NovelToon NovelToon
Takdir Cinta Aurora

Takdir Cinta Aurora

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Karang Biru Samudera

Apa yang sebenarnya di maksud dengan cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karang Biru Samudera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Thunder

Enjoy your time gays....

Seharian beraktivitas sebagai mahasiswa kedokteran benar-benar menguras tenaga Aurora tanpa tersisa.

Menyalakan semua lampu yang ada di lantai bawah, Aurora meletakkan tasnya begitu saja di sofa ruang keluarga lalu melangkah menuju dapur untuk mengambil segelas air dingin guna menyegarkan tenggorokannya yang telah kering.

Menghabiskan satu gelas penuh air mineral itu tanpa halangan sedikitpun, Aurora terlihat menghembuskan nafas lega ibarat gurun yang baru saja di siram hujan. Benar-benar terasa segar dan menyejukkan.

Sejenak menikmati kehidupannya kembali setelah beberapa saat pergi, Aurora tak langsung beranjak dari tempatnya. Sampai tiba-tiba....

Kring..... Kring....

Bunyi dering handphone terdengar menggema.

Meletakkan gelas itu ke dalam wastafel, Aurora melangkah menuju sofa untuk mengambil handphone yang ada di dalam tasnya.

Panggilan video dari Luca rupanya. Merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, Aurora mengangkat panggilan itu seraya duduk di sana.

"Hay Ra." Sapa Luca dengan sebuah senyuman saat wajah Aurora sudah terpampang jelas di layar handphonenya.

^^^"Hay  Luca." Balas Aurora juga dengan senyuman. Mengambil salah satu bantal sofa yang ada di sebelahnya untuk dia jadikan sandaran di atas pahanya.^^^

"Udah nyampe rumah?"

^^^"Udah. Baru aja."^^^

"Sorry ya gak bisa jemput lo lagi hari ini." Entah sudah berapa kali permintaan maaf serta penyesalan yang Luca berikan pada Aurora hari ini karena tak bisa menunaikan kewajiban seperti biasanya.

^^^"Iya, gak papa. Gue tau kok kalo lo masih sibuk banget sama kerjaan lo." Sebanding dengan rasa penyesalan Luca, Aurora pun membalasnya dengan sebuah pengertian dan kepercayaan. Bukannya menuntut atau berpikir macam-macam. ^^^

Hari ini Aurora pulang bersama Alice dan Aline karena Luca yang tak bisa menjemput sebab dia masih sibuk di kantornya.

Merubah posisi duduknya jadi bersandar di sandaran kursi, Luca tersenyum seraya memperhatikan wajah Aurora.

"Capek banget kayaknya." Ucap Luca saat menangkap gurat lelah di wajah sang istri.

^^^"Iya. Hari ini full kelas. Ada banyak tugas juga. Mana minggu depan udah mulai praktek lagi." Rasa nyaman yang selalu Luca berikan membuat Aurora tak pernah berpikir panjang untuk menyampaikan keluh kesahnya pada Luca seperti sekarang. ^^^

"Kasihan banget sih istrinya Luca." Kekeh Luca karena merasa lucu melihat wajah cemberut bercampur kesal Aurora yang justru menggemaskan di matanya.

"Gak papa capek... Yang penting kan cita-cita buat jadi Bu Dokter tercapai. Semangat!!!" Lanjutnya seraya tersenyum dan mengangkat tangan yang terkepal memberi Aurora semangat.

^^^"Thank you Luca." Memang hanya kata-kata sederhana, tapi senyum yang Aurora perlihatkan rasanya sudah cukup menggambarkan betapa bahagianya ia. ^^^

"Sama-sama. Ya udah gih, buruan bersih-bersih terus istirahat."

^^^"Lo masih lama di kantornya? Kapan pulang?"^^^

Terbiasa ada Luca di sisinya membuat Aurora tanpa sadar jadi ketergantungan dengan kehadiran Luca. Terlebih, jika malam hari seperti ini. Entah kenapa Aurora tak akan bisa memejamkan mata jika dia belum mendapatkan ciuman selamat malam dari Luca.

