NovelToon NovelToon
Legenda Naga Pemakan Langit

Legenda Naga Pemakan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Jutaan tahun lalu, Ras Dewa Naga Primordial dimusnahkan oleh Aliansi Sembilan Penguasa Surga karena kekuatan mereka yang terlalu menentang takdir. Sejarah mereka dihapus, meninggalkan abu dan kutukan.

Di Benua Azure yang terpencil, Chu Chen hidup dalam kehinaan sebagai pemuda dengan "Akar Roh Cacat". Namun, nasibnya berputar tragis ketika desanya dibantai tanpa ampun oleh Sekte Serigala Darah demi sebuah gulungan usang peninggalan leluhurnya.

Dalam genangan darah dan keputusasaan, kutukan di dalam tubuh Chu Chen hancur. Ia membangkitkan garis keturunan Dewa Naga Primordial terakhir dan mewarisi teknik terlarang. Teknik ini memungkinkannya melahap segala energi di semesta—racun mematikan, pusaka suci, hingga Api Ilahi—untuk memperkuat dirinya.

Membawa dendam lautan darah, Chu Chen merangkak dari jurang kematian, bersumpah untuk membelah sembilan cakrawala dan menarik para Penguasa Surga dari takhta agung mereka!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harga Sebuah Langit

Dermaga Udara Kota Gerbang Besi tidak terletak di atas tanah, melainkan dibangun di atas tebing cadas tertinggi di ujung barat kota. Angin bertiup sangat kencang di tempat ini, membawa hawa dingin yang menusuk tulang, namun pelataran batu raksasa itu tetap dipadati oleh ribuan manusia.

Di ujung landasan tebing, bersandar sebuah mahakarya peninggalan era kuno yang memancarkan kemegahan mutlak.

Itu adalah Kapal Terbang Awan Merah. Panjangnya mencapai seratus tombak, dengan lambung kapal yang terbuat dari Kayu Besi Seribu Tahun yang tidak bisa dihancurkan oleh tebasan pedang biasa. Layar-layarnya tidak terbuat dari kain, melainkan dari anyaman sutra ulat es yang memancarkan pendaran cahaya spiritual, menangkap Qi dari udara untuk mengambang menentang hukum tarikan bumi. Di sepanjang geladak, meriam-meriam formasi spiritual terpasang gagah, siap mengubah sekawanan binatang buas terbang menjadi abu dalam satu kali tembakan.

Bagi penduduk desa seperti Chu Chen, melihat bongkahan kayu raksasa sebesar gunung kecil melayang di udara seharusnya menjadi pemandangan yang membuat lutut lemas. Namun, dengan ingatan samar dari jiwa Kaisar Naga di otaknya—yang dulu terbiasa melihat istana-istana dewa yang menutupi gugusan bintang—Kapal Awan Merah ini tidak lebih dari sekadar perahu kayu lapuk di matanya.

Chu Chen melangkah dengan tenang menuju Paviliun Penjualan yang dijaga oleh belasan penjaga berzirah perak. Gejolak energi dari para penjaga itu membuat kerumunan fana menjaga jarak. Mereka semua berada di Alam Penempaan Raga Lapis Kedelapan! Hanya untuk menjadi penjaga pintu masuk!

Sekte Awan Suci benar-benar menguasai wilayah ini, batin Chu Chen saat ia melihat lambang awan menusuk langit pada zirah para penjaga. Ini adalah kapal dagang yang dioperasikan langsung oleh sekte raksasa tersebut.

Chu Chen mengantre dalam diam. Di depannya, banyak kultivator pengembara dan pedagang yang ditolak dengan kasar karena tidak memiliki biaya yang cukup.

Ketika tiba gilirannya, seorang penjaga meja bermata sinis melirik Chu Chen dari balik jeruji kayu spiritual.

"Tujuan?" tanya penjaga itu dengan nada bosan.

"Kota Kekaisaran Langit. Satu orang," jawab Chu Chen singkat.

"Tiga Batu Roh Tingkat Bawah untuk geladak bawah. Sepuluh Batu Roh untuk bilik pribadi di geladak atas. Tidak menerima koin emas fana," ucap penjaga itu cepat, siap untuk mengusir Chu Chen karena remaja berpenampilan biasa ini tidak terlihat seperti orang yang pernah memegang Batu Roh seumur hidupnya.

Harga yang disebutkan itu membuat beberapa orang di antrean belakang menelan ludah. Tiga Batu Roh Tingkat Bawah cukup untuk memberi makan sebuah desa kecil selama sepuluh tahun!

Tanpa mengedipkan mata, Chu Chen merogoh balik jubahnya dan mengeluarkan tiga bongkah batu bercahaya redup. Ia meletakkannya di atas meja kayu.

