NovelToon NovelToon
Pangeran Kedua Jadi Kultivator Yang Tak Tertandingi

Pangeran Kedua Jadi Kultivator Yang Tak Tertandingi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Pangeran
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Neon Pena

Apa yang menyebabkan seseorang Putra Kedua sang Raja menjadi sang Kultivator yang paling hebat?
____
So Guys! ini kisahlah kisah Qinar sang Kultivator kita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neon Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16

Udara di lereng Gunung Sandaran pagi ini terasa berbeda. Bukan karena suhunya, tapi karena caraku merasakannya. Sejak keberhasilanku menahan godaan lapar tempo hari, ada sesuatu yang "terbuka" di dalam kepalaku. Pandanganku tidak lagi terbatas pada apa yang tertangkap mata, dan pendengaranku tidak lagi hanya sekadar menangkap bunyi.

Aku duduk bersila di atas dahan pohon jati purba yang tingginya puluhan meter dari permukaan tanah. Mataku tertutup rapat, kain penutup mata hitam melilit kepalaku—instruksi gila lainnya dari Ki Kusumo.

"Jangan gunakan telingamu untuk mendengar suara, Qinar. Gunakan pori-pori kulitmu untuk merasakan getaran. Gunakan sumsum emasmu untuk menangkap frekuensi kehidupan," suara Ki Kusumo terdengar sayup-sayup dari bawah pohon.

"Sulit, Ki! Berisik sekali!" teriakku.

"Berisik? Hahaha! Itu karena kau masih mencoba memilah suara. Jangan dipilah, biarkan mereka masuk semua, lalu cari pola yang berbeda!"

Aku mencoba tenang. Aku tarik napas dalam-dalam—huuuuu...—dan membiarkan Qi Level 3-ku merayap keluar dari tubuh, menyebar tipis seperti jaring laba-laba yang tak kasat mata ke segala arah.

Awalnya, memang berisik. Suara gesekan daun, kepakan sayap serangga, hingga jatuhnya tetesan embun terdengar seperti ledakan di telingaku. Namun perlahan, aku mulai menenangkan riak di pikiranku. Aku membayangkan diriku adalah bagian dari pohon ini, bagian dari tanah ini.

Deg.

Tiba-tiba, ada getaran halus yang menghantam "jaring" Qi-ku.

Deg... deg... deg...

Ritmenya lambat, namun sangat bertenaga. Lokasinya jauh di bawah lembah, di antara semak belukar berduri.

"Ki... aku mendengarnya," bisikku tanpa membuka mata.

"Apa yang kau dengar, Bocah?"

"Satu mil dari sini... di arah tenggara. Ada jantung yang berdetak. Lambat, tapi setiap detakannya menggetarkan udara. Itu... seekor harimau? Bukan, jantungnya terlalu besar untuk harimau."

"Lanjutkan. Apa lagi?" suara Ki Kusumo terdengar mulai tertarik.

Aku memusatkan fokusku lebih jauh lagi. Jaring Qi-ku melebar, menembus kabut, melewati pepohonan, hingga mencapai batas satu mil.

Deg-deg, deg-deg, deg-deg...

"Ada lagi. Di sebelah barat, di atas pohon pinus yang sudah mati. Detaknya cepat sekali, seperti genderang perang. Itu burung elang yang sedang mengintai mangsa. Dan di bawah tanah... ribuan detak kecil yang sinkron. Koloni semut hutan?"

Aku tersenyum. Rasanya luar biasa. Aku merasa seperti memiliki ribuan mata dan telinga yang tersebar di seluruh hutan. Aku bisa merasakan seekor kelinci yang sedang ketakutan di balik batu, hingga ular yang sedang merayap pelan tanpa suara di atas dedaunan kering. Tidak ada yang bisa bersembunyi dariku sekarang.

"Bagus. Sekarang, cari detak jantung yang paling tenang di hutan ini," perintah Ki Kusumo.

Aku meluaskan jangkauanku lagi. Aku mencari detak yang stabil, yang tidak terpengaruh oleh rasa takut atau lapar. Aku melewati ratusan hewan, hingga akhirnya aku menemukannya.

Deg... (setiap sepuluh detik sekali).

