NovelToon NovelToon
Romansa Malam Di Jogjakarta

Romansa Malam Di Jogjakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Di tengah guyuran hujan Kota Senja, Arya menemukan lebih dari sekadar buku sejarah di perpustakaan tua—ia bertemu dengan Naya, seorang gadis misterius yang secara tak terduga membuat hatinya berdebar. Pertemuan yang terasa seperti kebetulan itu berubah menjadi awal dari sebuah misteri besar, ketika Arya menemukan foto tua tersembunyi yang mengungkapkan hubungan tak terduga: wajah Naya sangat mirip dengan wanita yang terlihat bersama ibunya, yang menghilang secara misterius setahun lalu tanpa meninggalkan jejak.

Dibakar oleh rasa penasaran dan keinginan untuk menemukan kebenaran di balik hilangnya ibunya, Arya mulai menyelidiki masa lalu keluarga-keluarga besar di kota itu. Semakin ia menggali, semakin ia menyadari bahwa pertemuan dengan Naya bukanlah kebetulan belaka. Di balik ketenangan Kota Senja, tersimpan rahasia kelam, persekutuan tersembunyi, dan kekuatan yang selama ini berusaha ditutup-tutupi. Arya harus berhati-hati, karena setiap langkahnya menuntunnya lebih dekat pada bahaya—dan pada kenyataan yang bisa mengubah seluruh hidupnya selamanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Suara kunci yang berputar di luar pintu perlahan menghilang, berganti dengan keheningan mencekam yang kembali menyelimuti ruang kerja Hendrawan Wijaya. Arya dan Naya masih berdiri terpaku di balik tirai beludru, napas mereka belum sepenuhnya teratur. Udara di ruangan itu terasa pengap, sarat dengan aroma alkohol, tembakau, dan rahasia tua yang busuk.

Naya memejamkan mata erat-erat, mencerna setiap kata yang baru saja didengarnya dari mulut ayahnya sendiri. Rasa sakit di dadanya jauh lebih tajam daripada rasa takut. Selama dua puluh satu tahun hidupnya, ia selalu berpikir ibunya adalah satu-satunya wanita di hati ayahnya. Ia tumbuh dengan kisah bahwa orang tuanya adalah pasangan sejati yang saling mencintai hingga maut memisahkan. Tapi kenyataannya? Ayahnya mencintai wanita lain—ibunya Arya, Dewi. Dan ibunya sendiri, Sari, mungkin hidup dalam bayang-bayang cinta tak terbalas suaminya sepanjang hidupnya.

"Jadi... Ibu menikah dengan Ayah, tapi Ayah tidak pernah mencintainya..." bisik Naya parau, suaranya pecah. Air mata menetes deras lagi, kali ini bukan karena takut, tapi karena hancur. "Semua cerita indah tentang keluarga kami... semuanya bohong. Semuanya kepalsuan."

Arya merasa perih melihat penderitaan gadis di hadapannya. Ia menarik Naya keluar dari balik tirai, membawa gadis itu duduk di sofa kulit di sudut ruangan, lalu mendekapnya erat ke dalam pelukannya. Ia membiarkan bahu ringkih itu berguncang hebat di dadanya, membiarkan Naya meluapkan segala kekecewaan, kemarahan, dan kesedihan yang tertumpuk bertahun-tahun.

"Aku minta maaf, Naya. Aku minta maaf kamu harus tahu dengan cara begini," bisik Arya lembut, mencium puncak kepala Naya dengan penuh kasih sayang. "Tapi ingat satu hal: Ibumu adalah wanita hebat. Dia sahabat ibuku, dia wanita yang memakai kalung kembar sebagai simbol persaudaraan. Dia pasti wanita yang kuat dan luar biasa. Jangan biarkan perasaan Ayahmu merendahkan nilai ibumu."

Naya menangis lebih lama lagi, menggenggam kemeja Arya hingga kainnya kusut. Pelukan itu menjadi satu-satunya tempat aman di dunia yang tiba-tiba terasa begitu jahat dan asing baginya.

Setelah cukup lama, tangis Naya mereda. Ia mengangkat wajahnya, matanya bengkak merah, hidungnya merah, tapi tatapannya kini berbeda. Ada api kemarahan dan tekad yang membara di balik air matanya. Ia menyeka wajahnya kasar dengan punggung tangan.

