NovelToon NovelToon
Arsitektur Pengkhianatan

Arsitektur Pengkhianatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bagus Effendik89

Bagi Adnan Mahendra, hidup adalah maha karya presisi. Sebagai arsitek ternama di Surabaya, ia percaya bahwa fondasi yang kuat akan membuat bangunan abadi.

Namun, dunianya yang simetris runtuh dalam perlahan ketika laporan demi laporan Jo Bima yang tidak lain asisten Adnan sendiri. Mengungkap sisi gelap Arini, istri yang sangat ia puja dengan ketulusan cinta sejatinya.

Namun di balik wajah cantik dan senyum lembutnya, Arini telah membangun istana kebohongan. Bersama pria lain di sudut-sudut kota Surabaya yang panas tanpa sepengetahuannya.

Akankah cinta mereka bertahan, akankah pondasi rumah tangga yang di bangun Adnan tetap berdiri kokoh? ketika Bagaskara masa lalu Arini kembali mengusik ketenangan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Labirin Gairah dan Pintu yang Terkunci

pagi di Surabaya menyambut dengan langit yang abu-abu. Seolah mencerminkan kekeruhan yang mengendap di kediaman mewah Adnan. Dalam ruang makan yang luas dan sunyi, Arini duduk sendirian di hadapan meja kayu jati yang panjang. Sarapannya setangkup roti panggang dan segelas jus jeruk tak tersentuh.

 

Pandangannya tertuju pada satu titik yang sejak semalam menghantuinya. Bingkisan dengan kertas kado bunga vintage dari mertuanya. Hadiah itu masih tergeletak di sana, seolah-olah sepasang mata orang tua Adnan sedang mengawasinya dari balik lipatan kertas kado tersebut.

 

 

Hingga detik ini, ia belum berani membukanya. Ketakutan itu nyata, rasa sesak di dadanya tak kunjung hilang sejak Bi Sum memberi tahu bahwa mertuanya datang setelah mampir ke toko di seberang halte lama.

 

 

Apakah mereka melihatku? Jika iya, mengapa mereka tidak langsung melabrakku?

Pertanyaan itu berputar seperti gasing di kepalanya. Di sisi lain, ponselnya tetap diam.

 

Adnan belum memberi kabar kapan akan mendarat di Surabaya. Ketidakhadiran Adnan yang biasanya memberikan ketenangan, kini justru terasa seperti hening sebelum badai besar menghantam. Seperti pisau dapur usai terasah dan siap menikam jantungnya kapan saja.

 

Tring,

 

 

Getar ponsel di atas meja membuat Arini tersentak dengan tangan sedikit gemetar. Perasaannya campur aduk antara takut dan kengerian. Apakah pesan itu dari Adnan yang telah diberitahu orang tuanya? Akan kebersamaannya bersama Bagas di halte tua.

 

Ia meraih benda ponsel dengan tangan agak gemetaran, sebuah pesan dari Bagaskara. Nafasnya agak lega tapi kembali memburu sebab nama Adnan dan posisinya sebagai istri kembali membayangi.

 

“Rin, maafkan aku soal kemarin di studio. Aku terlalu terbawa suasana. Kamu tahu sendiri, melihatmu kembali setelah sekian lama, aku kehilangan kendali. Aku tidak bermaksud menakutimu. Aku hanya sangat merindukan Arini-ku yang dulu.” Begitulah isi pesan cat dari Bagas.

 

 

Arini menghela napas panjang agak perih, ada pergulatan batin yang hebat di sana. Sebagian dari dirinya, bagian yang masih menyandang gelar Nyonya Adnan, berteriak agar ia segera memblokir nomor itu dan mengakhiri kegilaan ini sebelum terlambat. Namun, bagian lain dari dirinya, bagian yang selama tiga tahun ini haus akan pengakuan dan kehangatan, merasa tersanjung.

 

Tring,

 

Sekali lagi pesan cat Bagas mendarat mulus, “Jangan biarkan kejadian kemarin merusak momen kita. Kamu adalah karya seni terindah yang pernah aku potret. Hari ini aku punya konsep baru, sesuatu yang akan membuatmu merasa benar-benar hidup. Datanglah, Rin. Hanya sebentar. Kamu tidak perlu menjadi istri siapa-siapa di studiku. Jadilah dirimu sendiri.”

 

 

Kata-kata itu seperti mantra. Bagas tahu persis celah di hati Arini di rumah ini. Ia adalah perabot mahal yang harus selalu bersih dan rapi. Di studio Bagas, ia adalah api. Siap kapan saja meledak sebebas angin musim kemarau.

