahagia."

"Iya. Berkat Ibu dan Ayah."

Mereka diam. Lalu Arsya meraih tangan Kalara.

"Kara, besok kamu nikah. Aku mau bilang sesuatu."

"Apa, Kak?"

Arsya menarik napas. "Aku bangga sama kamu. Bangga punya adik kayak kamu. Kamu kuat, kamu baik, kamu tulus. Raka beruntung."

Kalara menangis. "Kak..."

"Aku sayang kamu, Dik. Bukan karena kita saudara. Tapi karena kamu adalah kamu."

Kalara memeluknya. "Aku juga sayang Kakak. Kakak terbaik sedunia."

Mereka berpelukan lama. Di kamar yang dulu menjadi tempat ibu mereka bermimpi, dua anaknya kini bermimpi tentang masa depan.

Pagi 14 Februari tiba dengan cerah.

Matahari bersinar hangat, langit biru tanpa awan. Seolah alam merestui pernikahan ini.

Rumah Menteng sudah berubah total. Halaman belakang disulap jadi tempat upacara yang indah. Tenda putih dengan ribuan lampu hias. Pelaminan sederhana dengan hiasan bunga melati—bunga favorit Rarasati. Di samping pelaminan, dua bingkai foto besar: Rarasati dan Asmara, tersenyum bahagia.

Tamu mulai berdatangan. Mama Kalara datang dengan gaun kebaya biru muda, cantik. Ayah Arsya dengan setelan jas abu-abu, elegan. Pak Willem dengan kemeja batik khasnya. Teman-teman Kalara dan Raka memenuhi kursi-kursi yang disediakan.

Nadia menjadi saksi dari pihak Raka, berdiri di sisi kanan. Arsya menjadi saksi dari pihak Kalara, di sisi kiri. Mereka tersenyum bangga.

Musik akustik mengalun. Seorang penyanyi membawakan lagu cinta dengan lembut.

Dan kemudian, Kalara muncul.

Gaun putih sederhana tapi elegan. Renda-renda halus di bagian lengan. Kerudung tipis menutupi rambutnya. Di tangannya, buket bunga melati. Di pergelangan tangannya, gelang emas peninggalan ibunya.

Ia berjalan perlahan menuju pelaminan, ditemani Mama Kalara—bukan ayah, karena ayahnya sudah tiada. Tapi itu tidak masalah. Wajahnya bersinar.

Raka berdiri di pelaminan, menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Ia tampan dalam setelan jas putih, dengan korsase bunga melati di dadanya.

Kalara tiba di depan Raka. Mama mencium keningnya, lalu menyerahkannya pada Raka.

"Jaga dia, Nak," bisik Mama.

"Pasti, Ma. Janji."

Mereka berpegangan tangan. Penghulu memulai akad nikah.

Prosesi berlangsung khidmat. Raka mengucapkan ijab kabul dengan lantang dan jelas. Saksi-saksi mengamini. Kalara menjawab dengan suara bergetar bahagia.

Dan kemudian, mereka resmi menjadi suami istri.

Tepuk tangan pecah. Doa bersama dipanjatkan. Makanan disajikan. Tawa dan canda memenuhi halaman belakang rumah Menteng.

Di sela-sela acara, Arsya mendekati dua bingkai foto orang tua mereka.

"Ibu, Ayah," bisiknya. "Lihat. Adik kita bahagia. Doakan dia, ya."

Seperti jawaban, angin sepoi-sepoi bertiup, membawa wangi melati dari bunga-bunga di sekitar.

Arsya tersenyum. Ia tahu, mereka hadir.

Malam harinya, setelah semua tamu pulang, keluarga kecil itu berkumpul di ruang keluarga.

Kalara masih dengan gaun pengantinnya, bersandar di bahu Raka. Nadia duduk di samping Arsya. Mereka berempat, ditemani secangkir teh dan kue sisa resepsi.