"Kamu benar. Aku tidak boleh lemah. Kalau Ayah bisa menyembunyikan rahasia sebesar ini, berarti dia juga menyembunyikan kebenaran lain. Termasuk apa yang sebenarnya terjadi pada Ibumu dan Ibumu Dewi." Naya berbicara dengan suara serak namun tegas. Ia melepaskan pelukan Arya, lalu bangkit berdiri, matanya menyapu seluruh ruangan dengan pandangan baru. "Kita belum selesai. Ayah mengunci pintu dari luar, artinya dia tidak ingin ada orang masuk atau keluar. Dia curiga. Dia tahu ada yang mengorek masa lalunya. Artinya, kita benar. Di sini ada sesuatu yang sangat dia lindungi."

Arya ikut berdiri, kagum melihat perubahan cepat pada Naya. Kesedihannya berubah menjadi bahan bakar. "Benar. Kita punya waktu sampai pagi atau sampai dia sadar dari mabuknya. Kita harus cari apapun yang bisa kita dapatkan sebelum dia kembali."

Mereka kembali beraksi, kali ini dengan fokus dan keteguhan hati yang jauh lebih tinggi. Naya kembali ke meja kerja, membuka setiap laci satu per satu dengan teliti, sementara Arya mengamati dinding tempat lukisan gunung itu tergantung—tempat di mana brankas besar tertanam.

"Di balik lukisan ini ada brankas seukuran lemari pakaian," ujar Naya tanpa menoleh, tangannya sibuk memilah tumpukan kertas. "Aku tahu karena dulu waktu kecil aku pernah melihat tukang servis keluar dari situ. Tapi aku tidak tahu kodenya. Hanya Ayah yang tahu."

"Kita tidak butuh brankas dulu. Mungkin dia simpan hal-hal yang dia anggap 'tidak berharga' atau 'memori lama' di tempat biasa. Orang yang penuh rahasia biasanya meremehkan hal kecil," ujar Arya, matanya tertuju pada sebuah kotak kayu mahoni berukuran sedang yang terletak di sudut atas rak buku tertinggi. Kotak itu diukir rumit dengan motif naga dan burung phoenix, tampak tua dan antik, tapi posisinya tersembunyi di balik deretan ensiklopedia tebal.

Arya memanjat kursi, meraih kotak itu, lalu menurunkannya dengan hati-hati. Kotak itu berat, terbuat dari kayu padat, dan tidak terkunci.

"Lihat ini," panggil Arya pelan.

Naya segera mendekat. Bersama-sama, mereka membuka tutup kotak itu.

Isinya membuat napas mereka tercekat.

Di dalamnya tersusun rapi puluhan amplop surat yang sudah kekuningan, diikat dengan pita sutra merah pudar. Ada juga buku harian bersampul kulit, beberapa kwitansi lama, dan sebuah kaset video lama berukuran besar (VHS), jenis yang sudah jarang ditemukan di zaman sekarang. Tapi yang paling mencolok adalah tinta tulisan tangan di setiap amplop surat itu:

Untuk Sari, cintaku yang tak pernah tergapai. - D

Dari Dewi, sahabat sejiwaku. - D

Untuk Hendrawan, temanku, berhentilah sebelum terlambat. - A

A... Arya menyadari bahwa huruf A itu pasti ayahnya, Andi.

"Dari tulisan tangannya... surat-surat ini saling berbalasan antara mereka bertiga: Ayahku, Ibumu, dan Ayahku," gumam Arya, tangannya gemetar mengambil satu amplop teratas bertuliskan tahun 1998.

Sebelum Arya sempat membuka surat itu, tiba-tiba...

TRIIINGGG!!! TRIIINGGG!!!

Suara nyaring dan tajam membelah keheningan malam.

Arya dan Naya loncat kaget hingga surat-surat di tangan Arya hampir terlempar. Itu bukan suara jam, bukan suara bel pintu. Itu suara alarm keamanan! Suara sirene elektronik yang keras dan tajam, bergema di seluruh isi rumah hingga dinding-dinding bergetar.

"Apa itu?!" seru Arya, menutup telinga sebelah.

"Alarm perimeter! Alarm pagar luar!" jerit Naya di tengah suara bising itu, wajahnya pucat pasi. "Alarm itu hanya bunyi kalau ada orang asing yang memanjat atau mencoba masuk lewat tembok pagar belakang! Sensor gerak!"

