NovelToon NovelToon
Penghianatan Tak Termaafkan

Penghianatan Tak Termaafkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Selingkuh / Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Mengubah Takdir
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."

​Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.

​Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.

​Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.

Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.

By: Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 2

Pagi di Jakarta selalu diawali dengan deru mesin dan kepulan polusi, namun di dalam kantor Kencana Jewelry, suasana terasa sejuk dan beraroma melati. Kirana duduk di balik meja mahagoninya, meninjau ulang draf kontrak untuk pameran perhiasan musim gugur. Matanya yang tajam tidak melewatkan satu koma pun yang salah.

"Ibu Kirana," Maya masuk dengan langkah terburu-buru, wajahnya tampak sedikit pucat. "Ada kiriman untuk Anda. Sangat besar."

Kirana mendongak, alisnya bertaut. "Dari siapa? Bukankah saya sudah bilang, jangan terima bingkisan dari vendor sebelum kontrak ditandatangani?"

"Ini bukan dari vendor, Bu. Ini dari... Pak Arka Mahendra."

Maya melangkah mundur, memberi jalan bagi dua petugas pengantar bunga yang membawa sebuah rangkaian bunga raksasa. Ratusan mawar merah kualitas terbaik, yang diimpor langsung dari Belanda, memenuhi sudut ruangan Kirana. Harumnya begitu menyengat, memenuhi setiap jengkal ruang kantor yang biasanya berbau profesional.

Kirana berdiri, namun bukan karena terpesona. Ia berjalan mendekati bunga-bunga itu, lalu mengambil sebuah kartu kecil yang terselip di antaranya.

"Untuk wanita yang menganggap waktu lebih berharga daripada basa-basi. Semoga mawar ini bisa mencuri sedikit waktu Anda pagi ini. - Arka."

Kirana menutup kartu itu dengan sekali sentakan. Tidak ada rona merah di pipinya. Yang ada hanyalah kilatan kejengkelan di matanya.

"Maya," panggil Kirana dingin.

"Ya, Bu?"

"Pindahkan bunga ini ke lobi utama. Letakkan di meja resepsionis agar semua orang bisa menikmatinya. Dan jangan biarkan bunga seperti ini masuk lagi ke ruangan saya tanpa izin."

Maya ternganga. "Tapi Bu... ini mawar mahal. Dan Pak Arka adalah putra pemilik Mahendra Group..."

"Maya," potong Kirana dengan nada rendah yang memberi peringatan. "Di kantor ini, identitas pengirim tidak mengubah protokol. Bawa keluar."

Sementara itu, di sebuah kafe rooftop yang tidak jauh dari kantor Kirana, Arka Mahendra duduk santai sambil memperhatikan layar ponselnya. Ia sedang menunggu laporan dari mata-matanya.

Dion duduk di seberangnya, menyesap kopi hitam tanpa gula. "Bagaimana rencanamu, Casanova? Mawar itu pasti sudah sampai."

Arka tersenyum penuh percaya diri. "Wanita seperti Kirana tidak akan melompat kegirangan karena bunga, Dion. Tapi dia akan merasa terusik. Dan terusik adalah langkah pertama untuk diperhatikan."

Ponsel Arka bergetar. Sebuah pesan masuk dari salah satu staf magang di Kencana Jewelry yang telah ia suap.

"Bunganya baru saja dipindahkan ke lobi utama atas perintahnya langsung. Dia bahkan tidak menyentuh mawarnya lebih dari lima detik."

Dion tertawa terbahak-bahak setelah membaca pesan yang ditunjukkan Arka. "Skor sementara - Kirana satu, Arka nol. Mobil sport-ku sepertinya akan tetap aman di garasiku."

Arka tidak marah. Sebaliknya, ia merasa tertantang. Matanya berkilat penuh gairah kompetisi. "Dia punya dinding yang tebal. Bagus. Menghancurkan dinding yang tebal jauh lebih memuaskan daripada sekadar membuka pintu yang tidak terkunci."

~

Sore harinya, Kirana bersiap untuk pulang. Ia merasa lelah setelah rentetan rapat yang menguras energi. Namun, saat ia melangkah keluar dari lobi gedung, sebuah mobil Bentley hitam mengkilap sudah terparkir tepat di depan pintu keluar, menghalangi jalur mobil jemputannya.

Kaca jendela mobil itu turun perlahan, menampakkan wajah Arka yang mengenakan kacamata hitam.

