NovelToon NovelToon
Lentera Di Balik Luka

Lentera Di Balik Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Bagi Jati, kesetiaan adalah harga mati. Namun, sebuah kecelakaan tragis merenggut kejantanannya, membuat pernikahan yang ia bangun bersama Mila berubah menjadi neraka dingin tanpa suara tangis bayi. Di tengah kehampaan itu, Mila memilih jalan pintas yang menyakitkan: berselingkuh dengan Andre demi mendapatkan keturunan yang tak bisa diberikan Jati.
Puncak kehancuran Jati terjadi saat Mila dengan terang-terangan memamerkan pengkhianatannya di depan mata, bahkan menghina kekurangan fisik Jati demi uang belanja. Di titik terendah hidupnya, saat ia merasa bukan lagi seorang lelaki, Jati bertemu dengan Lintang.
Lintang hanyalah seorang janda yang bekerja sebagai tukang pijat keliling untuk menyambung hidup. Pertemuan yang diawali dengan ketidaksengajaan di taman itu perlahan membuka mata Jati. Di balik sentuhan tangan Lintang yang sederhana, Jati menemukan penawar luka yang tak terduga—sebuah harapan bahwa harga diri seorang pria tidak hanya ditentukan oleh fisik, melainkan oleh ketulusan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Dinding penjara yang lembap seolah runtuh menimpa pundak Mila saat kata "hamil" keluar dari mulut pengacaranya.

Dunianya seketika gelap. Rasa iri yang selama ini membakar hatinya kini berubah menjadi kehampaan yang mematikan.

Mila jatuh tersungkur, pingsan di lantai sel yang dingin sebelum petugas medis penjara datang menyeretnya ke ruang poliklinik.

Beberapa jam kemudian, saat Mila terbangun dengan mata sembab dan tubuh yang gemetar, sesosok pria berdiri di sudut ruangan yang remang-remang. Itu bukan Jati. Itu adalah Andre, pria yang selama ini menjadi "bayang-bayang" di masa lalu Mila, yang selalu memperingatkannya untuk berhenti.

Andre melangkah mendekat, menatap Mila dengan perpaduan antara rasa kasihan dan kekecewaan yang mendalam.

"Sudah bangun?" suara Andre terdengar dingin, bergema di ruangan yang sunyi itu.

Mila mencoba duduk, namun kepalanya terasa berputar.

"Andre, kenapa kamu di sini? Apa kamu mau menertawakanku juga? Karena Lintang, dia punya segalanya sekarang! Dia punya Jati, dia punya harta, dan sekarang dia punya anak Jati!" teriak Mila histeris.

Andre menghela napas panjang, lalu mencengkeram bahu Mila agar wanita itu berhenti meronta.

"Bukankah aku sudah bilang kalau kamu jangan menculik Lintang? Tapi apa? Kamu tidak mendengarkan aku, Mila!" bentak Andre, membuat Mila seketika bungkam.

"Aku sudah memperingatkanmu berkali-kali bahwa Jati yang sekarang bukan lagi Jati yang dulu lemah. Dia akan menghancurkan siapa pun yang menyentuh istrinya. Dan lihat sekarang? Kamu membusuk di sini sementara mereka merayakan kebahagiaan."

Mila menangis tersedu-sedu, menyadari kebenaran pahit dalam ucapan Andre.

"Lalu aku harus bagaimana, Andre? Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Keluargaku sudah lepas tangan, hartaku disita..."

Andre terdiam sejenak, menatap Mila dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia mengeluarkan sebuah dokumen dari tasnya.

"Aku bisa mengeluarkanmu dari sini. Aku punya koneksi dan pengacara yang lebih hebat untuk meringankan hukumanmu menjadi tahanan luar atau rehabilitasi mental," ucap Andre dengan nada rendah.

"Aku akan menolongmu, Mila. Asalkan kamu mau menikah denganku."

Mila terbelalak. "Menikah... denganmu?"

"Iya. Kamu harus menghilang dari kehidupan Jati dan Lintang selamanya. Kamu harus ikut denganku ke luar negeri dan memulai hidup baru sebagai istriku. Itu satu-satunya jalan agar Jati tidak memburumu sampai mati," tegas Andre.

"Pilihannya hanya dua: membusuk di penjara ini seumur hidupmu, atau ikut denganku dan lupakan obsesi gilamu pada Jati."

