Follow fb : mumuyaa
ig : @tulisanmumu
Zaidan tidak tahu, apakah ini cinta pada pandangan pertama, atau hanya rasa kasihan hingga rasa ingin melindungi saja karena dirinya yang merupakan seorang polisi. Namun yang ia tahu, ia ingin melindungi wanita itu.
“Saya berjanji. Saya akan pastikan pria bajingan ini pasti akan menerima hukuman yang berat. Dia tidak akan pernah lolos, tidak akan pernah merasakan dunia luar lagi. Jadi… jangan buat hati ibumu patah lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PPPL 24
“Pak Zaidan?”
Suara itu terdengar lembut walau terselip nada keraguan disana. Namun tetap saja sukses membuat Zaidan menegang beberapa saat.
“Eh… Zahra,” sahutnya cepat. “Kok kamu di sini?”
“Mau beli ini, Pak,” jawab Zahra sambil menunjuk asal ke arah etalase yang berisikan berbagai macam potongan ayam. “Pak Zaidan sendiri kok bisa ke sini?”
“Saya lapar.” Sebuah jawaban singkat, namun tetap saja membuat Zahra mengernyitkan dahinya. Tidak ada yang salah sebenarnya dari jawaban Zaidan. Tapi… bukankah ini cukup jauh, pikirnya.
Namun Zahra tidak mau mengambil pusing. Wanita itu hanya mengangguk pelan dan tersenyum.
“Duduk disini aja, Zahra daripada berdiri.” Zaidan meminta Zahra untuk duduk di kursi kosong yang ada di depannya.
Karena warung memang sedang ramai, akhirnya Zahra memilih untuk duduk seperti yang diminta oleh Zaidan. Ia tarik kursi plastik itu dengan pelan, lalu kemudian duduk dengan tenang.
Beberapa detik berlalu dalam diam. Suara wajan, percikan minyak, dan obrolan pengunjung lain mengisi ruang di antara mereka, hingga Zaidan akhirnya membuka suara.
“Dari mana?” Sebuah pertanyaan sederhana, namun Zaidan cukup deg-degan menanti jawaban yang akan diberikan oleh Zahra.
“Dari rumah.”
“Yakin?” Zaidan menatapnya penuh selidik.
“Yakin, Pak,” jawab Zahra, heran.
Zaidan memperhatikan pakaian yang dikenakan oleh Zahra kala itu. Zahra memakai jaket merah dan celana training. Cukup aneh jika memang pergi malam minggu, pikir Zaidan.
“Terus… kenapa libur?” tanyanya lagi.
“Kok Bapak tahu saya libur?” Zahra cukup terkejut dengan pertanyaan Zaidan.
Zaidan sempat terdiam. Ia baru menyadari jika sepertinya pertanyaannya barusan agak kebablasan. Namun Zaidan ingat, jika ia telah memilih pilihannya, yaitu maju ke depan.
“Saya datang ke Happy Mart tadi.”
“Oh…” Zahra mengangguk pelan. “Ngapain Bapak datang kesana?”
Zaidan menghela napasnya pelan. Entah kenapa telinganya terasa gatal dengan ucapan Zahra.
“Saya cari kamu,” jawabnya pelan.
“Untuk apa Bapak cari saya?”
“Saya bukan bapak kamu, Zahra!” sela Zaidan cepat, nada suaranya meninggi tanpa ia sadari. Zaidan cukup terganggu dengan panggilan Zahra. Apa dirinya setua itu jadinya di panggil Bapak?
Zahra yang terkejut akhirnya hanya menundukkan kepalanya. “Maaf, Pak,” cicitnya. Baru kali ini setelah hari kejadian itu ia melihat Zaidan yang marah.
Zaidan kembali menarik napas panjang. Lagi-lagi ia buat kesalahan. Ia menyesal, lalu kemudian mengusap wajahnya sebentar.
“Maaf… saya tidak marah. Cuma–kamu bisa, kan, panggil saya dengan Zaidan saja? Saya tidak setua itu untuk dipanggil bapak, Zahra.” Zaidan mencoba berucap dengan sepelan dan setenang mungkin.
“Tapi… Pak Zaidan, kan lebih tua daripada saya. Tidak sopan jika saya panggil nama saja,” cicitnya.
“Ya sudah. Terserah mau panggil apa, asal jangan panggil saya bapak.”
Zahra hanya mengangguk kecil. Padahal niatnya memanggil ‘bapak’ karena dirinya yang menghargai Zaidan dengan profesinya. Namun ia tidak ingin memperkeruh dan memperbesarkan masalah.
“Iya… Mas Zaidan.”