Melirik jam dinding di ruangannya yang sudah menunjukkan pukul 10 malam, Luca beralih menatap tumpukan berkas di meja kerjanya yang belum selesai dia kerjakan.

"Masih belum tau. Tapi kayaknya masih lama. Masih banyak dokumen yang harus gue urus dan revisi." Tak ingin membuat Aurora menunggunya apalagi kecewa, Luca tak mau membuat janji yang dia sendiri tak yakin bisa menepatinya.

^^^"Tapi udah makan malem kan?"^^^

"Udah....Tadi pesen GrabFood aja yang gampang."

^^^"Ya udah deh, yang penting itu jangan sampe klewat. Biar lo gak sakit."^^^

"Iya Bu komandan.... Pasti di jaga kok jam makannya. Bu komandan juga jangan kecapean, di jaga waktu istirahatnya biar gak sakit."

Perhatian kecil yang tercipta diantara mereka seperti inilah yang membuat hubungan rumah tangga keduanya semakin berwarna dan bermakna tanpa di sadari. Membuat Luca dan Aurora sama-sama tersenyum bahagia.

"Udah ya, gue tutup. Bye Ara..."

^^^"Bye bye Luca...."^^^

Seakan masih belum rela untuk menyudahi panggilan video diantara mereka, baik Luca maupun Aurora sama-sama tak ada yang berniat lebih dulu mematikannya. Keduanya sama-sama menunggu siapa yang akan lebih dulu mematikannya.

Sampai akhirnya, Luca lah yang lebih dulu mematikannya karena pintu ruangannya yang tiba-tiba di buka dan memperlihatkan sekretaris pribadinya yang masuk menghampirinya.

"Ini beberapa Dokumen yang tadi Bapak minta untuk saya siapkan." Ucap Reni tersenyum ramah seraya meletakkan tumpukan map yang dia bawa di atas meja kerja Luca.

"Terimakasih. Kamu boleh kembali bekerja." Balas Luca mengambil berkas-berkas itu dan langsung mempelajarinya.

"Baik Pak." Sesuai perintah dan tanpa banyak bertanya lagi, Reni langsung meninggalkan ruang kerja Luca untuk melanjutkan pekerjaannya.

Di tempat berbeda, Aurora bangkit dari tempat duduknya untuk menuju kamarnya yang ada di lantai 2. Tak lupa, dia juga membawa tasnya.

***

Mempelajari tentang dunia bisnis mungkin sudah Luca lakukan sejak dia duduk di bangku SMA. Tapi menjadi seorang pemimpin di sebuah perusahaan besar tanpa adanya bantuan dari sang ayah tentu baru pertama kali Luca lakukan.

Itulah mengapa ada banyak hal baru yang perlu Luca pahami dan pelajari lagi. Terutama tentang cara kepemimpinan yang baik dan benar. Tetap mengutamakan sisi kemanusiaan tapi tidak merugikan

"Jadi bagaimana? Apa kamu sudah memastikan semuanya memang benar dan dia sengaja melakukan itu pada perusahaan?" Tanpa Luca pada sang sekretaris pribadi seraya menyerahkan berkas yang baru saja selesai dia pelajari dan tandatangani.

"Sudah Pak. Berdasarkan semua data yang saya laporkan ke Bapak, dia memang sengaja melakukan itu karena mendapat imbalan yang lebih besar dan menjanjikan dari perusahaan lain." Menerima berkas yang di berikan, Reni juga menyerahkan berkas yang dia bawa di atas meja kerja Luca untuk segera di selesaikan.

"Baiklah kalau begitu. Saya ingin kamu besok berikan surat pemecatan saya dan berikan juga dia pesangon." Membuka laci meja kerjanya, Luca mengambil amplop berwarna putih dari sana lalu memberikannya pada Reni.

"Baik Pak."