Mila menatap tangan Andre yang terulur. Di satu sisi, ada harga dirinya yang hancur, dan di sisi lain, ada kebebasan yang ditawarkan pria yang selalu mencintainya dengan cara yang salah.

Mila menunduk lesu, jemarinya yang gemetar perlahan menyambut uluran tangan Andre.

Rasa takutnya pada kekuasaan Jati yang sekarang jauh lebih besar daripada harga dirinya.

Di dalam benaknya, ia membayangkan sosok Jati yang dingin saat mencekiknya di gudang—sosok yang tak lagi memiliki setetes pun simpati untuknya.

"Aku,mau, Andre. Bawa aku keluar dari neraka ini," bisik Mila parau.

Andre tersenyum tipis, sebuah senyum kemenangan yang pahit.

Ia segera melangkah keluar dari ruang kunjungan dan merogoh ponselnya. Nama yang dicarinya hanya satu: Jati Pratama.

Panggilan itu diangkat pada nada ketiga. Suara Jati terdengar berat dan sangat datar di seberang sana.

"Mau apa kamu, Andre?"

"Kita perlu bicara, Jati. Sebagai pria, dan sebagai teman lama. Ini soal Mila," ucap Andre tenang.

Ada jeda panjang di sambungan telepon itu. Jati mengembuskan napas yang terdengar seperti desis kemarahan yang tertahan.

"Kafe biasa. Jam tujuh malam. Jangan telat."

Pertemuan di Kafe

Malam itu, kafe yang biasanya ramai tampak lebih sepi.

Jati sudah duduk di sudut ruangan, mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku.

Tatapannya lurus ke depan, tajam dan tak terbaca.

Saat Andre melangkah masuk dan duduk di hadapannya, Jati bahkan tidak menawarkan jabat tangan.

"Langsung saja. Aku tidak punya banyak waktu untuk orang sepertimu," cetus Jati dingin.

Andre berdehem, mencoba menetralisir ketegangan.

"Aku ingin mengajukan kesepakatan. Aku akan membawa Mila pergi. Jauh dari Indonesia. Dia akan menikah denganku dan aku jamin dia tidak akan pernah muncul lagi di depanmu atau Lintang. Cabut laporanmu, Jati. Biarkan dia menjalani hidup baru bersamaku."

Jati menyandarkan punggungnya ke kursi, sebuah senyum sinis tersungging di bibirnya.

"Menikah denganmu? Lucu sekali."

Jati memajukan tubuhnya, menatap Andre tepat di manik matanya.

"Sahabat macam apa yang tidur dengan istri sahabatnya sendiri?"

Andre terdiam, wajahnya mendadak pias. Rahasianya yang selama ini ia simpan rapat-rapat ternyata sudah berada di kantong Jati.

"Aku tahu semuanya, Andre. Perselingkuhan kalian, pengkhianatan kalian yang terang-terangan," lanjut Jati dengan suara rendah yang mengancam.

"Alasan aku membiarkanmu mendekatinya sekarang hanya satu: karena aku ingin sampah berkumpul dengan sampah. Kamu ingin menyelamatkannya? Silakan. Tapi ada harganya."

Jati melemparkan sebuah dokumen ke atas meja.

"Tanda tangani ini. Aku ingin semua aset yang pernah Mila curi dariku dikembalikan tanpa sisa. Dan satu lagi, jika seujung kuku saja kalian berani mendekati radius satu kilometer dari Lintang dan calon anakku, aku tidak akan mengirim kalian ke penjara, tapi ke liang lahat."

Andre menatap dokumen itu dengan tangan gemetar.

Ia sadar, Jati tidak sedang bernegosiasi, Jati sedang memberikan pengampunan terakhir yang sangat mahal.

Andre menarik napas panjang, tangannya gemetar saat membubuhkan tanda tangan di atas dokumen yang disodorkan Jati.

Ia menatap Jati dengan tatapan penuh penyesalan yang mendalam.

"Aku tahu kata maaf tidak akan mengubah apa pun, Jat. Aku memang bukan sahabat yang baik. Aku pengecut karena mengkhianatimu saat kamu sedang di titik terendah," ucap Andre lirih.

"Aku akan membawa Mila pergi jauh. Dia tidak akan pernah mengganggumu atau Lintang lagi. Aku janji."

Jati tidak menjawab. Ia hanya mengambil kembali dokumen itu, melipatnya dengan rapi, dan memberikan isyarat dengan dagunya agar Andre segera angkat kaki.