Sebetulnya ini adalah panggilan biasa yang sering sekali Zaidan dengar. Tetapi… panggilan itu terdengar berbeda ketika keluar dari bibir Zahra.
Tak lama seorang pria datang membawakan pesanan milik Zaidan.
“Tambah satu lagi ya, Bang untuk makan disini.” Zaidan langsung menunjuk ke arah Zahra yang langsung membuat wanita itu terkejut.
“Oke, sebentar, Bang.” Pria yang merupakan karyawan dari warung itu kembali ke tempatnya untuk menyiapkan kembali pesanan Zaidan.
“Pak–eh, Mas– saya udah pesan sendiri tadi. Lagian saya bungkus, bukan makan disini,” sergah Zahra.
“Bang… nggak jadi. Pesanan Kakak ini aja ya, yang makan disini. Yang barusan aku pesan nggak jadi,” teriak Zaidan ke penjual pecel.
“Lho lho… Pak Zaidan…”
“Temenin saya makan.”
Ucapan Zaidan barusan entah bagaimana membuat Zahra terdiam. Tatapan mata Zaidan yang tampak memohon seperti anak kecil, suaranya pun pelan dan penuh permohonan. Semuanya terasa berbeda, tidak seperti Zaidan yang ia temui seperti biasanya. Kali ini, dimata Zahra, Zaidan terlihat rapuh.
Zahra pun luluh.
“Yang punya saya tadi, satu makan disini yang satu lagi dibungkus ya, Bang.”
Tampak senyum kelegaan melengkung di bibir Zaidan. Dalam hatinya ia bersorak, setidaknya malam ini tidak benar-benar zonk, pikirnya.
“Pesan minum?” tawar Zaidan.
“Air putih saja, Pak.” Zahra menunjuk ke arah meja, dimana telah tersedia beberapa botol air mineral.
Zaidan kemudian mengangguk. Ia tidak mau terlalu memaksa sehingga nantinya akan membuat Zahra merasa tidak nyaman.
Tidak lama nasi dan ayam pesanan Zahra tiba. Ia mengambil sendok dan garpu, lalu mulai memilah ayam goreng miliknya.
Zaidan tidak langsung menyentuh makanannya. Ia baru menarik piringnya mendekat setelah melihat Zahra mulai menyuap nasi pertama.
“Baru mau makan kalau saya duluan?” tanya Zahra lirih.
Zaidan terkekeh kecil, agak malu. “Iya. Takut dibilang nggak sopan.”
Zahra tersenyum tipis. Ini memanglah bukan kali pertama dirinya makan bersama dengan Zaidan. Namun entah bagaimana Zahra merasakan jika Zaidan berbeda malam ini.
Pakaiannya yang rapi untuk hanya sekedar makan di warung kaki lima. Namun Zahra teringat sesuatu yang belum sempat ia tanyakan tadi.
“Bapak–eh maksud saya Mas Zaidan kenapa cari saya?”
Zaidan terbatuk, dan merasakan pedas di tenggorokannya.
“Pelan-pelan makannya, Mas.” Zahra menyodorkan satu botol air mineral yang telah dibuka agar Zaidan bisa langsung meminumnya.
Zaidan menerima botol itu dan langsung meminumnya cepat, lalu kemudian secepat mungkin ia menguasai dirinya.
“Nggak apa-apa, Mas?” tanya Zahra memastikan.
“Iya, nggak apa-apa.” Zaidan kemudian mulai menyuapkan kembali nasi ke dalam mulutnya.
“Lalu… kenapa Mas Zaidan cari saya?” Rupanya Zahra masih terus saja menanyakan alasan Zaian.
“Mau minta ditemani makan,” jawab Zaidan cepat.
“Ha?” Zahra semakin bingung setelah mendengar jawaban yang diberikan Zaidan.
“Makan, Pak–eh Mas?”
“Iya. Saya suka soalnya.”
“Suka apa?”
Zaidan mengangkat kepalanya pelan, menatap dalam ke arah Zahra yang juga sedang menatapnya.
Tatapan itu membuat Zahra sedikit salah tingkah. Tatapan Zaidan tampak berbeda.
“Saya suka makanan disini.”
“Oh.” Zahra kemudian menunduk, dan kembali menyuapkan nasinya ke dalam mulut. Entah bagaimana, hatinya merasakan sesuatu yang sulit ia tahu artinya.
“Kenapa kok seperti kecewa gitu?” tanya Zaidan yang membuat Zahra menjadi gelagapan.
“Enggak. Siapa yang kecewa?”
Zaidan mengangkat kedua bahunya. “Kali aja ngarepnya saya bilang suka sama kamu.”
...****************...
Jangan lupa like dan komennya ya best ❤️❤️
ngeriiii euy... 🤣🤣🤣🤣