NovelToon NovelToon
Luka Di Penghujung Harapan. (Sukacita Kota Nablus)

Luka Di Penghujung Harapan. (Sukacita Kota Nablus)

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:335
Nilai: 5
Nama Author: Ummi Adzkia

yaseer, seorang anak yang hidup di negara konflik. keluarga petani zaitun, namun dia bermimpi untuk mengembangkan usaha orangtuanya dewasa kelak. Namun, karena konflik semakin parah, semua usahanya perlahan runtuh. hingga ketika konflik berhenti, yaseer berusaha sekuat tenaga nya beserta keluarga nya untuk membangun kembali. tapi tiba-tiba hantaman rudal dari penjajah meluluh lantakkan bahan utama usahanya. hingga akhirnya menghancurkan usahanya tak bersisa. akan kah yaseer bangkit kembali atau tamat dengan keadaan fustasi berat? yuk kita simak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummi Adzkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 16. Deportasi.

Tidak ada yang layak di sebut rumah, jika penghuninya meresahkan atau membuat tidak nyaman berada di dalamnya. Begitu pun desa yang tempati oleh keluarga Yaseer. Sudah tak ada kenyamanan, keamanan bahkan ketenangan walau hanya untuk pergi ke masjid.

Saling serang antara militer kependudukan dan militan setempat terus menghiasi hari-hari mereka. Hingga peristiwa yang memicu kericuhan besar diantara dua kubu.

Di picu dari tentara militan menculik salah satu kepala tentara militer kependudukan yang mengakibatkan penjajah itu murka. Dari sekian ulah aksi yang penjajah lakukan untuk meredakan perlawanan dari militan setempat, inilah titik murka yang berujung fatal.

Militer kependudukan zionis mengusir secara paksa warga yang terindikasi terlibat dengan keluarga militan perlawanan, dari rumah mereka. Tercatat lebih dari 400 warga yang di deportasi untuk pergi ke selatan.

Siang malam terjadi kericuhan dalam pengusiran itu. perlawanan warga sipil yang berujung penghilangan nyawa adalah hal biasa. Namun tak gentar untuk membela hak milik dan harga diri warga setempat. Walau pada akhirnya mereka mengalah dan pergi berbondong-bondong.

****

Dog..dog..dog...

" BUKA PINTU!!!" dog...dog...dog...

Suara pintu yang digedor brutal dari arah luar, membangunkan se isi rumah.

" Ummi ada apa ini?" Panik Haniya mengejar umminya.

" CEPAT BUKA PINTUNYA!!!!"

" Ummi.... Ummi... " Jeritan ketakutan anak-anak menggetarkan hati Laila.

' Klek' pintu di buka dan langsung di dorong paksa dari luar. Laila pun ikut terdorong ke dalam dan membentur dinding.

" UMMI..... !!!". Teriak Haniya dan Yasser. Abia hanya menangis di balik pintu di kamarnya ketakutan.

" APA MAU KALIAN!!" Teriak Haniya lagi pada tamu tak diundang itu.

" DIAM ..!!! CEPAT KELUAR DARI RUMAH INI. KALIAN BEKERJA SAMA DENGAN PARA PEMBERONTAK MENCULIK ANGGOTA KAMI!!". Bentak salah satu militer pendudukan.

" Pemberontak siapa?? KAMI TIDAK TAU..!!!! " Yaseer yang membalas teriak.

Dugh...

Akhh....

" YASEER ..!!!" Ummi dan Haniya mengejar Yaseer yang sempoyongan karena di pukul oleh gagang senjata.

Darah mengalir dari pelipisnya. Mata Yaseer menajam menahan geram dan sakit. Tangan nya terkepal kuat di sisi tubuh nya.

" Siapa kalian, kenapa mengusir kami dari rumah kami sendiri.....Hah..!!! " Bentak Yaseer lagi.

" INI RUMAH KAMI. HARUSNYA KALIAN YANG PERGI DARI NEGARA INI.....!!!!" Lanjutnya lebih histeris.

Ummi dan Haniya memeluk Yasser menangis tergugu.

" Kalian pergi atau kami hancurkan rumah ini...!!! Hardik salah satu dari penjajah itu.