Tanpa sepatah kata pun lagi, Andre berdiri dan melangkah keluar dari kafe, meninggalkan sisa-sisa persahabatan mereka yang kini telah hancur total.

Jati menyandarkan punggungnya sejenak, mengembuskan napas berat.

Beban itu perlahan terangkat. Ia segera bangkit, melangkah menuju mobilnya. Namun, di tengah jalan, ia teringat sesuatu.

Ia menghentikan mobilnya di depan penjual martabak telur langganan yang aromanya sangat menggoda—gurih telur dan daun bawang yang digoreng garing.

"Lintang pasti suka ini," gumam Jati tersenyum tipis.

Sesampainya di apartemen, Jati membuka pintu apartemen dengan perasaan riang.

Tangannya menjinjing kotak martabak yang masih hangat dan menebarkan aroma sangat wangi ke seluruh ruangan.

"Sayang, Mas pulang! Lihat, Mas bawa apa..."

Baru saja Jati melangkah masuk ke ruang tengah, Lintang yang sedang duduk di sofa tiba-tiba bangkit dan langsung menutup hidungnya rapat-rapat dengan punggung tangan. Wajahnya mendadak pucat.

"Mas Jati! Jangan dekat-dekat!" seru Lintang dengan suara sengau karena menahan hidung.

Jati terhenti di tempat, bingung. "Lho, kenapa? Mas kangen, mau peluk..."

"Enggak boleh! Baunya, aduh, baunya wangi banget! Enak sih, tapi aku mual!"

Lintang meringis, perutnya terasa diaduk-aduk hanya karena mencium aroma martabak dan parfum yang menempel di baju Jati.

Dengan gerakan cepat, Lintang menyambar kotak martabak dari tangan Jati, tapi anehnya, setelah mengambil makanan itu, ia justru mendorong dada Jati dengan kuat ke arah pintu keluar kamar.

"Mas keluar dulu! Sana, mandi dulu! Ganti baju!" pinta Lintang sambil terus mendorong tubuh suaminya yang jauh lebih besar darinya.

Jati hanya bisa tertawa pasrah sambil membiarkan dirinya didorong keluar dari area ruang tengah.

"Eh, eh? Mas diusir nih? Padahal Mas yang beli martabaknya, Lintang."

"Bukannya diusir, Mas! Tapi baunya bikin aku pusing!"

Lintang mengunci pintu kamar dari dalam, meninggalkan Jati yang berdiri mematung di koridor dalam apartemennya sendiri.

Jati menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum lebar.

Ia mengusap wajahnya, menyadari bahwa kehidupan barunya sebagai calon ayah ternyata penuh kejutan.

Dari seorang pria yang ditakuti di dunia bisnis, kini ia harus takluk pada "perintah" istrinya yang sedang mengidam.

"Iya, iya, Mas mandi sekarang. Jangan dihabisin ya martabaknya, sisa kan buat Mas satu potong!" teriak Jati dari balik pintu sebelum melangkah menuju kamar mandi tamu dengan hati yang sangat bahagia.

1
tiara
sabar papa Jati demi si buah hati 🤭🤭🤭
tiara
selamat pa Jati dan Lintang atas kehamilan Lintang sehat selalu bumil
my name is pho: 🥰🥰 terima kasih kak
total 1 replies
tiara
nikmatilah hasilnya Mila, menyesal pun sudah tiada arti semua orang meninggalkanmu termasuk pacarmu
tiara
ceriitanya menarik tidak terlalu menguras emosi
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
tiara
rasain kamu Mila gatau diri sih, masih syukur dikasih uang masih aja kurang
Dessy Lisberita
bukan emas tpi logam mas kawinya
tiara
lanjuut thor
Dessy Lisberita
kenapa masih nungu unk membuang baju kotor
Dessy Lisberita
semoga normal kembali kejantanan jati
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Sweat/ "dramanya pasti akan semakin intens"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Hey/ "cowok sejati emang harus berani untuk bertanggungjawab"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Scare/ "tanda-tandanya nih..."
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Cry/ "sebagai cowok kami faham seberapa sakit kamu sebenarnya Wak huhuhu"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Puke/ "udahlah hubungan kayak gini mendingan gak usah dipertahanin"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Shame/ "aku dibuat tak bisa berkata-kata"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Panic/ "buta matanya sampai gak sadar"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Angry/ "ini kembarannya Jule kah?"
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
tiara
bagus tinggalkan saja baju kotormu karena sudah tidak bisa dipakai lagi
tiara
mampir thor mulau membaca ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!