Apa jadinya jika yang menjadi sekretaris di perusahaan adalah istri sendiri? jangankan bisa menggoda karyawan wanitanya bahkan untuk sekedar lirik sana-sini pun tidak akan bisa dilakukan.
Sementara itu, dibalik sikap ceria sang istri ternyata dia harus bertahan menghadapi keluarga suami yang sering menyindirnya karena belum dikaruniai anak. Akankah rumah tangga mereka bisa kuat ataukah harus hancur hanya gara-gara sang istri belum juga dikaruniai keturunan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27 Berubah Dingin
Ashika duduk di kursi taman rumah sakit, air matanya tidak henti-hentinya mengalir dengan deras. Pasha yang baru sampai di rumah sakit, menghentikan langkahnya kala ujung matanya melihat wanita yang sangat dia kenal. Pasha pun memutuskan untuk menghampiri Ashika.
"Ashika, sedang apa kamu di sini?" tanya Pasha.
Ashika kaget, dia cepat-cepat menghapus air matanya. "Mas Pasha."
"Kamu nangis lagi?" tanya Pasha kaget.
Ashika hanya menundukkan kepalanya, kali ini hatinya benar-benar sangat sakit sehingga air matanya tidak bisa di tahan lagi. "Ada apa lagi? Apa Rio melakukan sesuatu sama kamu?" tanya Pasha dengan kesalnya.
"Ternyata Mas Rio sudah menikah siri dengan wanita itu, Mas. Dia lagi-lagi membohongi aku bahkan tanpa sepengetahuan aku dia berani sekali menikah siri dengan Nathalie," sahut Ashika dengan deraian air matanya.
"Kurang ajar sekali dia, lebih baik kamu cerai saja dengan dia. Kamu tidak pantas disakiti terus seperti ini," geram Pasha.
"Tapi Papa Anton meminta aku untuk mempertahankan pernikahan ini, hanya Papa Anton yang selama ini sayang sama aku dan aku tidak bisa menolak permintaan dia apalagi sekarang kondisinya sedang tidak baik-baik saja," sahut Ashika.
Pasha menghembuskan napasnya kasar, dia kembali melihat ke arah Ashika yang terus saja menangis. Pasha tidak tega melihat Ashika seperti itu, dia pun menarik tubuh Ashika ke dalam dekapannya. Tangisan Ashika semakin pecah, selama ini dia memang sangat membutuhkan seseorang yang bisa menjadi sandaran hatinya.
"Menangislah sampai kamu puas biar hati kamu lega," ucap Pasha.
Cukup lama Ashika menangis dipelukan Pasha, hingga Ashika pun tersadar dan menarik tubuhnya sendiri. "Maaf Mas, jas Mas jadi kotor," ucap Ashika merasa bersalah.
"Apa kamu sudah baikan?" tanya Pasha.
"Lumayan, Mas," sahut Ashika.
"Sudah, jangan menangis lagi. Kamu harus menjadi wanita yang kuat, jangan lemah, karena kalau kamu lemah wanita itu akan bahagia dan merasa menang karena sudah bisa merebut suami kamu. Kalau bisa, kamu harus bisa bersikap elegan menghadapi mereka, tunjukan jika kamu tidak menyesal sudah memberikan pria brengsek kepada wanita itu," ucap Pasha.
Ashika terdiam sejenak, benar apa yang dikatakan Pasha. "Kamu benar Mas, aku harus kuat menghadapi mereka," sahut Ashika.
"Nah, ini baru Ashika yang aku kenal," ucap Pasha sembari mengusap kepala Ashika.
Ashika seketika membeku, keduanya saling tatap satu sama lain. Pasha segera menarik tangannya sedangkan Ashika merasa gugup. "Mas, kalau begitu aku pamit soalnya aku masih banyak pekerjaan," ucap Ashika gugup.
"Ya, sudah kamu hati-hati," sahut Pasha.
Ashika pun segera pergi dari rumah sakit, sedangkan Pasha menjenguk Anton. Selama berada di sana, Pasha dan Rio tidak saling sapa karena Rio masih marah kepada Pasha.
***
Malam pun tiba...
Sikap Ashika berubah sangat dingin, bahkan dia sama sekali tidak menyapa Rio kala Rio pulang dari kantor. Ashika mengambil selimut dan bantal, dia mau tidur terpisah dengan Rio.
"Kamu mau ke mana sayang?" tanya Rio.
"Aku mau tidur di kamar tamu saja," sahut Ashika.
"Kenapa? kamu sudah tidak mau tidur dengan Mas lagi?" tanya Rio sedih.
"Aku tidak perlu menjawabnya, Mas bisa jawab sendiri," sahut Ashika.
Ashika hendak pergi tapi Rio menahannya. "Ashika, aku akan menceraikan Nathalie jika kamu yang memintanya asalkan kamu tetap berada di sampingku," ucap Rio memohon.
Ashika tersenyum sinis lalu menghempaskan tangan Rio. "Lebih baik kamu ceraikan aku Mas, dari pada Mas menceraikan Nathalie karena dia saat ini sedang mengandung anakmu sedangkan aku hanya wanita mandul," geram Ashika.
