Setelah patah hati dimanfaatkan teman sendiri, Alana Aisyah Kartika dikejutkan dengan tawaran yang datang dari presdir tempatnya bekerja, Hawari. Pria itu menawari Lana menikah dengan anak satu-satunya, Alfian Abdul Razman yang lumpuh akibat kecelakaan. Masalahnya, Fian yang tampan itu sudah menikah dengan Lynda La Lune yang lebih memilih sibuk berkarier sebagai model internasional ketimbang mengurus suaminya.
Hawari menawari Lana nikah kontrak selama 1 tahun dengan imbalan uang 1 milyar agar bisa mengurus Fian. Fian awalnya menolak, tapi ketika mengetahui istrinya selingkuh, pria itu menjadikan Lana sebagai alat balas dendam. Lana pun terpaksa menikah karena selain takut kehilangan pekerjaan, adiknya butuh biaya untuk kuliah.
Namun, kenyataan lain datang menghadang. Fian ternyata bukan anak kandung Hawari melainkan anak seorang mafia Itali yang menghilang sejak bayi.
Mampukah Lana bertahan dengan pria galak, angkuh, dan selalu otoriter ini? Lalu, bagaimana nasib mereka ketika kelu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Gara-Gara Semalam
"Mas ...." Lana mendorong suaminya tapi kedua tangannya langsung ditahan ke samping. "Mas!"
Kepala Fian terangkat. Wajah mereka saling berhadapan dengan sangat dekat hingga jantung Lana berdetak cepat. Kedua bola mata wanita itu membulat sempurna.
"Kenapa? Kamu kan istriku?"
"Tapi bukan begitu perjanjiannya." Lana tetap mendorong kedua tangan pria itu hingga Fian terduduk.
"Perjanjian apa?"
"Aku kan menikah hanya untuk membantumu untuk sembuh, setelah itu kita cerai."
"Hh ...." Fian menggaruk kepalanya dengan kasar dan menghempaskan tangannya. "Harus pakai cara apalagi ini ...." Ia berpikir cepat.
Tiba-tiba ide brilian terlintas di kepala. Wajahnya berubah merengut. "Tapi aku masih belum tahu apa aku sudah sembuh atau belum ...."
"Maksudnya?" Lana melongo.
"Kamu masih ingat kan, waktu aku suruh kamu duduk di atasku seperti ini? Aku ingin tahu apa yang di bawah ini berfungsi." Pria itu menatap ke bawah.
Mata Lana ikut melihat ke arah situ dan seketika wajahnya merah padam. "Itu gak termasuk hitungan, itu ...." Kedua bola matanya melebar.
Fian kembali mencondongkan tubuhnya dan mengungkung istrinya dengan kedua tangan. "Ayolah, Lana. Aku ingin tahu, aku ini benar-benar sembuh atau tidak," bujuknya dengan suara lembut.
Lana memalingkan wajah malu. "Tapi ...."
"Kita 'kan suami istri, tidak ada yang aneh, kan? Tidak dilarang agama juga." Fian pelan-pelan membujuk Lana.
"Tapi ...." Lana masih ragu.
"Kamu membenciku?"
"Bukan begitu ...." Wajah Lana kembali dengan cepat, menatap wajah suaminya sedikit merengut.
Fian meraih kedua tangan Lana. "Ayolah, Lana, tolong aku. Aku janji, aku akan melakukannya dengan lembut."
Mendengar permintaan suaminya, Lana jadi bingung menolaknya. Di satu sisi ia ingin menolong, di sisi lain, apa perjanjiannya seperti ini? Mengingat dirinya juga ingin merasakan, akhirnya Lana mengangguk. Sebuah sentuhan singkat dari bibir keduanya membuat debar di dadda makin tak karuan.
"Terima kasih." Pria itu kembali menegakkan punggungnya. Kali ini ia melepaskan satu-satu kancing bajunya dan Lana menunggunya dengan wajah memerah.
Untuk pertama kalinya mereka melakukan malam pertama yang sudah terlewatkan beberapa bulan, tapi itu tetap tidak menyurutkan semangat. Bahkan mereka melakukannya sampai keduanya merasa lelah dan akhirnya tertidur.
***
Sarapan pagi itu, wajah keduanya tampak berbeda. Lana terlihat malu-malu sedang Fian tampak bahagia. Pria itu akan mengawali hari yang di nantinya dengan perasaan yang sulit dilukiskan. Bahkan ia minum kopi pagi, yang tidak biasa dilihat oleh Lana.
"Kok tumben kopi?"
"Mmh, aku biasa minum kopi sebelum berangkat kerja, tapi kalo jus, biasanya hari santai."
"Oh ...." Wajah Lana tersipu-sipu karena suaminya seringkali memandang lama wajahnya. "Kenapa Mas liatin aku begitu?"
"Oh, gak boleh? Kamu 'kan istriku?"
"Bukan gitu, Mas ...." Wajah Lana kembali memerah. Ia yakin, kalau menyentuh wajahnya, pasti terasa hangat karena seringkali tersipu malu melihat suaminya memandang wajahnya seperti itu. Wanita itu jadi beberapa kali menunda untuk makan sarapannya karena sering tersenyum.
"Ayo, makan dong. Apa kamu tidak lapar?"
"Iya," jawab Lana masih malu-malu. Ia menussuk dengan garpu, sosis yang sudah dipotongnya dan dimasukkan ke dalam mulut lalu mengunyah pelan. Rasanya sulit makan dengan baik karena bibirnya terus-terusan tersenyum.
