Ia pernah menjadi Monarch—penguasa yang berdiri di puncak segalanya. Namun pengkhianatan merenggut tahtanya, menghancurkan kerajaannya, dan memaksanya mati berulang kali dalam siklus reinkarnasi yang panjang. Selama ratusan kehidupan, ia menunggu. Menunggu para bawahannya yang tersebar, tertidur, atau tersesat di berbagai dunia. Di kehidupan terakhirnya, saat tubuhnya menua dan kematian kembali mendekat, sebuah system akhirnya terbangun—bukan ciptaan dewa, melainkan jelmaan dari salah satu rekan lamanya. Dengan kematian itu, sang raja kembali terlahir, kali ini di dunia yang sama… namun telah berubah drastis dalam beberapa ratus tahun.
Dunia yang ia kenal telah runtuh, kekaisaran bangkit dan jatuh, gereja menguasai kebenaran, dan para dewa mengawasi dari kejauhan. Dengan system yang setia di sisinya dan ingatan dari kehidupan-kehidupan sebelumnya, sang Monarch memulai perjalanannya sekali lagi: membangkitkan bawahan yang tersisa, membangun kekuatan dari bayang-bayang, dan menuntut balas atas pengkhianatan lama yang belum lunas. Ini bukan kisah pahlawan yang diselamatkan takdir—ini adalah kisah seorang raja yang menolak mati sebelum dunia membayar hutangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sughz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.1. The Shifting of Cycle
Di tepi jurang. Terlihat sosok tua yang sedang berdiri dengan pakaian putih sederhana. Rambut dan janggut yang putih juga menambah kesan tua yang terlihat darinya. Dia memasang raut muka yang lelah, sorot matanya yang sudah pudar tanpa semangat. Dia hanya memandang ke depan, terlihat sebuah istana kerajaan besar nan megah dari jauh. Dia memandangnya seolah itu adalah rumah yang dia rindukan.
Lalu dia melihat kedua tangannya, terlihat gemetar. Matanya semakin sayu.
“Harus berapa lama lagi sampai kalian bangkit?” gumamnya.
Dia mendengus pelan, menatap langit. Gemuruh petir terlihat di langit, seakan dia siap menyambar siapapun yang mengganggunya.
“Padahal aku sudah melakukan ini berulang kali,” gumamnya lagi. “Tapi aku masih takut menghadapi petir sialan itu.” sambungnya, membuang napas tuanya.
Dia mengambil napas panjangnya, “BAIKLAH SIALAN AYO KITA LAKUKAN LAGI!!!” teriaknya, menantang langit. Dan di langit, petir-petir itu seperti mendengar tantangan pria tua itu mulai mengamuk dan menyambar ke sembarang tempat. Lalu dengan sengaja, pria tua itu menjatuhkan tubuhnya ke bawah jurang.
Dan di langit terlihat, petir terlihat mengumpul di satu titik. Siapapun yang bisa melihat fenomena tersebut akan bergidik ngeri. Saat pria tua itu memfokuskan dirinya untuk menerima sambaran petir, sebuah suara tiba-tiba muncul di kepalanya.
[TING]
[SISTEM TELAH AKTIF]
“Selamat datang lagi tuan!.”
“Eh, apa yang—”
BLEDAR!!!
Sebelum pria tua itu merespon, petir di langit sudah menjawab tantangan pria tua itu. Tanpa menyisahkan apapun yang bisa dilihat oleh mata, dan jurang itu menjadi saksi kengerian itu.
Pemandangan saat petir itu menyambar bisa dilihat dari kejauhan. Semua orang merasa takut, takjub, penasaran. Mereka semua bertanya-tanya apa yang terjadi di sana. Di jalanan kerjaan, di pasar, di tembok kerajaan, semua orang memandang fenomena itu.
Lalu di taman bunga istana kerajaan, terlihat pria setengah baya berdiri dengan pedang bersarung di pinggangnya, wibawa terpancar darinya. Memandang jauh ke arah fenomena itu.
