menceritakan tentang perjalanan seorang wanita yang mencari cinta sejatinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Elita Septiyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
hadiah
"Ya ampun, Zak! Ternyata kantormu semegah ini? Gedungnya tinggi sekali, mengkilap semua kacanya," ujar Ibu sambil menatap sekeliling lobi dengan mulut setengah terbuka.
Beliau berdecak kagum, tangannya yang mulai keriput sesekali menyen-tuh pilar marmer yang dingin, seolah sedang mengagumi har-ta miliknya sendiri. Wajahnya yang tadi pagi murung di kontrakan, kini berubah cerah, penuh kebanggaan yang salah tempat.
"Benar, Bu. Lihat saja seragam orang-orang di sini, semuanya rapi," Mbak Yuli menimpali, matanya sibuk memindai setiap sudut ruangan.
"Arini pasti menyesal setengah ma-ti kalau tahu suaminya bekerja di tempat seme-wah ini. Dia pikir dia saja yang hebat bisa punya rumah besar? Zaky juga punya kantor yang jauh lebih keren!"
Aku berdiri di depan mereka dengan perasaan yang han-cur berkeping-keping. Kata-kata mereka terasa seperti semb-ilu yang meny-a-yat lu-ka yang baru saja ditorehkan Arini beberapa menit lalu di lantai atas.
Mereka tidak tahu bahwa "wanita yang pasti menyesal" itu baru saja memperma-lukanku di depan semua orang dan kini sedang duduk di ruang audit sebagai sosok yang ditakuti oleh manajer HRD sekalipun.
"Bu, Mbak, kenapa datang ke sini?" tanyaku dengan suara rendah, mencoba meredam kegelisahan yang mulai memu-ncak.
"Ini jam kerja. Apa kalian tidak tahu kalau bos besar bisa lihat? Aku bisa kena masalah kalau membawa keluarga masuk ke lobi seperti ini."
Aku melirik ke arah resepsionis. Dua orang staf wanita di sana sedang berbisik-bisik sambil mencu-ri pandang ke arah daster batik Ibu yang ditutupi jaket seadanya dan penampilan Mbak Yuli yang menco-lok.
"Halah, Bosmu mana mungkin marah lihat Ibu manajernya datang," sahut Ibu enteng.
"Lagi pula, siapa yang mau melarang Ibu masuk?"
"Lalu siapa yang mengantar kalian ke sini? Kenapa tahu alamatnya?" tanyaku lagi, mencoba mencari sisa-sisa kewarasanku.
Ibu menunjuk ke arah teras lobi melalui dinding kaca transparan. Di sana, Roni berdiri mematung.
Begitu mata kami bertemu, Roni segera menangkupkan kedua tangannya di depan da-da, sebuah gestur meminta maaf.
Wajahnya menunjukkan keterpak-saan yang mendalam; jelas sekali dia tidak punya pilihan selain menuruti kemauan Ibu dan Mbak Yuli yang ker-as kepala.
Aku mengembuskan napas berat. Tentu saja Roni tahu.
Dia adikku, dan meski dia kuliah di kampung, dia sering menginap di rumahku saat libur semester.
Mencari alamat kantor ini bukan hal sulit baginya.
"Sekarang katakan, kenapa Ibu sampai nekat ke kantor?"
iya saya mau membawakan bekal makanan untuk anak saya dan air putihnya tertinggal tidak dibawa
setelah pekerjaan yang melelahkan ibu dan bapak mengatakan sesuatu karena pencapaian kita membelikan tiket hajji bersama keluarga 👨👦👧👩👴👵
Roni: " serius pak? "
Bpak:" iya serius "
Ini kalian saja namun ada syarat sih, puasa kalian bagaimana? sholat 5 waktu nya bagaimana?
Roni:" baiklah "
Lancar pak, bu
"Masih harus sembah sujud ke cewek itu?" Yang dimaksud adalah ibu.
makasih pak, bu
yuli yang sedang menyeruput Energen rasa kurma. Perempuan penyuka buah kurma, bukan hanya itu saja karena roni dan lika juga suka dengan warna ungu muda.
Seperti kemasan Energen. "Padahal dia lahap banget makan sogokan dari lo."
roni meringis. "Yang penting nggak nyuruh gue tidur di luar, masih tergolong aman, Mas."
"Iya juga," balas Yuda berbisik. Keduanya bisik-bisik dalam membicarakan seseorang yang tergolong ada di depan mereka.
Herannya, Lika tidak akan peduli dengan sekitarnya kalau sedang makan kurma. "Dia kok bisa suka banget sama kurma.
Rasanya aneh, alot juga." Lalu desing AC yang membelai lengan terbuka Yuda membuat si empunya menggigil saat di kamar tidur grup hajji.
"Gila banget itu cewek kalau ngambek nggak kira-kira. Di luar hujan, di dalam makin dibuat dingin. Kok betah sih di kamar sedingin ini? Penyebabnya apa sampai adek gue tantrum nggak berkesudahan gitu?"
Pluk!
Biji kurma mengenai kening Yuda membuat pria itu berdesis jijik.
Menyentuh keningnya yang basah. "Jorok banget sih !" makinya, tidak lagi dengan panggilan yang lembut dan sopan kalau tidak ada orang tua.
"Gue loh yang suruh bawain paket kurma ke kamar. Minimal makasih gitu buat tahu diri."
Namun, Lika tidak peduli. Membiarkan ember kurma tidak ditutup, kemudian menarik selimut sampai sebatas leher. Lika memejamkan mata seraya berkata, "Tolong usir tamunya karena gue mau istirahat. Capek banget, bayi nggak boleh begadang."
"Adek sialan!"
"IYA. Muka nggak usah sok nelangsa gitu deh. Jinakin dulu tuh istri yang begajulan. lagi ibadah Tentunyaperilaku dijaga dengan tata krama kedisplinan.
roni mengantar kakak iparnya sampai ke depan pintu kamar. Mengunci pintunya lalu membereskan sisa makanan di atas selimut.
Suara napasnya yang mendengkur lirih membawa senyum tipis . karena bahagia mendapat hadiah istimewa dari bapak dan ibu