Putra Setiawan, perwira tentara dingin yang menyimpan dendam, menerima perjodohan dengan Citra Lestari, dokter lembut putri musuhnya. Pernikahan ini hanyalah senjata untuk menghancurkan keluarga Citra dari dalam. Namun, saat ia berniat menyakiti, ketulusan wanita itu perlahan meruntuhkan tembok kebenciannya. Di antara balas dendam dan cinta yang tumbuh diam-diam, Putra harus memilih menuntaskan amarah, atau mempertahankan hati yang mulai ia miliki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara M., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji di Bawah Langit
Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Langit cerah, namun hati Citra mendung. Di kediaman keluarga Lestari, suasana pesta meriah dengan hiasan mewah dan tamu undangan berdatangan. Di kamar pengantin, Citra duduk diam mengenakan gaun adat indah, wajahnya cantik namun matanya menyimpan kegelisahan. Ia ingat pesan Putra: tersenyumlah, jaga harga diri keluarga. Ia menghela napas, berjanji menjalani peran ini sebaik mungkin.
Di halaman depan, Putra Setiawan tiba dengan iring-iringan. Berpakaian resmi lengkap dengan tanda kebesaran militer, ia tampak gagah dan berwibawa, membuat semua mata tertuju. Namun di balik senyumnya yang dingin, hatinya bergemuruh. Hari ini, rencananya dimulai masuk ke dalam keluarga musuh, menghancurkan mereka perlahan. Tapi bayangan wajah Citra yang tulus terus mengganggu fokusnya.
Prosesi berlangsung khidmat. Saat Citra berjalan mendekat, langkahnya pelan namun pasti. Di hadapan penghulu, saat ditanya kesediaan, suara Citra bergetar namun tegas menjawab iya. Giliran Putra, ia menjawab lantang dan tegas, seolah sedang memberi komando di medan perang. Di detik itu, ikatan sah terjalin. Tepuk tangan riuh terdengar, namun di antara dua manusia itu, terasa jarak yang begitu lebar.
Saat sesi sungkem, Citra menunduk hormat pada orang tua, lalu beralih pada Putra. Saat mata mereka bertemu, Putra berbisik rendah, hanya terdengar berdua: "Ingat janjimu, Dokter. Kau milikku sekarang, apa pun yang terjadi." Citra menahan sakit hati, hanya membalas dengan senyum tipis yang menyedihkan.
Acara resepsi berjalan lancar. Putra bersikap sopan di hadapan tamu, menjadi suami sempurna seolah tak ada masalah. Namun saat berdua di pelaminan, ia bersikap dingin, jarang bicara. Di sisi lain, tatapan Putra sering tak sengaja tertuju pada wajah Citra yang bersinar cantik, membuat hatinya semakin kacau. Benci dan rasa tertarik bertarung hebat di dadanya.
Malam pun tiba. Citra dibawa ke kediaman pribadi Putra, rumah besar dan dingin yang kini menjadi tempat tinggal barunya. Di kamar utama yang luas dan mewah, keheningan mencekam menyelimuti. Putra berdiri di dekat jendela, memunggungi Citra.
"Kau tidur di sana," tunjuknya ke sofa besar di sudut ruangan, tanpa menoleh. "Jangan berharap lebih. Pernikahan ini hanya akad kertas. Aku tidak akan menyentuhmu, selama kau dan keluargamu tahu tempatnya."
Hati Citra perih, namun ia sudah menduganya. "Aku mengerti, Mas. Aku tidak menuntut apa pun selain rasa aman dan hormat."
Putra berbalik, menatapnya tajam. "Aman? Selama kau istriku, kau aman. Tapi keluargamu... itu cerita lain. Ingat, Citra. Aku menikahimu bukan untuk mencintai, tapi untuk menagih utang masa lalu."
Citra memberanikan diri bertanya, "Apa kesalahan ayahku? Apa yang terjadi sampai kebencian Mas Putra sebesar ini? Setidaknya beri aku tahu, agar aku tahu apa yang harus ditebus."
Wajah Putra menegang, amarah lama bangkit kembali. Ia berjalan mendekat, membuat Citra mundur terdesak ke dinding. "Ayahmu mengambil segalanya! Ia merampas nyawa orang tuaku, merampas kebahagiaanku, dan membuatku hidup dalam dendam bertahun-tahun! Dan sekarang, kau ada di sini sebagai bayarannya."
Air mata jatuh di pipi Citra. "Aku tidak tahu, Mas... aku benar-benar tidak tahu. Aku tumbuh tanpa tahu dosa apa yang diperbuat ayahku. Tapi aku mohon, kalau memang ada kesalahan, hukumlah aku saja. Jangan hancurkan ayah-ibuku, mereka sudah tua."
Kata-kata itu menusuk jantung Putra. Wanita ini rela dikorbankan demi keluarganya, sama seperti dirinya dulu berjuang demi orang tuanya. Ada rasa nyeri yang asing menyusupi dada Putra. Ia ingin marah, ingin berteriak, tapi melihat air mata itu, kemarahannya meleleh tak berbekas. Ia berbalik cepat, tak ingin tergoda untuk luluh.
"Pikirkanlah apa pun yang kau mau. Tapi mulai besok, kau ikut aturanku. Kau istri Letnan Kolonel Setiawan, kau harus bisa bersikap, walau hanya boneka pajangan." Putra berjalan ke pintu, berhenti sejenak. "Istirahatlah. Besok hari baru... babak baru kehancuran bagi keluarga Lestari."
Pintu tertutup rapat, meninggalkan Citra sendirian dalam kegelapan kamar yang asing. Ia menangis diam-diam, merasakan beban berat di pundaknya. Namun di tengah kesedihan, tekadnya menguat. Ia seorang dokter, terbiasa menyembuhkan luka. Mungkin luka di hati suaminya jauh lebih parah, tapi ia berjanji akan berusaha. Ia akan bertahan, berjuang, dan berharap cinta perlahan bisa mengikis dendam yang mengakar itu.
Di luar pintu, Putra bersandar pada dinding, menutup wajah dengan kedua tangan. Ia marah pada dirinya sendiri. Baru saja malam pertama, dan ia hampir menyerah pada tatapan sedih Citra. Ia sadar, perang sesungguhnya bukan melawan keluarga Lestari, tapi melawan hatinya sendiri yang perlahan jatuh cinta pada musuhnya.
Bersambung...