NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Tiri

Obsesi Sang Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Bad Boy / Enemy to Lovers / Saling selingkuh / Ibu Tiri / Konflik etika
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lalalati

Bian menjalani kehidupan remajanya dengan sempurna. Ia cewek cantik dan bergaul dengan anak-anak paling populer di sekolah. Belum lagi Theo, cowok paling ganteng dan tajir itu kini berstatus sebagai pacarnya dengan kebucinan tingkat dewa.

Namun tiba-tiba kesempurnaan masa remajanya itu runtuh porak poranda setelah kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai dan bertukar pasangan dengan sepasang suami istri dengan satu anak laki-laki yang juga muncul sebagai guru baru di sekolahnya bernama Saga, cowok cassanova tampan dengan tubuh tinggi kekar idaman para wanita.

Di tengah masalahnya dengan Saga yang obsesif, hubungannya dengan Theo terus merenggang. Alasannya karena Theo selalu mengatakan hal yang sama, 'harus nemenin mama.'

Semakin hari Bian semakin curiga. Hingga ia mengetahui bahwa Theo...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Makin Menarik

"Nah ini dia, yang lagi bucin akut," sambut Dinda saat Bian memasuki kelas setelah sebelumnya ia dipanggil ke ruang BK bersama dengan Theo pagi itu.

"Bisa-bisanya lo dipanggil BK gara-gara bolos sama Theo," timpal Kay. "Lo 'kan bisa cari alesan, sakit atau apa. Kenapa malah ngilang dan HPnya gak aktif sih?"

"Iya loh, Bi. Padahal bilang sama kita, kita pasti bakal bantu tutupin kalau lo lagi bareng Theo," imbuh Rere.

Bian menghela nafas kesal. "Gue sama Theo 'kan newbie. Jadi gak kepikiran ke sana. Udah ah, kalian jangan ikut nyalahin gue. Gue udah cukup bete karena bokap atau nyokap gue dipanggil besok. Tapi masalahnya mereka 'kan lagi honeymoon. Gue gak mungkin juga minta mereka pulang cuma buat dateng ke sekolah dan dengerin gue yang diceramahin guru BK. Gue harus gimana dong?"

"Ya elah, susah amat sih, Bi. Lo 'kan ada Pak Saga, kakak tiri lo. Minta tolong aja sama dia. Gue yakin guru BK gak akan masalah kalau dia wakilin bokap nyokap lo buat dateng ke sekolah," saran Dinda.

"Bener. Suruh aja kakak tiri lo yang h o t itu," timpal Kay dengan menekan kata-kata yang berarti panas itu.

"Dasar lo, Kay. Gak bisa lihat cowok ganteng dikit aja," komentar Rere.

Bian malah semakin frustasi. "Gak mau! Gue mending dapet masalah baru aja sama guru BK daripada harus minta tolong sama dia," gerutu Bian.

Dinda, Rere, dan Kay bingung sendiri kenapa Bian begitu tak menyukai kakak tirinya. Padahal Saga terkenal sebagai guru yang ramah, tampan, dan humoris. Ia juga guru yang sangat tahu bagaimana membuat para siswa paham dengan apa yang diajarkannya. Rasanya tidak ada hal yang bisa membuat seorang Saga tidak disukai.

Di jam istirahat keempat sahabat itu seperti biasa berada di sisi lapangan basket. Sedangkan di lapangan basket, Theo, Luis, Andre, dan teman-teman cowoknya yang lain asyik bermain basket. Bian berteriak paling keras saat Theo sudah berhasil memegang bola. Teriakannya akan semakin keras ketika Theo berhasil memasukkan bola ke dalam keranjang.

"Theo! Theo! Theo! Kyaaaa!! Ganteng banget sih!!" teriak Bian heboh.

"Hey, bucin boleh tapi jaim dikit kenapa sih, Bi?" tegur Kay.

"Gak bisa. Theonya terlalu ganteng," ujar Bian dengan tatapan terhipnotis oleh pacarnya itu.

Theo sendiri setiap berhasil memasukkan bola selalu melempar senyum pada Bian. Bahkan memberikan sun jauh. Tentu semakin membuat Bian histeris.

"Mereka kayak pasangan anak SMP, gak sih?" ujar Dinda.

"Setuju. Kayak bocil baru jadian," timpal Kay. Sedangkan Rere hanya tertawa melihat Dinda dan Kay mengomentari Bian dan Theo.

Tak sengaja, Kayla menangkap sosok Saga di lorong dekat ruang guru. Tatapan Saga tertuju ke arah mereka. "Eh, Pak Saga tuh. Dia lihat ke sini." Kayla mengumumkan.

