NovelToon NovelToon
TUNANGAN PALSU

TUNANGAN PALSU

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:663
Nilai: 5
Nama Author: AlinaKS

Hanya karena sebuah kecelakaan, Sophia terjebak dengan Damian -- pria kaya, dingin, arogan, dan sangat posesif.

Damian memaksa Sophia menjadi tunangan palsunya demi kepentingan keluarga. Sebagai gantinya, utang besar Sophia akan dianggap lunas.

Awalnya Sophia pikir itu hanya sandiwara sementara.

Sampai Damian mulai ikut campur dalam hidupnya. Mengatur siapa yang boleh dekat dengannya. Dan perlahan memperlakukannya seperti miliknya sendiri.

“Kalau sudah tahu tidak bisa kabur… berhentilah melawan.”

Di saat Sophia mulai kehilangan kendali atas hidupnya, Arkan -- pria yang selama ini selalu ada untuknya, justru menyimpan rahasia yang menghancurkan semuanya.

Kini Sophia terjebak di antara pria yang terlalu ingin memilikinya… dan pria yang tak pernah benar-benar bisa ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tunangan Palsu - Chapter 12

Happy Reading Guys!

_____

Saat Arkan hendak mendekat lebih jauh ....

Tok tok tok!

Suara ketukan pintu mendadak terdengar dari luar.

Sophia langsung tersadar. Ia buru-buru menjauh. Jelas ia merasa canggung, tapi mencoba menghiraukannya.

Arkan juga mundur beberapa langkah.

Dengan ragu Sophia membuka pintu sedikit. Saat tahu siapa yang berdiri di sana, wajahnya langsung berubah masam.

Jack tersenyum ramah di depan pintu. Ingatan Sophia langsung kembali pada ancaman Damian kemarin.

Kalau ia tidak melunasi utangnya hari ini, lelaki itu benar-benar akan menyeretnya ke pengadilan.

“Saya datang menyampaikan pesan Tuan Damian,” ujar Jack hati-hati. “Apa Nona Sophia sudah menyiapkan uangnya?”

Sophia langsung menutup pintu di depan wajahnya.

Brak!

Bahkan ia tidak peduli ketika Arkan bertanya siapa yang datang.

Sophia berjalan cepat menuju meja kecil di sudut ruangan, mengambil dompet dan kartu tabungannya. Tangannya sempat berhenti saat melihat celengan ayam kecil di sana.

Tatapannya berubah ragu.

Arkan yang menyadari benda itu penting langsung mencoba menahannya.

“Sophia, kau tidak perlu ....”

Namun sebelum sempat menyelesaikan ucapannya, Sophia sudah membuka pintu lagi.

Dalam celah pintu itu, Arkan sempat melihat siluet seseorang yang sangat ia kenal. Wajahnya langsung berubah. Tanpa pikir panjang ia mundur ke sudut ruangan, menyembunyikan dirinya agar tidak terlihat.

Sementara itu, Sophia menyerahkan seluruh barang di tangannya pada Jack dengan wajah dingin.

“Ini semua tabunganku.”

Jack tampak terkejut menerima benda-benda itu, terutama celengan ayam kecil yang ikut disodorkan padanya.

Sophia melanjutkan dengan nada penuh emosi.

“Sisanya akan kubayar pakai gajiku.”

Ia menatap Jack tajam.

“Kalau bosmu masih belum puas juga, bilang padanya aku akan menjual ginjalku besok pagi!”

Brak!

Pintu langsung ditutup keras.

Ruangan apartemen kembali sunyi.

Sophia bersandar lemah di pintu beberapa detik sebelum melihat Arkan keluar dari persembunyiannya.

Tatapan lelaki itu dipenuhi rasa iba. Tanpa banyak bicara, Arkan mendekat lalu menarik Sophia ke dalam pelukannya. Kali ini Sophia tidak menolak.

Ia membiarkan kepalanya tenggelam di dada bidang lelaki itu, menikmati kehangatan yang selama ini selalu membuatnya merasa aman.

“Aku akan memberimu uang lebih setiap bulan,” bisik Arkan pelan. “Sekarang penghasilanku lebih dari cukup. Aku akan memastikan kau tidak kekurangan apa pun.”

Sophia memejamkan mata.

“Sampai kapan?”

Arkan sedikit terdiam.

Sophia perlahan melepaskan pelukan itu lalu menatap lelaki di depannya lekat-lekat.

“Kenapa kau menghindari Asisten Damian tadi?” tanya Sophia lirih. "Apa kau menyembunyikan sesuatu? Arkan, kau mempertanyakan perasaanku tadi. Tapi kau sendiri membuatku ragu."

