Adrian Alfarezel adalah CEO yang menderita germaphobia ringan dan sangat gila keteraturan. Hidupnya yang membosankan berubah total saat ia bertemu Zevanya (Zeva), seorang gadis pengantar paket yang hobi motoran, bicaranya ceplas-ceplos, dan tidak takut pada siapa pun—termasuk Adrian.
Pertemuan mereka dimulai dari insiden "helm melayang" yang mengenai mobil mewah Adrian, berlanjut ke skema "pacar kontrak" untuk menghindari perjodohan kolot kakek Adrian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kilau Berlian dan Belati yang Tersembunyi
Hari yang dinanti—atau mungkin ditakuti—akhirnya tiba. Ballroom Hotel Alfarezel Grand telah disulap menjadi sebuah taman musim dingin yang surealis. Ribuan kuntum mawar putih diimpor langsung dari Belanda, menghiasi setiap sudut ruangan, sementara lampu gantung kristal membiaskan cahaya yang membuat suasana tampak seperti di negeri dongeng. Namun bagi Zeva, aroma bunga-bunga itu terasa seperti wewangian di pemakaman; sebuah upacara penguburan bagi identitas lamanya sebagai gadis jalanan.
Di dalam presidential suite lantai teratas, Zeva berdiri mematung. Lima orang penata rias dan penata busana telah bekerja padanya selama empat jam. Hasilnya? Seorang wanita yang tidak ia kenal sedang menatap balik dari cermin.
Zeva mengenakan gaun haute couture berwarna putih gading dengan aksen perak yang menjuntai seperti butiran hujan. Rambutnya yang biasa diikat asal-asalan kini disanggul modern dengan beberapa helai dibiarkan jatuh membingkai wajahnya yang dipoles riasan flawless.
"Selesai, Nona," ujar sang penata rias utama. "Anda tampak seperti bangsawan sejati."
Zeva menyentuh lehernya yang terasa dingin. Di sana melingkar kalung berlian peninggalan nenek Adrian, kunci yang semalam ia dapatkan dari laci rahasia. Ia merasa seperti memakai beban sejarah di pundaknya.
Pintu terbuka, dan Adrian melangkah masuk. Ia mengenakan tuksedo hitam yang dijahit sempurna, rambutnya disisir ke belakang, mempertegas rahangnya yang tajam. Saat matanya bertemu dengan mata Zeva, Adrian berhenti melangkah. Keheningan yang tercipta di antara mereka jauh lebih keras daripada suara bising di luar.
"Zevanya..." bisik Adrian. Suaranya terdengar seperti tarikan napas yang tertahan.
"Jangan diketawain," sahut Zeva cepat, meski suaranya sedikit bergetar. "Gue tahu gue kelihatan kayak manekin toko baju yang dipaksa pake berlian."
Adrian berjalan mendekat, mengabaikan para pelayan yang segera undur diri untuk memberi mereka privasi. Ia berdiri tepat di depan Zeva, menatapnya dengan intensitas yang membuat lutut Zeva terasa lemas.
"Kau salah," ujar Adrian lembut. Ia mengangkat tangannya, jemarinya membelai pelan anting berlian di telinga Zeva. "Kau tidak terlihat seperti manekin. Kau terlihat... seperti alasan mengapa aku harus memenangkan peperangan ini. Kau sangat cantik, Zeva. Terlalu cantik sampai aku merasa egois karena ingin menyembunyikanmu dari semua orang di bawah sana."
Zeva menelan ludah. "Gombalan lu naik level ya, Bos. Pasti gara-gara kebanyakan makan mi instan semalem."
Adrian tersenyum tipis, lalu ia mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam. "Kakek menyuruhku memberikan ini padamu. Ini cincin aslinya. Bukan replika."
Cincin itu memiliki berlian besar di tengahnya, dikelilingi oleh safir biru kecil yang melambangkan warna keluarga Alfarezel. Saat Adrian memasangkannya di jari manis Zeva, sebuah perasaan aneh menjalar di hati Zeva. Ini bukan sekadar kontrak lagi. Berat logam di jarinya terasa seperti sebuah janji yang nyata.
"Ingat," bisik Adrian di telinganya. "Tetap di sampingku. Jangan lepaskan tanganku, apa pun yang terjadi."
Mereka menuruni tangga besar menuju ballroom. Saat pintu ganda dibuka, ribuan pasang mata serentak tertuju pada mereka. Lampu kilat kamera wartawan meledak-ledak seperti kembang api. Musik orkestra yang tadinya mengalun lembut berubah menjadi Mars Alfarezel yang megah.