"Hancurkan aja... Kalian udah hancurkan hidup kami dari puluhan tahun lalu.... !!! Balas Yaseer lagi tanpa takut.

" Baba kalian bunuh, Abang kami kalian tahan. Dan sekarang kalian mau RUMAH KAMI..... !!! IBL*S KALIAAAANNN.....!!!! " Teriak Yaseer lagi sampai suaranya habis.

" Kosong kan rumah ini sampai besok pagi!! pergilah ke selatan jika kalian ingin aman." Balas mereka sambil menodongkan senjata nya mengancam.

" Pemberontak seperti kalian lebih baik pergi dari tanah ini. Kalian telah banyak membuat kerusuhan di sini..!!" Karang dari penjajah itu.

" Harusnya kalian yang pergiiii.... !!!!". Jerit Haniya putus asa.

" Tolong biarkan kami tinggal di rumah kami. Biarkan kami hidup damai di rumah kami..." Mohon ummi sambil berlutut dan mengatupkan tangan di depan dadanya sambil menangis pilu.

" Ummi jangan berlutut ummi. Mereka tidak layak di hormati..!!" Yaseer sekuat tenaga mengangkat tangan umminya.

Para penjajah itu hanya terdiam melihat drama di depannya. Mereka tak peduli. Yang mereka tau, rumah ini harus kosong, desa ini harus bersih dari penduduk. "Khawatir lebih banyak korban jiwa" Alibi mereka.

" Ingat..!!! Kosongkan rumah ini jika kalian ingin aman. Jika tidak maka jangan salahkan kami.!!" ancamnya sebelum pergi Ntah kemana lagi.

" Ummi apakah kita akan pergi dari sini?". Lirih Haniya pilu.

Ummi masih tergugu di peluk kan Yaseer. Yaseer yang masih meredakan amukan dendam dalam hatinya hanya bisa diam menatap nanar pintu rumahnya.

" Aman katanya.. Cih.. Bukannya mereka yang membuat tidak aman.. Dasar z*onis terlaknat...!!!" geram Yaseer penuh kebencian dalam sorot matanya.

" Sudahlah kita berkemas saja. Semoga saja ketika kita kembali rumah ini masih utuh.." lirih ummi putus asa. Pikirnya daripada anak-anak nya terluka lebih parah lagi lebih baik mereka menyerah saja.

"Tapi aku engga ridho ummi.... Apalagi jika nanti kita kembali, dan rumah ini jadi milik mereka. Lebih baik kita bakar aja sekarang juga." Amarah Yasser sudah mereda tapi murka batin nya masih menggelegak kepada para penjajah itu.

" Mana Abia?" tanya Ummi.

" Ade di sini ummi... Huhu..." jawab Abia sambil menangis di kamarnya.

Ummi menghampiri Abia dan memeluknya erat. Abia dengan tubuh gemetar membalas pelukan umminya mencari kekuatan.

Titik awal perjuangan mereka baru dimulai. Perjuangan sesungguhnya akan dimulai esok. Berjuang di perjalanan yang ntah seberapa jauh. Akankah mereka mampu melewati nya ?

****

Pagi menyapa, mereka telah berkemas dan membawa keperluan semampu mereka bisa bawa. Masing- masing dari mereka membawa tas ransel yang berisi pakaian dan makanan atau minuman yang bisa dibawa.

Barang berharga seperti surat-surat penting di sembunyikan di tempat yang paling aman dan terlindungi dari api dan air.

Tak lupa mengunci semua jendela dan pintu dengan rapat dan berdoa menitipkan pada Allah yang sebaik-baik Pelindung dan Penjagaan.

Mereka menatap lekat rumah mereka untuk terakhir kalinya. "Semoga nanti kita bisa berkumpul lagi di rumah ini seperti kemarin lagi". Doa ummi di hadapan rumah nya.

Mereka berjalan perlahan meninggalkan rumah penuh kenangan itu. Jaket tebal terpasang rapi di tubuh mereka. Musim dingin sedang menyapa mereka. Jadi sebisa mungkin mereka menjaga kehangatan tubuh mereka selama perjalanan.

Semakin jauh menuju jalan utama, ternyata semakin banyak juga yang senasib seperti mereka. Mereka berjalan bersama, saling menyapa dan bercengkrama saling menguatkan.

