Untuk visualnya, silahkan kunjungi Instagram noer_azzura16
Kakak Bella ditemukan dalam keadaan mabukk dan menyebabkan kecelakaan yang merenggut nyawa Lusi, adik Leo. Membuat ibu dan ayah Leo terpukul hebat.
Sementara Bella dan Leo baru saja kembali dari bulan madu. Kebahagiaan itu hancur seketika, melihat keluarga yang akhirnya menatap Bella sebagai seorang adik dari pembunuhh orang yang mereka cintai.
Setelahnya Bella bahkan tidak bisa menatap cinta itu lagi di mata suaminya. Meski kakaknya bahkan di penjara. Dia masih harus menanggung akibat dari apa yang dilakukan kakaknya itu.
Dua orang yang tadinya saling mencintai, dendam telah mengalahkan cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28- CKOD 28
"Ted!" panggil Rara yang segera berlari ke arah Ted yang berjaga di dekat pintu gerbang.
"Ada apa?"
"Lakukan sesuatu, bakar... bakar mobil boneka kaktus genit itu!"
"Mobil siapa?" tanya Ted bingung.
"Itu Rachel Kelana. Bakar mobilnya dengan cara apapun. Kamu pandai dalam hal ini, mereka punya niat menggunduli nona Bella. Lakukan dalam satu menit! oke!" kata Rara.
Ted yang mengepalkan tangannya karena tak terima dengan perbuatan Rachel. Langsung mengangguk cepat dan berjalan ke arah mobil Rachel.
Sementara Rara berlari lagi ke dalam rumah. Ted mengeluarkan ponselnya dan menyabotasee semua kamera pengawas yang ada di luar rumah.
Ted mendekati mobil itu. Ted tidak perlu benar-benar menyentuh mobil itu. Dia berdiri beberapa meter dari kendaraan listrik milik Rachel, mobil mahal berwarna hitam mengilap yang terparkir rapi di area pekarangan rumah kediaman Alexander yang sepi.
Lampu indikatornya berkedip lembut, menandakan sistem masih aktif dalam mode siaga. Di tangannya, ponsel dengan aplikasi terlarang itu sudah terbuka.
Layar ponselnya menjadi gelap, dan hanya terlihat garis-garis tipis seperti peta saraf mulai bergerak pelan. Device detected, Ted menyeringai tipis.
"Ini akibat mengusik nona kami!" gumamnya pelan.
Pria itu mendekat satu langkah. Cukup dekat untuk membuat sinyal sinkronisasi bekerja. Mobil itu tiba-tiba merespons, lampu hazard berkedip sekali, seolah menyapa. Sistemnya mengira ponsel Ted adalah perangkat resmi yang terhubung.
Padahal, itu adalah pintu masuk. Di layar, muncul struktur sistem mobil, baterai utama, modul distribusi daya, pendingin, hingga jalur kelistrikan kecil yang hampir tak pernah disentuh pengguna biasa.
Ted menekan satu menu lagi bertuliskan 'Manual Energy Routing'. Di dalam mobil Rachel, sistem mulai berubah.
Aliran listrik yang biasanya diatur ketat oleh komputer mulai menerima perintah alternatif. Aplikasi itu tidak merusak langsung, dia hanya mengirimkan data palsu, membuat sistem berpikir bahwa beberapa komponen membutuhkan daya lebih besar secara bersamaan.
Pendingin baterai dipaksa bekerja maksimal.
Pemanas internal aktif tanpa alasan.
Sirkuit tertentu menerima lonjakan arus kecil, lalu bertambah, lalu bertambah lagi.
Ted memperhatikan dengan tenang.
Dia tahu, ini bukan soal kecepatan. Ini soal tekanan. Beberapa menit berlalu.
Tidak ada ledakan. Tidak ada percikan.
Hanya proses yang perlahan tapi pasti.
Di layar ponsel terlihat tulisan 'Load imbalance increasing' dan di dalam mobil, suhu mulai naik.
Sistem pengaman mencoba menstabilkan, mengurangi arus, memutus jalur tertentu. Ya, karena itu adalah mobil mahal, tentu saja ada modul seperti itu.
Namun aplikasi itu langsung mengoreksi keputusan tersebut. Lampu dashboard di dalam mobil menyala sendiri, lalu mati. Lalu menyala lagi. Sistem mulai kebingungan. Perintah asli dan perintah palsu saling bertabrakan. Dan di tengah kekacauan itu Ted tidak perlu lagi mengawasi apa yang akan terjadi. Kepulan asap terlihat mulai mengepul dari kap mobil bagian depan.
Senyum Ted menyeringai.
"Rasakan!" gumamnya lalu meninggalkan tempat itu dan mengembalikan kamera pengawas ke keadaan normal.
Sementara itu di teras samping, Desy sudah memegang kedua lengan Bella. Sedangkan Rachel sudah menarik rambut bagian depan Bella, dan akan mengguntingnya dengan jarak hanya lima centimeter saja dari kepala Bella.
Bella yang berusaha mengelak, menarik kepalanya menjauh dari gunting itu.
