Bercerita tentang mahasiswa yang melakukan KKN disebuah desa dengan banyak keanehan. Banyak hal yang terjadi sampai membuat kami mendapatkan banyak masalah yang tidak masuk akal. Namun perlahan kami beradaptasi dan nantinya membongkar misteri dari desa tersebut. Kira-kira misteri apa saja itu. Ini adalah cerita fantasy persahabatan yang menakjukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazennn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hybrida
Kembali lagi kepada kami yang masih berada dalam lingkaran pelindung, saat itu situasi masih sama. Pasukan Hybrida masih berada diluar dan semakin banyak namun mereka gak bisa mendekati kami.
“Woi sampai kapan kita begini?” ujar Tian
“Iyah, lakukan sesuatu dong” ucap juga Fatin
“Apa? Aku sendiri juga bingung” balas Putra lalu tiba-tiba Putra melihat Dani yang hendak berjalan keluar dari pelindung.
“Mau kemana dek” tanya Zee
“Dani, jangan keluar” panggil Fatin namun pemuda itu tak membalas lalu dia berjalan keluar dari pelindung tapi Anwar langsung menariknya lagi.
“Kamu kenapa” ujar nya dengan lantang
“Eh—a-apa yang terjadi?” balas Dani dengan wajah yang bingung
“Kamu ini aneh, kemarin juga saat diatas gunung” kata Anwar
“Kemarin kenapa?” tanya Ruka
“D-dia” Anwar baru mau menjawab tiba-tiba muncul Hybrida yang berhasil masuk kedalam pelindung karena tertarik bersamaan dengan Dani. Melihat monster tersebut Tian dan Sulis pun langsung berteriak dan kami semua pun menjauh.
“Krkk...” makhluk itu mengeluarkan suara aneh sehingga membuat kami makin ketakutan.
“Kazen, mundur” ucap Fatin karena melihat ku berdiri lumayan dekat sambil mengamati makhluk tersebut.
“Kazen, dengar nggak” bentak Putra segera menarik ku
“Jangan keras kepala” katanya
Beruntung Hybrida yang berhasil masuk dalam pelindung itu hanya setengah badanya saja karena setengahnya lagi terpotong sehingga tak bisa masuk. Akibatnya makhluk itu pun tak bisa bergerak dan hanya bersuara saja tapi tetap saja itu tetap mengganggu kami
“Gara-gara kamu ini Dani” ucap Anwar
“Kalian berdua lah, Dani kenapa tiba-tiba keluar lalu Anwar juga kenapa nggak liat dulu pas nariknya kalau ada Hybrida yang ikutan tertarik” kata Putra
“Lah kok jadi nyalahin aku juga” balas Anwar
“Aku cuman nyelamatin Dani loh, kalau nggak ada aku dia pasti sudah diluar dan nggak tau apa yang akan terjadi padanya” tuturnya
“Sudah diam, kamu sebagai kordes memang banyak salahmu dikelompok ini” ungkap Putra
“Kenapa jadi bahas kordes” ujar Anwar kesal
“Sudah diam kalian” tukas Zee
“Dari tadi ribut mulu saling menyalahkan” lanjutnya dengan lantang
“Sekarang itu kita harus pikirin bagaimana cara keluar dari sini dengan selamat” kata perempuan itu dengan tegas sehingga membuat semuanya terdiam.
“M-makhluk apa ini sebenarnya” gumam ku memperhatikan Hybrida yang setengah badan itu.
Sementara itu ditempat yang lain, tepatnya itu diperbatasan dusun 5. Disitu ada Ikon, Nadin, Eni dan juga Rio yang sedang dihadang oleh Hybrida. Namun mereka berhasil melewati makhluk itu dengan mudah tanpa disadari. Entah bagaimana bisa tapi Hybrida sama sekali tidak menyerang mereka.
“Makhluk apa mereka ini” kata Ikon
“Mirip jagung tapi punya kaki tangan dan hidup” sambung Eni
“Makhluk ini adalah Hybrida” jawab Rio
“Hybrida?”