"Lalu untuk permasalahan yang timbul karena masalah ini, bagaimana? Apa semuanya sudah selesai dan stabil seperti semula?" Sambil bertanya, Luca langsung mengecek berkas-berkas baru itu agar dia bisa segera pulang.

Entah sudah jam berapa sekarang, Luca sendiri tak tahu. Yang jelas, semua pekerjaan itu harus selesai malam ini juga tanpa terkecuali.

"Sudah Pak. Semuanya sudah kembali seperti semula. Para client yang di rugikan juga sudah di beri pengertian dan ganti rugi yang sesuai. Mereka juga tidak membatalkan kerjasamanya dengan perusahaan kita."

"Bagus kalau begitu."

"Apa ada yang perlu saya kerjakan lagi untuk Bapak."

"Tidak. Terimakasih karena kamu sudah membantu saya menyelesaikan semua masalah hari ini dan sampai harus lembur."

"Sama-sama Pak. Saya senang karena saya bisa membantu Bapak."

"Kamu boleh pulang sekarang."

Luca memerintah sang sekretaris pribadi untuk pulang bukan berarti karena pekerjaan mereka sudah selesai. Tapi karena Luca memang tak lagi membutuhkan bantuan Reni untuk menyelesaikan pekerjaan yang tersisa karena dia bisa menyelesaikannya sendiri.

"Baik Pak, terimakasih."

"Sama-sama." Sebelum Reni pergi dari ruangannya, Luca tak lupa memberikan beberapa berkas yang sudah selesai dia cek dan teliti. Sementara sisanya, masih perlu dia pelajari lagi.

***

Lampu yang masih menyala menandakan jika sang penghuni kamar belum terlelap dalam tidurnya.

Benar saja, di temani suara musik dari handphonenya, Aurora terlihat tengah fokus dengan buku dan laptop di depannya. Mengerjakan tugas kuliah yang menjadi kewajibannya sebagai seorang mahasiswa.

Alunan musik yang tiba-tiba berganti jadi nada dering panggilan membuat Aurora seketika berpaling.

Mengambil handphone yang ada di sebelahnya, Aurora melihat siapa nama yang tertera di layar. Panggilan video bersama dari sang teman Alexa rupanya. Tadinya, Aurora pikir itu dari Luca.

Di awali dengan alice yang memperlihatkan wajah kantuknya saat mengangkatnya, lalu di susul Aline yang tengah menikmati kopinya di dapur rumahnya, dan Audrey yang tengah belajar sama seperti dengan dirinya. Sementara Alexa yang menelpon terlihat masih bermalas-malasan di tempat tidurnya.

Mengangkat panggilan video itu, Aurora menyandarkan handphonenya di samping depan agar dia bisa tetap kembali melanjutkan belajarnya tanpa harus repot memegangi handphonenya.

^^^"Kenapa Lexa? Gabut lo ya gak bisa tidur?" Tanya Aurora melirik sekilas lalu kembali fokus dengan layar laptopnya. ^^^

"Hehehe.... Tau aja lo Ra." Terkekeh tanpa dosa, Alexa merubah posisi berbaringnya yang awalnya tengkurap jadi terlentang.

"Udah kebiasaan lo. Sampe hafal kita." Balas Audrey dengan ekspresi datarnya.

"Alice? Matiin aja, lo keliatan ngantuk banget tuh. Besok ada kelas pagi juga kan?"  Bukannya menaruh perhatian pada Alexa yang membuat panggilan, perhatian Aline justru tertuju pada sang saudara kembar yang berusaha keras melawan rasa kantuknya.

"Gak papa nih gue matiin?" Tanya Alice tak enak hati. Padahal sejak tadi dia terus menguap dan kesadaran matanya juga kurang dari 5 wat.

"Gak Papa. Matiin aja Lice. Kasian juga liat lo ngantuk gitu. Sorry ya gue udah ganggu waktu tidur lo."