Belum sempat mereka memproses informasi itu, terdengar suara lain dari luar jendela lantai dua itu—suara deru mesin mobil kasar dan berat, disusul suara pintu mobil yang dibanting keras, dan suara langkah kaki berat banyak orang berderap di atas kerikil halaman belakang.

Duk! Duk! Duk!

"Ada orang masuk! Banyak orang!" Arya melesat ke jendela, menyibakkan sedikit tirai. Darah di tubuhnya seketika mendidih lalu membeku.

Di bawah sana, diterangi lampu taman yang remang, terlihat tiga buah mobil hitam jenis SUV tua yang kotor terparkir sembarangan di halaman belakang. Pintu-pintu mobil terbuka, keluar enam, tujuh, mungkin delapan pria bertubuh besar, kekar, berpakaian serba hitam, wajah mereka tertutup sebagian topi atau masker, tangan mereka... memegang benda panjang mengkilap.

Besi beton. Kayu besar. Dan satu orang terlihat memegang senjata api, revolver tua yang larasnya panjang.

"Ya Tuhan..." bisik Arya parau, menarik Naya menjauh dari jendela secepat kilat. "Bukan maling biasa, Naya. Ini orang-orang profesional. Mereka datang dengan niat jahat. Sangat jahat."

"Siapa mereka?!" Naya hampir menangis lagi karena panik, matanya melotot ketakutan. "Apakah... apakah mereka musuh lama Ayah? Orang-orang dari masa lalu yang dulu hancur bersamaan dengan bisnis Ayah?"

"Kemungkinan besar. Atau mungkin orang yang selama ini mengejar ibuku," jawab Arya cepat, otaknya bekerja secepat kilat. Ia segera menutup kembali kotak kayu mahoni itu, mengambil surat paling atas, buku harian, dan kaset video itu, lalu memasukkannya ke dalam saku jaketnya. "Kita tidak bisa bawa semuanya, terlalu berat. Kita ambil yang paling penting dulu."

Suara teriakan kasar terdengar dari lantai bawah.

"Cari dia! Cari Hendrawan! Dan cari anak perempuannya! Jangan ada yang lolos!"

"Hendrawan! Keluar kamu! Waktunya bayar hutang, dasar pengecut tua!"

Suara gedebukan keras terdengar. Pintu utama depan didobrak! Kayu jati yang tebal pun bergoyang hebat, terdengar bunyi retakan. Ternyata Hendrawan yang mabuk berat di kamarnya di lantai bawah langsung disergap.

"Ayah!" jerit Naya refleks, hendak lari keluar ruangan menolong ayahnya.

Namun Arya dengan sigap menangkap lengan Naya, menariknya balik dengan kekuatan penuh, mendorong gadis itu ke arah pintu tersembunyi di balik rak buku.

"Gila?! Kamu mau mati di bawah sana?! Mereka bersenjata, Naya! Mereka mau bunuh kalian!" Arya membentak, matanya menyala tajam. Suara benturan keras terdengar lagi, disusul suara teriakan kesakitan yang sangat familiar. Itu suara Hendrawan. Suara ayahnya sedang dipukuli dan disiksa di lantai bawah.

Hati Naya remuk redam, tapi akal sehatnya mendengar kata-kata Arya. Kalau dia turun sekarang, dia cuma jadi korban kedua, dan semua rahasia ini akan mati bersama mereka.

"Kita harus lari! Sekarang!" Arya menarik tangan Naya kuat-kuat. "Dulu aku pernah lihat denah rumah ini di arsip kota. Rumah ini tua, zaman penjajahan Belanda. Ada jalan rahasia! Jalur pelarian darurat di ruang kerja tuan rumah, mengarah keluar ke kebun belakang, keluar lewat sisi luar tembok!"

Arya berlari ke arah rak buku besar di dinding sebelah utara. Ia mengingat-ingat struktur ruangan semacam ini. Biasanya tuasnya berupa patung atau buku palsu. Matanya menyapu rak, lalu berhenti pada sebuah patung perunggu kecil berbentuk kepala singa yang berdiri di ujung rak bawah.

"Ini!" seru Arya. Ia menarik kepala singa itu ke bawah dengan sekuat tenaga.

KRAK... WUUUNG!

