Zayna Almeera adalah badai yang dipaksa berhenti di sebuah desa tenang. Terbiasa dengan gemerlap kota, ia merasa dunianya runtuh saat harus menukar kehidupan mewahnya dengan ubin pesantren yang dingin. Ia datang membawa duri, siap menusuk siapa pun yang mencoba menjinakkan kebebasannya.
Di sana, ia bertemu Gus Haidar. Pemuda itu seperti telaga luas yang tak terusik; bicaranya tenang, tatapannya terjaga, dan dunianya hanya berisi pengabdian. Bagi Zayna, Haidar adalah teka-teki silang yang menyebalkan. Namun bagi Haidar, Zayna adalah kebisingan yang tiba-tiba membuat kesunyiannya terasa lebih lengkap.
Antara keras kepalanya Zayna dan sabarnya Haidar, ada sebuah cerita tentang bagaimana rasa pahit harus dibiarkan mengendap agar manisnya bisa dinikmati. Zayna ingin lari, tapi hatinya justru perlahan tertambat pada ketenangan yang tak pernah ia temukan di riuhnya kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di balik tirai rahasia dan janji yang mengakar
Malam di Pesantren Al-Fatih selalu memiliki caranya sendiri untuk bercerita. Setelah gempita doa dan selawat mereda, yang tersisa hanyalah orkestra alam; derik jangkrik di sela rumpun bambu dan suara dedaunan pohon tanjung yang saling berbisik diusap angin malam. Di dalam kamar pengantin yang beralaskan kayu jati tua, aroma bunga melati yang merambat dari rangkaian dekorasi terasa semakin pekat, seolah ingin mengunci memori tentang hari ini di dalam setiap helai napas.
Zayna duduk di tepi ranjang yang tertutup sprei putih bersih. Jantungnya berdegup laksana tabuhan rebana yang tak kunjung usai. Ia masih mengenakan kebaya putihnya, meski kerudung panjangnya telah ia lepaskan, menyisakan inner hijab yang membingkai wajahnya yang tampak lelah namun bersinar. Tangannya meremas ujung kain brokat, matanya menatap pantulan dirinya di cermin—sosok yang kini bukan lagi sekadar Zayna Almeera si gadis kota, melainkan seorang istri.
Pintu terbuka dengan derit halus yang khas. Gus Haidar masuk setelah menunaikan kewajibannya sebagai imam salat Isya terakhir di masjid besar. Ia masih mengenakan jubah putihnya, namun sorbannya sudah ia sampirkan di bahu. Wibawa yang tadi siang tampak begitu agung, kini melunak menjadi sebuah keteduhan yang sangat intim.
"Belum berganti pakaian?" tanya Haidar pelan, suaranya laksana aliran air pegunungan yang menyejukkan.
Zayna mendongak, lalu buru-buru menunduk lagi. "Ehm... belum, Mas. Masih... masih sedikit canggung."
Haidar tersenyum tipis. Ia berjalan menuju meja kecil, menuangkan air putih ke dalam gelas kaca, lalu membawanya ke hadapan Zayna. "Minumlah. Ketegangan seharian ini pasti membuat tenggorokanmu kering. Di pesantren, kita diajarkan bahwa ketenangan dimulai dari helai napas yang syukur."
Zayna menerima gelas itu, jemarinya tak sengaja bersentuhan dengan jemari Haidar. Sebuah getaran listrik yang asing namun manis merambat ke seluruh tubuhnya. Setelah meneguk air itu, Zayna memberanikan diri menatap suaminya.
"Mas... boleh aku bertanya sesuatu yang sejak tadi mengganjal di hatiku?"
Haidar duduk di kursi kayu di depan Zayna, menjaga jarak yang sopan namun cukup dekat untuk mendengar detak jantung masing-masing. "Tanyalah. Tidak ada lagi rahasia di antara gunung dan lembahnya, Zayna."
"Kenapa Ayah dan Bunda begitu kukuh mengirimku ke sini? Dan kenapa Mas... kenapa Mas mau menerima perempuan yang bahkan tidak tahu cara memegang kitab dengan benar, sementara di luar sana ada ribuan santriwati yang jauh lebih pantas?"
Haidar menarik napas panjang, menatap lurus ke arah jendela yang menampakkan rembulan sabit. "Zayna, kamu ingat ceritaku tentang kecelakaan Ayahmu di hutan dekat sini?"
Zayna mengangguk.
"Ada bagian yang belum sempat kuceritakan. Saat itu, Ayahmu tidak hanya terluka secara fisik. Beliau sedang mengalami guncangan jiwa yang hebat. Bisnisnya di Jakarta baru saja dimulai, dan beliau merasa tersesat dalam ambisi. Di pesantren ini, di kamar yang sekarang kita tempati, Ayahmu menemukan kembali makna 'pulang'. Beliau melihat Abah mengajariku yang saat itu masih balita, dan beliau berkata pada Abah: 'Kyai, duniaku sangat bising. Aku takut jika suatu saat nanti aku punya anak, ia akan tuli karena bisingnya duniaku. Berjanjilah, jika aku memiliki putri, izinkan dia mencicipi ketenangan yang ada di mata putramu.'"
Haidar menatap Zayna dengan pandangan yang sangat dalam, sebuah pandangan yang seolah bisa menembus hingga ke masa lalu Zayna yang paling kelam sekalipun.
"Jadi, Zayna... perjodohan ini bukan sekadar hutang budi. Ini adalah wasiat dari ketakutan seorang ayah yang sangat mencintai putrinya. Ayahmu tidak mengirimmu ke sini untuk menghukummu. Beliau mengirimmu ke sini untuk menunaikan janji pada jiwanya sendiri—janji untuk memberimu tempat perlindungan saat dunia kotamu mulai merobek hatimu."
