NovelToon NovelToon
Runtuhnya Tahta Langit

Runtuhnya Tahta Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Xiao Chen memiliki Tulang Patah Surga—kutukan yang membuatnya tidak mampu menyimpan Qi, dihina sebagai sampah Sekte Langit Pedang. Ketika dibuang ke jurang penuh mayat oleh tunangan yang menghianatinya, ia justru menemukan rahasia kuno: retakan di tulangnya adalah wadah kekuatan yang bahkan ditakuti para Dewa. Di dunia di mana Kaisar Langit telah mati dan Hukum Dao runtuh, Xiao Chen memulai jalan kultivasi terlarang yang akan mengguncang Tahta Surga. Ia tidak naik untuk berlutut pada takdir... ia naik untuk menghapus Langit itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Gema di Aula Langit Pedang

Pagi itu, Sekte Langit Pedang gempar.

Tetua Ma kembali ke gerbang utama dengan wajah pucat dan jubah robek. Ia tidak berlari—seorang Tetua tidak pantas berlari—tapi langkahnya lebih cepat dari biasanya. Murid-murid yang melihatnya menyingkir, berbisik-bisik di belakang punggungnya. Mereka belum pernah melihat Tetua Ma seperti ini. Tetua Ma yang biasanya licik dan penuh senyum sinis, kini tampak seperti orang yang baru saja melihat hantu.

Dan memang begitulah adanya.

Ia langsung menuju Aula Pusat, tempat Tetua Agung biasanya bermeditasi. Tapi sebelum ia sampai, seseorang sudah menunggunya di koridor.

"Tetua Ma."

Suara itu lembut tapi berwibawa. Zhao Ling'er berdiri di bawah bayangan pilar batu, mengenakan jubah biru mudanya. Rambutnya disanggul rapi, tapi ada lingkaran gelap di bawah matanya—tanda bahwa ia juga tidak tidur semalaman.

"Murid Zhao," Tetua Ma berhenti, menatapnya. "Ada apa?"

"Aku mendengar kau membawa rombongan ke Hutan Bisu tadi malam." Mata Zhao Ling'er menatap lurus. "Aku juga mendengar kau kembali sendirian. Mana murid-murid yang kau bawa?"

Tetua Ma menegang. "Itu bukan urusanmu, murid Zhao."

"Itu urusanku jika menyangkut Xiao Chen."

Nama itu meluncur dari bibir Zhao Ling'er sebelum ia bisa menahannya. Tetua Ma melihat sesuatu bergetar di mata gadis itu—bukan cinta, bukan juga benci. Sesuatu yang lebih rumit.

"Jadi kau sudah mendengar desas-desusnya," kata Tetua Ma pelan.

"Aku mendengar lebih dari desas-desus. Luo Feng, Su Yan, dan Pang Wei kembali dalam keadaan ketakutan setengah mati. Mereka bilang Xiao Chen masih hidup. Mereka bilang dia... berubah." Zhao Ling'er melangkah lebih dekat. "Apa yang sebenarnya terjadi di hutan itu, Tetua Ma?"

Tetua Ma terdiam. Ia menatap Zhao Ling'er—gadis yang dulu ia dorong untuk memutuskan pertunangan dengan Xiao Chen. Gadis yang kini menjadi tunangan Wei Tianxing, murid kebanggaan sekte. Gadis yang seharusnya bahagia, tapi matanya menyimpan sesuatu yang menggerogoti dari dalam.

"Dia masih hidup," akunya akhirnya. "Dan lebih dari itu... dia bukan lagi manusia biasa."

"Apa maksudmu?"

Tetua Ma menghela napas panjang. "Dia memiliki kekuatan yang tidak berasal dari kultivasi normal. Tidak ada Qi. Tidak ada energi spiritual. Tapi dia bisa mengalahkan dua murid inti Fondasi Pendirian dalam hitungan detik. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri."

Zhao Ling'er memucat. "Dua murid inti... Fondasi Pendirian?"

"Zhou Yuan dan Fang Rui. Keduanya sekarang mungkin masih tergeletak di Hutan Bisu. Aku... aku tidak bisa menyelamatkan mereka." Suara Tetua Ma bergetar mengakui kelemahannya. "Dia membiarkanku pergi. Sengaja. Katanya, aku harus kembali dan menceritakan apa yang kulihat."

