Akibat ledakan di laboratorium, Jenara terbangun menjadi ibu tiri jahat di sebuah desa kerajaan Campa. Ia adalah wanita yang dibenci warga, ditakuti tiga anak tiri, dan akan ditinggalkan oleh suaminya.
Jenara menolak akhir itu.
Dengan pengetahuan sebagai peneliti bahan pangan sekaligus kemampuan memasaknya, Jenara membuat anak-anak dan para orang tua menjadi lebih sehat.
Perlahan, warga yang membencinya mulai bergantung padanya.
Tiga anak tiri yang ketakutan mulai memanggilnya Ibu.
Dan, saat kemampuannya menarik perhatian istana, rahasia terbesar pun terbongkar. Suami tampan yang selalu menjaga jarak itu bukanlah peternak desa biasa, melainkan sosok yang tak ia sangka.
Mampukah Jenara mengubah takdir ibu tiri jahat menjadi akhir bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ICHA Lauren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sombong Tanpa Batas
Seran tampak terkejut ketika Jenara tiba-tiba menyodorkan nasi kepal itu ke bibirnya.
“Cobalah sedikit,” pinta Jenara dengan mata membulat.
Ragu sekejap, Seran akhirnya menerima suapan itu dan mengunyah perlahan. Jenara memperhatikannya dengan saksama, seakan menunggu vonis dari hakim.
“Bagaimana rasanya?” tanya Jenara, tak bisa menyembunyikan rasa penasaran.
Seran menelan nasi kepal itu, lalu mengangguk pelan.
“Aku rasa… warga desa akan suka.”
"Terima kasih."
Senyum Jenara langsung mengembang. Ia menatap Seran lagi, kali ini dengan nada sedikit sungkan.
“Seran, aku bisa minta tolong padamu?”
“Katakan saja.”
“Tolong antarkan empat nasi kepal ke rumah Kepala Desa. Aku ingin memberikannya sebagai ucapan terima kasih. Setelah itu, kau boleh bekerja. Aku bisa mengurus jualanku sendiri.”
Seran tidak banyak bicara, hanya mengangguk sebagai jawaban.
Jenara yang merasa lega segera mengambil tampah kecil. Dengan hati-hati, ia menata empat nasi kepal di atasnya, memastikan bungkus daun pisangnya rapi dan bersih. Setelah selesai, tampah itu diserahkan kepada Seran.
“Ada yang mau ikut Ayah ke rumah Kepala Desa? Sekalian beli bibit ikan lele," kata Seran seraya beranjak.
Gatra langsung berdiri. “Aku, Ayah."
Seran mengangguk. Ia menggenggam tangan Gatra sambil melangkah pergi membawa tampah itu.
Jenara kembali ke dapur. Ia menyelesaikan nasi kepal yang tersisa, lalu memisahkan empat buah dan meletakkannya terpisah. Gita yang sejak tadi memperhatikan akhirnya bertanya.
“Bu, yang ini untuk apa?”
“Untuk dibagikan gratis, agar calon pembeli bisa mencicipi dulu," jawab Jenara lembut. “Sekarang, Ibu mau membuat kue ubi ungu.”
Usai mencuci tangan, Jenara menyiapkan sebuah kukusan tanah liat di atas tungku. Air di dalamnya mulai dipanaskan sampai uap tipis naik dan menempel pada tutupnya.
Jenara memotong ubi-ubi ungu yang telah dicuci bersih menjadi beberapa bagian, kemudian ditata rapi di dalam kukusan.
Sambil menunggu ubi empuk, ia menyiapkan bahan lain, yaitu tepung beras yang sudah ditumbuk halus, sedikit tepung singkong, gula aren serut, serta sejumput garam.
Ubi ungu yang telah matang diangkat dan dihancurkan selagi masih hangat. Semua bahan itu dimasukkan ke dalam wadah kayu besar untuk dicampur.
Tangan Jenara mulai bekerja menguleni adonan, hingga perlahan berubah halus dan lentur.
Gita dan Giri yang sejak tadi duduk di sudut dapur, menatap Jenara dengan takjub. Mereka semakin kagum pada ibu mereka yang telah berubah menjadi koki handal.
Selesai membuat adonan, Jenara mengambil cangkir kecil milik 3G, berupa cangkir tanah liat dengan bibir sedikit melebar. Bagian dalamnya dioles tipis minyak kelapa, lalu adonan ditekan masuk hingga padat. Saat dikeluarkan, bentuknya mengembang menyerupai cupcake.
Untuk hiasan, Jenara menambahkan sedikit saus dari madu yang ia buat kental. Dengan daun pisang yang digulung menyerupai plastik segitiga, ia membentuk pola lucu seperti pusaran kecil.
