"Aku akan menanggung semua kebencian di dunia ini sendirian."
Kalimat itu lahir saat dadamu ditembus cahaya.
Duniaku runtuh seketika tanpa suara,
Meninggalkan kepal tangan yang mengutuk semesta.
Kau adalah detak jantung dari raga yang pincang,
Satu-satunya alasan bagi sepasang kaki untuk pulang.
Kini, kau terbujur kaku di bawah langit yang menghitam,
Membuat seluruh kenyataan ini tak lagi berarti untuk dipandang.
Dunia yang membiarkanmu mati adalah dunia yang salah,
Maka biarlah sejarah kukoyak hingga menyerah.
Aku akan membangun surga di atas puing yang bersimbah,
Tempat di mana bayangmu tak akan pernah lagi berdarah.
Dunia sihir ini tidak akan bisa dihancurkan hanya dengan kegelapan yang ada di dalamnya. Sebelum mencapai tahap kedua di mana dunia terbebas dari siklus kebencian, seseorang harus menjadi target bagi dunia.
"Seseorang harus memikul semua rasa sakit dan dendam itu sendirian, dan akulah orangnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilfar Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14 - Negeri Ras Elf, Kerajaan Slyph.
Perjalanan menuju Kerajaan Slyph menempuh waktu sekitar satu harian penuh. Dalam perjalanan, Ashura banyak mengobrol dengan Magus Magnus tentang kekuatan Roh Es yang bersemayam di dalam dirinya.
Mereka semua melakukan perjalanan yang cukup santai, karena berada di dalam Sihir Kastil Tanah milik Thorin Earthborn yang ada diatas tubuh Phoenix Api dan merupakan familiar milik Magus Magnus.
Melihat Ashura yang terobsesi akan dendam, Magus Magnus menyadari betapa hancur mental anak itu. Dunia ini terlalu kejam untuk seorang Ashura yang berniat mencari jati dirinya.
"Aku akan membuatmu menjadi lebih kuat, Ashura. Aku berjanji." Magus Magnus memegang rambut Ashura dan tersenyum hangat ke arahnya.
"Lepaskan, mulutmu bau minuman keras, Kakek tua!" Ashura mendengus kesal karena Magus Magnus memperlakukannya seperti anak kecil.
Magus Magnus mengalihkan pandangannya ke luar jendela dan melihat pemandangan di luar, disana ia melihat lautan awan dan keindahannya.
"Kita tidak bisa memilih lahir dari keluarga yang seperti apa ya? Pasti menyakitkan bagimu untuk bertahan hidup selama ini ya, Ashura?" ucap Magus Magnus lirih dan genangan air mata terlihat di kedua bola matanya.
Thorin yang sedang mengobrol bersama Onyx dan Serlin langsung menoleh ke arah Magus Magnus.
"Kakek Magnus minum terlalu banyak, sepertinya dia mabuk lagi." Thorin menghela nafas dan memberi tanda pada Yuna agar menyimpan botol minuman milik Magus Magnus.
"Baik, Tuan Thorin." Yuna pun menyembunyikan minuman keras milik Magus Magnus.
Disana terlihat Magus Magnus yang kembali mengatakan sesuatu kepada Ashura.
"Ashura, jika orang tua seperti kami tidak memiliki ambisi bodoh dan tidak melakukan kesalahan, mungkin tidak akan ada orang sepertimu dan anak Flameheart itu."
Ucapan Magus Magnus membuat Ashura terpancing, yang awalnya Ashura memilih diam karena mengetahui Magus Magnus berbicara ngelantur, tetapi mendengar ucapan yang barusan kakek tua katakan membuat Ashura menanggapinya.
"Apa maksudmu, Kakek? Apa sebenarnya maksud dari perkataamu itu? Apa kau mabuk?" ujar Ashura dengan tatapan sinisnya.
"Ya, sepertinya aku minum terlalu banyak. Maafkan aku..." Magus Magnus memeluk Ashura dan pergi menuju ruangan kosong di kastil untuk membaringkan tubuhnya.