 

Kebimbangan itu perlahan luruh. Ketakutan akan mertuanya seolah terdorong ke sudut gelap pikirannya. Kalah oleh ego yang ingin dipuja-puja dan disanjung selayaknya wanita lainnya.

 

Arini berdiri, meninggalkan sarapannya yang dingin. Ia naik ke lantai atas, merias wajahnya lebih tebal dari biasanya, dan memilih gaun yang lebih berani.

 

Tanpa berpamitan pada Bi Sum yang sedang sibuk di dapur belakang, Arini keluar rumah. Ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, seolah sedang berlari menjemput kebebasan yang ia anggap milik sahnya. Seolah kabur dari jeruji besi yang membelenggu tubuhnya secara terikat.

 

Studio Lensa Jingga di Kota Tua Surabaya kembali menjadi saksi bisu. Saat Arini melangkah masuk, melangkahkan kaki jenjang dengan centil dan sedikit senyum nakal. Bagaskara sudah menunggu dengan senyum kemenangan yang disembunyikan di balik keramahan.

 

"Aku tahu kamu akan datang," bisik Bagas sambil menuntun Arini ke ruang ganti.

 

Sesi pemotretan kali ini jauh lebih menantang. Bagas memberikan pakaian yang bahkan lebih terbuka dari kemarin. Selembar kain sutra transparan yang hanya menutupi bagian-bagian krusial, menonjolkan setiap lekuk tubuh Arini yang sempurna.

 

Di bawah sorotan lampu studio yang panas, Arini merasa sangat bebas. Ia berpose dengan berani, mengikuti setiap arahan Bagas yang semakin intim. Nama Adnan benar-benar hilang dari ingatannya. Ia tidak lagi memikirkan statusnya, tidak memikirkan rumah besarnya. Bahkan tidak memikirkan rahasia kegugurannya yang terkubur dalam bertahun-tahun silam.

 

"Luar biasa, Rin. Kamu cantik sekali," puji Bagas, matanya tak lepas dari tubuh Arini yang berkilat karena peluh tipis.

 

Bagas meletakkan kameranya. Ia mendekat, tangannya merayap ke bahu Arini yang terbuka. Kali ini, saat Bagas mendaratkan kecupan di lehernya, Arini tidak mendorong. Ia justru memejamkan mata, menikmati sensasi yang sudah lama tidak ia rasakan dari suaminya yang dingin.

 

Ciuman itu berpindah ke bibir, semakin dalam dan semakin menuntut. Pergulatan emosi dan gairah yang terpendam selama bertahun-tahun meledak di sana. Di atas sofa kulit tua di sudut studio, di tengah aroma bahan kimia foto.

 

Arini menyerahkan segalanya, pengkhianatan itu kini lengkap. Ia telah melintasi batas yang tak seharusnya dilalui oleh seorang istri. Ia telah benar-benar kembali menjadi Arini dari masa lalu. Saat dahulu kala tubuhnya masih mengenakan seragam khas sekolah SMA, yakni putih dan abu-abu.

 

Malam mulai turun menyelimuti Surabaya. Adnan turun dari mobil yang dikemudikan Jo dengan perasaan yang luar biasa bimbang. Informasi dari mertuanya di Malang masih berdenging di telinganya. Ada rasa kasihan yang mulai tumbuh, namun fakta bahwa Arini mungkin sedang mengulangi kesalahannya membuat hatinya kembali mengeras.

 

Adnan membawa sebuah tas belanja berisi oleh-oleh khas Malang dan sebuah perhiasan kecil yang ia beli secara impulsif di bandara. Mungkin sebagai bentuk usaha terakhir untuk mempertahankan sisa hatinya yang samar-samar mulai memudar, bahkan bisa jadi hampir musnah. Ia melangkah masuk ke rumah yang tampak sunyi.

 

"Bi Sum?" panggil Adnan saat memasuki ruang tengah.

 

Bi Sum muncul dengan wajah yang tampak sangat cemas, tangannya gemetar saat melihat Adnan sudah berdiri di sana. "Bapak... Bapak sudah pulang?"

 

"Di mana Arini?" tanya Adnan singkat, matanya menyapu ruangan.

 

"Anu, Pak... Ibu keluar sejak pagi tadi. Katanya ada urusan, tapi sampai sekarang belum kembali. Saya sudah coba telepon, tapi tidak diangkat," jawab Bi Sum gugup, sedikit berbohong demi melindungi rasa sakit hati Tuannya tersebut.