Satu per satu kue itu ditata kembali ke dalam kukusan. Tutup dipasang dan uap kembali mengepul.
“Ayo, kita tata dulu nasi kepalnya di depan," ajak Jenara kepada anak-anak. Ia memperkirakan cupcake kukus ubi ungu akan matang tiga puluh menit lagi.
Mereka mengangguk semangat. Bertiga membawa tampah tersebut ke depan rumah.
Gita dan Giri membantu menata nasi kepal di atas meja kayu, sedangkan Jenara memasang papan bertuliskan menu jualannya.
Tak lama, tiga orang ibu yang baru pulang dari pasar berhenti di depan. Keranjang masih tergantung di lengan mereka.
“Jenara, kau sekarang berjualan makanan?” tanya salah satu dari mereka penasaran.
“Iya, Bu,” jawab Jenara ramah. “Ini namanya nasi kepal. Ibu mau cicipi dulu?”
Ketiganya saling pandang, sebelum mengangguk bersamaan. Jenara membuka satu nasi kepal contoh, membaginya kecil-kecil, lalu memberikan sendok kayu.
Salah satu ibu baru saja menyuapkan gigitan pertama ke mulutnya, ketika tiba-tiba terdengar derap langkah kaki mendekat.
Jenara menoleh. Ia terkejut melihat dua orang lelaki membawa meja jualan. Sementara di belakang mereka, Ranisya muncul bersama Rasmi sembari mengangkat baskom besar.
Ranisya tersenyum tipis. “Bagaimana kabarmu, Jenara? Kami akan berjualan di sini. Di dekatmu.”
Lalu ia menoleh ke tiga ibu itu, suaranya sedikit ditinggikan.
“Ibu-ibu, untuk apa mencicipi makanan aneh buatan Jenara? Lebih baik beli mi kuah buatan kami. Rasanya enak dan jelas sudah sering dipesan oleh warga desa.”
Ucapan provokatif Ranisya membuat Jenara menegakkan punggungnya. Dengan sorot mata tajam, ia menatap lurus ke arah wanita itu.
“Ranisya, kau sengaja berjualan di sini untuk menggangguku? Kalau mau bersaing secara jujur, berjualan saja di depan rumahmu sendiri.”
Ranisya mendengus kecil dengan bibir yang melengkung sinis. "Kau takut kalah, ya, Jenara? Lebih baik menyerah dari sekarang. Tidak ada gunanya melawan kami."
Belum sempat Jenara menjawab, Rasmi sudah maju selangkah. Suaranya lantang dan penuh bujuk rayu.
“Ibu-ibu, mari beli mi kuah di tempat kami. Masih hangat, baru dimasak."
Dua ibu yang tadi berdiri di samping meja jualan Jenara saling pandang. Tubuh mereka mulai condong, seolah hendak berbalik arah.
Namun, ibu yang sejak tadi memegang sendok justru menyuapkan nasi kepal itu ke mulutnya. Ketika ia mengunyah perlahan, alisnya terangkat. Ia mengunyah lagi beberapa kali untuk memastikan rasa di lidahnya
“Jenara, nasi ini enak. Lembut, gurih, dan dagingnya empuk sekali," puji Ibu tersebut.
Dua ibu lain yang sudah berjalan ke arah Ranisya, langsung berhenti. Mereka berbalik ke meja Jenara dengan wajah penasaran.
“Boleh kami cicipi juga?” tanya salah satunya.
Jenara mengangguk dan membagikan potongan kecil. Tak lama kemudian, keduanya ikut mengangguk-angguk setuju.
"Memang dagingnya enak."
“Itu bukan daging, Bu. Isinya jamur dan sayuran.”
“Jamur?” ulang salah satu ibu.
“Iya. Jamur tiram ini baik untuk kesehatan. Mengenyangkan, tidak berat di perut. Cocok untuk bekal suami ke ladang, juga untuk anak-anak.”
“Kami ambil dua,” kata ibu pertama. “Berapa harganya?”
“Dua kepal, satu keping perak,” jawab Jenara mantap.
Belum sempat tangan mereka merogoh kantong kain, Ranisya melangkah maju. Ia berdiri tepat di antara Jenara dan para pembeli.
“Ibu-ibu, tunggu dulu,” katanya dengan nada cemas. “Apa kalian yakin jamur di dalam nasi itu tidak membuat sakit perut atau keracunan?"
Ranisya kemudian menatap angkuh ke arah Jenara.
"Aku dan Ibu akan ditunjuk oleh Kepala Desa, untuk menjamu Tuan Gubernur yang akan berkunjung kemari. Kami sangat berpengalaman. Beda dengan orang yang jelas-jelas payah dalam hal memasak, tapi memaksakan diri."
mau punya ruang Wiji juga lah 🙏🙏🙏