“Iyah” Rio mengangguk
“Aku nggak tau kalau ada makhluk seperti ini disini” ujar Ikon menyentuh Hybrida dengan santai sehingga membuat Rio merasa heran
“M-makhluk ini memang khusus ada didusun 5” Rio menjelaskan lebih banyak mengenai Hybrida. Dia memberitahukan kalau makhluk ini sudah ada setahun lalu. Namun masih belum ada informasi yang jelas mengenai asal-usul mereka.
“Ada rumor yang beredar bahwa mereka adalah ulah dari mahasiswa KKN yang datang sebelum kalian” ungkapnya
“Emangnya apa yang terjadi sama mahasiswa KKN sebelum kami” tanya Eni lalu Rio pun menceritakannya.
Selanjutnya kembali lagi kepada aku dan yang lainnya, masih berada dalam pelindung. Aku berdiri dan berjalan mendekati Hybrida
“Kazen, jangaan” ujar Fatin melarang
“Nggak, aku cuman mau sentuh aja” balas ku
“Enall, dengar kata ku”
“Kalau terjadi sesuatu sama kalian, aku yang tanggung jawab nanti sebagai pemimpin yang dipercayai kepala desa” kata Putra
“Iyah ya” balas ku lalu kembali berbalik
“Aaaa aku sudah capek” kata Anwar lalu berdiri berjalan menghampiri Hybrida.
“Woi kordes, mau kemana kamu?” ujar Putra namun pemuda itu mengabaikannya. Kini dia berdiri didepan Hybrida lalu tiba-tiba memukulnya dengan kuat sampai membuat makhluk tersebut berhenti bergerak.
“Hum” suaranya seperti puas
“Lembek ternyata” kata Anwar
“Aku akan keluar dari sini” lanjutnya dengan lantang
“Eh?” kami terkejut mendengar ucapanya itu
“Bodoh yah kamu, nggak liat itu diluar banyak monster” kata Tian
“Aku nggak peduli, lagian mereka bukan monster melainkan makhluk lemah” bala Anwar lalu keluar sambil melayangkan pukulannya berkali-kali kearah Hybrida.
“Lihat kan” ucapnya dengan sombong karena berhasil mengalahkan beberapa Hybrida
“Ayo, lawan aku kalau berani” seru Anwar bertarung melawan para Hybrida sementara itu kami hanya melihatnya dari luar.
“Jangan keluar” kata Putra tegas
“Cih, anak itu memang keras kepala sekali” batinnya sambil melihat kearah Anwar
“Teman-teman, keluarlah. Disini nggak apa-apa kok” panggil Anwar lalu aku yang menyaksikanya pun jadi bersemangat. Aku pun mencoba untuk keluar juga, Putra sempat melarang namun aku tidak memperdulikannya
“Ayo Enal, hajar mereka” kata Anwar dengan bahagia mengajar banyak Hybrida
“Jumlah mereka saja yang banyak, tapi lemah” lanjutnya terus sombong. Dani yang melihat itu pun jadi berkeinginan untuk keluar juga. Zee dan Putra mencoba melarangnya tapi pemuda itu sudah kehilangan kendali.
“Aku ikut” bicara Wati lalu ikut keluar. Mereka menghajar pasukan Hybrida.
“Gampang kan, seru banget” kata Anwar lalu tertawa karena melihatku yang sedikit kesusahan. Momen itu terbagi menjadi dua sisi, yaitu didalam lingkaran pelindung yang hening dan diluar yang ramai oleh suara pertarungan kami. Saat itu sebuah perasaan, perbedaan, dan kesenjangan yang lumayan menonjol terlihat diantara kami semua. Mungkin karena sejak awal itu kami sudah berbeda, baik itu kepribadian, masa lalu, latar belakang dan pengalaman hidup. Disinilah semua itu terlihat sangat jelas bahwa pada akhirnya kami itu adalah orang-orang yang berbeda. Mereka yang berada dalam pelindung pun hanya bisa saling menatap dan diam saja menyadari situasi yang terjadi saat itu.
