Menumpang di rumah kakaknya sendiri seharusnya terasa aman.
Namun justru di sanalah semuanya berubah.
Di balik rumah tangga yang terlihat tenang, ternyata tersimpan jarak, kesunyian, dan luka yang tak pernah terlihat orang lain. Ia hanya berniat tinggal sementara… tapi semakin lama, ia mulai melihat sisi lain dari pria yang seharusnya tak boleh ia perhatikan.
Tatapan yang terlalu lama.
Perhatian yang terasa berbeda.
Dan debar yang muncul di waktu yang salah.
Ia tahu batasnya.
Ia tahu itu salah.
Tapi bagaimana jika hati justru tertarik pada seseorang yang tak pernah dimiliki siapa pun bahkan oleh istrinya sendiri?
Dan ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap…
hubungan terlarang itu perlahan menjadi sesuatu yang tak bisa lagi dihentikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syizha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Interaksi kecil
Dirumah..
Alana mengutak-atik gadgetnya sambil rebahan santai di sofa ruang tamu. Setiap terdengar mobil berderu, Alana melongok keluar. Ternyata bukan mobil milik Juna. Dia kecewa dan kembali fokus ke layar benda pipihnya. Me scroll media sosialnya. Kadang sesekali berkomunikasi dengan teman-temannya.
Beberapa menit kemudian, terdengar lagi suara mobil yang kali ini begitu kentara. Meski bukan suara mobil Juna, tapi jelas-jelas mobil itu memang berhenti tepat di depan gerbang rumah.
Alana turun dari sofa. Ia cepat-cepat menghampiri jendela. Melongok untuk melihat keadaan di luar. Ternyata sebuah mobil taksi.
Alana pun kembali ke tempatnya semula. Menunggu sampai si penumpang taksi masuk ke dalam rumah.
Cekrekkk....
Tak lama pintu terbuka. Liliana masuk. Hanya sendiri, tak ada orang lain.
"Mas Juna mana, Mbak?
Kok, Mbak Liliana nggak sama Mas Juna?" Alana menghampiri Liliana. Bahkan ia melongok keluar, mencari Juna.
"Jadi dia belum balik ke rumah?" Liliana malah balas bertanya.
"Belum. Bukankah tadi kalian pergi bareng?"
"Ya. Tadi dia kuajak bertemu teman-temanku. Tapi tiba-tiba dia pergi. Aku nggak tau dia ke mana."
Liliana nampak kebingungan. Alana yang mendengar penjelasannya pun, ikut kebingungan.
"Sudahlah, mungkin dia ke tempat temannya." Liliana berusaha meyakini sebuah kemungkinan. Ia terkesan tak mau ambil pusing.
Liliana melangkah ke dalam, sedang Alana masih berdiri terpaku di ruang tamu. Cepat-cepat Alana merogoh benda pipihnya. Mencari nomor Juna, lalu menghubunginya. Yang terdengar hanya suara operator otomatis. Nomor Juna sama sekali tak aktif.
"Mas Juna ke mana ya?"Alana penasaran.
"Kan nggak mungkin dia main ninggalin Mbak Liliana gitu aja. Pasti terjadi sesuatu sama dia. Apa sebelum itu mereka bertengkar ya?"
Alana sangat khawatir. Ia refleks mondar-mandir di ruang tamu. Ia masih setia menunggu.
Padahal, Liliana yang adalah istri Juna saja mungkin tak sepeduli ini.
***
Beberapa jam kemudian .....
Ck... Ck... Ck ....
Terdengar suara kunci yang tengah diputar. Suara yang jadi terdengar keras karena di tengah malam seperti sekarang ini.
Alana yang ketiduran di sofa jadi terbangun. Ia mungusap matanya. Berbarengan dengan pintu yang terbuka.
"Mas Juna." Alana melihat sosok Juna masuk ke dalam rumah. Sosok di antara suasana remang-remang di ruang tamu saat ini.
Alana terduduk. Kedua kakinya turun dari sofa. Berdiri, lalu menghampiri Juna.
"Mas Juna dari mana?
Kenapa Mas Juna tadi___" Ucapannya terhenti.
Perhatiannya teralihkan oleh aroma Juna. Aroma minuman keras yang menyengat.
"Mas Juna mabuk ya?" Alana serasa tak percaya. Bukankah selama ini Juna figur laki-laki yang baik, laki-laki yang tak mungkin menyentuh minuman haram tersebut. Setahu Alana, sekali Juna pernah seperti itu, tapi itu berkat kelakuan teman-temannya. Namun, dia juga tak tahu, bisa saja ada sisi nakal dari Juna yang terlewatkan oleh Alana.
"Mas Juna kenapa, sih, kok sampai kayak gini? Mas Juna lagi ada masalah? Masalah apa, Mas? Apa ini tentang Mbak Liliana? Apa dia udah nyakitin Mas Juna. Cerita sama aku, Mas. Dari pada Mas Juna pendam sendiri. Aku akan jadi pendengarnya Mas Juna. Aku akan_"
Pukkk....
Tiba-tiba Juna menjatuhkan kepalanya di bahu Alana. Lalu melingkarkan tangannya di tubuh Alana.
Alana tertegun. Ia serasa tak percaya Juna memeluk dirinya. Karena biasanya Juna seperti anti menyentuh wanita lain selain Istrinya.
