HAZEL SETEVIANO sangat mencintai pria yang di jodohkan dengannya RONAlDO ALEXANDER, karan rasa cintanya pada Ronald sangat besar, Hazel selalu bersikap posesive, dia akan marah jika ada wanita yang mendekati Ronald, hingga bertambah hari Ronald semakin di buat muak dengan sikap Hazel yang menurutnya sangat cemburuan, bahkan Hazel juga selalu bersikap sinis pada LUNA MAHENDRA yang jelas jelas sudah bersahabat dengan Ronald sejak duduk di bangku SMP, karna Hazel merasa kalau Luna sudah merebut perhatian Ronald darinya.
Dan suatu hari tibalah acara peresmian pertunangan Hazel dan Ronald yang di gelar di hotel mewah, dan malam itu senyum Hazel terus mengembang, tapi senyum itu lenyap seketika saat Ronald membatalkan pertunangannya di depan para tamu undangan.
Hazel yang merasakan sakit di hatinya dia hanya bisa menangis dan berlari keluar dari hotel, dan naasnya saat menyebrangi jalan raya, sebuah truk
menghantam tubuhnya hingga terpental ke sisi jalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zakiya el Fahira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Martin menundukkan kepalanya panik, saat Nona Mudanya mempertanyakan foto yang dia jadikan wallpaper di layar ponselnya.
''Nona maafkan saya, karna sudah lancang mengambil gambar anda tanpa izin'' ucap Martin merasa bersalah.
Hazel diam saja tapi tatapannya tidak beralih dari Martin yang berdiri di depannya.
''Paman aku maafkan, tapi lain kali kalau mau ambil gambarku bilang dulu, aku enggak bakal nolak kok'' tukas Hazel setelah diam beberapa saat.
Seketika Martin mendongakkan kepalanya mendengar penuturan dari Nona Mudanya.
''Jadi apa saya boleh menyimpan foto anda?'' tanya Martin memastikan kembali perkataan Hazel.
''Boleh saja, lagian Paman Martin sudah aku anggap seperti Paman aku sendiri kok'' sahut Hazel tersenyum.
Nyes
Martin seketika merasakan hatinya mencelos, saat mendengar pengakuan Nona Mudanya, padahal Martin sudah tahu kalau selama ini Nona Mudanya menganggap dirinya hanya sebagai Paman, tapi entah kenapa hatinya tetap merasakan sakit ketika pengakuan itu keluar langsung dari mulut Nona Mudanya.
''Paman''
Martin tersentak kaget. ''Iya Nona''
''Kenapa Paman diam saja?, apa ada yang sedang Paman fikirkan?'' tanya Hazel.
Martin menggelengkan kepalanya dengan tersenyum. ''Tidak apa apa Nona''
Hazel menganggukkan keplanya, lalu tiba tiba berdiri dan membelakangi Martin.
''Paman, ayo foto bareng, buat kenang kenangan sebelum aku nikah'' ucap Hazel mengangkat tinggi ponsel milik Martin.
Martin menganggukkan kepalanya, dan sedikit membungkukkan kepalanya agar sejajar dengan Nona Mudanya.
Setelah beberapa kali mengambil foto, Hazel mengembalikan ponsel milik Martin pada si pemiliknya.
''Paman ini ponselnya''
Martin menerimanya lalu melihat hasil potret dirinya dan Nona Mudanya, dan senyum tipis tersungging di sudut bibirnya.
''Nona Muda, terimakasih'' ucap Martin.
Hazel mengerutkan dahinya. ''Untuk?''
''Karna anda sudah bersedia foto dengan saya'' timpal Martin tersenyum.
''Sama sama'' balas Hazel.
Jam setengah delapan Martin sudah berada di perusahaan, dan mulai sibuk dengan tumpukan berkas di meja kerjanya, tadi Martin melarang Nona Mudanya untuk pergi ke perusahaan, seperti yang di katakan oleh dokter Andre semalam, kalau Nona Mudanya untuk sementara waktu di anjurkan istirahat selama bebebrapa hari, agar kesehatannya benar benar pulih.