Penjaga itu sedikit terkejut. Matanya menyipit penuh kecurigaan saat memeriksa keaslian batu tersebut, namun ia tidak banyak bertanya. Di perbatasan, mayat bergelimpangan setiap hari, dan dari mana seorang pemuda mendapatkan Batu Roh bukanlah urusannya.

"Geladak bawah. Lorong Ketujuh. Ini plakatmu," penjaga itu melemparkan sebuah plakat kayu kecil bernomor ke arah Chu Chen. "Kapal berangkat setengah dupa lagi. Jika kau tertinggal, Batu Rohmu hangus."

Chu Chen mengambil plakat itu. Saat ia berbalik untuk berjalan menuju tangga barak kapal, sebuah tangan yang memancarkan energi Qi mencoba meraih bahunya dari belakang.

"Hei, Gembel. Berhenti di sana."

Chu Chen tidak menghindar, namun ia mengeraskan otot bahunya hingga sekeras pelat baja.

Tep!

Tangan itu mendarat di bahu Chu Chen, namun pemilik tangan itu mendengus kaget karena merasa seperti baru saja mencengkeram sebongkah batu karang panas.

Chu Chen menoleh dengan tenang. Di belakangnya, berdiri seorang pemuda berpakaian sutra mewah berwarna ungu. Wajahnya angkuh, dan di pinggangnya tergantung sebuah pedang dengan sarung bertahtakan batu permata. Di belakang pemuda itu, berdiri dua pria paruh baya berwajah garang yang memancarkan aura Lapis Ketujuh Penempaan Raga.

"Ada masalah?" tanya Chu Chen dingin.

Pemuda bersutra ungu itu mengibaskan tangannya yang sedikit kebas, lalu menatap Chu Chen dengan tatapan merendahkan. "Aku adalah Tuan Muda dari Keluarga Ma di Kota Gerbang Besi. Aku terlambat datang, dan penjaga mengatakan plakat geladak bawah sudah habis terjual. Kau baru saja mendapatkan tiket terakhir."

Pemuda itu melemparkan sebuah kantong kain kecil yang bergemerincing ke dada Chu Chen. Chu Chen menangkapnya dengan satu tangan.

"Itu berisi seratus koin emas," ucap Tuan Muda Ma dengan nada memerintah. "Jual plakat perjalananmu kepadaku. Seratus koin emas sudah lebih dari cukup bagimu untuk bersenang-senang di rumah hiburan selama sebulan penuh. Lagipula, ujian Sekte Awan Suci bukanlah tempat untuk sampah yang bahkan gejolak Qi-nya tidak terasa sepertimu."

Beberapa orang di sekitar mulai berbisik-bisik, melangkah mundur untuk menghindari masalah. Keluarga Ma adalah salah satu kekuatan penguasa di kota perbatasan ini. Tuan Muda Ma sendiri berada di Lapis Keenam Penempaan Raga, seorang jenius lokal.

Chu Chen melirik kantong koin emas di tangannya, lalu menatap plakat kayu di tangan kirinya. Ia telah menukar tiga Batu Roh—harta paling berharganya saat ini—demi plakat tersebut. Dan badut ini mencoba menukarnya kembali dengan uang fana murahan?

"Seratus koin emas?" Chu Chen bergumam, suaranya sangat pelan hingga Tuan Muda Ma harus mencondongkan tubuhnya ke depan.

"Ya. Bersyukurlah aku sedang berbaik hati hari—"

WUSH!

Sebelum Tuan Muda Ma menyelesaikan kalimatnya, Chu Chen melemparkan kembali kantong koin itu. Namun bukan dilempar biasa. Ia menggunakan tenaga fisik Lapis Kelima Puncaknya, melapisi lemparan itu dengan kekuatan memutar yang mengerikan.

Kantong koin itu melesat bagaikan batu pelontar raksasa, menghantam tepat ke perut Tuan Muda Ma.

BUGH!

"Ukh-BLARGH!"

Tuan Muda Ma memuntahkan seteguk asam lambung. Matanya hampir melompat keluar dari rongganya saat tubuhnya terlempar sejauh tiga meter ke belakang, bergulingan di atas lantai batu pelabuhan dengan sangat menyedihkan. Koin-koin emas berhamburan dari kantong yang robek, menciptakan suara gemerincing yang janggal di tengah keheningan yang mendadak turun.

Semua orang menahan napas. Penjaga kapal di kejauhan mulai menoleh.

"Tuan Muda!" Kedua pengawal Lapis Ketujuh itu berteriak panik, lalu menoleh ke arah Chu Chen dengan mata memerah. "Keparat! Kau berani menyerang pewaris Keluarga Ma?!"