Suara mekanisme gigi berputar terdengar. Perlahan, satu bagian rak buku selebar satu meter bergeser ke samping, membuka celah gelap sempit yang berbau lembab dan tanah. Sebuah pintu rahasia.

"Masuk! Cepat!" Arya mendorong Naya masuk duluan, lalu ikut menyusul masuk ke dalam. Sesaat sebelum pintu rahasia tertutup kembali otomatis, mereka mendengar suara pintu ruang kerja utama didobrak terbuka.

BRAKKK!!!

"Cek ruangan ini! Mereka pasti di sini! Aku lihat lampunya nyala tadi!" teriak suara berat kasar.

Detik berikutnya, pintu rahasia tertutup rapat, menyegel mereka dalam kegelapan total.

Di dalam lorong rahasia itu, udaranya pengap, dingin, dan bau tanah basah serta jamur. Gelap gulita, tak ada setitik cahaya pun. Lorongnya sempit, rendah, dan lembab, dipenuhi jaring laba-laba tua. Naya yang sudah panik luar biasa di luar sana kini mulai sesak napas karena klaustrofobia.

"Gelap... aku takut gelap, Arya..." bisik Naya gemetar, tangannya meraba-raba mencari sosok Arya di kegelapan.

"Aku di sini. Pegang tanganku. Jangan lepas sedikitpun," suara Arya terdengar tenang di kegelapan, tangannya langsung menyambar tangan dingin Naya, menggenggamnya sekuat baja. Ia kembali menyalakan senter kecil di ponselnya, cahayanya remang namun cukup untuk melihat jalan setapak tanah di depan mereka. "Jalan terus, ikuti aku. Lorong ini miring ke bawah, lalu lurus sekitar lima puluh meter. Katanya keluar di dekat pohon beringin besar di sudut kebun belakang."

Mereka berlari—atau lebih tepatnya, merangkak dan berjalan terhuyung-huyung—di lorong sempit itu. Di atas kepala mereka, terasa gemetar dan terdengar suara langkah kaki berat orang-orang asing yang sedang menggeledah ruang kerja, membongkar laci, merobek buku, dan mengumpat kasar karena tidak menemukan siapa-siapa.

"Mereka hilang! Awas, pasti ada jalan rahasia di rumah tua sialan ini! Cari pintunya! Cari!"

Suara-suara itu samar-samar terdengar di balik dinding batu tebal di atas kepala mereka. Adrenalin Arya melonjak tinggi. Mereka nyaris tertangkap. Nyawa mereka benar-benar di ujung tanduk.

Akhirnya, setelah rasanya seperti berlari sepanjang kilometer dalam ketakutan, cahaya samar mulai terlihat di ujung lorong. Seberkas cahaya bulan pucat menyelinap masuk dari celah di atas.

"Keluaran!" seru Arya lega.

Mereka mempercepat langkah. Di ujung lorong, ada tangga batu pendek menuju sebuah pintu besi tua yang berkarat, tertutup semak belukar dan akar pohon besar dari luar. Arya mendorong pintu itu dengan bahu, pintu itu berdecit panjang lalu terbuka.

Mereka terlempar keluar, jatuh bergelimpangan di atas tumpukan daun kering dan tanah gembur di bawah pohon beringin raksasa. Udara malam yang segar dan lembab langsung memenuhi paru-paru mereka. Mereka bebas, setidaknya untuk saat ini.

Mereka berada di sudut paling terpencil kebun belakang, jauh dari lampu taman, tersembunyi di balik rimbunan tanaman liar dan akar pohon besar. Hanya beberapa meter lagi sampai ke tembok pembatas tinggi yang menutupi rumah Wijaya dari jalan setapak di luar.

Di atas sana, di jendela lantai dua, terlihat bayangan-bayangan orang bergerak-gerak, lampu senter mereka menyapu halaman ke bawah.

"Lihat! Ada pintu terbuka di bawah pohon beringin! Mereka kabur lewat sana!" teriak seseorang dari atas.

Seketika, suara tembakan meledak memecah malam!

DOR!!! DOR!!!

Dua butir peluru bersarang di batang pohon beringin tepat di atas kepala mereka, serpihan kayu beterbangan, suara dentuman peluru membuat telinga berdenging.