“Sebenarnya apa yang terjadi di sana Ayah?” tanya pria itu pada seorang di sebelahnya. Seorang pria tua dengan rambut yang sudah memutih, berdiri dengan kedua tangannya di belakang.
“Aku rasa itu cara berpamitan sang kaisar pendiri, dan sepertinya ramalan dari sang peramal kekaisaran sudah dimulai,” jawab pria tua itu, lalu melangkah pergi.
Pria setengah baya itu masih memandangi langit itu, yang berangsur mulai kembali normal.
.
.
.
.
.
(800 tahun kemudian)
“AAAHHH” teriakan bocah di atas kasurnya. “Sakit sekali sialan!! Dasar petir bodoh!! Akh!!” teriaknya sebelum kesakitan menjalar ke seluruh tubuh.
“Eh, tunggu dulu... sakit?” gumamnya, dia memasang wajah bingung. Meraba seluruh tubuhnya.
“Eh”
“Eh.... EEEEEEEEEEEEEEH” dia berteriak lagi, lalu mencari cermin dan melihat bayangannya.
“Apa-apaan ini?” katanya saat melihat bayangan yang terpantul di cermin.
Terlihat seorang bocah yang mungkin masih berumur 6 tahun. Badannya kecil dan kurus seperti tidak makan berminggu-minggu.
[TING]
“Selamat datang tuan, sistem sedang mengunduh proses penyatuan. Harap tuan bisa bersabar.”
Suara yang tiba-tiba terdengar itu membuat bocah itu jadi teringat sesuatu.
“Hei, siapa kamu?” tanya bocah itu, tapi tak ada jawaban.
Dia ingin mencoba bertanya lagi.
PRANKK!!
Suara pecahan membuatnya menoleh, terlihat seorang pelayan berdiri, wajahnya penuh dengan ekspresi terkejut, lalu berlari keluar kamar tanpa berkata apapun. Bocah itu hanya melihat dengan bingung, lalu pandangannya menyasar ke seluruh bangunan.
“Eh, ini... dimana?” kata bocah itu.
“THEO!” suara perempuan yang berlari masuk dan memeluknya.
Bocah yang tidak siap dengan itu, cuma bisa mencoba melepas. Tapi tubuh yang mungil dan tanpa tenaga membuatnya langsung pasrah.
“Astaga Theo, Ibu khawatir sekali!!” ucap perempuan itu, tangis terdengar darinya.
“Ibu? Theo? Apa yang..?”
[TING]
“Selamat tuan, proses penyatuan selesai. Ingatan dari Theodore Ashvale akan menyatu dengan tuan.”
“Eh, Ap.. Aaaaakkkkkkkkhhhhhh" teriak bocah itu, dia meremas kepalanya. Ingatan-ingatan muncul secara bersamaan di kepalanya.
Belum reda dengan sakit di kepala, suara di kepalanya muncul lagi.
[TING]
“Selanjutnya saya akan memproses penyatuan tubuh dan jiwa tuan Theo. Harap menunggu”
“Theo, ada apa, nak? Kamu kenapa?” ucap perempuan itu, wajahnya penuh kepanikan.
Bocah itu masih memegang kepalanya yang masih terasa sakit.
“PELAYAN... PELAYAN... CEPAT PANGGIL DOKTER!!” teriak wanita itu.
“Ah, tidak usah... ibu aku sudah tidak apa-apa" ucap bocah itu menghentikan tindakan wanita di depannya.
“Apa kamu yakin? Wajah kamu terlihat sangat pucat,” kata wanita itu, wajahnya penuh dengan kekhawatiran.
Bocah itu mengangguk. “Aku hanya pusing karena terlalu lama tidur, bisakah ibu meninggalkanku sendiri dulu?” katanya.
“Apa kamu yakin?” tanya wanita itu memastikan.
Bocah itu hanya mengangguk.
“Baiklah, kamu bisa memanggil penjaga yang ada di luar kalau butuh sesuatu,” ucap wanita itu, lalu meninggalkan ruangan dengan wajah yang enggan.
