Setelah pahlawan terhebat berhasil mengalahkan Raja Iblis, dikhianati manusia. Dituduh berbuat kejahatan dan tak ada yang mempercayai semua yang dikatakan.
Alih-alih demi terciptanya kedamaian dunia, pahlawan bernama Rapphael Vistorness pun membiarkan dirinya ditangkap dan dihukum mati. Siapa sangka, dirinya malah mengulang waktu pada saat pertama dipanggil dari dunia lain.
Karena telah kembali, maka tugas pahlawan bukanlah tanggung jawabnya lagi. Bersantai dan berpetualang di dunia ini, saatnya untuk menikmati kehidupan tanpa beban kepahlawanan. Namun ia tak pernah lupa untuk mencari informasi, siapa dalang atas nasib buruknya dimasa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wanto Trisno 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengambil Alih Kota
Kota Dunggos semakin terpuruk, dengan wabah yang semakin menyebar dan warga yang semakin banyak menderita sakit. Jalan-jalan yang dulunya ramai dan berwarna, kini kosong dan sunyi. Bau busuk yang menyengat semakin kuat, membuat warga kota yang masih hidup merasa tidak nyaman.
Rumah-rumah yang dulunya indah, kini menjadi tempat berlindung bagi warga kota yang sakit dan lemah. Mereka tidak memiliki makanan, air, atau obat-obatan yang cukup untuk bertahan hidup.
Raja yang dulunya kuat, kini lemah dan tidak berdaya. Mereka tidak tahu bagaimana menghadapi wabah ini, dan tidak memiliki sumber daya untuk menghentikannya.
Warga kota yang masih hidup mulai kehilangan harapan. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi besok, atau apakah mereka akan bisa bertahan hidup.
Sedangkan untuk menyelamatkan dirinya, Raja meninggalkan kota Dunggos. Membawa serta pahlawan dan bawahannya. Karena kota tidak bisa ditinggali lagi, maka mereka memutuskan untuk mengganti ibukota kerajaan.
Beberapa warga juga ada yang menggagalkan kota tersebut. Mendatangi kota lain yang lebih menjamin hidup. Namun bagi rakyat yang berasal dari golongan bawah, mereka hanya bisa pasrah, menunggu kematian.
"Akhirnya raja menyerah juga. Udara kotor di kota ini memang berasal dari kepemimpinan yang buruk. Pantas saja, setelah tidak berguna, mereka bisa membuang seenaknya."
Rapphael tersenyum getir, menyaksikan peristiwa itu. Bahkan tidak pernah menyangka, melihat kereta kuda megah yang dinaiki oleh raja dan para pengikutnya.
"Meski sudah kehabisan harta, ternyata masih ada yang setia pada raja. Mungkin akan membangun istana baru di kota lainnya?"
"Tuan, selanjutnya, apa yang harus kita lakukan?" Gwysaa berdiri di samping Rapphael. Ia juga merasa hal yang harus diperbuat. Namun harus menuruti perintah majikan.
Pria itu menghela nafas pelan. "Menurutmu? Kita harus pergi atau tetap di kota ini?"
Keputusan belum dibuat oleh Rapphael. Karena sudah datang ke kota Dunggos, maka perlu berpikir ulang, apakah dia akan menetap? Sementara kemiskinan dan semua yang tertinggal hanyalah sebuah kota mati.
"Kota ini sudah tidak ada harapan lagi. Meskipun kita bisa tinggal, tetapi tidak bisa menghilangkan penyakit menular. Mereka mengalami sakit yang parah. Tidak mungkin ada obatnya, bukan?"
"Salah." Rapphael mengeluarkan botol ramuan obat yang telah disempurnakan. "Ini adalah ramuan yang dapat mengobati mereka namun, apakah mereka layak untuk tetap hidup?"
Kota yang sudah hancur itu masih bisa diperbaiki jika mau. Namun, siapa yang mau menolong jika hanya cuma-cuma? Ada banyak obat yang telah dibuat sebelum terjadi wabah.
Namun apakah mereka pantas untuk mendapatkannya? Hanya jika mereka berhasil lolos dari ujiannya. Tentu jika mereka bermanfaat baginya.
Harta yang dimiliki olehnya sudah cukup untuk membangun suatu kerajaan. Bahkan sebelum mengosongkan khas negara, cukup mengambil barang-barang dari para petualang yang gugur maupun dari para Pengst.
Merevitalisasi kota adalah hal yang rumit jika dalam keadaan saat ini. Membangun dari kekurangan, bukan dari nol, melainkan dari negatif. Harus membangun kembali kehidupan rakyat, barulah dapat membangun kota yang baik.
"DI kota ini terdapat Dungeon yang bisa digunakan untuk meningkatkan level. Ada juga bangunan yang masih bisa digunakan. Tapi sebelum itu, apakah mereka mau menjadi orangku atau tidak."