Di sela sela kesibukannya, Martin masih sempat menatap layar ponselnya sembari menyesap kopi, lagi lagi Martin tersenyum melihat foto dirinya dengan Nona Mudanya, tapi beberapa detik kemudian kesadaran Martin kembali, sampai kapanpun dirinya tidak akan pernah memiliki gadis cantik yang berfoto dengannya, dirinya hanya bisa mencintainya dengan diam diam.
Beberapa hari telah berlalu, saat ini kedua orang tua Ronald berada di kota Norda, mereka datang untuk mengunjungi William, bukan hanya kedua orang tua Ronald saja yang datang, tapi ada David dan Kenzo yang ikut serta untuk menjenguk Ayah Hazel, sebagai bentuk persahabatannya dengan Hazel.
Di ruang rawat VIP, Ibu Ronald terus menghibur Rahel, dia bisa merasakan kesedihan yang di alami oleh Rahel, saat melihat orang yang kita cintai berbaring tak beradaya di ranjang rumah sakit, apa lagi saat ini William berada di antara hidup dan mati.
''Bibi Rahel, dimana Hazel?'' tanya David.
''Hazel ada di perusahaan'' jawab Rahel.
''Di perusahaan'' beo Kenzo.
''Iya, untuk sementara Hazel menggantikan Ayahnya memimpin perusahaan'' tukas Rahel yang membuat semua orang kaget.
''Ma,, maksud kamu Hazel memipin perusahaan Steven group?'' tanya Sean Ayah Ronald, dengan expresi tak percaya.
''Hem, memangnya perusahaan William selain Steven group apa ada lagi'' sahut Rahel.
Semua orang semakin terkejut mendengarnya, pasalnya nama perusahaan Steven Group tidak lah asing bagi penduduk Negara M.
Steven group di kenal sebagai satu satunya perusahaan terbesar di Negara M, perusahaan yang mencangkup di bidang kontruksi, kosmetik, fashion dan masih banyak yang lainnya, dan Steven Group memiliki lebih dari seribu karyawan, yang bekerja di dalan perusahaan pusat dan juga di beberapa cabang perusahaan, untuk di bagian gudang beda lagi, mungkin ada kisaran dua ribu orang
Steven Group awalnya hanya perusahaan kosmetik, tapi sejak William yang memegang alih perusahaan, perlahan Steven Group semakin maju pesat, dan hanya butuh waktu lima tahun untuk Steven Group di catat sebagai perusahaan terbesar di Negara M hingga saat ini.
Ceklek
Semua orang menoleh ke arah pintu, dan ternyata Hazel bersama Martin masuk ke dalam.
''Paman, Bibi, Kak Kenzo, Kak David'' seru Hazel dengan terkejut.
Hazel tidak tahu sama sekali kalau calon mertuanya, Kenzo dan David akan berkunjung ke rumah sakit tempat Ayahnya di rawat.
''Sayang, bagaimana kabar kamu?'' sapa Ibu Ronald lalu mencium pipi kanan dan kiri Hazel bergantian.
''Hazel baik bibi'' ucap Hazel tersenyum.
''Syukurlah, tapi Bibi perhatikan, kamu sepertinya agak kurusan'' tukas Ibu Ronald dan Hazel hanya terkekeh saja.
Lalu Hazel beralih menatap Kenzo dan David. ''Kak, kita ngobrol di cafe depan rumah sakit saja, yuk'' ajak Hazel yang di angguki oleh mereka berdua.
Dan saat ini Hazel,Kenzo dan David sudah berada di cafe, mereka memilih duduk di kursi yang berada di paling pojok, mereka juga sudah memesan minuman serta cemilan untuk teman mengobrol, sedangkan Martin dia menunggu Nona Mudanya di parkiran yang terletak tepat di depan cafe, walaupun berada di dalam mobil, Martin masih bisa melihat keberadaan Nona Mudanya di dalam cafe.