Saat itu kepala desa juga melihat kami, belia terkejut karena kami bisa bertarung melawan Hybrida bahkan dengan mudah. Beliau tersenyum karena baru saja teringat sesuatu. Sebuah ramalan dimasa lalu tentang masa depan yang akan mengubahnya dan masyarakatnya—membuatnya mengalami sesuatu yang tidak pernah dirasakan sebelumnya.
“Ayo kita kesana” ujar Anwar ingin pergi ketempat lain lalu melihat Hybrida dari jauh. Dia pun berlari mengejarnya
“Oi jangan lari” pekiknya sambil terus berlari dengan cepat dan berhasil mengejarnya
“Dapat kamu, rasakan ini” Anwar hendak memukul Hybrida itu namun sebuah teriakan menghentikanya
“Jangaan” suara itu tak lain berasal dari Eni
“Eh, kalian” Anwar berbalik badan
“Apa yang kamu lakukan kordes” ujar Ikon
“Menghabisi makhluk ini” jawab Anwar
“Kenapa?Untuk apamu” tanya lagi Ikon
“Iyah, mereka kan nggak jahat” bicara Eni
“Eh, t-tapi kan” Anwar jadi bingung
“Mereka ini baik lah, mereka hanya makhluk lemah yang ingin hidup” ucap Nadin
“Betul itu” sambung Ikon sambil membelai salah satu Hybrida. Anwar yang mendengar ucapan teman-temanya itu pun diam sejenak lalu berpikir. Sepertinya makhluk ini sama sekali tidak berbuat jahat kepada mereka sebelumnya.
“Btw mana yang lain” tanya Eni
“Ada disana” jawab ku lalu Eni pergi untuk menghampiri mereka.
“Ada apa kordes?Kenapa berhenti” tanya ku
“Hajar...hajar” kata Dani sambil memegang Hybrida lalu Ikon segera melarangnya dan menyuruhnya berhenti.
“Kalian ini yah” kata Ikon
“Yah maaf, aku juga nggak tau. Soalnya makhluk ini tadi terlihat menyeramkan banget dan kayak mau nyerang kami” ucap ku
“Mana ada, seram sih dikit tapi mereka ini baik” balas Ikon lalu aku pun ikut menyentuh Hybrida dengan lembut.
“Hhhm” aku tersenyum karena merasa bodoh dan bersalah karena menghajar mereka sebelumnya menggunakan kayu.
“Aaaa nggak tau ah” kata Anwar lalu berjalan kembali untuk memberitahu Putra dan yang lainnya.
“Halo teman-teman” sapa Eni tapi terkejut melihat teman-temanya yang berkumpul dalam satu tempat dan berada dalam sebuah lingkaran pelindung.
“A-apa ini?” ujar nya menyentuh dinding pelindung lalu tiba-tiba Ruka menariknya masuk dan langsung memeluknya.
“Kamu nggak apa-apa” tanya nya
“Eh, maksudnya?”
“Iyah, tadi banyak makhluk aneh yang menyeramkan tapi beruntung ada pelindung ini yang melindungi kami” jelas Ruka
“Iyah, banyak banget...mereka mirip tumbuhan jagung tapi bisa hidup” kata Tian
“Hmm makhluk aneh?” Eni bingung
“Iyah, emang kamu nggak liat pas datang kesini” ujar Fatin
“Tunggu, pertanyaanya ini dulu. Kamu bagaimana caramu bisa datang kesini” tanya Zee
“Yah, aku naik motor sama Ikon dan Nadin” jawab Eni
“Oi teman-teman, keluar lah” panggil Anwar
“Makhluk ini nggak berbahaya kok” pemuda itu memberitahu teman-temannya
“Itu Putra sama yang lain ngapain?” tanya Nadin
“Mereka berlindung dari makhluk ini” jawab Anwar
“Hybrida kordes namanya” celetuk Ikon berjalan menghampiri teman-temannya yang lain.