"Anda lagi," ucap Kirana, suaranya datar dan tak terkesan.

"Kebetulan sekali, bukan?" Arka melepas kacamatanya, memberikan senyum yang mampu meluluhkan hati sebagian besar wanita di kota ini. "Saya baru saja selesai rapat di gedung sebelah dan teringat ada janji bicara bisnis dengan Anda."

"Pertemuan bisnis dilakukan di jam kantor, Pak Arka. Sekarang sudah jam setengah enam sore."

"Justru itu. Ide bisnis terbaik biasanya muncul saat makan malam," Arka turun dari mobilnya, berjalan mengitari kap mobil untuk berdiri di depan Kirana. Ia sengaja memperpendek jarak fisik di antara mereka. "Ada restoran Italia baru di Senopati. Pemiliknya teman baik saya. Kita bisa bicara tentang proyek hotel Bali di sana tanpa gangguan telepon kantor."

Kirana menatap pria di hadapannya. Ia bisa melihat kepercayaan diri yang meluap-luap dari Arka. Pria ini tidak terbiasa ditolak, dan itu adalah sesuatu yang sangat Kirana benci.

"Saya sudah punya rencana lain malam ini," bohong Kirana.

"Rencana apa? Lembur lagi? Atau menatap laporan keuangan sampai mata Anda merah?" Arka terkekeh. "Mari kita jujur, Kirana. Anda butuh makan malam, dan saya butuh keahlian Anda. Satu jam saja. Jika dalam satu jam saya tidak bisa meyakinkan Anda soal proyek ini, saya berjanji tidak akan mengirimi Anda mawar lagi."

Kirana terdiam. Menyebut soal mawar tadi pagi membuktikan bahwa Arka tahu tindakannya di kantor. Pria ini sedang memantaunya.

"Jika aku terus menghindar, dia akan semakin gencar," pikir Kirana. "Lebih baik aku hadapi sekarang dan buat dia sadar bahwa aku hanya tertarik pada kontraknya, bukan dirinya."

"Baiklah," ucap Kirana akhirnya. "Satu jam. Dan kita bicara hanya soal bisnis."

"Tentu saja," jawab Arka, namun matanya berkata lain. Ia membukakan pintu untuk Kirana dengan gerakan sopan yang sangat terlatih.

~

Restoran itu remang-remang, mewah, dan sangat privat. Musik jazz mengalun lembut di latar belakang. Arka memesankan menu terbaik tanpa bertanya, sebuah tindakan dominan yang sengaja ia lakukan untuk melihat reaksi Kirana.

Kirana, sebaliknya, langsung membuka iPad-nya dan meletakkannya di atas meja, di samping piring porselen putih yang mahal.

"Mengenai konsep perhiasan untuk hotel di Bali," Kirana memulai tanpa basa-basi. "Saya menyarankan penggunaan batu alam lokal yang dipadukan dengan emas putih agar..."

"Kirana," potong Arka lembut. Ia mencondongkan tubuh ke depan, menopang dagunya dengan tangan. "Bisakah kita berhenti menjadi mesin untuk sejenak? Ceritakan padaku tentang dirimu. Mengapa wanita secantik dan secerdas Anda menghabiskan seluruh hidupnya hanya untuk batu mulia?"

Kirana berhenti bicara. Ia menatap Arka dengan tatapan menyelidik. "Mengapa Anda ingin tahu? Apakah itu relevan dengan profit perusahaan Anda?"

"Sangat relevan. Saya tidak berbisnis dengan perusahaan, saya berbisnis dengan manusia. Dan saya ingin tahu manusia seperti apa yang ada di balik jabatan manajer ini."

Kirana menutup iPad-nya dengan suara yang cukup keras. "Saya adalah orang yang menghargai profesionalisme, Pak Arka. Jika Anda mencari teman bicara untuk curhat atau menggoda, Anda salah orang. Ada banyak wanita di luar sana yang akan mengantri untuk itu, tapi bukan saya."

Arka tertegun sejenak, lalu ia tertawa. Kali ini tawanya terdengar lebih jujur. "Anda benar-benar tidak memberi celah, ya? Menarik."

"Saya di sini untuk bekerja. Jika Anda tidak ingin bicara soal Bali, saya anggap makan malam ini selesai."