 

Bi Sum sudah mengurus Adnan sejak bayi dan dia sudah seperti Ibu. Dia tak ingin Adnan semakin terpuruk karena malam ini.

 

Adnan terdiam, matanya tertuju pada bingkisan di meja makan yang masih utuh. Hadiah dari orang tuanya, ia melihat jam di dinding pukul sembilan malam.

 

"Dia tidak bilang ke mana?" suara Adnan merendah, dingin yang menusuk tulang.

 

"Tidak, Pak. Ibu langsung pergi tadi."

 

Adnan meletakkan oleh-oleh di atas meja, tepat di samping hadiah mertuanya. Ia duduk di kursi meja makan. Sendirian di tengah kegelapan rumah yang luas. Tangannya kembali mengepal. Harapan kecil yang sempat muncul di Malang tadi seketika hangus terbakar kenyataan bahwa istrinya, sekali lagi, tidak ada di rumah saat ia kembali.

 

Ia menatap ponselnya. Masih belum ada kabar dari Bima dan Jo, tapi nalurinya mengatakan bahwa merpati yang ia biarkan bebas itu kini telah benar-benar tersesat di sarang pria lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1
Apem Crispy
Asik nih. Konfliknya pelik tapi realistis. Gak kartunal ataupun templated. 👍
Bagus Effendik: hehe ia kak terima kasih ya
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
lanjut dong seru nih
Bagus Effendik: siap pasti up tiap hari
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
semangat ya thor aku mendukungmu🤭
Bagus Effendik: terima kasih ya sudah berkunjung
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
lanjut thor up yang banyak
Bagus Effendik: pasti kak pasti up banyak🤭
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
aduh, aduh mana tidur sendiri lagi aku baca ini🤣 mantap thor
Bagus Effendik: hayo jangan kebawa baper ya
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
waduh berani sekali Arini
Bagus Effendik: ia bilangin dong itu nggak boleh🤭
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
loh jadi boleh ya rekues nama kita masuk novel ini hehe mau dong
Bagus Effendik: boleh kak asal gif hehe
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
kan kan di jebak Adnan kan hehe
Bagus Effendik: memang Arini tuh🤭
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
Arini ya hem jadi pingin cubit aku wkwkwk keren keren
Bagus Effendik: cubit aja dia kak😄
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
lanjut thor suka aku
Bagus Effendik: terima kasih atas sukanya👍
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
Arini mulai main-main ini
Bagus Effendik: lah ia ya kak
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
hem mulai kelihatan nih ya ketemu mantan 🤭
Bagus Effendik: hehe mantan apa ketan
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
Oh jadi tokoh utama cowoknya, Adnan ya semangat thor bagus
Bagus Effendik: benar kak
total 1 replies
Rohad™
Triple up thor 👍
Bagus Effendik: diusahakan sabar ya hehe🙏👍
total 4 replies
Rohad™
Tidak sabar untuk menunggu kehancuran Arini dan dukungannya 🤣👍
Bagus Effendik: hehe sabar ya
total 1 replies
Rohad™
Ngeri lah Adnan ini 👏
Bagus Effendik: harus ngeri dong hehe😄👍
total 1 replies
Agus Tina
Jangan bilang kalau Laras nanti jadi pengganti Arini, cerita spt itu sudah terlaku banyak thor. Orang kaya, berkuasa, matang jatuh cinta dgn gadia biasa dari kalangan biasa, polos, muda. Apa memang karakter lelaki seperti itu, harus merasa lebih berkuasa dan dominan. Jarang sekali saya menemukan cerita dgn tokoh laki2 yg kuat berkuasa bertemu dengan perempuan cerdas, sama2 punya kuasa walaupun tidak sebesar sg lelaki. Selalu kebalikannya ... agak bosan juga ....
Sori thor itu pendapat saya ... tapi tetap samangag bikin ceritanya ...
Bagus Effendik: oh ya terima kasih loh sudah membaca saya menghargai itu👍👍👍
total 2 replies
Larasz Ati
nah kan mulai retak Arini sih🤣 thor seru nih
Bagus Effendik: ia nih Arini dasar emang😄
total 1 replies
Larasz Ati
nah loh CLBK ets suami gimana tuh Adnan nih Arini selingkuh😄🤣 cakep dah Author nih nulis
Bagus Effendik: ia bilangin tuh Arini sudah punya suami juga🤣🤭👍
total 1 replies
Larasz Ati
nah loh nah loh ketemu mantan
Bagus Effendik: waduh ia hehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!