Zayna terisak. Ia tidak menyangka bahwa di balik setiap makian dan kemarahan Ayahnya dulu di Jakarta, ada sebuah kerinduan yang mendalam untuk menyelamatkannya. "Tapi Mas... Mas sendiri? Apa Mas tidak merasa terbebani dengan wasiat itu? Bagaimana jika aku tetap menjadi Zayna yang liar? Bagaimana jika aku tidak pernah berubah?"
Haidar bangkit dari duduknya, ia melangkah satu tindak lebih dekat. "Zayna, gunung tidak pernah mengeluh saat badai datang menerjang puncaknya. Ia hanya diam, membiarkan angin lewat, karena ia tahu bahwa setelah badai, akan selalu ada pelangi yang tertinggal. Begitupun aku. Aku tidak menunggumu berubah. Aku hanya menunggumu menyadari bahwa kamu sudah berharga tanpa perlu menjadi siapa-siapa."
Ia mengambil sebuah kotak kecil dari atas meja, membukanya, dan mengeluarkan selembar kertas yang sudah sangat kusam, warnanya sudah menguning.
"Ini adalah surat yang ditulis Abah untukku saat aku berusia sepuluh tahun. Beliau menulis: 'Haidar, suatu saat nanti, amanah dari sahabat Abah akan datang. Ia mungkin bukan berasal dari taman yang sama dengarmu. Ia mungkin membawa duri dan luka. Tugasmu bukan untuk mencabut durinya, tapi untuk menjadi tanah yang subur baginya agar ia bisa tumbuh menjadi bunga yang paling indah.'"
Zayna menerima kertas itu dengan tangan gemetar. Ia membaca setiap kata yang ditulis dengan tinta hitam yang mulai memudar. Air matanya menetes, membasahi pinggiran kertas tua tersebut. Ia menyadari bahwa kehadirannya di pesantren ini bukan sebuah kecelakaan, melainkan sebuah narasi yang telah disusun rapi oleh doa-doa orang tua mereka.
"Mas..." bisik Zayna.
"Zayna Almeera," Haidar memanggil nama lengkapnya dengan nada yang begitu sakral. "Malam ini, aku tidak memintamu menjadi santriwati yang sempurna. Aku tidak memintamu menghafal seluruh kitab dalam semalam. Aku hanya memintamu satu hal: izinkan aku menjadi sajadah tempatmu meletakkan segala lelahmu. Izinkan aku menjadi dinding yang melindungimu dari bisingnya dunia luar."
Haidar kemudian mengambil mushaf kecil yang selalu dibawa Zayna. Ia membukanya pada halaman pertama Surat Ar-Rahman.
"Dulu kamu membacanya di mimbar dengan penuh tangis. Sekarang, maukah kamu membacanya bersamaku? Kita eja setiap nikmat Tuhan yang tidak bisa kita dustakan ini, satu per satu. Agar Arsy menjadi saksi bahwa cinta kita bukan bermula dari tatapan mata, melainkan dari sujud yang bertemu di titik yang sama."
Malam itu, di bawah temaram lampu kamar yang hangat, suara Haidar yang berat dan berwibawa berpadu dengan suara Zayna yang lembut namun bergetar. Mereka membacakan Ar-Rahman ayat demi ayat. Di dalam kamar itu, tidak ada lagi sekat antara kota dan desa, tidak ada lagi jarak antara pendosa dan pemandu. Yang ada hanyalah dua hamba Allah yang sedang merajut surga kecil mereka.
Saat sampai pada ayat terakhir, Haidar menutup mushaf tersebut. Ia menatap Zayna, lalu perlahan ia menyentuh dahi Zayna dengan ujung jemarinya, membisikkan sebuah doa yang membuat Zayna merasa benar-benar telah sampai di rumahnya yang abadi.
"Zayna, masa lalumu adalah debu yang sudah ditiup angin. Masa depanmu adalah tanah yang akan kita tanami bersama. Jangan pernah takut lagi pada bayang-bayang Jakarta, karena di sini, bayanganmu akan selalu bersatu dengan bayanganku."
Zayna tersenyum di balik sisa air matanya. Ia menyadari bahwa madu kehidupan yang ia cari selama ini bukan ada pada kemewahan, melainkan pada ketulusan seorang pria yang sanggup menunggunya selama dua puluh tahun hanya untuk membimbingnya membaca satu baris doa.
Di luar, pohon tanjung terus menjatuhkan bunganya. Putih, bersih, dan harum. Seolah-olah alam pun sedang menuliskan bab baru tentang sebuah perjalanan yang berangkat dari noda, melewati lembah taubat, dan akhirnya bermuara di samudera cinta yang penuh berkah.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
dari sekian banyaknya novel yg aku baca Cuma In yg Membuat Aku pangling Dan kagum Banget dengan Stiap Untaian katanya, Aplgi sangat Puitis banget
yg Lainnya Nanti Dluu hehehehhe,
yang Lain Tentang Apa Thor Law tentang percintaan Aku mau baca 🤭🤭🤭?
udah banyak Up Hari in
Pdhal aku bruu sja mendapatkan kesenangan Mlah Di BKIN Tak Karuan lgii
sring2 yaa Thor up 3 bab Biar Aku tambah smngat Bacanya
bercanda Thor mksih Thor Udah BKIN Novel SE kece In, Smangat Thor up nya law bisa 3 bab pun gpp