"Gak papa. Gue ngerti kok. Ya udah, gue matiin ya? Bye gays." Pamit Alice dengan kedua mata yang sudah kembali terpejam.

"Bye Alice." Ucap Alexa.

"Have a nice dreams Valencia." Ucap Audrey.

^^^"Tidur yang nyenyak."^^^

"Thanks gays. Bye bye." Tak bisa lagi menahan rasa kantuknya, Alice pun akhirnya mematikan panggilannya. Meletakkan handphonenya begitu saja lalu langsung tertidur tanpa membenahi posisi tidurnya yang sejujurnya sama sekali tak nyaman.

"Aline?" Panggil Alexa saat perhatiannya teralihkan pada Aline yang baru saja menyeruput minumannya.

"Hm?"

"Lo minum kopi?"

"Iya."

Bagi sebagian orang minum kopi di malam hari adalah salah satu cara untuk menemani mereka mengerjakan tugas atau kegiatan malam lainnya. Karena dengan meminum kopi mungkin akan sedikit membantu mereka untuk tidak tidur.

Tapi hal itu berbanding terbalik dengan teman mereka, Aline. Aline justru memiliki kebiasaan minum kopi di malam hari sebelum dia tidur. Aneh memang, tapi itulah sahabat mereka.

"Kenapa gak bisa tidur? Sendirian lo di rumah?" Tanya Audrey seraya menyudahi proses belajarnya. Mematikan laptop yang baru saja di pakainya serta merapikan Buku-buku yang tadi berserakan kembali ke tempatnya.

"Iya. Nyokap Bokap gue pergi lagi." Blas Alexa dengan wajah sendunya.

^^^"Bukannya tadi sebelum kita pulang lo bilang mereka ada di rumah?" Mengambil handphonenya yang sejak tadi terabaikan, Aurora menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi karena rasa lelah belajar. ^^^

"Emang. Tapi pas gue pulang mereka udah gak ada. Kata Bibi udah berangkat ke Belanda tadi sore."

"Kenapa gak ke rumah gue aja? Lo kan bisa nginep disini kayak biasanya." Tanya Aline seraya berdiri dari duduknya dan meletakkan gelas yang telah kosong ke dalam wastafel.

"Males. Udah terlanjur nyampe rumah." Lelah dengan posisi yang sama, Alexa akhirnya duduk bersandar di kepala ranjang seraya mengambil satu bantal untuk dia jadikan sandaran tangan di atas pahanya.

"Ra? Mau kemana?" Tanya Aline saat melihat Aurora berjalan keluar kamarnya.

^^^"Bikin minum."^^^

Menuruni anak tangga rumahnya dengan perlahan karena lampu yang sudah dimatikan, Aurora melangkah menuju dapur yang ada di bagian belakang.

Rasa lelah dan kantuk yang sudah tak tertahankanlah yang membuat Aurora memutuskan untuk membuat kopi sebagai teman. Jika tidak, sudah bisa dipastikan kalau dia akan semakin lama mengerjakan tugas yang masih belum terselesaikan karena kurangnya konsentrasi.

"Lo jam segini belum tidur, emang Luca gak ke ganggu?" Tanya Alexa seraya memperhatikan Aurora yang tengah mengambil gelas dari dalam lemari dapur.

^^^"Gak. Kita kan beda kamar. Jadi dia gak tau kalo gue belum tidur. Lagian, kayaknya dia juga belum pulang dari kantor. Masih lembur." ^^^

Sembari menjelaskan, Aurora terlihat sibuk membuat racikan kopinya, sementara handphonenya dia letakkan di atas meja dapur begitu saja.

"Huh?? Kalian berdua gak tidur sekamar? Kenapa? Lagi musuhan?"

^^^"Kan gue udah pernah cerita Lexa.... Lo lupa?" Mengambil benda persegi panjang itu kembali, Aurora menatap kesal sang sahabat. ^^^

"Oh iya ya. Sorry, gue lupa." Kekeh Alexa menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

"Eh, ujan?" Gumam Aline terkejut saat hendak menaiki tangga rumahnya dan mendengar rintik hujan mulai membasahi jendela rumahnya.