''Zel, gimana kabar kamu?'' tanya Kenzo.
Hazel menghela nafasnya. ''Ya beginilah kak, setiap hari harus di hantui rasa khawatir, karna sampai sekarang Ayah masih koma'' jawab Hazel sendu.
David langsung mengelus bahu Hazel dengan lembut. ''Yang sabar ya'' ucapnya.
Hazel hanya menganggukkan kepalanya, sudut matanya mulai basah, dan perlahan terisak.
''Hikss,,, kak, aku takut Ayah tidak bangun lagi'' gumam Hazel bahunya bergetar.
David reflek memeluk Hazel dan mengusap punggungnya dengan lembut, begitu juga dengan Kenzo dia juga ikut mengusap punggung Hazel untuk memberi semangat.
''Kamu harus yakin, kalau Ayah kamu pasti bangun, dan bisa kumpul lagi sama kamu dan Ibumu'' ucap David mencoba menghibur Hazel.
Lima belas menit kemudian Hazel sudah mulai tenang, tapi matanya masih memerah karna menangis.
''Zel, kata Bibi Rahel, saat ini kamu gantikan Ayah kamu di perusahaan?'' tanya David.
''Iya Kak, mau bagaimana lagi, aku putri satu satunya, mau tak mau aku harus turun tangan, walaupun sangat melelahkan'' jawab Hazel.
Kenzo dan David terdiam, mereka sama sama tidak enak untuk melontarkan kata kata sabar pada Hazel, karna mereka sudah bisa membayangkan betapa beratnya tanggungan yang Hazel pikul saat ini.
Malam hari Hazel mengantarkan kedua orang tua Ronald ke bandara, karna mereka harus kembali ke kota Lacosta, begitu juga dengan David dan Kenzo mereka juga kembali karna harus kuliah.
''Paman, Bibi, Kak Kenzo, Kak David, kalian hati hati'' ucap Hazel.
''Iya sayang'' balas Ibu Ronald.
Setelah pesawat tujuan kota Lacosta lepas landas, Hazel juga segera meninggalkan bandara.
''Nona Muda, apa kita langsung pulang?'' tanya Martin yang sudah menjalankan kemudinya.
''Ke rumah sakit, malam ini aku mau tidur di sana'' sahut Hazel.
Martin menganggukkan kepalnya, dan memutar kemudianya menuju rumah sakit.
Seperti yang di ucapkan oleh Hazel, malam ini dia menginap di rumah sakit untuk bergantian dengan Ibunya, karna Hazel tidak tega melihat Ibunya setiap malam tidur di rumah sakit.
''Paman pulang saja, ke sini lagi besok'' perintah Hazel, Martin menganggukkan kepalanya dengan patuh.
Keesokan harinya tepat jam setengah enam pagi, Martin sudah kembali ke rumah sakit, sembari membawakan sarapan pagi kesukaan Nona Mudanya, selama berjalan di lorong rumah sakit Martin terus tersenyum, dia tidak sabar melihat Nona Mudanya makan dengan lahap masakan yang di buatnya sendiri.
Saat sampai di depan pintu ruang rawat VIP, tiba tiba Martin merasakan jantungnya berdetak lebih cepat, mungkin karna akan bertemu kembali dengan Nona Mudanya pikirnya.
Martin yang sudah tidak sabaran, perlahan memutar hendel pintu di depannya, dan saat pintu terbuka tubuhnya langsung menegang melihat pemandangan di depannya.
ikutn sdih...pdhl hazel lg bhgia,tp ada aja ujian dlm hdp....mga ayhnya hazel baik2 aja...
stlh kmrn klah sm hazel,skrng pun klh sm clara...abs ni d jmin bpknya kenzo lngsng ngsih rstu.....
kirain luna udh wras,taunya msih gila...
stlh d tndang sm ronald,skrng ngarep sm kenzo....emng ga tau malu....😫😫😫
Bhgianya kl jd hazel.....d syang clon suami,smp udhd siapin rmh buat msa dpn plus krtu jg....