"Apa-apaan, Kakek tua itu? Dia mengoceh kan hal yang tidak jelas!" Ashura mendengus kesal dan ikut bergabung bersama Serlin.
Di dalam ruangannya, Magus Magnus meratapi penyesalannya karena gagal menghentikan anaknya. Mungkin ia telah hidup lama, namun penyesalannya terbawa sampai ia berumur tua.
Sementara itu Ashura berbicara dengan Serlin mengenai tempat yang akan mereka kunjungi yaitu Kerajaan Sylph. Negeri yang dihuni ras Elf dan dicintai oleh mana, salah satu dari tiga kerajaan yang ada di Benua Maple.
Setelah mereka melewati wilayah paling utara, bernama Flamewind, kastil tua berukuran kecil yang berada di punggung Phoenix Api terus terbang menuju Kerajaan Slyph.
"Kita telah melewati Flamewind. Sekarang kita memasuki wilayah Kerajaan Sylph," ujar Serlin kepada Ashura.
"Ras Elf ya?" Ashura menatap jendela, sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Thorin.
"Ngomong-ngomong Pangeran Thorin adalah seorang Dwarf kan ya? Aku pernah mendengar cerita dari mendiang Kakak perempuanku jika seorang Dwarf memiliki tubuh lebih pendek dari manusia, tapi sepertinya itu tidak terbukti."
Mendengar itu, Pangeran Thorin tertawa renyah.
"Aku paham maksudmu, Ashura. Aku bukanlah keturunan Dwarf murni, karena mendiang ibuku adalah seorang manusia. Dibandingkan Slyph yang hanya dihuni Elf dan Flameheart dihuni manusia, di Earthborn memiliki kondisi yang lebih gelap." Thorin memberitahu namun terlihat enggan menceritakan bagian masa kelam Kerajaan Earthborn.
Tak lama mereka pun sampai di wilayah yang lumayan jauh dari Flamewind, disebuah pulau yang dicintai mana dan konon Elf disana menyebut pulau itu dengan sebutan Pulau Para Peri.
Saat Phoenix Api terbang lebih rendah melewati kabut tipis berwarna kebiruan, sensor mana disekitar langit pulau langsung memberitahu penghuni pulau jika ada orang asing yang datang.
Ashura melangkahkan kakinya dan melihat pemandangan yang asing, dirinya yang berada di atas punggung Phoenix Api terbang melewati pepohonan raksasa yang melengkung alami. Udara disekitar mereka terasa lebih ringan, membawa aroma getah pinus, nektar bunga yang tidak Ashura kenal, dan sensasi mana yang berhembus halus di kulit.
"Hentikan! Mereka bukanlah penyusup! Mereka adalah tamu ku yang datang dari Flameheart dan Earthborn!" sebuah suara terdengar cukup keras dan menggema di luar sana.
"Sebaiknya kita keluar..." Thorin pun melepaskan sihirnya, begitu juga dengan Phoenix Api yang menghilang.
"Sepertinya kita telah sampai ya..." Magus Magnus terlihat menguap saat asap mengelilingi semuanya.
"Selamat datang di Pulau Emberwind, teman lamaku, Magus." suara yang sama kembali terdengar.
Ashura memperhatikan sekitarnya. Asap seperti kabut masih menyelimuti pandangannya dan saat asap itu menghilang secara perlahan. Mereka semua berdiri di atas tanah yang asing dan dihadapan Magus Magnus terlihat sesosok elf berambut putih panjang datang menyambut.
Yang menjadi perhatian Ashura adalah sosok elf itu memiliki telinga runcing yang panjang dan mana disekitarnya terasa sejuk.
Angin pun berhembus saat Magus Magnus dan sosok elf itu berjabat tangan.
"Kau terlihat sangat tua sekarang, Magus..." ucap elf tersebut yang merupakan seorang penjaga Pulau Emberwind.
"Kau masih sama dan terlihat muda, Thranduil." Magus Magnus menjawab dan tersenyum canggung.
"Muda? Apa kau bercanda? Aku sudah memiliki cucu dan umurku lebih tua darimu!"
"Hahaha, Aku dengar itu, kawan lamaku! Jika dirimu telah mempunyai seorang cucu perempuan ya?"