Kedua pengawal itu mencabut pedang mereka serempak, Niat Membunuh meledak dari tubuh mereka.

Jika ini di tengah hutan, Chu Chen sudah merobek tenggorokan mereka dan menghisap Dantian mereka hingga kering. Namun ia sadar, ini adalah Pelabuhan Kapal Awan Merah. Di atas tiang kapal, ada sepasang mata dari ahli Alam Lautan Qi (Kapten Kapal) yang mengawasi. Menggunakan Seni Penelan Semesta di sini sama saja dengan mengumumkan pada dunia bahwa ia memiliki teknik iblis.

Chu Chen tidak mencabut pedangnya. Ia melangkah satu langkah ke depan, mendekati kedua pengawal itu dengan kecepatan yang tidak wajar, lalu mencondongkan wajahnya.

Tiba-tiba, pupil hitam Chu Chen menyempit tajam, berubah menjadi celah emas vertikal yang memancarkan aura paling kuno, paling kejam, dan paling mendominasi dari puncak rantai makanan semesta. Itu bukan aura Qi. Itu adalah penindasan jiwa murni dari garis keturunan Kaisar Naga.

Ia hanya memfokuskan aura itu dalam jangkauan satu meter, tepat menghantam benak kedua pengawal tersebut.

Di mata kedua pengawal Lapis Ketujuh itu, pemuda berjubah hitam di depan mereka mendadak menghilang. Sebagai gantinya, mereka melihat bayangan kepala naga raksasa sebesar pegunungan, membuka rahangnya yang terbakar magma, siap menelan jiwa mereka bulat-bulat.

CLANG! CLANG!

Tangan kedua pengawal itu kehilangan seluruh tenaganya. Pedang mereka jatuh berdenting ke lantai batu. Wajah mereka pucat pasi bagaikan mayat, seluruh pori-pori mereka menyemburkan keringat dingin. Kaki mereka bergetar hebat hingga salah satu dari mereka jatuh terduduk, kehilangan kendali atas kandung kemihnya.

Ketakutan mutlak meremukkan kewarasan mereka dalam sepersekian detik.

Chu Chen mengedipkan matanya, mengembalikan pupilnya menjadi hitam normal, menutupi auranya rapat-rapat. Ia membungkuk sedikit, menepuk pipi salah satu pengawal yang membeku itu dengan pelan.

"Bawa tuan muda kalian pulang sebelum nyawanya benar-benar tertinggal di sini," bisik Chu Chen dengan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.

Setelah itu, Chu Chen membalikkan badan, membelah kerumunan yang masih terpaku dalam kebingungan (karena orang luar tidak melihat penglihatan naga tersebut), dan melangkah naik ke atas papan pijakan Kapal Terbang Awan Merah tanpa menoleh lagi.

"A-apa yang terjadi?" bisik salah satu penonton fana. "Kenapa pengawal Keluarga Ma itu menjatuhkan senjatanya dan mengompol?"

"Anak berjubah hitam itu... dia tidak menggunakan gejolak Qi sama sekali, tapi pengawal Lapis Ketujuh itu ketakutan setengah mati. Mungkinkah dia adalah keturunan rahasia dari keluarga bangsawan Kota Kekaisaran?!"

Kabar burung langsung menyebar dengan liar. Namun Chu Chen tidak peduli.

Ia melangkah masuk ke area Geladak Bawah kapal. Tempat itu pengap, bau keringat, dan diisi oleh ratusan kultivator tingkat rendah yang berdesak-desakan di ranjang-ranjang kayu bersusun. Chu Chen menemukan ranjang bernomor 44 di Lorong Ketujuh yang remang-remang, meletakkan pedangnya, lalu duduk bersila.

TENG! TENG! TENG!

Tiga bunyi gong raksasa bergema dari geladak atas. Kapal Terbang Awan Merah bergetar pelan. Formasi raksasa di lambung kapal menyala terang, dan perlahan-lahan, kapal raksasa itu terangkat dari tebing, membelah lautan awan, dan melesat membelah langit timur menuju pusat Benua Biru Langit.

Chu Chen menatap ke luar dari jendela kayu kecil di samping ranjangnya. Daratan di bawahnya perlahan mengecil menjadi bentuk kecil seukuran kepalan tangan.

Harta terakhirnya telah habis. Namun, saat ia meraba dadanya—tempat Darah Naga dan Peta Teratai Merah berada—sebuah senyum dingin terukir di wajahnya.

"Kota Kekaisaran Langit... Sekte Awan Suci. Tunggulah."

1
Gege
garis garis diantara kata menunjukkan kinerja AI mengenerate kalimat.
Letsii
mantapp😍💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!