Tak terasa sudah tiga jam mereka berjalan. Beberapa kali mereka beristirahat untuk minum dan mengemil untuk mengganjal perut mereka.

" Ummi masih jauh ?" tanya Abia yang sudah lelah.

" Iya masih jauh. Sebentar lagi kita istirahat ya. " Jawab umminya menenangkan mengelus kepala Abia.

Perjalanan masih sangat jauh sekitar 300km. Sedangkan perjalanan baru mereka tempuh sejauh 3 km saja. Masih sangat jauh. Mereka juga tidak tau apakah mereka sanggup berjalan sejauh itu hingga ke selatan "ke tempat yang aman" yang disarankan para penjajah itu.

Siang itu mereka beristirahat untuk mengisi tenaga. Lalu di lanjut sore hari. Musim dingin menggigit. Namun tak begitu dirasa karena terus dipaksa bergerak.

Tungku-tungku api bertebaran di pinggir jalan. Mereka yang beristirahat mengelilingi api mencari rasa hangat.

Laila juga ingin ikut bergabung, ia mencari kelompok yang terlihat sedikit dan izin bergabung. Ia dan anak-anak nya duduk bersisian. Setelah beristirahat sejenak, mereka melaksanakan sholat bersama. Jama' qoshor itu rukhshoh yang Allah berikan untuk para musafir.

Setelah sholat mereka memakan bekal mereka bersama-sama dengan yang lain. Setelah nya mereka tidur berdempetan di depan ruko-ruko tak terpakai.

" Dingin mi... Hhhh". Lirih Abia merapatkan pelukannya ke umminya.

Dum...

Terdengar letupan bom yang jauh disana.

" Ya Allah.. Dimana itu...!"

1
Ummi Adzkia
aku jadi ikutan nyesek... semangat ya Yaseer ...
Ummi Adzkia
tadinya mau bikin konflik berdarah. tapi ga tega hati ini.. hiks...
Ummi Adzkia
selalu begitu ya. bikin kesepakatan tapi di langgar sendiri.. dari dulu begitu sama kayak bestie nya. mau heran tp udah ada di Al-Qur'an.
Ummi Adzkia
gimana tuh? Abia perutnya nangis, Yaseer rock n roll, Hania keroncongan apa dangdutan....?
Ummi Adzkia
siap 💪💪Allahu Akbar !!!!
Ummi Adzkia
Yaseer ini pemerhati juga. semoga ilmu nya bisa kepake buat masyarakat 👍
Ummi Adzkia
apaan coba. gaje banget lho si zion inih.. /Slight/
Ummi Adzkia
innalillahi... semoga Abia dan Haniya baik-baik saja ya. aamiin.
Ummi Adzkia
mereka hanya di suruh ngungsi ya. bukan suruh pindah. berarti hanya sementara. tapi ga tau juga nnti nya. 🙏
happy reading 💪
Ummi Adzkia
coba ada yang bisa bayangin situasi nya kek gimana? komen yah🙏😄
Ummi Adzkia
nah loh apaan tuh??
Ummi Adzkia
di saya mah hari Jumat. kami mulainya hari Rabu 18 feb.
happy Ied Mubarak
Protocetus
lebaran nanti hari sabtu
Protocetus
salken 💪
Ummi Adzkia: happy reading. semoga suka ya
total 1 replies
Ummi Adzkia
Alhamdulillah. terkadang kepasrahan kita pada Allah bisa mendatangkan. rezeki. happy reading di karya ku ya.

komen baik nya ditunggu ya.
Ummi Adzkia
ketemu malaikat mau apa heh?.. mau minta THR apa mau ketemu baba? Abia ngeri juga minta nya.😄
Ummi Adzkia
itu Haniya iseng juga ya. pasti panik juga itu ummi ...
Ummi Adzkia
kira-kira Abang gimana nasib nya ya?. komen yuk
Ummi Adzkia
beli kurmanya cod ya Abia. ada2 aja ni si Abia.
Ummi Adzkia
gini nih yang bikin makin panik. lagi makan tiba2 dum.. rudal meluncur bebas ke atas rumah2 dan gedung2 tinggi. ga kebayang yg tinggal di sana kek gmn. .. /Sweat/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!