Krekk
Sayangnya tetap saja rambutnya terpotong beberapa helai. Cukup banyak bahkan.
"Dasar murahann! hehh..." Rachel kesal, karena dia hanya berhasil memotong sebatas bahu.
"Aku akan pegang kepalanya!"
"Lepaskan aku!" pekik Bella berusaha melepaskan diri.
"Agkkhhhh, tolong! kebakaran!"
"Kebakaran!"
Rara berteriak di teras samping itu, dan langsung mendekati Rachel, lalu menarik gunting yang ada di tangan Rachel.
Rara membuang gunting itu ke semak-semak.
"Apa-apaan kamu ini!" pekin Desy.
"Nona, Nona... gawat!"
Rara berusaha mengulur waktu, setelah dia berhasil mengambil gunting dari tangan Rachel.
Rachel yang ditarik oleh Rara menjauh dari Bella menjadi kesal.
"Heh, pelayan kurang ajar. Aku akan beri kamu pelajaran...!"
Rachel sudah mengangkat tangannya, hendak memukul Rara. Tapi Rara langsung menangkap tangan Rachel itu.
"Kurang ajar, berani kamu...!"
"Heh, marah-marah melulu! dengarkan dulu!"
Sementara itu, Bella juga berusaha melepaskan dirinya dari Desy yang mulai memperhatikan percakapan antara Rara dan Rachel.
"Kebakaran! mobilmu terbakar!" akhirnya Rara bicara setelah melihat Bella menjauh dari Desy.
"Mana mungkin, dimana para penjaga?" pekik Desy yang tentu saja tidak terima.
"Mobilku?"
"Iya nona, mobil nona Rachel. Cepat!" kata Rara menarik tangan Rachel.
Tapi Rara sengaja menarik dengan cepat, seolah mau menjatuhkan. Jadi Rachel segera menepis tangan Rara.
"Singkirkan tangan kotormu!" pekik Rachel.
Bella menghela nafas panjang, dia melihat segenggam rambutnya yang sudah ada di lantai teras itu. Bahunya naik perlahan, tapi kemudian dia hanya menggenggam rambut itu bersamanya.
"Non, non Bella. Ini kenapa rambutnya?" tanya bibi Okta yang memang baru keluar dari gudang karena Vivian minta bibi Okta merapikan gudang.
Bella menggelengkan kepalanya perlahan.
"Tidak apa-apa Bi!"
"Ada apa ini?" tanya Vivian yang keluar dari kamarnya karena mendengar keributan.
Bella tidak menjawab, karena dia tahu, setiap kata yang keluar dari mulutnya, akan selalu salah di telinga ibu mertuanya itu.
Vivian juga tidak menunggu. Dia segera pergi ke halaman depan.
Dan di depan, para penjaga sudah menyemprotkan alat pemadam api ringan ke mobil Rachel yang jelas sudah terbakar bagian depannya.
"Agkkhhhh! kok bisa begini?" pekik Rachel bingung, "katakan padaku siapa yang melakukan semua ini? kemana semua penjaga?" tanya Rachel.
"Maaf nona, kami ada di pos. Tidak ada suara ledakan, hanya tiba-tiba asap mengepul dan kami langsung berlari mengambil alat pemadam kebakaran!"
"Iya nona!"
"Iya benar, mereka langsung berlarian tadi. Makanya aku langsung panggil nona!" sambar Rara supaya terlihat meyakinkan.
"Ada apa?"
"Tante lihat itu!" kata Rachel mengadu.
"Periksa rekaman kamera pengawas, cepat!" pekik Vivian.
Ted segera menganggukkan kepalanya.
"Baik nyonya!" katanya yang langsung berlari ke arah ruangan operator cctv.
Rara menoleh ke arah Ted ketika pria itu kembali. Satu kedipan mata dari Ted, membuat Rafa yakin kalau semuanya sudah terkendali.
"Ini nyonya!" kata Ted memperlihatkan sebuah tab pada Vivian.
Vivian bingung, tidak ada apapun. Tapi memang tiba-tiba ada asap.
"Kenapa bisa begini?"
"Mobil listrik jenis ini sedikit istimewa, nyonya. Harganya sangat mahal, perawatannya juga harus hati-hati. Tidak bisa di parkir di tempat yang terlalu panas" jawab Ted beralasan.
"Mobilku!" keluh Rachel.
"Masa iya hanya karena panas?" gumam Desy.
Namun tiba-tiba saja Rara nyeletuk.
"Hah, aku tahu. Mungkin nona Rachel kena azab, kan nona Rachel mau jahatin nona Bella. Akhirnya kena azab deh!" celetuk Rara sengaja.
"Diam!"
***
Bersambung...
Author, boleh ngamuk gak, sama suami & keluarga nya..?
Karena menurut ku keluarga suaminya ada gila²nya.. 🤭
Pengen aja jadi psikopat jika di posisi si Bella..
Biar di babat habis mereka semua.. 🤭
mudah mudahan ada penolong 🤲
mimpi aja kamu Leo 🤭
Nicklas
niklas🙈