"Salah klik jurusan saat kuliah adalah bencana, tapi bangun dari koma dan bisa melihat hantu adalah petaka!"
Arini, dokter forensik yang aslinya clumsy dan penakut, harus menerima kenyataan pahit: ia terbangun dari koma dengan "bonus" mata batin terbuka. Kini, ruang otopsinya jadi ramai! Ia harus membedah mayat sambil mendengarkan curhat para arwah yang menuntut keadilan (dan permintaan konyol lainnya).
Untungnya, ada Mika—hantu gadis Tionghoa yang centil dan bar-bar—yang setia membantu Arini mengungkap fakta medis lewat "jalur gaib".
Masalahnya satu: Tunangan Arini, Baskara, adalah Jaksa kaku yang skeptis dan hanya percaya logika. Baskara memang bucin parah, tapi bagaimana jadinya jika sang Jaksa tahu bahwa bukti-bukti kemenangan kasusnya berasal dari bisikan makhluk halus?
Di tengah konspirasi maut yang mengancam nyawa, Arini harus memilih: Tetap waras di antara para hantu, atau terjebak dalam pelukan posesif sang Jaksa yang benci takhayul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Perjanjian Berdarah dan Tatapan Sang Jaksa
Bau kemenyan di dalam gubuk Mbah Suro begitu pekat hingga membuat paru-paru Arini terasa terbakar. Ruangan itu hanya diterangi oleh beberapa batang lilin merah yang lelehannya menyerupai darah. Di dinding, tergantung berbagai macam jimat dan botol-botol kecil berisi cairan keruh yang tampak bergerak-gerak sendiri.
Baskara tidak melepaskan rangkulannya pada bahu Arini. Ia merasakan detak jantung Arini yang masih memburu di balik rusuknya. Dengan wajah dingin tanpa ekspresi, Baskara menatap laki-laki tua yang duduk bersila di atas tikar pandan itu.
"Mbah Suro, saya rasa kita tidak perlu berbasa-basi," suara Baskara menggema, berat dan penuh otoritas. "Saya ke sini untuk membawa keadilan, baik yang tertulis di kitab undang-undang, maupun yang Anda sembunyikan di bawah tikar ini."
Mbah Suro terkekeh, suaranya seperti gesekan amplas pada kayu. Matanya yang buta sebelah menatap kosong ke arah Arini, membuat Arini kembali bergidik dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Baskara.
"Keadilan?" Mbah Suro meludah ke lantai. "Di tempat ini, hukummu tidak berlaku, Tuan Jaksa. Di sini, yang berlaku adalah siapa yang punya nyawa lebih banyak untuk dikorbankan."
Tiba-tiba, lilin-lilin di ruangan itu padam secara serempak.
"Rin! Awas!" teriak Mika yang tiba-tiba muncul di antara mereka, mencoba menepis bayangan hitam yang melesat dari arah sudut ruangan.
Arini menjerit saat merasakan hawa dingin yang luar biasa mencekik lehernya. Ia tidak bisa melihat apa-apa dalam kegelapan, tapi ia merasakan kuku-kuku tajam mulai menggores kulit lehernya.
"Baskara!" teriak Arini parau.
Dalam kegelapan total, Baskara bertindak cepat. Meskipun ia tidak bisa melihat makhluk itu, ia bisa merasakan udara yang bergolak di sekitar Arini. Ia menarik Arini ke dalam pelukannya secara total, memutar posisi tubuhnya sehingga punggung lebarnya menjadi perisai bagi Arini.
"Jangan takut, aku di sini!" Baskara berbisik tegas tepat di telinga Arini.
Baskara meraba saku jasnya dan menyalakan pemantik api perak miliknya. Cahaya kecil muncul, dan di saat yang sama, ia mengeluarkan sebuah lencana kejaksaan emas dan meletakkannya di atas lantai dengan suara denting logam yang keras.
"Mbah Suro, dengarkan saya," ucap Baskara dengan nada yang sangat rendah namun mengancam. "Saya tidak percaya pada setanmu. Tapi saya percaya pada kekuatan negara. Gubuk ini sudah dikepung oleh tim saya di radius satu kilometer. Jika dalam sepuluh menit saya tidak keluar membawa Arini dengan selamat, tempat ini akan diratakan dengan tanah atas nama penyelidikan konspirasi pembunuhan."
Mbah Suro terdiam. Tekanan gaib di ruangan itu perlahan memudar. Laki-laki tua itu tampak tidak menyangka bahwa Baskara akan menggunakan kekuasaan dunianya untuk menantang dunia gaib.
"Kamu... berani mengancamku di rumahku sendiri?" desis Mbah Suro.
"Saya tidak mengancam. Saya sedang menegakkan prosedur," jawab Baskara dingin. Ia menunduk, menatap Arini yang gemetar hebat. Baskara kembali mencium kening Arini, kali ini lebih lama, seolah memberikan sisa keberaniannya lewat sentuhan itu. "Sudah tidak apa-apa. Buka matamu, sayang."
Arini membuka matanya perlahan. Di mata batinnya, ia melihat Mika sedang sibuk mengusir hantu-hantu kecil yang mencoba mendekati Baskara. Namun yang paling mengejutkan adalah aura yang keluar dari tubuh Baskara. Aura keberanian dan kejujuran pria itu tampak seperti cahaya putih yang membuat mahluk-mahluk hitam itu segan untuk mendekat.
"Bas... lihat di belakang Mbah Suro," bisik Arini. "Ada sebuah kotak kayu kecil dengan ukiran naga yang sama dengan tato jenazah kemarin."
Baskara langsung menajamkan pandangannya. Tanpa ragu, ia melangkah maju—masih sambil mendekap Arini di sisinya—dan mengambil kotak itu secara paksa. Mbah Suro mencoba menyerang dengan tangannya yang kurus, tapi Baskara dengan mudah menepisnya.
"Ini adalah bukti material yang kami cari," ucap Baskara. "Mbah, Anda ditahan atas dugaan keterlibatan dalam konspirasi pembunuhan dan praktik ilegal yang membahayakan nyawa orang lain."
"Kamu tidak akan bisa keluar dari hutan ini hidup-hidup!" teriak Mbah Suro murka.
Tiba-tiba, terdengar suara gemuruh dari luar. Lampu-lampu sorot dari mobil polisi dan tim kejaksaan mulai menembus sela-sela dinding bambu gubuk itu. Baskara telah merencanakan ini semua. Dia memang protektif, tapi dia juga seorang perencana yang sangat brilian.
Baskara tidak memedulikan teriakan dukun itu. Ia menggendong Arini yang lemas ala bridal style ke luar dari gubuk. Di bawah sinar bulan dan lampu sorot, Baskara menatap Arini dengan tatapan yang sangat dalam dan posesif.
"Sudah berakhir untuk malam ini. Kamu hebat, Arini," bisik Baskara. Ia tidak peduli pada para petugas yang melihat mereka. Di tengah keramaian itu, ia mencium bibir Arini dengan penuh perasaan, sebuah ciuman yang menandakan bahwa ia tidak akan pernah membiarkan dunia mana pun memisahkan mereka lagi.
Arini memeluk leher Baskara erat-erat, menyembunyikan wajahnya yang merah padam di balik kerah kemeja pria itu. "Terima kasih, Bas..."
Mika yang melayang di samping mereka hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum lebar. "Duh, habis horor terbitlah baper. Mas Jaksa, kalau nanti nikah, jangan lupa kasih sesajen seblak buat aku ya!"
lanjut thorr
lagian botol parfum taro diluar dulu deh rin kalo mau bikin anak. hantu lu resek🤭🤣🤣🤣