novel dengan universe berbeda dari novel
"hazel lyra raven", dimana pharma dan Lyra bisa bersama tanpa ada ledakan
Dokter Lyra (27), spesialis anak, dipindahtugaskan ke Rumah Sakit Delphi di London. Di sana, ia harus berhadapan dengan Pharma Andrien, kepala rumah sakit sekaligus spesialis saraf yang dijuluki "Ice King" karena sifatnya yang sangat cuek, dingin, dan perfeksionis di depan staf medis.
Namun, segalanya berubah saat mereka sedang berduaan. Di balik pintu tertutup, Pharma berubah drastis menjadi sosok yang sangat clingy dan manja hanya kepada Lyra. Kini, Lyra harus berjuang menjaga profesionalitas di rumah sakit sambil menghadapi tingkah "muka dua" atasannya yang tidak bisa jauh darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Lyra baru saja hendak menyesap cokelat panasnya yang sudah suam-suam kuku ketika tiba-tiba keheningan di kafe itu pecah oleh suara sirine yang meraung-raung dari kejauhan. Suaranya bukan hanya satu, melainkan bersahut-sahutan, membelah dinginnya malam London.
Lyra menoleh ke arah jendela besar di sampingnya. Di jalanan utama, pemandangan berubah menjadi adegan film aksi yang sangat nyata. Belasan mobil polisi dengan lampu biru-merah yang berkedip cepat melesat bak peluru, mengejar sebuah mobil hitam yang melaju ugal-ugalan.
"Wah, ada apa itu?" gumam pengunjung kafe lainnya yang mulai mendekat ke jendela.
Lyra terpaku. Di barisan paling depan, sebuah mobil komando taktis berhenti dengan manuver drift yang sangat presisi, memblokir jalan pelarian sang kriminal. Dari dalam mobil itu, keluar sosok pria tegap dengan seragam lengkap yang terlihat sangat berwibawa.
"Itu Magnus!" seru pelayan kafe dengan nada kagum. "Kepala Inspektur yang baru. Dia tidak pernah gagal menangkap targetnya."
Lyra melihat betapa tenangnya Magnus memimpin operasi itu. Dengan satu gerakan tangan, anak buahnya bergerak mengepung sasaran. Tidak ada teriakan yang tidak perlu, tidak ada kekacauan yang sia-sia. Hanya ketegasan dan keberanian yang murni. Dalam hitungan menit, sang kriminal sudah tersungkur di aspal dengan borgol di tangan.
Lyra menatap sosok Magnus dari balik kaca kafe. Ada rasa kagum yang menyeruak di hatinya. Ia melihat seorang pria yang menggunakan kekuatannya untuk melindungi, bukan untuk menindas. Sangat kontras dengan Pharma pria yang punya tangan untuk menyembuhkan tapi sering kali ia gunakan untuk menyakiti atau mencengkeram lengan Lyra dengan kasar.
Keren banget... batin Lyra. Andai semua pria tahu cara menggunakan otoritas mereka tanpa harus menjadi kasar kepada orang yang lebih lemah.
Polisi-polisi London itu bergerak seperti mesin yang terlumasi dengan baik di bawah komando Magnus. Setelah situasi aman, Magnus sempat membuka helm taktisnya, menyeka keringat di dahinya, dan menatap ke sekeliling dengan tajam memastikan tidak ada warga sipil yang terluka.
Kejadian itu seolah menjadi pengingat bagi Lyra. Di luar sana, ada dunia yang luas dengan orang-orang hebat yang punya integritas. Dunia bukan hanya soal Pharma, bukan hanya soal pengabdian yang menyakitkan di Delphi, dan bukan hanya soal menjadi bayang-bayang di balik kesuksesan suaminya.
Lyra kembali duduk di kursinya. Kejadian barusan memberinya sedikit percikan keberanian. Jika polisi-polisi itu bisa menghadapi kriminal berbahaya dengan kepala tegak, kenapa dia harus gemetar menghadapi seorang Pharma Andriend?
Ia merogoh ponselnya lagi, tapi kali ini bukan untuk melihat pesan dari Pharma. Ia hanya menatap pantulan wajahnya di layar ponsel yang gelap.