Arkan memegang kedua pipi Sophia.

“Aku tidak bisa bersamamu di hadapan umum,” katanya pelan. “Tapi aku janji akan tetap berada di sampingmu.”

Sophia tertawa kecil. Tawa yang terdengar begitu pahit.

“Apa aku ini selingkuhanmu?” tanyanya miris. “Kenapa ucapanmu terdengar seperti kau sedang menyembunyikanku di suatu tempat… lalu akan datang mengambilku kapan pun kau mau?”

Wajah Arkan berubah kaku.

“Hidupku sudah cukup rumit,” lanjut Sophia lelah. “Kalau kau memang tidak serius… jangan memberiku harapan dengan omong kosong.”

Sophia berbalik hendak pergi. Namun Arkan buru-buru menahan tangannya.

“Apa kau memercayaiku?” tanyanya pelan.

Sophia menoleh. Tatapannya kosong dan lelah.

“Percaya apa?”

_____

Di ruangan Damian, suasana terasa dingin menekan.

Jack berjalan masuk dengan langkah hati-hati sebelum meletakkan seluruh barang milik Sophia di atas meja kerja bosnya.

Wajah Damian terlihat sangat buruk.

Sorot matanya tajam dan penuh kekesalan, seolah siap melampiaskan amarah pada siapa saja yang berani mengganggunya.

“Mungkin Nona Sophia sedang tidak baik-baik saja,” ujar Jack mencoba meredakan situasi. “Jadi dia belum bisa berpikir jernih.”

Jack ragu sesaat sebelum melanjutkan,

“Mungkin Tuan sebaiknya menemui dan menjelaskan semuanya baik-baik kalau Tuan memang ingin hubungan yang lebih serius.”

Damian langsung menatapnya dingin.

“Apa aku terlihat seperti pria yang akan mengiba pada seseorang?”

Jack langsung menunduk.

“Maaf, Tuan.”

“Aku akan membujuknya lagi,” lanjut Jack cepat.

Damian mendecakkan lidah malas. Ia tidak tertarik menanggapi lebih jauh. Kini, tatapannya beralih pada barang-barang di atas meja.

Dompet.

Kartu tabungan.

Dan ....

Celengan ayam kecil berwarna kusam.

Damian mengangkat alis.

Dengan ragu ia mengambil benda itu lalu menggoyangkannya pelan.

Kresek… kresek…

Masih ada banyak uang di dalamnya.

Damian bahkan sampai mengintip ke lubang kecil di atas celengan itu dan melihat lembaran-lembaran uang terlipat di dalamnya. Sudut bibirnya terangkat mengejek.

“Apa dia mencoba membayar kerusakan mobilku dengan recehan seperti ini?”

Ia meletakkan kembali celengan itu di atas meja. Namun, beberapa detik kemudian, matanya kembali tertuju pada benda tersebut. Aneh. Ia tahu Sophia perhitungan soal uang, tetapi mempertahankan celengan busuk ini agak berlebihan.

Apa celengan ini penting?

Jack yang berdiri di samping meja tiba-tiba membuka suara pelan.

“Nona Sophia juga bilang ... kalau Tuan masih mau membahas soal bayaran mobil, dia akan menjual ginjalnya besok pagi.”

Damian langsung menoleh.

Wajahnya menggelap.

Namun beberapa detik kemudian lelaki itu malah tertawa rendah penuh ejekan.

“Kalau begitu,” katanya dingin, “kenapa dia tidak menjual tubuhnya saja padaku?”

Tatapannya tajam menatap celengan ayam itu.

“Aku bisa membelinya dengan harga yang pantas.”

B e r s a m b u n g ....

Jangan lupa tinggalkan jejak, yah. Makasih (⁠◕⁠ᴗ⁠◕⁠✿⁠)

1
falea sezi
mending ma Damian 🤣 dripada si goblok arkan kayaknya Sintia licik bgt ini jalang🤣
falea sezi
jangan mau sopii🤣 ada yg singgle. kok milih jd pelakor
Rumia Dell: Sopii food kah😭
total 1 replies
falea sezi
klo ma arkan pasti di nanti sintya ge recokin
falea sezi
ini mah bukan hemat tp medit buat diri sendiri😒
Rumia Dell: Gak boleh gitu, demi rumah impian 🤣
total 1 replies
Juli Rosan
keren
Rumia Dell: Ikutin terus ceritanya yah😍
total 1 replies
Dede Kurniawan
Seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!