"Menceritakan apa?"

Tetua Ma menatap Zhao Ling'er dalam-dalam. "Bahwa dia akan datang. Ke sekte ini. Bukan untuk membalas dendam—itu katanya. Tapi untuk menunjukkan sesuatu pada kita semua."

Zhao Ling'er merasakan hawa dingin menjalari punggungnya. Bukan karena takut pada Xiao Chen. Tapi karena ia tiba-tiba menyadari sesuatu: aku tidak pernah benar-benar mengenalnya.

---

Sementara itu, di Hutan Bisu, Xiao Chen duduk di atas batu datar dekat gua. Di hadapannya, Zhou Yuan dan Fang Rui masih tergeletak tak sadarkan diri. Delapan murid luar yang tersisa—termasuk Luo Feng, Su Yan, dan Pang Wei—duduk meringkuk di bawah pohon, diawasi oleh Hui yang sesekali menggeram jika ada yang bergerak terlalu banyak.

Xiao Chen tidak berniat menyakiti mereka lebih jauh. Mereka hanya pion. Yang ia butuhkan adalah Tetua Ma menyebarkan cerita itu ke seluruh sekte. Ketakutan adalah senjata yang lebih tajam dari pedang.

Tapi sekarang, saat pagi menjelang, ia punya masalah lain.

"Tubuhmu mencapai batas," kata Yue Que di pangkuannya. "Kau memaksakan Energi Chaos terlalu banyak tadi malam. Retakan di tulang punggungmu melebar lebih cepat dari yang seharusnya."

Xiao Chen merasakannya. Tulang punggungnya terasa panas, seperti ada bara api yang mengalir di sepanjang ruas-ruasnya. Bukan sakit yang melumpuhkan, tapi sensasi aneh yang membuatnya ingin terus bergerak, terus bertarung.

"Itu bagus, kan? Bukannya aku harus memperlebar retakan untuk naik tingkat?"

"Ya, tapi tidak sekaligus. Kalau kau memaksakan diri, tulangmu bisa patah sungguhan—bukan retakan terkendali, tapi patah yang menghancurkan. Kau akan lumpuh. Atau mati."

Xiao Chen menghela napas. "Jadi apa yang harus kulakukan sekarang?"

"Istirahat. Biarkan tubuhmu beradaptasi dengan retakan yang baru terbentuk. Satu atau dua hari tanpa pertarungan berat."

Itu sulit. Xiao Chen bisa merasakan sesuatu di dalam dirinya—mungkin naluri Ras Dewa Patah—yang haus akan pertempuran. Setiap sel di tubuhnya ingin bergerak, ingin menyerang, ingin membuktikan kekuatannya.

Tapi ia belajar satu hal selama menjadi pelayan: kesabaran. Ia pernah menunggu berjam-jam hanya untuk mengisi air di sumur saat musim kemarau. Ia pernah menahan lapar seharian karena jatah makanannya diambil murid lain. Dibandingkan itu, menunggu dua hari bukan apa-apa.

"Baiklah." Ia menutup mata, mulai melakukan Pernapasan Tulang dengan lembut—bukan untuk menyerap energi, tapi hanya untuk menenangkan aliran Chaos di retakannya.

"Sementara kau istirahat," suara Leluhur Pertama tiba-tiba terdengar di benaknya, "mungkin kau harus melihat ke dalam Ruang Warisan. Ada sesuatu yang mungkin berguna untuk kunjunganmu ke sekte nanti."

Xiao Chen membuka mata. "Sesuatu? Apa?"

"Lihat sendiri. Di sudut paling belakang. Di balik tumpukan pedang kuno."

Dengan rasa penasaran, Xiao Chen menutup mata lagi dan mengirim kesadarannya ke dalam cincin hitam.

---

Ruang Warisan terasa lebih luas dari sebelumnya. Mungkin karena kultivasinya yang meningkat, ia kini bisa melihat lebih banyak bagian dari ruangan ini. Tumpukan pedang kuno, botol-botol pil, gulungan kitab, dan di sudut paling belakang... sebuah peti kayu hitam.