"Besok malam di kerajaan," bisik Lyra pada dirinya sendiri. "Gue bakal tunjukin kalau Lyra Raven bukan sekadar asisten yang bisa lo injak-injak, Pharma."Langkah Lyra terasa lebih ringan saat ia meninggalkan kafe itu. Namun, ia tidak mengarahkan tujuannya ke apartemen mewah tempat Pharma tinggal. Sebaliknya, ia menyetop taksi dan menyebutkan alamat sebuah hotel butik di pinggiran distrik Chelsea.
Sudah tiga hari ini Lyra memutuskan untuk tinggal sendiri. Ia sudah tidak tahan lagi dengan suasana apartemen yang pengap oleh ego Pharma dan aroma parfum Veronica. Di kamar hotel yang tidak terlalu luas namun hangat ini, Lyra merasa jauh lebih aman. Tidak ada suara pintu yang dibanting, tidak ada bentakan, dan yang terpenting: tidak ada Pharma yang bisa mencengkeram lengannya tiba-tiba.
Begitu masuk ke kamar, Lyra langsung mengunci pintu. Ia melempar tasnya ke atas tempat tidur dan berjalan menuju cermin besar.
Ia membuka jas dokternya, lalu perlahan menyingsingkan lengan sweternya. Memar keunguan di kulitnya masih ada, meski warnanya sudah mulai memudar. Lyra menyentuh bekas luka itu dengan ujung jarinya, matanya menatap pantulan dirinya sendiri dengan tajam.
"Cukup, Lyra. Sampai di sini saja," bisiknya pada diri sendiri.
Panggilan dari "Neraka"
Tiba-tiba, ponsel di tasnya bergetar hebat. Nama "Pharma" berkedip di layar. Lyra membiarkannya. Ponsel itu berhenti bergetar, lalu bergetar lagi. Sampai lima kali panggilan tak terjawab, hingga akhirnya sebuah pesan masuk.
Pharma: Kenapa kamu tidak ada di apartemen? Saya sudah di depan pintu dan kuncinya kamu ubah? Buka sekarang atau saya panggil sekuriti! Jangan main-main, Lyra. Besok adalah acara penting!
Lyra membaca pesan itu dengan senyum getir. Pharma bahkan tidak menyadari bahwa Lyra sudah membawa sebagian barang-barangnya sejak tiga hari lalu. Dia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri dan Veronica sampai tidak sadar istrinya sudah tidak tidur di sampingnya lagi.
Lyra mengetik balasan dengan tangan yang stabil:
Lyra: Saya tidak akan kembali ke sana. Saya butuh ketenangan untuk acara besok. Kita bertemu langsung di istana. Jangan cari saya, Sir. Fokus saja pada Dokter Veronica.
Setelah mengirim pesan itu, Lyra langsung mematikan ponselnya. Ia tidak mau mendengar amarah Pharma malam ini.
Persiapan Terakhir
Lyra beralih ke sebuah kotak besar yang tergeletak di atas meja hotel. Itu bukan gaun yang dipilihkan Pharma. Itu adalah gaun yang ia beli sendiri dengan uang tabungannya sebuah gaun berwarna biru navy gelap yang elegan, jauh dari kesan "asisten penurut" yang diinginkan Pharma.
Ia juga sudah menyiapkan berkas-berkas pengunduran dirinya dari Delphi yang sudah ia tanda tangani.
"Besok akan jadi malam terakhir aku jadi asistenmu, Pharma. Dan malam terakhir aku jadi istrimu," gumam Lyra sambil menatap gaun itu.
Kejadian pengejaran polisi oleh Magnus tadi sore benar-benar membekas. Lyra sadar, ia harus memiliki kendali penuh atas hidupnya sendiri, persis seperti Magnus mengendalikan situasi di jalanan London. Ia tidak akan membiarkan Pharma mengintimidasi dirinya lagi di depan tamu kerajaan nanti.
Lyra mematikan lampu kamar, mencoba memejamkan mata dalam kesunyian yang tenang. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia bisa tidur tanpa rasa takut akan ada tangan yang mencengkeram lengannya dengan kasar saat ia terbangun.