NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Naga Bumi: Jejak Darah Di Tanah Majapahit

Pendekar Pedang Naga Bumi: Jejak Darah Di Tanah Majapahit

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Kelahiran kembali menjadi kuat / Perperangan / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Ilmu Kanuragan / Penyelamat
Popularitas:347
Nilai: 5
Nama Author: Zaenal 1992

Lin Feng, pendekar tampan berilmu tinggi, menjadi buronan kekaisaran setelah difitnah membunuh seorang pejabat oleh Menteri Wei Zhong. Padahal, pembunuhan itu dilakukan Wei Zhong untuk melenyapkan bukti korupsi besar miliknya. Menjadi kambing hitam dalam konspirasi politik, Lin Feng melarikan diri melintasi samudra hingga ke jantung Kerajaan Majapahit.
​Di tanah Jawa, Lin Feng berusaha menyembunyikan identitasnya di bawah bayang-bayang kejayaan Wilwatikta. Namun, kaki tangan Wei Zhong terus memburunya hingga ke Nusantara. Kini, sang "Pedang Pualam" harus bertarung di negeri asing, memadukan ilmu pedang timur dengan kearifan lokal demi membersihkan namanya dan menuntut keadilan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tikus-Tikus di Balik Megahnya Wilwatikta

Matahari pagi menyusup di sela-sela dinding bambu gubuk Ki Ageng, membawa kehangatan yang sedikit meringankan rasa sesak di dada Lin Feng. Berkat ramuan herbal dan sedikit bantuan totokan saraf dari Ki Ageng, wajah Lin Feng yang semula pucat kini mulai menampakkan rona kehidupan.

​Sambil menikmati udara pagi, Lin Feng duduk di serambi kecil bersama Ki Ageng. Joko sedang sibuk di belakang, menumbuk rempah-rempah sambil sesekali mencuri dengar pembicaraan mereka.

​"Kau terlihat lebih baik, Anak Muda," ujar Ki Ageng sambil menyesap teh hangatnya.

​Lin Feng mengangguk hormat. "Terima kasih, Ki Ageng. Di negeriku, kami percaya bahwa takdir mempertemukan seseorang dengan penolongnya. Namun, aku masih tidak habis pikir, mengapa fitnah dari seorang Kasim di daratan Tiongkok bisa diterima begitu saja oleh kerajaan sebesar Majapahit."

​Ki Ageng tertawa kecil, namun tawanya terdengar pahit. "Jangan terkejut, Lin Feng. Kau mengira hanya di negerimu para pejabat saling sikut demi kekuasaan? Kau mengira Majapahit yang megah ini bersih dari noda?"

​Lin Feng terdiam, menanti kelanjutan ucapan sang tetua.

​"Dengarlah," lanjut Ki Ageng dengan nada serius. "Majapahit memang kerajaan terkuat di Nusantara, tapi kekuatan besar selalu mengundang rayap-rayap serakah. Di balik kemegahan istana Trowulan, ada segerombolan tikus yang sedang sibuk menggerogoti lumbung padi. Para pejabat korup itu tidak peduli pada Sumpah Palapa atau kesejahteraan rakyat. Yang mereka peduli hanya bagaimana mempertebal kantong dan melanggengkan kuasa."

​Lin Feng mengerutkan dahi, ekspresinya penuh keterkejutan. "Aku mengira... setelah melihat kewibawaan Mahapatih Gajah Mada dan kejayaan pelabuhan Canggu, negeri ini adalah negeri tanpa cacat. Jadi, di sini pun ada orang-orang seperti Kasim Wei Zhong?"

​"Tentu saja," sela Joko dari arah dapur sambil membawa sepiring pisang rebus. "Ada menteri-menteri yang suka memotong upeti, ada pejabat pelabuhan yang main mata dengan bajak laut. Mereka itu licin seperti belut, Mas Lin. Kalau di depan Sang Prabu, bicaranya manis seperti madu, tapi di belakang... waduh, rakusnya minta ampun!"

​Ki Ageng mengangguk membenarkan ucapan Joko. "Itulah sebabnya utusan dari negerimu bisa dengan mudah diterima. Tikus-tikus di istana kita sangat senang berteman dengan tikus dari negeri luar. Mereka saling berbagi keuntungan. Mereka menggunakan namamu sebagai alat politik untuk mendapatkan 'hadiah' atau dukungan dari faksi Wei Zhong di daratan Tiongkok."

​Lin Feng mengepalkan tangannya di atas lutut. "Ternyata kejahatan tidak mengenal batas negara. Mereka semua menggunakan topeng pengabdian untuk menutupi kerakusan."

​"Benar," ucap Ki Ageng tajam. "Keadilan yang kau cari itu tidak akan diberikan oleh sistem yang sudah membusuk. Kau harus membuktikan kebenaranmu dengan kekuatan dan kebijaksanaanmu sendiri. Jika kau ingin menghadapi fitnah ini, kau tidak hanya berhadapan dengan pedang para pembunuh, tapi juga dengan jaringan tikus-tikus korup yang tersebar dari istanamu hingga ke Majapahit."

​Lin Feng menatap ke ufuk timur, ke arah puncak gunung yang mulai bersinar. Rasa terkejutnya berubah menjadi tekad yang dingin. Ia menyadari bahwa musuhnya bukan hanya satu orang, melainkan sebuah penyakit yang menjangkiti dunia.

​"Kalau begitu," ucap Lin Feng mantap, "tolong ajarkan aku cara bertahan di tanah jawa ini, Ki Ageng. Aku tidak akan membiarkan tikus-tikus itu memenangkan permainan ini."

1
anggita
like iklan👍👆 moga novelnya lancar jaya.
anggita
ilmu Tiongkok vs Nusantara Jawa🔥
anggita
ada cerita sejarahnya juga... 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!