"Ya, dia baru berumur 2 tahun. Dia adalah cucu kesayangan yang kubanggakan."
"Aku turut berdukacita dengan apa yang menimpa anak dan menantumu, Saudaraku," ucap Magus memecah pertemuan mereka.
Penjaga Hutan Emberwind yang bernama Thranduil Emberwind hanya tersenyum kecut dan memegang pundak Magus Magnus.
"Ini sangat berat, Magus. Terimakasih..." Thranduil kemudian tersenyum singkat sebelum mengajak Magus Magnus ke kediaman yang telah disiapkan.
"Kemungkinan Yang Mulia akan datang ke Emberwind sekitar dua hari lagi, jadi aku akan menjelaskan situasi yang terjadi di kerajaan ini." Ekspresi Thranduil berubah menjadi serius.
Magus Magnus menyadari jika telah terjadi sesuatu di Kerajaan Slyph.
Kerajaan yang dicintai mana dan dihuni ras yang abadi ini, memiliki sejarah yang panjang di Benua Maple. Namun kondisi yang terjadi saat ini adalah benih-benih dari masa lalu yang diabaikan.
Magus Magnus dan Thorin Earthborn masuk rumah yang ada di dahan pohon ek yang besar, sedangkan Ashura dan yang lainnya berjaga diluar dan dikelilingi elf yang menatap mereka sinis.
"Ashura, kenapa hanya ada laki-laki yang menyambut kedatangan kita. Aku sangat ingin melihat elf perempuan..." bisik Onyx sambil memperhatikan para penjaga hutan yang bersama mereka.
"Aku tidak peduli dengan itu, tetapi lihatlah pepohonan disini sangat besar sekali..." Ashura justru memandang pepohonan disekitarnya yang terlihat seperti raksasa.
Saat Ashura dan Onyx sedang mengobrol, seorang elf yang membenci kehadiran mereka, melepaskan sihir angin ke arah Ashura dan Onyx.
"Dasar manusia rendahan yang tidak punya rasa malu!" ucap elf tersebut sinis.
Mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan, Onyx menyambut sihir angin yang menuju ke arahnya.
"Apa maksudmu menyerang kami?!" ujar Onyx setelah menghempaskan sihir angin tersebut.
Sekujur tubuh Onyx terlihat diselimuti petir dan itu membuat Ashura cukup terkejut.
"Apa kau tidak sadar apa yang telah dilakukan manusia pada ras kami?!" teriak elf tersebut penuh kemarahan.
"Jika bukan karena perjanjian damai dan peraturan di kerajaan ini, aku akan membunuh kalian disini!"
Tatapan sinis penuh kebencian itu membuat Onyx marah.
"Hentikan, Onyx! Kita berada disini untuk misi perdamaian! Apa kau ingin melanggarnya?!" Serlin menghentikan Onyx.
Namun kekuatan Onyx membuat para elf yang bersama mereka terkejut, saat melihat langit diatas sana tiba-tiba menjadi gelap dan suara gemuruh petir terdengar menggelegar memecah langit siang.
"Onyx, apa kau tidak mendengarkan teguran Kak Serlin?!" Yuna yang terlihat kesal berjalan ke arah Onyx.
BRUK!!!
Dengan satu kali tendangan yang keras, kakinya menendang kaki Onyx, pria itu pun tersungkur di tanah dan mengerang kesakitan.
"Apa yang kau lakukan, bocah-" Belum selesai Onyx berbicara, Yuna sudah menendang perutnya dengan bertenaga.
"Aduh! Ampun! Aku minta maaf!" teriak Onyx kesakitan.
Ashura yang melihat itu tercengang, kemampuan Onyx tidak asing karena ia pernah melihatnya sebelum dirinya diselamatkan Onyx, Serlin dan Yuna.
"Sepertinya ada yang memiliki kemampuan menarik disini..." Sesosok elf yang memperhatikan mereka dari kejauhan tersenyum misterius.
"Mari kita lihat seberapa kuat Nightmare dari Kerajaan Flameheart!"
Babak baru Ashura di Kerajaan Slyph pun dimulai.