Kirana hendak berdiri, namun Arka dengan cepat memegang pergelangan tangan Kirana. Sentuhannya hangat, namun cukup kuat untuk menahan. Kirana segera menarik tangannya dengan tatapan tajam yang seolah bisa mengiris kulit Arka.

"Maaf," ucap Arka cepat, mengangkat kedua tangannya. "Saya hanya ingin bilang... saya terkesan. Saya sudah bertemu banyak wanita, tapi tidak ada yang setangguh Anda. Baiklah, mari kita bicara soal Bali. Saya ingin desain yang mencerminkan kekuatan dan kemurnian. Seperti Anda."

Sepanjang sisa makan malam, Arka benar-benar bicara soal bisnis, namun ia menyelipkan pujian-pujian halus di setiap kalimatnya. Ia bersikap sebagai pendengar yang sangat baik, membuat Kirana merasa pendapatnya sangat dihargai.

Saat makan malam berakhir, Arka mengantarnya pulang ke apartemen. Di depan lobi apartemen Kirana, Arka tidak mencoba melakukan gerakan apa pun. Ia hanya berdiri di samping mobilnya.

"Terima kasih untuk malam ini, Kirana. Anda benar, ide Anda luar biasa. Saya akan menunggu draf resminya hari Senin."

Kirana mengangguk. "Selamat malam, Pak Arka."

Saat Kirana berjalan masuk ke lobi, ia merasakan sesuatu yang aneh. Sedikit getaran di hatinya yang sudah lama ia kunci rapat. Ia segera menepis perasaan itu. Dia hanya klien, tegasnya dalam hati.

Di dalam mobil, Arka menyalakan mesin dan menghubungi Dion.

"Bagaimana?" tanya Dion di seberang telepon.

Arka menyeringai, menatap pantulan dirinya di spion. "Dindingnya masih berdiri, tapi fondasinya mulai bergetar. Dia sudah mau masuk ke mobilku, dia sudah mau makan malam denganku. Wanita sekeras apa pun akan luluh jika kita memberi mereka panggung untuk merasa penting."

Arka memacu mobilnya membelah malam Jakarta. Baginya, Kirana hanyalah sebuah teka-teki rumit yang sedang ia pecahkan langkah demi langkah. Ia tidak tahu, dan tidak peduli, bahwa ia sedang bermain dengan api yang kelak bisa membakar dunianya sendiri.

Sementara di atas sana, di jendela apartemennya, Kirana berdiri menatap jalanan. Ia tidak menyadari bahwa di balik kemewahan malam ini, sebuah taruhan kejam telah dimulai, dan dirinya adalah hadiah utama yang akan dihancurkan.

...----------------...

Next Episode....

1
anju hernawati
bagus jalan ceritanya author lanjut y .....
Miss Ra: siaaappp
total 1 replies
zhelfa_alfira
makin seru
Renjana Senja
nah bener. harus waspada sama barang asing gitu
Renjana Senja
eh. kiriman apa itu kalau boleh tau kawan?
zhelfa_alfira
wah keren²
zhelfa_alfira
lanjut²...
Sunaryati
Okey ku kira walau di penjara Bram tidak tinggal, orang yang serakah hal dunia biasanya sulit menerima kekalahan walau terbukti bersalah
Sunaryati
Menegangkan melebihi cerita mafia
Sunaryati
Semoga Arka selamat
zhelfa_alfira
semangat²
zhelfa_alfira
lanjut sama2 masih punya perasaan tapi ego masih sama² tinggi
zhelfa_alfira
dah selesai yang menegangkan kita tunggu yang manis2 nya lagi.😁🤭
zhelfa_alfira
wow seru nya cerita ini...
zhelfa_alfira
akhirnya keangkuhan arka selesai juga
zhelfa_alfira
bagus akhirnya ketahuan juga padahal reza sudah tau semua kebusukan arka...semangat²
zhelfa_alfira
entah lah bisa² nya masuk lobang yang sama...
zhelfa_alfira
keren² aku suka hancur kan dan hempaskan yang sudah menyakiti
zhelfa_alfira
keren
Miss Ra: /Kiss//Heart/
total 1 replies
zhelfa_alfira
wow keren aku suka karakter kinara tegas...semangat up kk author
zhelfa_alfira: sama² semangat
total 2 replies
zhelfa_alfira
lanjut²
Miss Ra: siaaap...

lanjut besok pagi ya kak..
good night...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!