"Mas Juna kenapa___"
"Izinkan aku seperti ini sebentar. Aku sedang ingin ada orang lain yang mau memelukku," lirih Juna menghentikan ucapan Alana.
Mendengarnya, Alana tak berkata apa-apa lagi. Alana membalas pelukan Juna. Balas melingkarkan tangannya di tubuh Juna.
Untuk beberapa saat mereka saling erat bersentuhan. Tak ada pembicaraan. Keduanya saling bungkam. Hanya saling merasakan kehangatan di antara udara dingin malam ini.
Juna akhirnya menghentikannya. Ia menjauhkan tubuhnya dari tubuh Alana. Tak lagi memeluk gadis cantik bermata bulat tersebut.
Srekkk....
Juna mengelus puncak kepala Alana.
"Makasih ya." Juna tersenyum getir. Melangkah begitu saja dari hadapan Alana.
Langkah sempoyongan karena keadaan mabuknya. Ia masuk ke dalam kamar.
***
KEMBALI POV JUNA
Keesokan harinya ....
Aku duduk di kursi meja makan. Bergabung dengan Liliana dan Alana.
"Pagi Mas Juna!"
Alana menyapaku. Seperti biasanya dia tetap ceria tanpa beban. Aku membalasnya dengan senyuman.
Sedang Liliana, ia menatapku tajam. Dari semalam aku belum berbicara sepatahpun dengannya. Aku pulang tengah malam, dia sudah terlelap.
"Kamu tak mau menjelaskan kamu ke mana semalam?" Belum apa-apa Liliana sudah melontarkan pertanyaan itu.
"Aku menemui teman." Aku menjawab tanpa melihat ke arahnya. Rasanya muak. Aku tak mau tersulut emosi karena harus mengingat kembali apa yang terjadi semalam.
"Kenapa tiba-tiba pergi? Kenapa nggak bilang dulu sama aku. Dan kenapa HP kamu nggak bisa dihubungi?"
"Kayaknya nggak penting aku ngejelasin itu semua."
Liliana tertegun dengan jawabanku. Karena aku terlampau dingin. Jelas berbeda dari biasanya. Liliana kebingungan. Dan mungkin di dalam kepalanya, kini tengah bertanya-tanya.
"Sini, Mas, aku ambilin nasinya." Alana membuyarkan suasana tegang di antara aku dan Liliana. Alana meraih piring kosongku. Tetapi Liliana merebutnya.
"Biar aku yang ambilkan untuk suamiku," ketus Liliana.
Jelas sekali ia tak suka dengan apa yang hampir dilakukan Alana. Entah itu karena pelampiasan rasa kesal akibat perbicangan dingin kami yang baru saja, atau murni memang karena perasaan cemburu.
Liliana benar-benar mengambilkan makanan untukku. Kegiatan yang baru sekali ini ia lakukan selama tiga tahun pernikahan kami.
Kami menikmati makanan masing-masing. Tak ada obrolan. Aku hanya fokus ke makananku, Alana juga demikian, sedang Liliana, ia berkegiatan makan sambil mengutak-atik gadgetnya.
Liliana mengulum senyum. Bahkan sesekali ia samar tertawa kecil. Aku tahu, dia sedang membaca pesan dari seseorang yang membuatnya bereaksi seperti itu. Aku yakin seribu persen, pesan itu dari Iban.
Aku abai. Aku tak perduli. Sepertinya perasaanku sudah mati rasa.
Alana memperhatikan sang Kakak. Entah apa yang dipikirkannya. Ia raih ponselnya. Mengutak-atiknya sejenak. Lalu
Drrrrrt....
Handphoneku bergetar. Kuhentikan kegiatan makanku. Kuraih benda pipihku. Satu pesan dari Alana. Sebuah stiker lucu yang refleks membuatku tersenyum.
Kelakuan Alana terlalu random. Tapi aku tahu tujuannya. Dia sedang menghiburku. Dia tahu isi hatiku saat ini. Pikirnya, aku tengah kacau karena apa yang dilakukan Liliana baru saja.
Aku bingung membalas apa untuk pesan Alana. Akhirnya, hanya sebuah pesan singkat.
[Makasih ya.] Hanya seperti itu. Alana pun tersenyum. Liliana kebetulan melihatnya. Kebetulan tak sedang terfokus ke handphonenya. Ia tampak tak suka gelagat sang adik. Jelas perasaan itu tergambar di wajahnya.
"Kamu nanti buka klinik jam berapa, Mas? Temenku rencananya mau periksa gigi ke klinikmu." Liliana membuat obrolan. Aku tahu itu hanya peralihan.
"Jam sepuluh. Tapi hari ini sama Dokter Zumri. Aku mau istirahat di rumah." Jawabanku datar.
"Tumben? Ini bukan hari liburmu, kan?"
"Aku sedikit tak enak badan," jawabku. Aku tak bohong. Mungkin karena alkohol yang kukonsumsi semalam, pagi ini menimbulkan rasa pusing di kepalaku.
"Sudah minum obat?" Aku tertegun. Tak salah kah pertanyaannya ini? Sejak kapan dia perhatian padaku?
"Nanti saja." Aku menjawab singkat.
"Yasudah, tapi jangan sampai lupa." Aku mengangguk kecil.
Setelahnya kegiatan makan kami berlanjut. Aku dan Alana fokus ke makanan kami, sedang Liliana kembali fokus ke gadgetnya juga yang sedari tadi dipegangnya.