Rapphael mengangkat tangannya, sihir tanah membalikan tubuh mereka, mengubur mayat-mayat yang berada di sana. Namun ia telah menggunakan banyak energi sihir. Beberapa orang melihat kejadian tersebut.
"Apa yang sedang dia lakukan? Dia menguburkan mayat-mayat itu? Tapi di sana banyak Lumon." Seorang warga lokal melihat kejadian itu. Langsung berbicara pada orang-orang di sekitarnya.
Mereka mengalami batuk dan juga demam. Meski penglihatan menurun, dengan samar melihat kejadian itu. Orang-orang mulai berkerumun. Penyakit yang disebabkan oleh virus dari mayat itu pun menembus sampai tulang.
Terkadang mereka mengalami mual dan muntah akibat dari menyebarnya wabah. Tak lama kemudian, datang seorang gadis muda dan cantik, menghampiri mereka.
"Dia adalah tuanku. Kami berniat untuk mengambil alih kota. Jika kalian mau bekerja keras untuk tuanku, akan kuberikan obat ini untuk menyembuhkan kalian."
"Obat? Apakah kau tidak bohong, Nona? Kami tidak mau dibuat lelucon. Bahkan raja telah meninggalkan kami. Apa yang bisa diperbuat oleh kalian?"
Seorang lansia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Gwysaa. Sehingga mengatakan sesuatu yang tidak pantas. Ini karena tidak mendapatkan buktinya.
"Baiklah ... kalau tidak percaya, akan ku katakan pada tuanku, kalian tidak mau obat yang ku berikan. Maka, mayat-mayat itu akan tetap di sana."
Gwysaa berbalik ke belakang, berjalan menjauh dari gerombolan orang-orang yang tidak sepenuhnya percaya. Dengan begitu, kota itu tidak ada harapan.
Sementara mereka mulai berbisik dan berdiskusi. Di luar kota tidak ada lagi penolong. Ketika ada yang menawarkan bantuan, mereka langsung menolak. Akankah dilain waktu masih ada yang bersedia membantu? Belum tentu ada. Penguasa kerajaan pun sudah meninggalkan ibukota kerajaan dan entah akan kembali atau tidak.
Sebagai orang yang masih memiliki kekuatan, mereka akhirnya sepakat untuk mengikuti orang yang datang membantu.
"Tunggu, Nona!" panggil warga lokal dengan suara lantang. Karena jarak yang jauh, meski suaranya serak. "Kami akan mengikuti kalian. Asalkan kami bisa sembuh. Seluruh rakyat kota ini pasti akan mengikuti kalian."
"Baiklah ... ini adalah obat untuk kalian. Masing-masing minum satu, dalam waktu lima menit, kalian akan sembuh." Gwysaa mengeluarkan satu kotak besar yang berisi ribuan botol obat.
Mereka mengambil obat tersebut dan langsung meminumnya. Setelah meminumnya, kesehatan mereka perlahan pulih. Intensitas batuk pun semakin berkurang, seiring berjalannya waktu.
Mereka menunggu satu menit, semakin membaik. Dua menit, mereka mulai bisa bernafas sedikit lebih lega. Tiga sampai lima menit, tubuh mereka kembali normal."
"Wah, tubuhku rasanya penuh energi. Nona, kami akan menyebarkan obat ini kepada semua orang. Dalam waktu satu jam, kami pasti bisa mengumpulkan semua orang. Kami akan mengikutimu dan tuan yang di sana."
Karena Rapphael sibuk mengurus mayat, sehingga berada jauh dari mereka. Selain itu, Lumon-lumon yang berkeliaran, juga dibasmi olehnya.
"Akhirnya selesai juga." Rapphael sudah merasa lelah setelah membunuh semua Lumon yang datang padanya. Ia juga telah mengubur semua mayat.
Baru setelah membersihkan tempat, lalu ia membersihkan udara dengan sihir penyucian. Untuk melakukan sihir tersebut, ia memerlukan media. Dan media yang digunakan adalah Batu Perl.
Batu Perl disebarkan di seluruh tempat, membentuk lingkaran. Dengan kecepatan tinggi, ia menyebarkan batu-batu tersebut. Mengelilingi kota Dunggos, membuatnya bebas dari wabah yang menyebar lewat udara.
Selanjutnya, ia memasang Batu Perl berwarna ungu ke dalam sumber air. Sehingga sumber air bebas dari penyebaran penyakit.
Dalam waktu setengah hari, ia mengerjakan semuanya sendirian. Disaksikan oleh para warga yang penasaran. Setelah melihat apa yang dilakukan Rapphael, membuat mereka rela mengikutinya.
Mereka juga sudah sembuh dari sakitnya. Setelah Rapphael selesai membersihkan kota Dunggos, saatnya semua orang berbondong-bondong mendekat. Memberikan hormat, bersujud di hadapannya.
***