NovelToon NovelToon
Kapan Kebahagiaan Itu Datang ?

Kapan Kebahagiaan Itu Datang ?

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Cerai / Penyesalan Suami
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Almira

Sejak dilahirkan, hidup tak pernah memberinya ruang untuk merasa bahagia. Luka, kehilangan, dan kesendirian menjadi teman tumbuhnya. Saat orang lain menemukan kebahagiaan dengan mudah, ia hanya bisa bertanya dalam diam: kapan kebahagiaan itu datang?
Sebuah kisah tentang hati yang lelah menunggu, namun belum sanggup berhenti berharap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepulangan Kak Rini

Aku mulai sekolah pada tahun ketika rumah kami terasa sedikit berbeda.

Bukan karena semuanya benar-benar berubah, melainkan karena kami belajar berharap—meski dengan hati yang masih waspada.

Hari pertama aku mengenakan seragam merah putih. Ibu merapikan kerah bajuku dengan tangan gemetar yang kini lebih sering lelah daripada takut. Wajahnya masih sama—tirus dan sabar—namun ada sorot kecil di matanya, seolah ia ingin percaya bahwa hidup akan membaik.

“Jalannya hati-hati, Ja,” pesannya.

Aku mengangguk. Aku berjalan menuju sekolah dengan langkah kecil, membawa tas yang kebesaran dan harapan yang juga terlalu besar untuk usiaku.

Di sekolah, aku belajar membaca dan menulis. Aku belajar mengeja kata bahagia, meski aku belum benar-benar mengerti rasanya. Setiap kali guru bertanya tentang keluarga, aku hanya tersenyum. Beberapa cerita memang tidak untuk dibagikan.

Di rumah, ayah sudah sembuh. Kakinya tidak lagi terpincang, suaranya kembali kuat. Ia mulai keluar rumah, kembali bekerja—atau setidaknya mencoba terlihat seperti itu. Amarahnya tidak sepenuhnya hilang, tapi ia lebih sering diam. Diam yang tetap membuat kami berhati-hati, namun tak lagi sekeras dulu.

Lalu suatu sore, kabar itu datang.

“Kak Rini pulang.”

Ibu mengucapkannya pelan, seakan takut jika harapan itu pecah sebelum sempat dirasakan. Aku melihat wajah ibu berubah—antara senang dan cemas. Tangannya berhenti mengaduk adonan. Matanya menerawang jauh, seolah sedang mengingat masa lalu yang rumit.

Kak Rini pulang membawa koper besar dan senyum lelah. Ia tampak berbeda—lebih dewasa, lebih tegar. Aku memeluk kakinya erat-erat. Ia membalas pelukanku, hangat, lama.

“Senja sudah besar,” katanya lirih.

Aku ingin bertanya banyak hal, tapi aku memilih diam. Di rumah ini, diam masih menjadi bahasa yang paling aman.

Ayah menyambut Kak Rini dengan bangga. Ia bercerita ke tetangga tentang keberhasilan anak perempuannya di negeri orang. Aku melihat ayah tertawa—tawa yang jarang kami dengar. Ibu berdiri di belakang, tersenyum kecil, nyaris tak terlihat.

Sejak Kak Rini pulang, rumah terasa lebih hidup.

Makanan sedikit lebih banyak, suara tawa kadang terdengar. Namun ada hal yang tak berubah: uang tetap dipegang ayah. Ibu tetap menghitung sisa belanja dengan wajah cemas setiap sore.

Aku sering melihat Kak Rini memperhatikan ibu. Tatapannya lama, penuh tanya. Suatu malam, saat aku pura-pura tidur, aku mendengar suara mereka berdua berbicara pelan.

“Ibu kurus,” kata Kak Rini.

Ibu hanya tersenyum. “Kamu capek dari perjalanan.

Istirahatlah.”

Tidak ada keluhan. Tidak ada cerita. Ibu masih memilih diam.

Ayah yang telah sembuh tampak seperti orang baru—namun juga orang lama. Ia tidak lagi memukul, tapi kata-katanya masih tajam. Kami tetap belajar berhati-hati, tetap menakar nada suara, tetap menundukkan kepala.

Aku berangkat sekolah setiap pagi dengan satu pelajaran yang tidak tertulis di buku:

bahwa kesembuhan tubuh tidak selalu berarti kesembuhan hati.

Sebagai Senja kecil, aku mulai memahami sesuatu—pelan-pelan, menyakitkan.

Bahwa pulangnya seseorang tidak selalu membawa keadilan.

Bahwa sembuhnya seseorang tidak selalu berarti rumah menjadi aman.

Namun di antara semua itu, aku masih menyimpan harapan kecil.

Karena selama aku bisa bersekolah,

selama ibu masih tersenyum meski lelah,

dan selama Kak Rini ada di rumah…

aku percaya:

suatu hari nanti, hidup tidak hanya tentang bertahan—

tetapi juga tentang bernapas tanpa rasa takut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!