"Masalah anak gampang, nanti Mas yang akan mengambil hak asuh anak itu," ucap Rio.
"Terus, Mas akan bawa anak itu dan menyuruh aku untuk merawatnya, begitu? Enak banget jadi Nathalie," sinis Ashika.
"Bukan begitu maksud Mas, kamu tidak perlu merawatnya nanti Mas akan pekerjakan baby sitter untuk anak itu," ucap Rio panik.
"Mulai sekarang, kita urus saja urusan masing-masing dan Mas jangan pikirkan aku, pikirkan saja Nathalie dan calon anak kalian karena mereka lebih membutuhkan Mas dibandingkan aku. Setelah Papa Anton sehat kembali, aku akan segera menggugat cerai Mas," ucap Ashika dengan sangat mantap.
Ashika dengan cepat keluar dari kamar itu, Rio hanya bisa terduduk lemas. Penyesalan memang selalu datang di akhir cerita dan akibat nafsu akhirnya Rio harus kehilangan wanita yang selama ini sudah menemaninya.
***
Keesokan harinya...
Perusahaan yang dipegang Ashika saat ini sedang bekerja sama dengan perusahaan milik Pasha. Ashika dan Pasha saat ini sudah janjian di sebuah restoran untuk membicarakan masalah kerja sama itu. Pasha yang meminta bertemu di restoran karena dia memang tidak biasa bertemu di kantor, menurutnya bertemu di kantor itu sangat membosankan.
"Bagaimana kabar kamu sekarang? baik-baik saja 'kan?" tanya Pasha.
"Sangat baik, Mas," sahut Ashika.
"Syukurlah."
Tidak lama kemudian, Rio dan Nathalie masuk ke restoran yang sama. Nathalie merengek kepada Rio untuk menemaninya jalan-jalan dan Rio tidak bisa menolaknya. Rio mengepalkan tangannya kala melihat Ashika berada di sana juga bersama Pasha.
Rio segera menghampiri mereka dan Nathalie tampak tersenyum bahagia. "Bagus, kalian sudah berani jalan berdua lagi. Ashika, kamu itu masih istri aku, ngapain kamu jalan dengan pria lain tanpa sepengetahuan aku?" bentak Rio.
"Tidak perlu bentak-bentak, ini tempat umum," sahut Ashika menahan amarah.
"Maksud kamu apa? ternyata kamu mau menggugat cerai aku karena kamu ingin berhubungan dengan dia," tunjuk Rio kepada Pasha.
"Jangan menuduh orang sembarangan, aku dan Mas Pasha bertemu karena sedang membicarakan masalah pekerjaan jadi Mas tidak usah marah-marah tidak jelas seperti ini," kesal Ashika.
"Alasan. Mana ada urusan kantor bertemu di restoran," ucap Rio tersenyum mengejek.
Ashika bangkit dari duduknya lalu berdiri di hadapan Rio. "Kamu lupa Mas, jika dulu kamu juga sering bertemu dengan klien di restoran? Tidak perlu menyalahkan aku, lebih baik sekarang Mas urus saja dia," ucap Ashika sembari menunjuk ke arah Nathalie.
"Sombong banget kamu Ashika, padahal dulu kamu dinafkahi Rio tapi sekarang dengan sombongnya kamu berkata seperti itu, apa pria itu memberimu uang lebih banyak daripada Rio?" ejek Nathalie.
"Sekali lagi aku tegaskan, jangan menyalahkan orang lain. Dulu Mas Rio menafkahi karena memang itu kewajiban dia sebagai seorang suami, jika sekarang Mas Rio merasa menyesal memberiku nafkah, beri aku waktu, aku akan mengganti semua nafkah yang sudah Mas berikan kepadaku," geram Ashika.
"Karla, Mas tidak-----"
"Mas Pasha, aku kembali ke kantor. Pembicaraan kita lanjutkan besok saja," ucap Ashika sembari menyambar tasnya.
"Aku antar kamu kembali ke kantor," seru Pasha.
Ashika lebih dulu sudah keluar, Pasha menatap Rio dan Nathalie dengan senyuman mengejek. "Sungguh disayangkan, kamu lebih memilih wanita ini dibandingkan Ashika. Asal kamu tahu, Nathalie tidak sebaik yang kamu pikirkan. Dia seorang model, tapi karir dia sudah lama hancur akibat skandal yang dia buat sendiri. Makanya dia ingin kembali lagi sama kamu, karena dia sedang butuh uang buat biaya hidup dia," seru Pasha dengan senyumannya.
"Pasha!" bentak Nathalie.
"Selamat menikmati pilihan kamu," seru Pasha dengan menepuk pundak Rio.
Pasha pun pergi meninggalkan Rio dan Nathalie. Untuk saat ini Ashika sudah tidak peduli lagi kepada Rio, cintanya kepada pria itu sudah menghilang seketika. Rio terdiam mematung mencerna kata-kata Pasha, sedangkan Nathalie tampak gugup dan ketakutan.
.lili kyk nya kecintaan sm boy deh..
.ayo lili sadar lah . tunjukan km kuat.. jg nangisan