Di mata Arum, Angkasa Wardana tampak seram badan tinggi besar, bertato ukiran Jawa di lengan kanan, dan berwibawa. Namun, di balik penampilan itu, tersimpan suara lembut dan tutur kata halus. Pertemuan tak sengaja si penulis novel dengan pengusaha sukses itu, perlahan mengungkap makna mendalam di balik setiap goresan tinta dan tato yang menghiasi lengan lelaki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA DUNIA YANG BERBEDA
Diruangan kerja yang beraroma kayu manis dan kopi,Angkasa wardana duduk dibalik meja besarnya.Wajahnya yang tampan itu kini terlihat serius sekali,sorot matanya yang tajam dengan teliti memeriksa berkas berkas yang menumpuk di mejanya.
Hari ini dia benar benar sibuk,usahanya yang tersebar di berbagai kota menuntut perhatian penuh. Mulai dari laporan produksi kerajinan kayu,pengelolaan perkebunan,hingga laporan urusan gedung dan propertinya.
meski dia punya tangan kanan,dan banyaknya karyawan yang bisa dia andalkan,angkasa tetap harus turun tangan sendiri untuk cek hasil laporan semua usahanya,karena baginya usaha ini bukan sekedar bisnis tapi ini warisan yang paling berharga dari mendiang kedua orangtuanya yang harus dijaga sebaik mungkin.
Disebelahnya Dewa juga sibuk,dia mondar mandir sibuk bawa berkas yang perlu ditanda tangani oleh angkasa,sibuk mencatat jadwal,menerima telpon.
suasana diruangan itu bener bener hening,tegang
hanya ada suara kertas yang dari tadi dibolak balik sama angkasa,hanya ada suara telpon berdering sesekali.tidak ada waktu untuk bercanda,santai semuanya harus berjalan sempurna dan tepat waktu.
Sedangkan di tempat lain,berjarak ratusan kilometer dari hiruk pikuk kantor besar itu,ada sebuah desa asri yang tenang dan damai. Dirumah besar dengan halaman luas penuh bunga mawar,ada seorang wanita cantik jelita
Dia ARUM SEKARWANGI,berusia 25 tahun. Dengan tinggi badan 165 cm,tubuhnya ideal dan menawan. Kulitnya putih bersih,kontrak dengan rambut hitamnya yang panjang dan bergelombang jatuh terurai indah sampai pinggang, wajahnya yang cantik bak boneka barbie hidup. Mata besar berbinar,hidung mancung,dan warna bibir pink alami,siapapun yang meliatnya pasti akan terpesona. Kecantikannya seolah lukisan Tuhan yang paling indah.
Dia anak dari pasangan Bimo adhitama dan saras sulistiawati. Keluarga mereka termasuk keluarga terpandang di desa itu. Ayah Bimo yang mempunyai pabrik pengolahan makanan yang cukup besar,selain pabrik ayah bimo juga mempunyai kebun yang luasnya berhektar hektar
kebun itu ia tanami berbagai buah buahan dan hasil panennya kadang dia jual ke pasar,supermarket atau tengkulak buah.
Hidup Arum selalu dipenuhi dengan kemewahan dari semenjak dia lahir,dia selalu dimanjakan,apa yang dia minta orangtuanya selalu memenuhinya.
Namun meski terlahir dari orangtua yang berkecukupan Arum tumbuh menjadi gadis yang baik,dia tidak pernah sombong,semena mena ke orang lain,manja,dan lemah yang hanya tau menghamburkan harta kedua orangtuanya.
Arum tumbuh menjadi gadis yang sangat sopan,lembut hatinya,dan rendah hati.dia selalu tersenyum ke siapa aja jika berpapasan dengan tetangga atau ada orang yang menyapa dirinya.
dia juga tidak pernah membedakan bedakan,bagi arum semua sama di mata Tuhan.
Arum juga seorang penulis novel,dia lebih memilih menjadi penulis novel bukan tanpa alasan. Sebenarnya setelah arum lulus kuliah,dia berniat bekerja dan merantau dengan alasan dia ingin mandiri,dan merasakan dunia kerja. Namun keinginan dia ditentang keras oleh kedua orangtuanya
"ngapain harus merantau jauh jauh sih" begitu kata ayah bimo dengan tegas namun penuh kasih sayang
"kami tuh cuma punya kamu,kamu harta kami paling berharga satu satunya,kalau kamu pergi jauh terus siapa yang mau menjaga kami?memantau kamu? Lagian ngapain sich kamu capek capek kerja,usaha bapak sudah cukup buat hidupin kamu dan bundamu!"