Adrian menggandeng tangan Zeva dengan posesif. Mereka berjalan melewati barisan tamu yang terdiri dari menteri, konglomerat, hingga selebritas papan atas. Zeva mencoba mempertahankan senyumnya, meski kakinya yang memakai sepatu hak tinggi sepuluh sentimeter terasa mulai protes.
"Tersenyum saja, jangan bicara kecuali perlu," bisik Adrian sambil menyapa seorang diplomat.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Di tengah kerumunan, Clarissa muncul. Ia mengenakan gaun merah menyala yang sangat provokatif, memegang gelas sampanye dengan jari-jari yang gemetar karena amarah yang dipendam.
"Selamat, Adrian," ujar Clarissa dengan suara yang sengaja dikeraskan agar didengar oleh orang-orang di sekitar mereka. "Pertunjukan yang sangat mengesankan. Aku tidak tahu kau punya bakat terpendam sebagai sutradara sandiwara."
Adrian menatap Clarissa dengan dingin. "Terima kasih, Clarissa. Aku harap kau menikmati pestanya sebagai tamu, bukan sebagai kritikus."
Clarissa tertawa sinis, matanya beralih ke arah Zeva. "Oh, aku sangat menikmatinya. Terutama melihat bagaimana seorang gadis yang biasa berurusan dengan knalpot motor sekarang mencoba bersikap seolah dia tahu perbedaan antara Chardonnay dan air keran."
Zeva merasakan dorongan untuk membalas, namun ia teringat jurnal nenek Adrian. Tetap tenang saat mereka mencoba membakarmu.
"Perbedaannya simpel, Nona Clarissa," sahut Zeva dengan nada tenang yang elegan. "Air keran itu jujur, dia menyegarkan tanpa perlu berpura-pura. Sementara sampanye... kadang cuma berisi gelembung udara yang kosong, sama kayak omongan orang yang lagi iri."
Beberapa tamu di sekitar mereka menahan tawa. Wajah Clarissa memerah. Ia mendekat ke telinga Zeva, membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.
"Nikmati malammu, Zevanya. Karena sebelum malam ini berakhir, aku akan memastikan seluruh dunia tahu tentang rahasia kecilmu di gudang tua itu. Aku punya lebih dari sekadar foto."
Zeva tertegun, namun ia tidak membiarkan Clarissa melihat ketakutannya. Clarissa berlalu dengan senyum kemenangan.
Acara berlanjut ke sesi pidato. Kakek Wijaya berdiri di atas podium, memberikan sambutan yang menghangatkan suasana. Namun, tepat saat Adrian akan memberikan pidato balasannya, lampu ballroom mendadak padam.
Suasana menjadi riuh rendah. Bisik-bisik panik terdengar di kegelapan. Tiba-tiba, layar proyektor raksasa di belakang panggung menyala. Bukan menampilkan foto-foto romantis Adrian dan Zeva, melainkan sebuah video amatir.
Video itu menunjukkan Zeva di sebuah balapan liar malam hari. Ia mengenakan jaket kulit hitam, sedang berteriak pada seorang pria berwajah sangar. Namun, bagian yang mengejutkan adalah saat Zeva terlihat menerima segepok uang dari pria itu setelah balapan selesai.
"Liat! Dia memang wanita bayaran!" teriak sebuah suara di kegelapan, yang tak lain adalah suara Clarissa.
Lampu menyala kembali. Seluruh ruangan menatap Zeva dengan tatapan menghina. Para wartawan mulai merangsek maju, melemparkan pertanyaan yang menyudutkan.
"Nona Zevanya, apakah benar Anda adalah pembalap taruhan?"
"Pak Adrian, apakah Anda tahu latar belakang tunangan Anda yang terlibat perjudian?"
Zeva merasa dunianya runtuh. Uang dalam video itu adalah uang kemenangan yang ia gunakan untuk melunasi utang Mpok Leha, tapi di mata orang-orang kaya ini, itu terlihat seperti transaksi kriminal. Ia menoleh ke arah Adrian, matanya berkaca-kaca. Ia siap jika Adrian melepaskan tangannya sekarang.
Tapi Adrian tidak melepaskannya. Sebaliknya, ia menggenggam tangan Zeva lebih erat, bahkan menariknya ke pelukannya di depan semua orang.
Adrian melangkah ke podium, merebut mikrofon dengan paksa. Matanya menyapu ruangan dengan amarah yang dingin.