"Hari ini sempurna," kata Kalara.

"Iya. Sempurna banget," sahut Raka.

"Kak, lo nggak nangis pas lihat gue jalan?"

Arsya tersenyum. "Nangis dalam hati."

"Bohong. Lo mah tegar."

"Nggak, serius. Aku terharu."

Nadia meraih tangan Arsya. "Dia nangis kok. Aku lihat. Tapi diem-diem."

"Ya ampun, Kak. Malu-maluin."

Mereka tertawa. Malam semakin larut, tapi tidak ada yang ingin tidur. Terlalu banyak kenangan indah hari ini.

"Kak," kata Kalara tiba-tiba.

"Hm?"

"Lo kapan nyusul?"

Arsya terkejut. "Apa?"

"Nyusul nikah. Lo sama Nadia udah siap, 'kan?"

Arsya dan Nadia bertukar pandang.

"Kami masih nikmati dulu," jawab Arsya hati-hati.

"Tapi jangan lama-lama. Gue pengin punya ponakan."

"Nad, denger tuh. Dik kita udah nggak sabar."

Nadia tertawa. "Ya doain aja. Semoga segera."

"Mudah-mudahan tahun depan," kata Kalara. "Biar rame."

Mereka tertawa lagi. Rencana-rencana kecil mengudara. Mimpi-mimpi sederhana bergulir.

Pukul satu dini hari, mereka akhirnya tidur.

Kalara dan Raka di kamar pengantin—kamar tamu yang sudah didekorasi khusus. Arsya dan Nadia di kamar mereka masing-masing—masih dengan keputusan untuk tinggal terpisah, meskipun hubungan semakin serius.

Arsya tidak bisa tidur. Ia duduk di balkon, menatap bintang-bintang.

Nadia muncul di sampingnya.

"Tidak bisa tidur?"

"Iya. Kamu?"

"Juga."

Mereka duduk bersama. Nadia menyandarkan kepala di bahu Arsya.

"Ars."

"Hm?"

"Aku bahagia."

"Aku juga."

"Terima kasih sudah ada di sini."

Arsya mencium rambutnya. "Terima kasih sudah memilihku."

Mereka diam. Bintang-bintang bertaburan di langit.

"Ars, aku mau tanya sesuatu."

"Apa?"

"Apa kamu benar-benar siap menikah suatu hari?"

Arsya berpikir. "Aku... aku rasa iya. Tapi aku masih perlu waktu. Bukan ragu sama kamu, tapi..."

"Tapi masih ada luka?"

"Iya. Luka lama. Aku ingin sembuh total sebelum memulai babak baru."

Nadia mengangguk. "Aku mengerti. Aku akan tunggu."

"Kamu nggak bosan nunggu?"

"Bosan? Nggak. Bersamamu saja sudah cukup. Nikah atau tidak, yang penting kita bersama."

Arsya menatapnya. Di bawah sinar bintang, Nadia terlihat begitu cantik, begitu tulus.

"Aku mencintaimu, Nadia."

"Aku juga mencintaimu, Arsya."

Mereka berciuman. Di balkon rumah Menteng, di bawah langit malam yang cerah, dua hati berjanji untuk terus bersama, apa pun yang terjadi.

Pagi datang dengan hangat.

Rumah Menteng bangun dengan suasana baru. Ada tawa dari kamar pengantin. Ada aroma kopi dari dapur. Ada suara burung berkicau di pohon beringin.

Hidup terus berjalan. Luka lama semakin kering. Duka baru semakin pudar. Dan cinta, dalam berbagai bentuknya, terus tumbuh.

Di rumah ini—rumah yang dulu penuh rahasia kelam—kini bersemi kebahagiaan. Dinding-dindingnya menjadi saksi bisu perjalanan panjang dari air mata menuju senyum.

Rumah ini bernyanyi.

Bernyanyi dengan suara cinta.

Selamanya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!