"Tempat gue enggak." Sahut Audrey menoleh ke arah jendela kamarnya.

"Tempat gue juga enggak." Balas Alexa juga melakukan hal yang sama dengan Audrey.

"Ra? Aurora? Tempat lo ujan gak?" Tanya Aline mulai khawatir dan sedikit panik karena Aurora kembali meletakkan handphonenya begitu saja sebab kopinya sudah selesai dia buat.

Mengalihkan pandangannya ke arah luar, Aurora membawa kopinya perlahan seraya kembali mengambil handphonenya.

^^^"Masih grim~" ^^^

Duarrr.....!!!!

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, suara guntur yang menggelegar tiba-tiba terdengar.

^^^"Aaa!!!!" Teriak Aurora sekencang mungkin dan spontan melepas gelas kopi yang ada di tangannya dan melempar handphonenya di atas meja begitu saja. ^^^

"Ara?!" Teriak mereka bertiga kompak memanggil Aurora.

"Ra? Lo denger kita kan?" Panggil Audrey benar-benar khawatir seraya melompat dari tempat tidurnya.

"Ara?! Please jawab dong.... Lo denger kita kan?" Ikutan panik sekaligus khawatir karena tak ada gambar yang bisa mereka lihat dari panggilan Aurora, Alexa yang sudah tak duduk di tempat tidurnya pun hanya bisa jalan-jalan mondar-mandir karena gelisah dan takut terjadi apa-apa dengan Aurora.

"Gays, gimana ini? Ara pasti ketakutan banget sekarang. Mana Luca gak ada di rumah lagi." Ucap Aline yang juga sama panik dan khawatirnya tapi tetap berusaha untuk tenang.

"Tenang dulu. Gue hubungin Luca sekarang, siapa tau aja dia lagi ada di perjalanan." Ucap Audrey yang langsung mematikan panggilannya dan beralih mencari nama kontak Luca yang ada di handphonenya.

Sedangkan Alexa dan Aline yang juga menunggu kabar Aurora hanya bisa harap-harap cemas tanpa mematikan panggilan diantara mereka.

Sementara itu, Luca yang terlihat baru saja selesai dengan pekerjaannya tengah bersiap untuk pulang saat handphonenya tiba-tiba berdering menandakan ada panggilan.

Mengernyit heran saat nama yang tertera di layar bukan dari sang istri Aurora, Luca melirik jam di tangan kirinya sekilas yang sudah menunjukkan pukul 2 pagi sebelum mengangkat panggilan itu.

^^^"Hey Rey. Kenapa? Tumben banget lo telpon gue pagi-pagi buta kayak gini." Tanya Luca tanpa basa-basi seraya melangkah keluar dari ruangannya. ^^^

"Lo dimana sekarang?"

^^^"Gue lagi di kantor. Ini mau jalan pulang, kenapa?" Menekan tombol pintu lift, Luca menghentikan langkahnya sejenak untuk menunggu pintu lift terbuka. ^^^

"Pulang cepetan sekarang! Di luar ujan dan ada petir juga. Ara takut sama suara petir. Dia pasti lagi ketakutan sekarang." Beritahu Audrey tergesa seraya memerintah.

^^^"Lo tau darimana kalo Ara lagi ketakutan?" Masuk ke dalam lift, Luca langsung menekan tombol lantai bawah. ^^^

"Kita barusan lagi telponan bareng, terus Ara tiba-tiba teriak ketakutan. Itu pasti karena dia denger suara petir. Lo pokoknya harus pulang sekarang! Cepetan!" Tegas Audrey memerintah.

Mematikan panggilan itu sepihak, Luca menatap layar di atas pintu lift yang masih menunjukkan angka 7. Dia benar-benar terlihat cemas sekaligus khawatir dengan keadaan Aurora sekarang. Jika saja dia tahu sejak awal kalau istrinya itu takut petir, Luca pasti akan pulang lebih cepat dan ada di sana menemani Aurora melawan rasa takutnya.