Ketiga sahabat itu otomatis melihat ke arah Saga. Benar saja, Saga tengah menatap ke arah mereka. Saga melambaikan tangannya, memanggil Bian.

"Bi, dipanggil tuh," ujar Dinda.

"Males. Biarin aja." Bian kembali menatap ke arah lapangan setelah menolak panggilan Saga dengan wajah ketusnya.

Kemudian para cowok itu berjalan ke sisi lapangan dengan tubuh dibanjiri peluh. Bian pun berdiri dan menghampiri Theo yang juga berjalan ke arahnya.

"Cape banget kayaknya, Yang?" Bian memberikan sebotol air mineral dingin pada Theo.

"Banget. Makasih ya, Yang." Theo menerimanya dan langsung saja meneguknya sampai habis setengahnya.

"Keren banget pacar aku. Udah jago main alat musik, jago nyanyi, jago main basket juga. Apa yang kamu gak bisa coba, Yang?" Bian menyeka keringat di pelipis Theo dengan tisu yang dibawanya.

"Yang gak bisa aku lakuin..." Theo berpura-pura berpikir. "Gak ada. Bahkan..." Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Bian lalu berbisik, "aku bisa bikin kamu jadi milik aku seutuhnya."

Wajah Bian merona merah sekali. "Kamu ih. Lagi di sekolah ini," tegur Bian malu-malu.

"Pulang ke rumah Luis, yuk?" ajak Theo dengan tatapan penuh arti.

Bian langsung saja gugup. "Yang, baru kemarin loh."

Theo mengernyitkan dahinya dengan jahil. "Kamu mikir apa? Kita nongkrong aja di sana, Yang."

"Kamu, ih!" Bian malu bukan main. Reflek ia mendaratkan pukulan pelan pada dada Theo. Langsung saja Theo memegang tangan sang pacar dan tertawa gemas.

Keduanya terus bercanda. Tanpa Bian dan Theo sadari, atau pun Dinda dan Luis, juga Rere dan Andre sadari, Kayla sudah tidak ada sejak para cowok itu menepi setelah lelah bermain basket.

Rupanya Kayla pergi mengikuti Saga yang berjalan menuju ruang listening, semacam laboratorium khusus melatih kemampuan mendengarkan dalam Bahasa Inggris. Saga memang kerap kali ada di sana, dibandingkan di ruang guru. Kayla mengendap-endap karena Saga yang juga berjalan sambil celingukan, seakan mengamati keadaan sekitar, apakah aman atau tidak.

Kemudian Saga masuk dan mengunci ruangan itu. Beruntungnya, Kayla melihat jendelanya terbuka dan nampaklah Saga di sana berjalan sambil membuka kancing pada pergelangan tangan yang dikenakannya. Ia berjalan ke sofa yang ada di ruangan itu. Di sana duduk seseorang berseragam SMK Seni Manohara yang Kayla kenal.

"Itu bukannya si Meri?" gumam Kayla pelan.

Meri adalah siswi jurusan tari tradisional yang memiliki tubuh yang indah bak gitar spanyol. Bagian atas tubuhnya berisi, pinggangnya ramping, namun memiliki bkong yang cukup besar dan menggoda. Wajahnya tidak terlalu cantik, namun tipe tubuhnya itu pasti sangat disukai oleh para pria.

Sontak Kayla menutup mulutnya, nyaris ia berteriak. "Gila apa, mereka ciuman di sekolah?!" komentarnya saat Saga mulai bercumbu dengan panasnya bersama dengan Meri di sofa itu.

"Gue gak bisa biarin." Kayla pun mengetuk pintu itu dengan keras.

Tak lama Saga membuka pintu sedikit dan hanya mengeluarkan kepalanya. "Kayla? Ada apa?"

"Pak Saga lagi apa di dalam?" bisik Kayla dengan nada penuh peringatan. "Segila-gilanya gue, gak akan gue lakuin itu di sekolah!"

Saga tertawa gemas melihat wajah kesal Kayla. Ia melihat ke sekitar dan sepi. Ruang listening memang berada di paling sudut, jarang sekali dilalui orang. Ia pun menarik tangan Kayla dan masuk ke ruangan itu.

"Pak...ehm!" Kayla berteriak namun segera mulutnya dibungkam oleh Saga.

"Jangan berisik. Harusnya saya yang marah karena kamu udah ngintip saya. Tapi saya gak akan marah. Karena sekarang permainannya jadi makin menarik," ujar Saga menyeringai.

"Maksud Pak Saga?" tanya Kayla mengkonfirmasi. Ia tahu maksud Saga sebenarnya.

"Masa kamu gak bisa tebak?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!