"Lari! Naya, lari!!!" Arya menyeret Naya bangkit berdiri, menariknya sekuat tenaga. Mereka berlari secepat kilat di antara semak belukar, cakaran duri dan ranting mencakar kulit dan wajah mereka, tapi rasa sakit itu tak terasa sama sekali dibanding rasa takut mati.

Mereka sampai di tembok pembatas batu tinggi setinggi dua meter. Di sini, di sudut mati, ada tumpukan peti kayu tua dan batu-batu besar yang dulu dipakai tukang kebun.

"Naik! Aku dorong kamu ke atas!" Arya memerintah, menyatukan kedua tangannya menjadi tangga. Naya tanpa ragu melompat, menginjak tangan Arya, lalu dengan susah payah menarik dirinya naik ke atas tembok, lalu terjun bebas jatuh ke sisi luar ke jalan setapak berbatu.

Detik berikutnya, Arya juga melompat naik, baru saja melompati puncak tembok, saat sekelompok pengejar bermunculan di bawah pohon beringin, menembak liar ke arah mereka.

DOR! DOR!

Peluru berdesir melewati udara, nyaris menyambar kaki Arya.

Arya jatuh berguling ke sisi luar tembok, mendarat tepat di samping Naya di jalan tanah sempit yang gelap. Tanpa istirahat, mereka bangkit lagi, berlari sekuat tenaga menjauh dari rumah Wijaya, menjauh dari neraka yang baru saja pecah. Di belakang mereka, terdengar suara teriakan, tembakan, dan kaca pecah yang mengerikan.

Mereka lari sampai paru-paru terasa mau meledak, sampai kaki mereka tak lagi sanggup melangkah, sampai mereka masuk ke kawasan perumahan warga biasa yang jauh dan agak aman. Akhirnya, di balik gudang kosong yang gelap di pinggir sungai kecil, mereka berhenti.

Terduduk lemas di tanah berumput, napas mereka terengah-engah, keringat dingin bercampur debu dan darah cakaran luka di wajah dan tangan. Rambut mereka berantakan, baju mereka sobek-sobek dan kotor.

Keheningan perlahan kembali, namun kali ini bukan keheningan damai, melainkan keheningan yang berat, penuh ketakutan, dan kepahitan.

Naya bersandar lemah di bahu Arya, tubuhnya masih gemetar hebat, matanya kosong menatap kegelapan.

"Mereka... mereka benar-benar mau membunuh kita, Arya..." bisik Naya dengan suara lirih, nyaris tak terdengar. "Ini bukan sekadar masa lalu. Ini masih terjadi. Masih hidup. Dan mereka masih mau darah kita."

Arya memeluk bahu Naya erat, tangannya mengepal kuat, matanya menatap tajam ke arah gedung-gedung tinggi kota di kejauhan. Jaketnya terasa berat, di dalam saku terselip kotak kayu yang tidak sempat dibawa, digantikan oleh surat, buku harian, dan kaset video berharga yang mereka selamatkan dengan nyawa sebagai taruhannya.

"Kita baru saja memicu sarang lebah, Naya," ucap Arya pelan, namun matanya memancarkan tekad besi. "Malam ini membuktikan satu hal: Apa yang ada di dalam surat-surat ini... adalah kebenaran yang berharga sampai mati. Dan sekarang, kita adalah satu-satunya orang yang memegang buktinya."

"Terus... Ayah?" Naya menatap Arya dengan mata berkaca-kaca, penuh keputusasaan. "Apa yang akan mereka lakukan sama Ayah?"

Arya menghela napas panjang, menatap gadis yang dicintainya dengan tatapan sedih namun jujur.

"Kalau dia masih hidup... mereka pasti akan menyiksanya sampai dia bicara. Sampai dia bilang di mana letak harta, atau di mana letak 'orang yang mereka cari'. Dan aku takut, Naya... kalau mereka tidak dapat apa-apa dari dia... nyawanya tidak akan selamat."

Naya menangis diam-diam, menyembunyikan wajahnya di dada Arya.

Dunia mereka yang sudah terguncang oleh rahasia cinta orang tua, kini hancur total oleh serangan nyata musuh. Keamanan, kenyamanan, dan kepolosan mereka lenyap sepenuhnya malam ini.

Mulai detik ini, mereka bukan lagi sekadar anak muda yang mencari jawaban. Mereka adalah buronan. Mereka adalah target. Dan setiap langkah yang mereka ambil mulai sekarang, bisa jadi langkah terakhir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!