"Kamu nanti jangan ke mana-mana ya. Di rumah aja. Oiya, nanti habis magrib aku jemput, untuk makan malam dengan orang tuaku."
"Iya, Mas."
"Mmh."
***
Di kantor, Fian masih terbayang-bayang kejadian semalam. Ia malah merindukan Lana. "Sekarang dia lagi ngapain ya." Ia mengangkat ponsel dan menyambungkan ke nomor Lana. Sempat menunggu beberapa saat, tapi telponnya tidak diangkat. Ia bingung dan kembali mengulang. Kembali ia kecewa. "Lana ke mana, sih? Apa dia di kamar mandi? Tapi kok, dari tadi gak diangkat? Apa dia tidur? Gak mungkin ...."
Pria itu berpikir sejenak. Kemudian ia ingat punya nomor telepon penjaga gerbang di rumah. Ia coba telepon. "Sapri ...."
"Bapak nyari Ibu, 'kan?"
Fian mengerut dahi. "Bagaimana kamu tahu?"
"Ibu pergi tadi dianter Udin, Pak."
"Ke mana?"
"Saya gak tau."
Fian mulai kesal. Tangannya terkepal. "Apa dia menemui Robby lagi? Tapi rasanya tidak mungkin karena tadi aku lihat barusan dia masih ada di ruang kerjanya. Jadi Lana bertemu siapa?" "Kamu bisa hubungi Udin? Cari tahu dia antar istriku ke mana, lalu kirim alamatnya padaku."
"Iya, Pak."
Sambil mematikan ponsel, Fian masih bingung dengan apa yang terjadi. Ke mana istrinya pergi?
Tak lama ponsel Fian berbunyi. Ia membuka dan membaca sebuah alamat yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Fian makin geram. Ia mengambil kunci mobil dan langsung keluar dari ruang kerjanya.
Di tempat lain, Lana sedang menyuapi Tala obat. "Ayo buka mulutnya."
"Enggak ah. Entar aja. Aku masih kenyang." Tala mengusap perutnya.
"Eh, gak boleh gitu. Ayo, minum obatnya. Aa ...." Lana membuka mulut.
Tala merengut tapi terpaksa mengikuti kakaknya membuka mulut. Baru saja ia menelan obat sirup yang diberikan Lana, tiba-tiba terdengar pintu diketuk.
Lana menyodorkan segelas air untuk diminum sedang ia sendiri beranjak berdiri. "Biar Kakak saja," ucapnya menatap ke arah pintu.
Baru saja pintu dibuka, terlihat wajah angker sang suami menatap ke arahnya. Sang pria melihat seseorang di belakang Lana hingga menarik istrinya dengan cepat agar ia bisa melihat dengan jelas. Ternyata pria itu Tala.
Lana yang terkejut dan hampir saja terjatuh bila tangan pria itu tidak menggenggam erat lengannya. Wanita itu melongo melihat kejadian yang cepat itu. "Mas ...."
Fian merasa bersalah. Ia mencurigai istrinya padahal tengah mengunjungi adiknya sendiri. Pria itu sampai memejamkan mata karena malu. Seketika ia berbalik. "Lana, kenapa ponselmu gak bisa dihubungi, sih!?"
"Apa?" Lana menegakkan tubuh dan melirik ponselnya di atas meja pendek dekat Tala. Ia baru ingat apa yang terjadi. "Oh, aku lupa membesarkan volumenya setelah kejadian tadi malam. Aku tidak ingin bermasalah lagi, jadi aku silent."
"Hh ...." Fian menyentuh dahinya. "Lana ... kamu membuat aku panik."
"Maaf ...." Lana sedikit menunduk sambil melirik suaminya. "Aku lupa."
"Lain kali kalau kamu pergi, bilang ya." Suara Fian melunak.
"Iya. Aku cuma kaget aja dengar Tala sakit, jadi temenin dia ke dokter. Kalo gak gitu Tala gak mau ke dokter. Padahal dia kalo sakit suka lama. Habis, suka telat makan sih ...." Lana merasa bersalah hingga bicara dengan hati-hati.
Tala tersenyum melihat Fian begitu khawatir pada kakaknya. Berarti rumah tangga mereka baik-baik saja.
Tiba-tiba Fian membalik tubuhnya menghadap Tala yang duduk di lantai. "Jadi kamu sakit?"
"Maaf, Kak." Tala menganggukkan kepala dengan sopan.
"Kamu sudah makan?"
"Sudah. Nih!" Tala menunjuk mangkuk bekas buburnya di meja.
"Lana?" Fian menoleh pada istrinya.
"Baru mau. Itu buburnya ...." Lana menunjuk bungkus plastik yang berada di samping mangkuk bekas makan Tala.
"Kalau begitu, temani aku makan ya."
"Hah?"
Fian mengeluarkan ponsel sambil menggerakkan jari jemarinya di atas layar. "Jangan makan dulu sampai makananku datang. Setelah makan siang baru aku balik ke kantor."
***
Lana sedang merapikan kerudungnya di depan cermin ketika Fian masuk ke kamar. Fian terpesona melihat istrinya makin hari makin cantik saja, seolah kelinci buruk rupa telah berubah menjadi kelinci manis yang berwajah lembut. Dipandanginya wanita itu tanpa berkedip.
Bersambung ....
mau pakai baju terruutp