Bunda saras pun ikut menyaut " bener kata ayahmu nduk,bunda juga khawatir kalo kamu pergi jauh,bunda gk tenang.dunia luar itu keras.
disini aja ya nduk,di desa aman dan damai."
Karna rasa sayang dan hormatnya kepada kedua orangtuanya,Arum mengalah dan menuruti perintah orangtuanya.
Namun gadis yang tidak bisa hanya berdiam diri saja itu sibuk mencari kegiatan lain.
Bermula dari iseng scroll sosmed,dia sering melihat fyp beranda sosmednya dipenuhin oleh orang orang yang promo karya novel dan banyak orang yang membaca novel di aplikasi daring.
tanpa disangka dia tertarik untuk mencoba membuat novel.
Tanpa disangka tulisannya di gemari banyak orang,banyak pembaca yang memberi pujian hasil karya novelnya,jadilah sekarang dia penulis novel di aplikasi daring yang cukup populer.
Arum gadis yang tidak tegaan,hatinya begitu lembut sampe sampe dia hanya melihat seekor kucing yang kurus dan luka sedang berjalan dipinggir jalan saja matanya langsung berembun dan meneteskan air matanya. Dia akan langsung membawa hewan itu pulang memberi makan,mengobati,dan merawatnya sampai gemuk dan sehat kembali,baginya makhluk hidup apapun berhak bahagia.
Selain lembut arum juga gadi polos,usil. Seringkali dia melakukan tingkah konyol yang membuat kedua orangtuanya geleng geleng kepala dan tertawa gemas.
Seperti dia lupa cara menyalakan kompor,atau saat dia yang bicara sendiri dengan karakter ciptaannya sampai dikirang orang sedang kesurupan.
Dimana ada arum,disitu pasti ada INTAN.
Intan sahabat arum sejak mereka disekolah dasar,tidak hanya sahabat intan juga tetangga sebelah rumah arum,jadi kemanapun mereka pergi mereka selalu berdua. Sifat Intan gak jauh beda sma Arum,bedanya Intan lebih tegas dan tidak sepolos Arum.
Intan memiliki usaha kecil kecilan sebagai penjual makanan yang banyak diminati anak muda zaman sekarang lewat online.Arum seringkali ikut membantu Intan mengemas pesanan atau sekedar mencicipi makanan yang sahabatnya jual itu.
Keluarga intan juga dikenal baik didesa itu,Bapak Intan bekerja sebagai HRD di pabrik Ayah bimo,ayahnya Arum.
sedangkan ibunya Intan memiliki warung nasi pecel di depan rumahnya yang sangat terkenal,rasanya yang enak itu sampe orang dari desa sebelah rela datang jauh jauh cuma buat nyicipi nasi pecel ibu Intan.
Dan ternyata bunda sarah,bundanya arum itu sahabat lama ibunya Intan dari zaman SMA.
persahabatan puluhan tahun dan masih sangat terjaga erat sampe sekarang. Tak heran jika kedua keluarga itu tampak Akrab.
Siang itu Arum dan intan duduk santai di teras rumah sambil memakan buah potong.
"kamu gk bosen,Rum? Tiap hari cuma nulis novel,bantu bundamu,dan main sama aku?" tanya Intan sambil menguyah manisan mangga
"gak ko Tan,disini damai,tenang. Cuma....penasaran aja,Diluar sana ada apa y?orang orangnya seperti apa y?kadang aku pengen nyari orang yang beda dari kita,yang punya cerita hebat supaya aku bisa masukin ke cerita novelku." jawab Arum sambil tertawa
Intan terkekeh pelan "nanti kalo kamu udh ketemu sama orang yang begitu,langsung kamu masukin ke cerita novelmu jadi tokoh utama y? Hati hati nanti kamu malah jatuh cinta sama tokoh buatanmu sendiri."
Arum tertawa renyah "sembarangan kamu kalo ngomong"