Arga Pratama, seorang mekanik tangguh yang hidupnya sederhana namun penuh prinsip, tak sengaja bertemu dengan Clara, wanita cantik pewaris perusahaan besar yang sedang lari dari perjodohan. Karena suatu keadaan terpaksa, mereka harus terikat perjanjian kontrak palsu. Siapa sangka, dari bau oli dan mesin, tumbuhlah benih cinta yang tak pernah disangka-sangka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olshop sukses Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemenangan yang Manis
Keributan mereda perlahan namun pasti. Suasana yang tadinya tegang dan mencekam kini berubah menjadi kekaguman dan kehebohan.
Di hadapan semua orang, Tuan Wijaya dan Hendra terlihat sangat menyedihkan. Wajah mereka pucat pasi, tubuh gemetar hebat karena ketakutan dan rasa malu yang luar biasa. Rencana jahat mereka yang disusun dengan begitu rumit, hancur lebur hanya dalam hitungan menit berkat bukti rekaman yang jelas dan nyata.
"Jangan lepaskan mereka! Bawa ke kantor polisi sekarang juga!" perintah Komandan Polisi dengan tegas.
"TIDAK! BUKAN KAMI! ITU REKAYASA! OM LEONARD YANG MEMBAYAR MEREKA!" teriak Tuan Wijaya histeris saat kedua tangannya diborgol. Ia mencoba meronta namun tidak berdaya.
"Sudahlah, Wijaya. Kau kalah. Jangan buat dirimu makin terlihat konyol," ucap Tuan Leonard dingin. "Kau terlalu serakah dan terlalu meremehkan orang lain. Itulah kesalahan terbesarmu."
Hendra hanya bisa menunduk, air mata ketakutan mengalir di pipinya. Ia membayangkan betapa beratnya hukuman yang akan ia terima, mulai dari penjara hingga hancurnya nama baik keluarganya.
Mereka pun akhirnya diseret pergi meninggalkan tempat itu diiringi tatapan jijik dan mengejek dari para tamu undangan.
Kini tinggalah Arga, Clara, dan Tuan Leonard di tengah ruangan yang hening sejenak.
Clara memegang erat lengan suaminya. Ia menatap ayahnya yang pergi dengan perasaan campur aduk. Sedih memang, tapi ia tahu itu konsekuensi dari perbuatan jahat ayahnya.
"Terima kasih, Om..." bisik Clara parau. "Terima kasih sudah menyelamatkan kami dan membenarkan segalanya."
Tuan Leonard tersenyum lembut, lalu menepuk bahu Arga.
"Kalian tidak perlu berterima kasih padaku. Kalian yang menyelamatkan diri kalian sendiri dengan kejujuran dan kerja keras kalian. Aku hanya membantu membuka mata orang-orang buta."
Direktur utama Gajah Mada Group yang tadinya ragu kini mendekat dengan wajah berseri-seri.
"Maafkan ketidakpercayaan saya sebelumnya, Tuan Arga. Sungguh luar biasa! Saya semakin yakin ingin bekerja sama dengan orang yang berintegritas tinggi seperti Anda. Kontrak ini tetap berlaku, bahkan saya akan usahakan nilai kerjasamanya bisa ditingkatkan!"
"Terima kasih banyak, Pak. Saya sangat menghargainya," jawab Arga sopan dan rendah hati.
Acara penandatanganan pun akhirnya berlangsung dengan sukses besar dan meriah. Semua orang bersorak dan bertepuk tangan untuk Arga dan Clara. Mereka adalah pasangan suami istri yang nyata, yang berhasil membuktikan bahwa cinta dan kejujuran bisa mengalahkan kekayaan dan kekuasaan.
Malam harinya, di rumah baru mereka yang nyaman dan sederhana namun penuh kehangatan.
Arga dan Clara duduk berdua di teras, menikmati angin malam yang sepoi-sepoi.
"Mas..." panggil Clara pelan sambil menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
"Hmm?"
"Kita berhasil ya... Kita berhasil melewati semuanya. Dari nol, dari bawah jembatan, sampai sekarang bisa berdiri tegak dan disegani orang," kata Clara dengan nada haru.
Arga tersenyum, lalu mengecup puncak kepala istrinya penuh kasih sayang.
"Iya Sayang. Kita berhasil. Tapi ingat ya, semua ini bukan karena aku hebat sendirian. Tapi karena kita hadapi semuanya bersama-sama. Kamu adalah kekuatanku, Clara."
"Aku sayang banget sama kamu, Mas Arga Pratama," bisik Clara.
"Aku juga sayang banget sama kamu, Nyonya Clara Pratama. Istriku, temanku, dan segalanya bagiku."
Mereka berpelukan lama di bawah sinar bulan. Semua rintangan, air mata, dan rasa sakit kemarin kini telah berubah menjadi cerita indah yang menguatkan ikatan di antara mereka.
Namun, di tengah kebahagiaan itu, Arga merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ia ingat sesuatu tentang masa lalunya, tentang ayahnya yang meninggal dunia dengan misterius.
"Clara..."
"Iya Mas?"
"Ada sesuatu yang ingin aku cari tahu. Tentang ayahku. Aku merasa kejadian hari ini mengingatkanku pada sesuatu... Sepertinya perjalanan kita belum benar-benar selesai. Masih ada satu rahasia besar yang belum terungkap."
Clara mendongak, menatap mata suaminya yang tampak serius.
"Rahasia apa maksud Mas?"