Saat wanita itu sudah pergi, tubuh bocah itu langsung ambruk ke lantai dan napasnya terengah-engah.
“Sial!! Apa... -apaan ini” ucap bocah itu.
“Siapa yang berani mengganggu siklus reinkarnasiku?” ucapnya lagi, matanya penuh dengan amarah. Dia mencoba mengatur napasnya dan mecoba bangkit, lalu dia mencoba berjalan kearah cermin lagi.
Dengan napas yang tersenggal, dia menatap dirinya di cermin itu lagi.
“Dan siapa yang berani menciptakan tubuh kosong ini” tanyanya pada cermin di depannya.
“System” gumamnya. “Ah, sial. Banyak sekali yang harus di pikirkan” menarik rambutnya sendiri.
“Setidaknya aku harus berterima kasih karena tidak harus menjadi bayi lagi” ucapnya, memandang kedua tangannya. “Theodore Ashvale, ya?” lanjutnya.
Dia memandang lagi dirinya di cermin.
“Nama yang lumayan”.
Senyum mengembang di wajahnya.
.
Di sisi lain, di sebuah lapangan latihan dalam ruangan. Seorang pria bertubuh kekar sedang mengayunkan pedang, seolah menari. Tapi siapapun bisa merasakannya, bahwa pedang besar itu bisa menghancurkan siapapun saat di ayunkan untuk membunuh.
Setelah beberapa saat, pria itu menyudahi latihannya. Ada seseorang berdiri di tepi lapangan, menuduk memberi hormat.
“Ada apa?” tanya pria itu.
“Ada laporan dari Yang Mulia Ratu tuan, beliau berkata bahwa tuang muda Theo sudah sadar,” jawabnya.
“Benarkah? Jadi haruskah aku naik ke atas dan menemui putraku?” tanya pria itu lagi.
“Yang Mulia Ratu meminta begitu tuan,” jawab pelayan.
“Huufftt, baiklah. Sampaikan padanya kalau aku akan segera naik,” ucap pria itu, lalu meninggalkan lapangan latihan.
.
.
.
.
Di ruang kamar, Theo sedang memandang langit-langit ruangan. Dia sedang memproses informasi yang masuk ke ingatannya.
“Bukankah ini aneh? Bagaimana reinkarnasiku kali ini sangat berbeda dari sebelumnya?” dia mencoba berpikir keras.
“Sial mau dipikir bagaimanapun juga sangat aneh, sialan” Theo bangkit dari tidur.
“Hei, suara sialan. Apa kau tak bisa berbicara lagi?” Theo memukul kepalanya, berharap suara yang tadi menjawabnya.
“Hei, kau!” Theo kesal karena tidak ada jawaban darinya.
[TING]
“System telah selesai menyatukan tubuh dan jiwa tuan dengan Theodore Ashvale. Harap tuan bersiap”
Theo yang mendengar itu langsung bersemangat.
“Hei, suara sialan bisa kau mejawab pertanyaan.”
[TING]
“Sekali lagi tuan ***, saya harap anda bisa bersiap”
Mendengar nama ***, Theo langsung memasang wajah serius.
“HEI, BRENGSEK KAU!!! SIAPA SEBENARNYA KAU ITU!!” ucap Theo. Mukanya menegang.
[TING]
“Saya akan menjawab itu nanti, harap anda segera bersiap. Kalau anda tidak mau mati lagi”
“Apa maksudmu, sialan. Apa kau mengancamku?”
“Tunggu, nada menyebalkan ini. Apa kau...”
Belum sempat Theo menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba sengatan listrik menjalar ke seluruh tubuh Theo.
“Aaakkkhhh..” Theo berteriak keras. Dia ambruk lagi ke lantai.
“LILY” teriak Theo. “Dasar, BOCAH BRENGSEK!!!!”
.
.
.
Di sudut gua yang dalam. Tampak bongkahan es yang membeku, di dalamnya terlihat makhluk hidup yang tertidur. Memancar aura yang kuat darinya, membuat bongkahan es itu mendapat sedikit retakan kecil. Tapi menghilang dengan cepat.
.