Sampai di lantai bawah, pintu lift terbuka. Luca pun langsung berlari secepat yang dia bisa untuk keluar dari gedung dan menuju mobilnya.

Sementara itu, Audrey yang sudah sedikit lebih tenang karena berhasil menghubungi Luca kembali melakukan video call bersama teman-temannya.

"Gimana Rey? Lo berhasil hubungin Luca?" Tanya Aline yang masih terlihat khawatir saat mengangkat panggilan Audrey.

^^^"Berhasil. Dia lagi otw pulang sekarang."^^^

"Syukurlah. Ara pasti lagi ketakutan banget sekarang." Menghembuskan nafas lega, Alexa pun kembali duduk di tempat tidurnya. Setidaknya, mereka bisa sedikit lebih tenang dan menunggu kabar dari Luca.

"Semoga aja dia gak papa dan Luca bisa tenangin dia." Ucap Aline penuh harap.

^^^"Semoga aja."^^^

***

Sepanjang perjalanan, Luca melajukan mobilnya sekencang mungkin yang dia bisa. Tak peduli jika derasnya hujan mengurangi jarak pandang dan suara guntur yang menggelegar sering kali mengejutkan. Karena bagi Luca yang terpenting sekarang adalah dia sampai di rumah dan memastikan keadaan Aurora sang istri baik-baik saja.

Setibanya di rumah, Luca hanya memarkirkan mobilnya di area carpet. Berlari memasuki rumah dan langsung mencari keberadaan Aurora di kamarnya.

"Ra? Ara? Lo baik-baik aja~kan?" Panggil Luca tertahan karena saat dia membuka pintu kamar Aurora tak ada sosok yang di carinya di sama.

Semakin di buat panik karena Aurora ternyata tak ada di kamarnya, Luca langsung merogoh saku celananya mengambil handphone untuk menghubungi Aurora segera seraya menuruni tangga dengan tergesa.

Alih-alih mendapatkan jawaban, Luca justru dikejutkan dengan nada dering handphone Aurora yang terdengar.

Tak langsung mematikannya, Luca melangkah perlahan seraya mengalihkan seluruh pandangannya ke ruangan yang ada di lantai pertama.

Sampai akhirnya, Luca tersadar jika lampu dapur masih menyala.

Mematikan panggilannya, Luca langsung berlari ke arah dapur untuk mencari keberadaan Aurora di sana.

Sayangnya, hanya handphone milik Aurora yang tergeletak di atas meja dapur yang Luca temukan.

Suara guntur masih terus terdengar, hujan deras di luar juga belum menunjukkan tanda-tanda akan selesai. Luca harus segera menemukan Aurora jika tak ingin ada hal yang buruk terjadi.

Mengedarkan pandangan, Luca akhirnya berhasil menemukan pecahan gelas yang berserakan bersama dengan kopi yang tumpah.

See. Tak jauh dari sana, Luca melihat Aurora yang terduduk di pojokan dapur seraya melipat kedua lututnya, menutup kedua telinganya dengan tangannya dengan tubuh yang bergetar hebat dan  tangis ketakutan yang tak lagi bisa di dengar.

"Ara?" Panggil Luca langsung menghampiri Aurora dan memeluknya dengan erat.

"Tenang ya? Tenang..... Gue udah ada di sini di samping lo. Lo gak perlu takut lagi. Tenang ya?" Mengusap punggung Aurora dengan lembut dan perlahan, Luca berusaha sebisa mungkin memberi kenyamanan dan ketenangan.

Melihat keadaan Aurora yang seperti ini jelas membuat Luca tersakiti. Sampai kapanpun, dia tak akan pernah meninggalkan Aurora lagi sendiri di rumah terlebih jika dalam keadaan hujan dan perti seperti sekarang.

