Semua bermula saat regu berjumlah enam anggota mahasiswa hendak bertolak ke sebuah perkampungan pelosok demi tugas KKN, mereka menolak ikut rombongan bus kampus, memilih menaiki mobil pribadi.
Sampai pertengahan jalan, sang sopir berbelok arah, mencari jalur alternatif agar cepat sampai tujuan, tapi malah memasuki wilayah tidak terdaftar pada peta digital maupun konvensional.
Keanehan, kejanggalan mulai terjadi kala sang waktu merambat memasuki malam hari. Langit berangsur-angsur berubah warna layaknya api menyala.
Ada apa sebenarnya? lantas bagaimana dengan nasib para mahasiswa, termasuk Candra Kanti, gadis pendiam yang dapat merasakan aura mistis disekitarnya ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cara kehilangan paling keji : 31
Kanti menunggu beberapa saat, tidak ada tanda-tanda kehadiran jiwa Mayang, lalu ia teringat kalimat pada saat ditarik, dibawa lari ke gubuk berseberangan dengan rumah mbah Munah – tempatku disini, gak bisa kemana-mana lagi.
‘Apa mungkin jiwa Mayang terperangkap disana, tempat dia meninggal dunia?’ Kanti hendak memejamkan mata, tapi urung kala mau meminta bantuan Nyai.
Sang pelindung bukanlah sosok yang bisa dimanfaatkan sesuka hati. Nyai hanya akan menampakkan wujud apabila Kanti berada dalam bahaya kategori serius.
Masih dengan menahan ketakutan luar biasa, Aya beranjak. Tubuhnya gemetaran, tapi dia ingin menjadi berguna, tidak menyusahkan saja bisanya. “Apa yang mau digeledah lagi?”
Kanti menatap nanar pada gadis berwajah pucat, air mata berlinang, suara bergetar. “Setiap tempat.”
Aji dan Sambara pun memaksakan diri, kendati masih diliputi kengerian. Mereka merangkak menyusuri lantai sambil mengetuk permukaan tanah menggunakan ujung parang.
Mata awas Kanti menyipit, lalu dia berhenti melangkah, berdiri di dinding tanah lempung kering. “Kenapa temboknya lain sendiri?”
Kanti berlutut, badannya seperti orang bersujud. Diperhatikan permukaan tanah lebih tinggi dari lantai yang lain. Sesuatu keluar dari dalam celah, kalau tidak diperhatikan saksama, maka tak tampak.
“Ada asap keluar dari situ!” serunya pelan, masih dengan mata tertuju pada gumpalan warna putih berbau kering, menyengat.
Ketiga temannya mendekat, ikut berjongkok di sebelah Kanti. Awalnya mereka tidak melihat asap lembut, tapi lama-kelamaan tampak.
“Sepertinya ini bukan dinding tembok, melainkan sebuah pintu terhubung ruangan,” terka Aji.
“Tunggu.” Kanti berlutut, mencoba menggali ingatan. “Bukankah rumah ini pada bagian atap memiliki cerobong asap?”
“Kamu benar. Aku pernah lihat sewaktu jalan-jalan bareng pak Aan,” jawab Sambara, membenarkan praduga Kanti. Terkadang dia bisa berbicara formal, tapi lebih banyak memakai aksen kota.
Kanti langsung beraksi, mendorong alat slumbat kelapa. Ujung tipis itu berhasil masuk sebagian. “Ini sebuah ruangan yang bisa jadi tempat … pengawetan jasad manusia. Cari handle pintu atau apapun itu!”
Hampir bersamaan mereka berdiri, meraba permukaan tanah lempung coklat kemerahan terasa dingin.
“Ini apa yang keras?” Aya berbisik. Telapak tangannya menekan sesuatu bertekstur beda dari tanah, lebih padat.
“Biar kulihat!” Kanti dan Aya berganti posisi. Tanpa ragu menusuk celah seperti garis retak tanah.
Dug!
“Terbuat dari besi.” Ia terus mencungkil sampai tanah keras retak dan terjatuh.
Ternyata ada benda seperti penutup tangki bahan bakar mobil. Pelan-pelan dibukanya, sebuah tuas mengarah ke atas dengan ujung warna hitam.
“Gimana kalau ini jebakan, semisal gitu tuas itu kita turunkan, tiba-tiba ruangan ini jadi tempat perangkap seperti yang sering aku lihat di film aksi luar negeri?” pikiran Aya sudah menjelajahi benua.
“Terus coba kamu bayangkan, kita sudah sampai sini. Apa bisa setengah-setengah dalam bertindak? Gimana kalau sewaktu-waktu rasa penasaran gak tuntas, ingin melakukan hal sama lagi, tapi belum tentu memiliki kesempatan langka kayak sekarang? Siapa tahu ada sesuatu bisa dijadikan alat untuk perlindungan diri,” balas Kanti berargumen.
Ahwaya pun menyerah, dia mundur sedikit. Matanya bergerak liar takut ada ranjau jeruji besi lancip tiba-tiba jatuh dari atas kepala atau keluar dari dalam tanah.
Sambil menahan napas, Kanti menurunkan tuas terasa berat. Jangan tanya bagaimana ritme jantungnya.
Aji dan Sambara bisa mendengar detak jantung mereka, suara napas memburu, badan menegang.
Kriettt ….
Bunyi tunggal lumayan panjang itu menambah rasa takut, dan detak tanda alat vital berpacu kencang.