“Kalian kenapa? Kayak ketakutan gitu” tanya Nadin lalu mereka yang masih berada dalam pelindung terkejut melihat Hybrida disamping Ikon
“Awas, cepat masuk kedalam pelindung ini” pekik Fatin
“Hah?” Ikon dan Nadin bingung lalu Eni yang melihat itu langsung paham
“Jangan-jangan makhluk menyeramkan yang kalian maksud itu adalah Hybrida yah” ucapnya
“Hybrida?” lalu mereka ucapan kepala desa sebelumnya yang menyebutkan nama yang sama
“Hahah tenang saja, makhluk itu baik kok” kata Eni lalu menunjukannya secara langsung kepada teman-temanya itu
“Eh, t-tapi tadi” Ruka masih ragu karena mengingat kejadian sebelumnya
“Benaran, mereka ini nggak berbahaya ternyata” ucap ku sambil memegang Hybrida lalu Dani membawanya masuk kedalam pelindung
“Woi jangan, bahaya” kata Putra menjauh lalu Dani pun dengan sengaja menakut-nakutinya sambil tertawa
“Ahaha, nggak kok. Lihat aku baik-baik aja” katanya namun Zee dan Tian masih ragu lalu Sri pun berjalan mendekat untuk menyentuh Hybrida itu dan tak terjadi apapun. Perempuan itu tersenyum dan memberitahu teman-temannya.
“Dasar kalian penakut” kata Anwar
“Halah, padahal kamu juga tadi gemetaran” balas Fatin
“Mana ada, aku mah cuman ikuti kalian aja. Aku sebenarnya nggak takut sama sekali. Buktinya tadi aku yang keluar duluan. Kalau bukan karena aku kita nggak akan tau kalau makhluk ini ternyata baik” tutur Anwar
“Iyah deh kordes iyah” balas Ruka lalu situasi pun jadi lebih tenang. Kami tidak merasa takut lagi dengan makhluk yang bernama Hybrida itu bahkan saat itu sedikit terbiasa. Rio yang kebetulan ada disitu, merasa heran seperti tidak percaya dengan apa yang sedang dia lihat saat ini. Dia ingin segera memberitahukannya kepada Kepala Desa namun tiba-tiba saja sesuatu terjadi.
Dani berteriak ”Aaaaa” sambil melihat keatas lalu dari dalam tanah bermunculan banyak Hybrida baru. Mereka mengerumuni dan menyelimuti tubuh Dani sampai tak terlihat.
“D-ani” gumam Eni lalu Ikon yang melihat itu segera menghampirinya dan berusaha untuk menyelamatkan temannya itu
“Bantu aku, cepat” katanya lalu aku, Anwar dan Putra pun membantunya menarik Dani keluar namun sudah terlambat, tubuh pemuda tersebut sudah sepenuhnya ditutupi oleh tumbuhan hijau dan berubah menjadi makhluk Hybrida yang ukuranya lebih besar.
“Krakk” suara Hybrida itu menggelegar lalu Ikon berusaha untuk menenangkannya namun tidak berhasil. Hybrida itu mengempaskan lengannya yang besar seperti daun sehingga menghempaskan Ikon dan Anwar lalu hempasan kedua kalinya menghempaskan aku dan Putra.
Setelah itu Hybrida kini berhadapan dengan para perempuanya lalu dia menyerang mereka sangat kuat sampai terhempas jauh ketanah.
“Teman-teman” pekik Putra melihat teman-temannya terkapar
“Zee, Fatin, Sri, Dila, Ruka” sebutnya lalu kesal dan berlari menuju Hybrida tapi dia kembali terhempaskan
“Aaaa sial” kesal Putra bangkit lagi lalu berlari lebih kuat dan menyerang Hybrida, dengan tubuh besarnya mendorongnya menjauh dari kami. Namun dia kembali terhempaskan oleh lengan Hybrida yang bisa mengeluarkan hembusan angin yang kuat.