Peti itu sederhana. Tidak ada ukiran. Tidak ada hiasan. Hanya kayu hitam pekat yang entah terbuat dari pohon apa. Xiao Chen mendekatinya, dan simbol di dadanya berdenyut.

"Buka," kata Leluhur Pertama.

Xiao Chen mengulurkan tangan, menyentuh tutup peti. Tidak terkunci. Ia angkat.

Di dalamnya, terbaring selembar jubah hitam.

Bahannya tidak seperti kain biasa. Lebih berat, tapi lentur. Di bagian dada jubah itu, ada sulaman benang perak berbentuk simbol yang sama dengan Tulang Patah Surga di dadanya. Dan di sepanjang punggung jubah, ada gambar samar seekor naga yang tubuhnya dipenuhi retakan—mirip dengan kondisi tulang Xiao Chen sekarang.

"Jubah Perang Ras Dewa Patah," kata Leluhur Pertama. "Ditenun dari serat Bintang Mati dan ditempa dalam api Bencana Surgawi. Tidak bisa ditembus pedang biasa. Tidak bisa dibakar api biasa. Dan yang terpenting... jubah ini akan menyembunyikan Energi Chaos-mu dari mata-mata yang tidak diinginkan."

Xiao Chen menyentuh jubah itu. Bahannya dingin, tapi saat kulitnya bersentuhan, ia merasakan kehangatan aneh—seperti jubah itu mengenalinya.

"Kenapa baru sekarang kau tunjukkan?"

"Karena kau baru saja membuktikan diri. Mengalahkan dua kultivator Fondasi Pendirian dengan Lapis Kedua yang belum stabil... itu prestasi yang layak dihargai. Anggap saja hadiah kelulusan ujian pertamamu."

Xiao Chen tersenyum tipis. Ia mengangkat jubah itu dari peti.

Saat ia mengenakannya di dunia nyata, sesuatu terjadi. Jubah itu mengecil dan membesar menyesuaikan tubuhnya. Simbol perak di dada menyala sebentar, lalu meredup. Dan Xiao Chen merasakan Energi Chaos di dalam tubuhnya menjadi... tenang. Seperti binatang buas yang tiba-tiba jinak, tapi tetap siap menerkam kapan saja.

Hui menggeram pelan, menatap jubah itu dengan mata merah yang berbinar.

Murid-murid yang ditawan di bawah pohon menatap dengan campuran takut dan kagum. Luo Feng, yang paling berani di antara mereka, memberanikan diri bicara.

"Xiao... Xiao Chen. Apa yang sebenarnya terjadi padamu di jurang itu?"

Xiao Chen menoleh padanya. Dengan jubah hitam dan pedang patah di tangannya, ia tampak seperti sosok dari legenda kuno—bukan lagi pelayan kurus yang dulu mereka injak-injak.

"Aku menemukan jati diriku," jawabnya sederhana. "Dan sekarang, kalian semua boleh pulang. Bawa Zhou Yuan dan Fang Rui. Katakan pada sekte apa yang kalian lihat di sini."

Luo Feng dan yang lainnya saling pandang, tidak percaya.

"Kau... membebaskan kami?"

"Kalian tidak pernah benar-benar menyakitiku. Kalian hanya mengikuti arus." Xiao Chen berjalan mendekati mereka. Hui mengikutinya. "Tapi ingat ini: saat aku datang ke sekte nanti, jangan menghalangi jalanku. Aku tidak ingin melukai orang yang tidak perlu."

Mereka mengangguk cepat, lalu bergegas membangunkan Zhou Yuan dan Fang Rui yang mulai siuman. Dalam hitungan menit, mereka semua menghilang di balik pepohonan, kembali ke sekte dengan cerita yang akan membuat seluruh gunung berguncang.

Xiao Chen menatap kepergian mereka. Angin pagi menerpa jubah hitamnya, membuatnya berkibar pelan.

"Kau semakin mirip Leluhur Pertama," kata Yue Que.

"Entah itu pujian atau peringatan," jawab Xiao Chen, "aku akan menerimanya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!