Dari samping dinding tanah, sesuatu bergerak pelan, lalu menciptakan celah lalu asap keluar lebih banyak lagi sampai keempat mahasiswa bergeser sedikit. Hidung mereka sensitif terhadap bau menyengat.
Pintu terdorong ke dalam, tidak cukup lebar untuk dilewati orang. Cahaya kemerahan menyembul membayang pada penerangan suram.
“Masuk kita ini?” pertanyaan Aya, lebih ke meyakinkan diri sendiri.
Aji mengangguk. Menggunakan ujung parang, didorongnya pintu agar terbuka lebih lebar.
Lagi-lagi Kanti memberanikan diri, mendahului para temannya. Belum apa-apa kepalanya mulai pusing, perut bergejolak.
Akhhh!
Jeritan Kanti ditanggapi pekikan Aya, padahal dia belum masuk, masih bersama Sambara dan Aji berdiri di batas pintu, bagian dalam tertutupi badan Candra Kanti.
Tubuh Kanti oleng, menabrak pintu sampai terhempas menghantam dinding. Rautnya pias, buliran keringat membasahi wajah.
“Astaga!” Aji yang baru saja mau menolong Kanti, terpaku dengan tatapan mata membulat besar. Kakinya seperti ditancap paku ke tanah.
“Apa? Kenapa?” Sambara masuk, langsung menjambak rambutnya, sebelah tangan mencengkram angin.
Aya yang takut tapi kalah oleh rasa penasaran, melesak masuk dengan mendorong punggung kekasihnya. Pertama yang dia lihat – empat dandang (panci) tinggi besar tengah dimasak dengan api kecil. Dari sela-sela tungku terbuat dari batu membentuk huruf U terbalik, keluar asap membumbung tinggi.
Pandangan Aya mengikuti asap, lalu tertahan oleh dinding batu bata bewarna kehitaman, kemudian sampai pada sesuatu membuatnya histeris. “MAYANG! Mayang! Ma _ yang ….”
Tubuh Aya rubuh, dia jatuh pingsan di dekat perapian yang sengaja di setting kecil nyalanya supaya lebih banyak asap keluar.
Kanti merosot, bersandar pada pintu. Netranya basah, memerah, memandang sebuah kepala ditahan alat gancu pada bagian rongga tenggorokan, digantung tepat diatas dandang. Dia adalah Mayang, gadis berambut panjang yang sedang diawetkan menggunakan metode pengasapan (smoking).
Bukan cuma kepala tanpa badan. Ada juga sepasang kaki terpisah, tangan sebelah kanan, bagian badannya sudah tidak ada. Alat vital juga hilang. Daging Mayang digantung di atas perapian.
Asap tidak hanya membantu mengeringkan daging, tetapi senyawa kimia dari asap juga berfungsi sebagai antimikroba alami yang mencegah pembusukan.
“Kalian sebenernya ngapain?” terdengar suara gerutuan cukup keras, lalu langkah kaki mendekati keempat sosok terduduk dengan badan lemas, salah satu dari mereka terbaring di atas tanah.
“Pada budeg ya kalian?!” Abeer yang tidak sabaran berjaga di luar, memilih masuk sebentar ke dalam dapur, bertujuan memeriksa keadaan temannya.
“Kalian kenapa?” tanyanya heran melihat kondisi Sambara dan lainnya.
Abeer kepalang penasaran, melesak maju, memperhatikan langkah kaki agar tidak menginjak tangan temannya. Lalu, kepalanya menengadah, sedetik kemudian napas tertahan, mata terbelalak.
Dia perhatikan lamat-lamat ujung jari kaki, tangan yang mengeluarkan minyak lemak menetes ke bawah.
Napasnya tersengal-sengal, perasaan tidak karuan, ada sesuatu tak kasat mata menusuk-nusuk ulu hatinya. Kala melihat rambut terurai, lalu sebuah kepala yang bagian wajah terpampang menghadap ke arahnya, ia pun memekik tertahan.
“Ma_ yang, saya … ng. MAYANG!” Abeer mengepalkan kedua tangan, membungkuk meremas lutut demi meluapkan rasa sakit, perasaan sulit dikendalikan.
Tangis mereka bersahutan, sama-sama shock dan merasa kehilangan dengan cara paling menyakitkan.
Kulit wajah dan bagian tubuh Mayang mulai mengerut, lemak minyak menetes pelan di atas dandang, pinggiran tungku.
‘Bergeraklah! Bergegas tuntaskan apa yang ingin kau lakukan, Candra Kanti! Tak ada waktu lagi! Mereka mulai mengendus keistimewaan mu!’
.
.
Bersambung.
ngk rela Kanti sampai nikah SMA aksata
baru baca lg karya kak cublik yg ini, saking sibuk'y d dunia nyata
tapi...ada seseorang yg bisa nolong kanti....CUBLIK...lah orangnya
KAK CUB..please jangan sama set-an sesat ya
jahat banget..
kanti..ayo usaha..
ga rela kl.kanti pasangan sm harimau
berharap aya,pacarnya, ember ,aji bisa ingat lagi
siapa yg hapus ingatan mereka ber 3?
duh aku ko ya sebel banget sama aksata🙈
mereka bingung dengan perasaan mereka sendiri, merasakan sedih, kehilangan, dan menyayangi tanpa tau sebabnya.
kaya orang linglung