***

Sebagai seorang sahabat, Audrey, Alexa dan Aline tak bisa tenang begitu saja sebelum mereka tahu bagaimana keadaan Aurora sekarang.

Sudah berkali-kali mereka mencoba menghubungi Aurora untuk memastikan keadaannya, tapi tak ada satupun jawaban. Mencoba menghubungi Luca pun tapi hasilnya sama.

^^^"Gays, gimana ini?" Tanya Audrey meminta saran karena mulai frustasi. ^^^

"Hujannya belum berhenti dan suara petirnya juga masih terus kedengeran. Kita harus pastiin keadaan Aurora sekarang." Sahut Alexa yang sejak tadi berdiri di depan jendela kamarnya untuk memantau keadaan di luar.

^^^"Apa kita perlu ke rumahnya aja sekarang? Sumpah, gue khawatir banget sekarang. Ara pasti ketakutan banget." Balas Audrey sama tak tenangnya dengan mereka. ^^^

"Tenang dulu Rey. Kita pastiin dulu Luca udah sampe di rumah apa belum?" Ucap Aline berusaha menenangkan.

^^^"Gue udah coba hubungin mereka. Tapi gak ada yang angkat."^^^

"Gue juga." Sahut Alexa.

"Gue juga sama." Balas Aline.

^^^"Ya udah, kita samperin aja ke rumahnya." Putus Audrey tak sabar menunggu seraya melangkah cepat mengambil kunci mobil yang dia letakkan di atas meja nakas sebelah tempat tidurnya. ^^^

"Tunggu tunggu tunggu~" Cegah Alexa secepat kilat mengalihkan panggilan videonya ke aplikasi chat karena ada notifikasi pesan yang masuk.

^^^"Apaan lagi sih Lexa.....? Kelamaan kalo kita kebanyakan mikir. Keburu Aranya kenapa-napa nanti." Menghentikan langkahnya di depan pintu sebelum membukanya, Audrey menatap kesal Alexa yang tak lagi menampilkan wajahnya. ^^^

"Sabar dulu Rey.... Luca chat gue nih."

^^^"Ya udah, buka cepetan."^^^

"Apa katanya?" Tanya Aline penasaran.

Bukannya menjawab pertanyaan yang di berikan, Alexa justru sibuk membalas pesan yang Luca kirimkan.

"Alexa..... Gimana? Luca bilang apa ke lo?" Tanya Aline tak sabaran setelah beberapa saat menunggu.

Beralih dari aplikasi chatting, Alexa kembali mengatur layar handphonenya menjadi panggilan video seperti semula.

"Luca udah ada di rumah. Ara juga udah aman sama dia dan gak kenapa-napa. Sekarang, Ara lagi tidur katanya." Beritahu Alexa dengan wajah yang sudah berubah tenang daripada sebelumnya.

^^^"Huuh..... Syukur deh kalo Ara gak papa." Ikut menghembuskan nafas lega, Audrey pun mengurungkan niatnya dan kembali meletakkan kunci mobilnya di tempat semula lalu duduk di pinggir tempat tidur. ^^^

"Mending kita tidur sekarang. Besok, baru kita pastiin lagi keadaan Ara gimana." Ucap Aline memberi saran karena hari juga sudah sangat malam.

"Oke. Good night gays." Balas Alexa setuju.

^^^"Good night."^^^

"Good night."

Lebih dulu mematikan panggilannya, Aline pun meletakkan handphonenya di atas meja nakas lalu berbaring di atas tempat tidur dan bersiap untuk tidur. Begitupun dengan Audrey dan Alexa yang melakukan hal yang sama.

***

Sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari wajah Aurora yang tenang dalam tidurnya, Luca juga tak menghentikan usapan lembutnya di kepala Aurora untuk tetap memberi ketenangan dan kenyamanan bagi Aurora.

Dalam diam, Luca berjanji jika ini adalah kali pertama dan terakhir dia melihat Aurora menangis. Entah itu karena dia yang ketakutan seperti tadi atau karena sesuatu yang lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!