"Cukup!" teriak Adrian. Suaranya menggelegar, membungkam seluruh ballroom.
"Video yang kalian lihat adalah bukti keberanian wanita ini," ujar Adrian, suaranya kini tenang namun tajam. "Uang itu bukan hasil judi. Itu adalah hasil jerih payahnya menyelamatkan keluarganya dari lintah darat yang kejam. Jika kalian menganggap itu sebagai aib, maka kalian tidak layak berada di ruangan ini."
Adrian menoleh ke arah Clarissa yang berdiri di barisan depan. "Dan untuk orang yang menyabotase video ini... kau tidak hanya menghina Zevanya, kau menghina aku dan seluruh keluarga Alfarezel. Siska, panggil keamanan. Seret Clarissa keluar dari gedung ini sekarang juga. Dia tidak lagi diterima di lingkungan Alfarezel mana pun."
Kehebohan pecah. Clarissa berteriak-teriak saat petugas keamanan membawanya keluar, sementara para tamu mulai berbisik tentang betapa nekatnya Adrian membela "gadis barbar" itu.
Zeva masih berdiri mematung di atas panggung. Ia merasa seluruh energinya terkuras. Adrian menghampirinya, tidak peduli pada kamera yang masih menyorot.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Adrian lembut.
Zeva menatap Adrian. "Kenapa lu lakuin itu? Lu bisa aja lepasin gue dan selamatin reputasi lu."
"Reputasi tanpa integritas itu sampah, Zeva," jawab Adrian. "Dan integritasku adalah melindungimu. Karena tanpa kau, aku cuma robot yang punya banyak uang."
Tiba-tiba, Kakek Wijaya naik ke panggung. Semua orang menunggu reaksi sang patriark. Apakah dia akan marah?
Wijaya mengambil mikrofon. "Apa yang dikatakan cucuku benar. Kehormatan tidak datang dari masa lalu yang suci tanpa cela, tapi dari bagaimana kita bangkit dari lumpur. Zevanya adalah bagian dari keluarga ini sekarang. Barangsiapa yang mempertanyakan keberadaannya, berarti mempertanyakan keputusanku."
Tepuk tangan perlahan mulai terdengar, dimulai dari para pelayan di pinggir ruangan, lalu merambat ke beberapa tamu, hingga akhirnya seluruh ballroom bergemuruh.
Setelah badai itu reda, musik kembali mengalun. Kali ini musik waltz yang lembut. Adrian mengajak Zeva berdansa ke tengah lantai.
"Gue nggak bisa dansa, Adrian. Gue cuma bisa joget pargoy kalau denger dangdut," bisik Zeva panik.
"Ikuti saja langkahku. Letakkan tanganmu di bahuku," instruksi Adrian.
Zeva mengikuti gerakan Adrian. Di bawah lampu kristal yang indah, mereka bergerak berputar. Zeva merasa seolah-olah beban dunia yang ia pikul selama ini perlahan menghilang. Di pelukan Adrian, ia tidak merasa seperti gadis miskin atau tunangan palsu. Ia merasa seperti seorang wanita yang dicintai.
"Adrian," bisik Zeva di sela-sela dansa.
"Ya?"
"Makasih udah nggak lepasin tangan gue tadi."
Adrian menghentikan gerakannya sejenak, menatap mata Zeva dengan kejujuran yang meluap. "Aku tidak akan pernah melepaskannya, Zevanya. Kontrak itu... aku ingin kita merevisinya."
"Revisi gimana?"
"Aku ingin kontrak itu berlaku seumur hidup. Tanpa tanggal berakhir. Dan tanpa ganti rugi, karena kau sudah mengganti rugi segalanya dengan kehadiranmu."
Zeva tertegun. Jantungnya berdebar kencang. Di tengah kemewahan yang dulu ia benci, ia menemukan sesuatu yang paling berharga di dunia: sebuah hati yang mau menerima segala baris noda dalam hidupnya.
"Gue mahal lho harganya, Bos," canda Zeva dengan air mata yang mulai menetes karena bahagia.
"Aku sanggup membayarnya, sesulit apa pun itu," balas Adrian sebelum ia merunduk dan mengecup kening Zeva di depan seluruh saksi sejarah malam itu.
tapi kok bisa si kakek gak tau kalo zeva adlh anak dari sahabat nya
aksi zevanya sungguh di luar nurul dan di luar prdiksi bmkg🤣🤣🤣
semngat kak tokoh cwek nya kuat badas gak menye menye , aku suka kk author mantan