"Di bawah pohon beringin tua... dekat sumber air. Detaknya sangat jarang, tapi begitu dalam. Apakah itu kura-kura purba?"

"Bukan itu, Qinar," suara Ki Kusumo tiba-tiba terdengar tepat di belakang telingaku, membuatku hampir melompat dari dahan pohon. "Cari yang lebih dekat. Cari detak jantung yang sedang mengincarmu."

Instingku berteriak. Aku tidak membuka penutup mataku, tapi aku bisa merasakan aliran udara yang bergeser di sebelah kananku.

Sret!

Aku memiringkan tubuhku ke kiri. Sebuah belati kayu melesat lewat tepat di depan hidungku.

Wus! Wus! Wus!

Tiga serangan lagi menyusul. Aku bergerak seperti daun yang tertiup angin, meliuk-liuk di atas dahan pohon yang sempit tanpa jatuh. Aku bisa "melihat" gerakan Ki Kusumo bukan dari mataku, tapi dari denyut jantungnya yang mendadak meningkat tipis saat dia akan menyerang.

"Kau curang, Ki! Menyerang anak kecil yang matanya ditutup!" teriakku sambil menangkis pukulannya dengan pergelangan tangan—plak!

"Hahaha! Musuhmu nanti tidak akan menunggumu membuka penutup mata, Qinar!" Ki Kusumo mendarat di dahan yang sama denganku. "Level 3: Sumsum Emas milikmu sudah sempurna. Kau bukan lagi sekadar kuat secara fisik, tapi indramu sudah menyatu dengan alam. Ini disebut Indra Langit."

Aku melepas kain penutup mataku. Cahaya matahari terasa sedikit menyilaukan untuk sejenak. Aku menatap telapak tanganku yang masih bergetar halus karena sisa energi sensorik tadi.

"Jadi, dengan ini aku bisa mendeteksi musuh sebelum mereka menyerang?"

"Ya. Tapi ingat, kultivator tingkat tinggi bisa menyembunyikan detak jantung dan keberadaan mereka. Jangan pernah hanya mengandalkan satu indra," Ki Kusumo duduk di dahan pohon, menjuntaikan kakinya yang keriput ke bawah. "Besok, kita akan turun ke kaki gunung. Ke Pasar Setan."

Aku menelan ludah. "Pasar Setan? Tempat apa itu, Ki?"

"Tempat para sampah dunia berkumpul. Pencuri, pembunuh bayaran, hingga kultivator yang dibuang oleh sekte mereka. Di sana, kau akan belajar bahwa detak jantung manusia adalah suara yang paling penuh dengan kebohongan," Ki Kusumo menatapku dengan tatapan serius. "Di sana, kau dilarang menggunakan kekuatanmu kecuali jika nyawamu terancam. Paham?"

"Kenapa? Bukankah aku harus melatih kekuatanku?"

"Kekuatan tanpa kerahasiaan adalah resep menuju liang lahat, Qinar," Ki Kusumo berdiri kembali. "Tanda merah di tanganmu itu... jika ada yang melihatnya di Pasar Setan, seluruh pembunuh bayaran di lima kerajaan akan memburumu sebelum matahari terbenam."

Aku menatap tanda merah di pergelangan tanganku. Dia tampak tenang, tapi aku tahu ada rahasia besar di baliknya.

"Siapkan pakaian compang-campingmu, Bocah. Besok kau bukan lagi Qinar si jenius kultivator, tapi kau adalah Qinar si peminta-minta yang bisu," Ki Kusumo melompat turun dari pohon, menghilang di balik kerimbunan semak.

Aku berdiri sendirian di puncak pohon, menatap ke arah lembah yang mulai gelap. Suara-suara alam masih terdengar jelas di kepalaku. Aku mendengar detak jantung Ki Kusumo yang menjauh, tenang dan misterius.

Delapan tahun usiaku. Dan esok, untuk pertama kalinya, aku akan menginjakkan kaki di dunia manusia. Dunia yang menurut guruku, jauh lebih berbahaya daripada ribuan ular kobra di lembah.

"Pasar Setan... mari kita lihat seberapa 'setan' mereka sebenarnya," bisikku pada angin.

1
Sport One
salah fokus🤣 sama kalimat ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!